Minggu, 16 Desember 2018


Sabtu, 03 Februari 2018 08:13 WIB

Raja-raja Djambi dan Sultan Mataram

Reporter : Redaksi
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Orang Kaijo Itam (Orang Kayo Hitam) menggantikan ayahnya sebagai raja. Ia memindahkan kerajaan Djambi ke Moeara Simpang. Walaupun ayahnya sudah berpesan agar ia menghaturkan sembah ke Mataram setiap tahun, hal itu tak dilakukannya. Sultan Mataram mengirimkan utusan ke Djambi untuk menanyakannya: mengapa Radja Djambi telah tiga tahun tidak datang ke Mataram? Kelalaian ini membuat Sang Sultan tak senang. Seperti dipecut, segera saja Orang Kaijo Itam  menyiapkan kapal-kapal dan perbekalan untuk berangkat ke Mataram bersama dua orang adiknya yang tertua.



Sesampai di tanah Jawa, ketiga lelaki Djambi itu bingung. Tak seorang pun mengetahui jalan ke pusat kerajaan Mataram. Setelah berjalan sekian lama, mereka menanyakan jalan kepada seorang lelaki. Ternyata lelaki itu seorang pandai keris. Dengan ramah, orang itu mengajak Orang Kaijo Itam dan adik-adiknya mampir ke rumahnya untuk melihat keris-keris buatannya. Sebilah keris menarik perhatian Orang Kaijo Itam. Untuk siapakah keris bagus ini?

Pandai keris itu mengangkat keris tadi. Katanya: “Keris ini dipesan oleh Sultan Mataram, khusus untuk membunuh seseorang bernama Orang Kaijo Itam bila orang itu sudah tiba di Mataram.”

Sontak, hati Orang Kaijo Itam terbakar marah mendengar penjelasan pandai keris itu. Ia merebut keris dari tangan lelaki itu dan menghunjamkannya di dada pembuatnya. Belum puas melepas marahnya, Orang Kaijo Itam mengamuk di pasar. Entah berapa banyak orang yang terluka dan mati oleh keris di tangannya.

Kabar tentang keributan di pasar pun sampai ke telinga Sultan. Diiringi oleh pasukan kerajaan bersenjata lengkap, Sultan berangkat sendiri untuk mengamati kekacauan di pasar. Ketika Sultan dan pasukannya tiba, Orang Kaijo Itam dan adik-adiknya menjatuhkan keris dan senjata-senjata di tangan. Mereka berlutut dan menyembah di kaki Sultan.

“Apa yang membuat kalian mengamuk dan membunuh orang di sini?” tanya Sultan dengan wajah berang.

Dengan kepala tertunduk, Orang Kaijo Itam menceritakan permasalahannya: ia yang datang untuk menghaturkan sembah ternyata telah divonis dengan hukuman mati di Mataram. Karena itulah, ia mengamuk. Ia tak kuasa lagi menahan diri. “Namun, hamba, Orang Kaijo Itam dari Djambi, kini menyesal melakukan semua kejahatan itu. Hamba akan menerima sanksi apa pun yang Baginda jatuhkan padaku.”

Sultan Mataram terkejut mengetahui bahwa ketiga lelaki yang membuat huru-hara itu adalah Orang Kaijo Itam dan adik-adiknya. Ketiga lelaki Djambi itu diperintahkan untuk ikut dengannya ke istana.

“Mengapa kau lalai menghaturkan sembah kepadaku?” tanya Sultan. “Sudah tiga tahun lamanya kau tak datang ke Mataram.”

“Hamba minta maaf minta ampun, Baginda,” ujar Orang Kaijo Itam. “Habis waktu hamba mengurus dan menyelesaikan segala-sesuatunya ketika ayahanda meninggal dunia. Lagipula, hamba pun repot sekali memindahkan kerajaan ke tempat yang baru.”

Sultan mengangguk penuh pengertian. Ia melepas Orang Kaijo Itam untuk kembali ke Djambi. Keris—yang sedianya akan digunakan untuk membunuh Orang Kaijo Itam dianugerahkannya pula ditambah dengan dua buah tombak dan sebuah pedang. Semua pemberian itu merupakan tanda persekutuan dan persahabatan.

“Mulai sekarang,” kata Sultan, “Kau kubebaskan dari kewajiban menghaturkan sembah kepadaku di Mataram. Datanglah kalau keadaan memungkinkan saja.”

Orang Kaijo Itam dan adik-adiknya merapatkan tangan, menyembah hormat kepada Sultan Mataram. Mereka mohon diri dan kembali ke Djambi. Ketika waktunya tiba, Orang Kaijo Itam wafat tanpa meninggalkan keturunan. Adiknya, Orang Kaijo Pingaij (Orang Kayo Pingai) menggantikannya sebagai Raja Djambi. Entah berapa lama kemudian, Orang Kaijo Pingaij meninggal dunia. Ia pun tak berketurunan.

Orang Kaijo Padataran (Orang Kayo Kedataran) menguburkan kakaknya di tepian kiri Sungai Djambi. Ia-lah kini yang bertahta sebagai raja. Ia mengutus adiknya, Orang Kaijo Kamoe (Orang Kayo Gemuk) ke Mataram untuk menyampaikan kepada Sultan bahwa kedua kakaknya telah meninggal dunia tanpa keturunan dan ia-lah yang kini bertahta di Djambi. Orang Kaijo Kamoe melaksanakan titah kakaknya, akan tetapi setelah itu, ia tidak kembali lagi. Ia menikah dengan seorang perempuan di Mataram. Pasangan suami-isteri itu dikaruniai lima orang anak.

Di Djambi, Orang Kaijo Padataran memindahkan kedudukan kerajaannya lagi. Tak lama kemudian, ia pun meninggal dunia. Seperti kakak-kakaknya, Orang Kaijo Padataran tidak meninggalkan anak seorang pun. Oleh kematiannya, tiada yang dapat menggantikannya sebagai raja. Beberapa orang petinggi kerajaan berangkat ke Pulau Jawa untuk mengabarkan berita duka itu kepada Orang Kaijo Kamoe dan untuk memintanya kembali ke Djambi.

Orang Kaijo Kamoe berkemas-kemas dan berangkat pulang ke Djambi bersama isteri dan kelima anaknya. Dalam perjalanan, ia jatuh sakit dan semakin lama, ia semakin lemah.  Sesampai di Poeloe Nangka, Orang Kaijo Kamoe merasa bahwa ajalnya sudah menjelang. Ia memanggil anak-anaknya dan berpesan, bila ia meninggal dunia,  mereka harus menguburkannya di Djaboeng, di Poeloe Barhalo dan mereka harus meneruskan perjalanan. Di Djambi, para petinggi kerajaan dan rakyat akan menentukan siapa di antara kelima anaknya yang akan dipilih dan dinobatkan sebagai raja. Tak lama kemudian, Orang Kaijo Kamoe menghembuskan nafasnya yang terakhir. Amanatnya dilaksanakan oleh isteri dan anak-anaknya. Mereka menguburkan suami dan ayah mereka di tempat yang telah dipilihnya, lalu melanjutkan perjalanan.

Kapal yang membawa kelima anak  Orang Kaijo Kamoe akhirnya merapat di Kotta Toea. Sebelum salah seorang di antara mereka dinobatkan sebagai raja, mereka bersepakat untuk terlebih dahulu memindahkan lokasi kerajaan Djambi. Hal ini segera dilakukan. Sebuah permukiman baru yang menjadi ibukota kerajaan dibangun di tempat yang kemudian dinamakan Rengas Pandak.

Rakyat Djambi dan para petinggi kerajaan memilih  anak sulung Orang Kaijo Kamoe, yaitu Nago Oekir, sebagai raja yang baru. Namun, Nago Oekir menolak karena matanya matanya cacat: bola matanya berwarna putih. Ia mengusulkan untuk menobatkan adiknya, Kembang Sirie, sebagai raja. Akan tetapi, anak kedua ini pun menolak karena matanya juga cacat: salah satu matanya buta. Ia mengusulkan untuk menobatkan adiknya, Mengoer, sebagai raja. Anak ketiga ini pun menolak karena ia juga merasa tak pantas menjadi raja Djambi. Kakinya pincang. Menurut Mengoer, adiknya,  Si Boengsoe, lebih pantas dinobatkan menjadi raja. Akan tetapi, pun Sie Boengsoe—anak yang keempat menolak karena ia juga merasa tak pantas menjadi raja: warna kulitnya terlalu hitam dan tubuhnya berbulu terlalu lebat.

Satu per satu, keempat anak lelaki tertua Orang Kaijo Kamoe menolak dinobatkan sebagai raja. Kini tinggal anak yang terakhir. Untunglah anak terakhir itu mengangguk setuju, dengan syarat bahwa keempat kakaknya bersedia membantunya menjalankan pemerintahan. Keempat kakaknya menyanggupi permintaan ini. Nago Oekir berjanji akan menjaga keamanan dan menolak semua musuh yang berniat memasuki perairan di muara sungai Djambi; ia juga berjanji akan mengurus dan merawat semua kapal dan perahu di dalam armada kerajaan.

Kembang Sirie berjanji untuk menjaga keamanan dan memerangi musuh di dalam negeri. Ia juga berjanji untuk mempertahankan ibukota kerajaan dan akan memperbaiki segala kerusakan yang bila terjadi pertempuran di Djambi. Mengoer berjanji untuk mengelola pembangunan rumah, bangunan dan benteng. Ia juga akan bertanggungjawab atas pembuatan kapal-kapal yang diperlukan kerajaan. Sie Boengsoe berjanji untuk menyediakan ‘auwer-auwer’—bambu berduri untuk pertahanan dan aneka kayu untuk bahan bangunan. Ia juga mengelola dapur kerajaan. Walaupun bidang yang akan dikelola oleh Sie Boengsoe bukanlah termasuk pekerjaan yang bergengsi, ia tak berkeberatan melakukannya. Ia sendiri merasa tak pantas dan malu menduduki jabatan yang tinggi karena tubuhnya yang hitam dan penuh bulu.

“Seorang raja harus memiliki nama yang bagus,” kata Nago Oekir.

Setelah berpikir dam berunding, kelima kakak-beradik itu memutuskan untuk memberi nama dan gelar Pangeran Rangas Pandak kepada adik terkecil yang akan menjadi raja Djambi. Pada saat itu juga, sebilah keris keramat dianugerahkan kepadanya.

Pangeran Rangas Pandak mengungkapkan empat titahnya yang pertama sebagai raja. Nago Oekir diperintahkannya untuk pergi dan tinggal di Saba supaya ia dapat menggalang semua orang Turki yang datang di tempat itu. Kembang Sirie diperintahkan untuk pergi ke pedalaman. Ia harus dapat menguasai 12 buah dusun dan membangun tempat tinggal di Moeara Sebo te vestigen. Mangoer diperintahkan untuk mengelola Soenja Kroe. Sie Boengsoe bertanggungjawab atas pengelolaan dan penyediaan auwer itam (bambu hitam).

*Sumber naskah: Anonim. ‘Legenden van Djambi,’ dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, vol 8 (Batavia: Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen, 1846. Hal. 33- 56.


Tag : #Saba #Pulau Berhala #Jambi #Nusantara #Orang Kayo Hitam #Orang Kayo Pingai #Orang Kayo Kedataran #Orang Kayo Gemuk #Mataram #Upeti



Berita Terbaru

 

Minggu, 16 Desember 2018 15:48 WIB

Serahkan 6.000 Sertifikat Tanah Gratis kepada Rakyat Jambi, Jokowi: jangan Digadai


Kajanglako.com, Jambi - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, melakukan kunjungan kerja ke Jambi , Minggu (14/12). Salah satu agendanya adalah memberikan

 

Minggu, 16 Desember 2018 15:44 WIB

Joko Tinjau Angsoduo Baru, Ini Hasil Bincangnya dengan Pedagang


Kajanglako.com, Jambi - Minggu pagi (16/12), Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (ASPARINDO) Joko Setiyanto, akhirnya menepati janjinya untuk

 

AJO Indonesia
Minggu, 16 Desember 2018 10:03 WIB

Menuju Rapimnas 2019, AJO Indonesia Siap Masuk Industri Digital 4.0


Kajanglako.com, Jakarta - Perwakilan DPD dan DPC Aliansi Jurnalistik Online Indonesia se Indonesia Hadir di kantor pusat DPP AJO Indonesia di bilangan

 

Minggu, 16 Desember 2018 08:31 WIB

Festival Kemah Kepemimpinan Pelajar SMA, Fachrori: Upaya Membangun Karakter Pelajar


Kajanglako.com, Jambi - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi, Fachrori Umar, mengapresiasi pembekalan kepemimpinan yang dilaksanakan oleh Pramuka. Dikatakan

 

Sabtu, 15 Desember 2018 15:32 WIB

PMII Bungo Donasikan Bantuan ke Anita Riana Pengidap Kanker Payudara


Kajanglako.com, Bungo – Sebagai bentuk kepedulian melihat kondisi Anita Riana, Warga Kecamatan Pelayang yang menderita kanker payudara, PC PMII Bungo