Minggu, 16 Desember 2018


Senin, 05 Februari 2018 17:30 WIB

Karya Sastra Nusantara: Cerita Rakyat Jambi yang Dipertaruhkan

Reporter : Redaksi
Kategori : Pustaka

sumber foto: TV Anak Indonesia

Oleh: Jumardi Putra*

Dalam buku bertajuk Nilai Budaya dalam Beberapa Karya Sastra Nusantara: Sastra Daerah di Sumatera oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (1993), cerita rakyat Jambi menjadi penyumbang terbanyak di antara daerah lain.




Mulanya tersusun sebanyak 91 cerita rakyat Jambi. Akan tetapi, oleh penyusun yang terdiri atas Edwar Jamaris, Nikmah Sunardjo, Muhammad Jaruki, Mu’jizah, B. Trisman, Maini Trisna Jayawati, dan Yeni Mulyani S., dari 91 itu bersurut menjadi 38, dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

(1) Ringkasan cerita terlalu singkat sehingga penyusun atau pembaca tidak mendapat gambaran yang jelas tentang jalan ceritanya; 

(2) Dalam penguraian nilai-nilai budaya yang ada dalam tiap-tiap cerita rakyat Jambi itu, pengolah data tidak menyertakan beberapa kutipan sebagai pendukung. Hal itu penting untuk menguraikan nilai-nilai budaya yang ada; 

(3) Ada beberapa cerita yang hanya dikatakan bahwa dalam cerita tersebut tidak ada nilai budayanya. Kemudian cerita tersebut ditinggalkan begitu saja, tanpa penjelasan apa pun. Hal seperti itu terlihat dalam cerita "Si Mata Empat dan Si Pahit Lidah" (hlm. 249) dan cerita "Dua Orang Kakak Beradik" (hlm. 65). Padahal, asumsi dasar bahwa semua cerita mengandung nilai budaya; dan 

(4) Beberapa nilai budaya dalam suatu cerita tidak dirinci dalam bentuk yang lebih khusus, misalnya nilai keagamaan. Nilai itu tidak diuraikan ke nilai yang lebih khusus, yaitu nilai berserah diri kepada Tuhan atau nilai tawakal. Padahal, nilai-nilai yang lebih khusus itulah yang sangat dibutuhkan dalam penyusunan ini. Begitu juga halnya dengan nilai lain, seperti nilai moral.

Karena hal-hal di atas, dari 91 cerita rakyat yang ada, dipilih 38 cerita yang dianggap mewakili cerita rakyat Jambi. Berikut Cerita rakyat Jambi yang dipilih:

1. "Putri Putih Unduk" (PPU)
2. "Si Klingking" (SK)
3. "Raja Banting" (RB)
4. "Syekh Abdul Kadir Jaelani" (SAKJ)
5. "Raja Mudo" (RM)
6. "Burung Tiung" (BT)
7. "Ulaq Lantan" (UL)
8. "Si Kalapak" (SK)
9. "Si Amang Putih (SAP)
10. "Si Tamak dan Intan-Intannya" (STI)
11. "Nenek Puti" (NP)
12. "Raja Tiangso" (RT)
13. "Batu Betung Bertakuk" (BBB)
14. "Batu Larung" (BL)
15. "Perpatih Nan Sebatang (PNS)
16. "Bujang Senaning (BS)
17. "Pulau Rengas" (PR)
18. "Bukit Bulan" (BB)
19. "Putri Tanglung" (PT)
20. "Napal Sisik" (NS)
21. "Perahu Lancang Gading" (PLG)
22. "Aminuddin dan Aminullah" (AA) 

23. "Raden Mathahir Singa Kumpeh" (RMSK)
24. "Bukit Kancah" (BK)
25. "Malin Tembesu" (MT)
26. "Pendekar Bujang Senaya" (PBS)
27. "Kemilai Air Emas" (KAE)
28. "Sebakul" (Sb)
29. "Kutojoyo" (Kj)
30. "Buah Gelumpang" (BG)
31. "Orang Kayo Hitam (OKH)
32. "Si Nam Berenam Bertujuh dengan Putri Bungsu" (SBBPB)
33. "Asal-Usul Raja Jambi" (ARJ)
34. "Panglima Syawal" (PS)
35. "Bukit Sanggar Puyuh" (BSP)
36. "Sayang Tabuang" (ST)
37. "Putri Retno Pinang Masak" (PRPM)
38. "Cerita Depati Sebelas" (CDS)

Merujuk hal di atas, menurut hemat saya, meski terbuka masing-masing kita menyoal "batasan-batasan" di atas, yang dijadikan rujukan oleh tim penyusun dalam proses penyeleksian, di samping itu juga menyembul beberapa pertanyaan-pertanyaan mendasar lainnya.

Pertama, dari yang 91 ataupun 38, sebagaimana termuat dalam buku ini, terbuka kemungkinan adanya kerancuan kategori antara batas wilayah budaya sebagai satuan geografis-administratif (provinsi), area kultural, atau kelompok etnis, yang menyebar luas di wilayah Provinsi Jambi.

Kedua, bagaimana keberadaan mutakhir 53 cerita rakyat Jambi (yang tidak termuat di dalam buku tersebut) dengan alasan empat poin di atas tadi? Hal itu menjadi penting, mengingat tidak saja merupakan data yang mesti dirawat, melainkan juga perlu ditindaklanjuti ke dalam penelitian dan penulisan lanjutan. Andai 53 cerita rakyat Jambi itu hilang begitu saja (untuk menyebut tak dapat ditelusuri), tentu itu sebuah kehilangan besar bagi Jambi.  

Ketiga, bagaimana riwayat penulisan dan publikasi cerita rakyat Jambi dewasa ini di luar soal intrinsik-struktural? Meski masih problematis, saya memandang semangat inovatif, yang kerap menjadi medan bagi sastrawan (dan seniman) pada umumnya adalah “jalan lain” yang bisa ditempuh untuk mendekatkan cerita rakyat kepada masyarakat saat ini. 

Upaya tersebut tidak dalam pengertian pertarungan yang berujung kalah-menang ataupun reduksi antara tradisi lisan dan tulis, melainkan relasional. Apa pasal? Di situlah cerita rakyat yang lazimnya hadir dengan serangkaian gaya bahasa klise dan penyajian peristiwa yang bertele-tele bisa menjadi kisah yang renyah dan menawan.

Dalam pada itu, merujuk Maman S. Mahayana di dalam Dongeng Negeri Kita (2015), cara penceritaan yang renyah dan menawan itulah sesungguhnya hal yang penting dilakukan bagi usaha melakukan transformasi dari cerita rakyat sebagai bagian dari tradisi lisan menjadi teks yang bergerak dalam wilayah keberaksaraan.

Keempat, apa urgensi cerita-cerita rakyat Jambi dihadirkan di tengah kemajuan teknologi yang berlari kencang sekaligus mobilitas sosial tanpa limit saat ini? Saya berpandangan, sebagai karya kreatif, cerita rakyat, seperti juga bentuk ekspresi seni lainnya, menyembulkan hiburan sekaligus wahana pendidikan, ajaran moral, dan etika, bahkan juga pengetahuan. Sudahkah ia menjadi alasan kuat bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi dan Kantor Bahasa Provinsi Jambi berpihak pada pelestarian cerita rakyat Jambi?

Akhirnya, kegiatan membicarakan, menulis ulang, dan menerbitkan cerita rakyat untuk didistribusikan secara luas merupakan usaha sadar melompat lebih jauh, tidak saja keluar dari kejumudan instrumen intrinsik-struktural, tetapi juga kesanggupan membangun relasi yang berkesadaran dengan rung hidup dan ingatan kolektif dari seluruh warganya sebagai karya seni sosial. Bukan begitu?

Edwar Jamaris, Nikmah Sunardjo, Muhammad Jaruki, Mu’jizah, B. Trisman, Maini Trisna Jayawati, dan Yeni Mulyani S., Nilai Budaya dalam Beberapa Karya Sastra Nusantara: Sastra Daerah di Sumatera (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1993).


*Penulis merupakan pecinta buku dan kesenian. Kini tinggal dan bekerja di Jambi.


Tag : #Jambi #Nusantara #Legenda #Cerita Rakyat Jambi



Berita Terbaru

 

AJO Indonesia
Minggu, 16 Desember 2018 10:03 WIB

Menuju Rapimnas 2019, AJO Indonesia Siap Masuk Industri Digital 4.0


Kajanglako.com, Jakarta - Perwakilan DPD dan DPC Aliansi Jurnalistik Online Indonesia se Indonesia Hadir di kantor pusat DPP AJO Indonesia di bilangan

 

Minggu, 16 Desember 2018 08:31 WIB

Festival Kemah Kepemimpinan Pelajar SMA, Fachrori: Upaya Membangun Karakter Pelajar


Kajanglako.com, Jambi - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi, Fachrori Umar, mengapresiasi pembekalan kepemimpinan yang dilaksanakan oleh Pramuka. Dikatakan

 

Sabtu, 15 Desember 2018 15:32 WIB

PMII Bungo Donasikan Bantuan ke Anita Riana Pengidap Kanker Payudara


Kajanglako.com, Bungo – Sebagai bentuk kepedulian melihat kondisi Anita Riana, Warga Kecamatan Pelayang yang menderita kanker payudara, PC PMII Bungo

 

Sabtu, 15 Desember 2018 15:20 WIB

Jurnalis di Jambi Ikuti Google News Initiative Training Network


Kajanglako.com, Jambi - Sebanyak 25 Jurnalis di Jambi mengikuti pelatihan Google News Initiative Training Network yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen

 

Sabtu, 15 Desember 2018 15:01 WIB

Humas EBN: Haram Hukumnya PKL Jualan di Angsoduo Baru


Kajanglako,com. Jambi - Pasca direlokasi pedagang Angsoduo lama ke Pasar Angsoduo baru pada 11 November 2018 lalu, kini aktivitas dan operasional Angsoduo