Senin, 20 Agustus 2018


Kamis, 01 Februari 2018 14:26 WIB

Pertempuran di Balik Tugu Durian Luncuk

Reporter : Redaksi
Kategori : Ensklopedia

Tugu Juang Durian Luncuk. Sumber foto: Museum Perjuangan Rakyat Jambi (MPRJ)

Oleh: R. H. Suhur*

Durian Luncuk merupakan nama sebuah kelurahan di Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Tahun 1949 di daerah ini terjadi peristiwa penyerangan besar-besaran terhadap pasukan Belanda oleh pasukan STD (Sub Teritorium Djambi) dengan komandan Kolonel Abunjani.



Peristiwa ini diawali pada 29 Desember 1948 saat pasukan STD yang sedang berbenah diri di Bangko ditembaki pesawat Belanda. Pesawat tersebut menembaki beberapa tempat, seperti kantor Pekerjaan Umum (PU), jembatan Merangin (jembatan H. Syamsuddin), dan iring-iringan kendaraan menuju Sungai Manau. Walaupun demikian penembakan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.

Penembakan ini menimbulkan kemarahan Komandan STD Kolonel Abunjani dan memerintahkan Kepala Staf Mayor Brori Masyur untuk mengumpulkan semua perwira yang berada di Kota Bangko di kediaman Komandan STD. Di dalam pertemuan tersebut terjadi dialog antara Komandan STD dengan para perwira, seperti berikut ini:

"Kito sudah litak dibuat Belanda. Di Jambi kito diserang. Pun beberapa hari sebelum ini di Bangko, kito diserang lagi. Apokah kito idak sanggup menyerang balik?'.

Sontak, pertanyaan komandan itu dijawab oleh para hadirin secara serentak, "sanggup!! Sasarannya pun ditetapkan, yaitu kedudukan Belanda terdekat, di Durian Luncuk.

Persiapan penyerangan mulai dilakukan, utamanya persenjataan dan pengangkutannya ke wilayah Durian Luncuk. Para perwira pun mulai berangkat ke Sarolangun, Pauh, dan berakhir di Mandiangin. Kelompok terakhir yang berangkat adalah komandan dengan mengenakan perahu melalui Sei Merangin menuju ke Mandiangin. Rombongan terakhir ini terdiri dari Kolonel Abunjani sebagai komandan, Mayor Brori Mansyur sebagai kepala staf, Sersan Mayor Cadet R. Suhur sebagai ajudan, Datuk Panglima Putih, Mayor Jepang Suroto, seorang Suku Anak Dalam sebagai penunjak jalan, dan 2 orang tukang kayuh perahu. Sesampainya di Mandiangin rombongan komandan menempati rumah Pasirah H. Arsyad yang letaknya di seberang Dusun Mandiangin.

Setelah beberapa hari beristirahat dan menyiapkan seluruh pasukan, pertengahan Februari 1949 rombongan Komandan STD mulai bergerak menuju Dusun Durian Luncuk dengan berjalan kaki. Sebelum memasuki Dusun Durian Luncuk, di Bukit Peranginan rombongan memasuki hutan agar dapat keluar menyerang dari belakang Dusun Durian Luncuk. Perjalanan memasuki hutan dengan membawa senjata yang berat sangatlah sulit, tetapi risiko dicurigai musuh akan berkurang bila dibandingkan memilih melalui jalan raya.

Setelah sekian lama berjalan sampailah rombongan di jalan raya, tetapi jalan tersebut masih jauh dari Dusun Durian Luncuk, tepatnya di Dusun Jelutih. Oleh karena masih banyak waktu serangan tersisa, pasukan diistirahkan agar kondisi mereka pulih kembali. Setelah beristirahat, dalam suasana malam yang gelap, pasukan per pasukan bergerak maju hati-hati dengan didahului oleh 2 orang pengintai, yaitu Mayor Jepang Suroto dan Sersan Mayor Cadet R. Suhur. Sebelum melakukan penyerangan pasukan berkumpul di pendakian bukit, di muka rumah Pasirah Sarbaini.

Komandan STD Kolonel Abunjani didampingi Kepala Staf Mayor Brori Mansyur melalui penghubung (ordenans) mengumpulkan semua komandan pasukan untuk memberi perintah sasaran penyerangan pada tempat kedudukan Belanda di Pasar Durian Luncuk dengan pembagian: (1) senapan mesin ringan di sebelah hulu dusun dikomandoi Letnan Muda Syamsuddin, (2) senapan mesin berat cal. 12,7 di barat camp Belanda dikomandaoi Kapten Daud dan kawan-kawan dengan didampingi Sersan Mayor Cadet P.Cl Lubis, yang kemudian membentuk Pasukan B 17, (3) hilir dusun ditempatkan dua orang yang bertugas memutuskan kabel telepon sehingga hubungan Belanda dengan induk pasukannya di Muara Tembesi terputus, (4) Mayor Suroto ber-jibaku menyerbu ke dalam barak Belanda dengan bersenjatakan pedang samurai, dan (5) Di seberang Sungai Tembesi ditempatkan Kapten Sulaiman bersama pasukannya, yang masing-masing membawa pasukan dengan hati-hati di tempat yang ditentukan.Tepat pukul 03.30 tanggal 18 Februari 1949 penyerangan dimulai dan dalam penyerangan ini banyak timbul korban di pihak Belanda.

Berdasarkan sejarah pertempuran itu sekaligus untuk mengenang perjuangan rakyat Jambi melawan penjajah masa itu, didirikanlah tugu juang di kelurahan Durian Luncuk, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari, provinsi Jambi. Hingga sekarang tugu juang tersebut masih berdiri kokoh.

*Tulisan ini merujuk ceramah kebudayaan daerah Jambi tahun 1991-1992 oleh R. H. Suhur.


Tag : #Batanghari #Kolonel Abunjani



Berita Terbaru

 

Senin, 20 Agustus 2018 01:41 WIB

Sempat Kabur, Polisi Ringkus Istri yang Bunuh Suami dengan Sadis


Kajanglako.com, Bungo - Jajaran Polres Bungo berhasil menangkap pelaku pembunuhan sadis, yang diduga dilakukan oleh istri terhadap suaminya sendiri. Di

 

Senin, 20 Agustus 2018 01:27 WIB

Kesal Kerap Dimarahi, Istri Habisi Nyawa Suami dengan Sebilah Kayu


Kajanglako.com, Bungo - Seorang istri di Dusun Sungai Mengkuang RT 5 Kampung Pal 8, Kecamatan Rimbo Tengah, nekat menghabisi nyawa suaminya sendiri dengan

 

Jelang Pilpres 2019
Minggu, 19 Agustus 2018 22:58 WIB

Diketuai Filius Chandra, Gerakan Nasional Cinta Prabowo Provinsi Jambi Terbentuk


Kajanglako.com, Jambi – Gerakan Nasional Cinta Prabowo atau GNCP Provinsi Jambi resmi terbentuk. Terpilih sebagai Ketua GNCP Provinsi Jambi, yakni

 

HUT ke-73 RI
Minggu, 19 Agustus 2018 21:41 WIB

Serunya Lomba Pacu Perahu di Desa Mendalo Laut, Ada Kategori untuk Ibu-ibu


Kajanglako.com, Muarojambi - Memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-73 Republik Indonesia, Pemerintah Desa Mendalo Laut mengadakan lomba pacu perahu tradisional

 

HUT ke-73 RI
Minggu, 19 Agustus 2018 21:25 WIB

Bupati Syahirsah Saksikan Atraksi Pawai Kebudayaan


Kajanglako.com, Batanghari - Bupati Batanghari, Ir Syahirsah Sy, beserta istri menyaksikan langsung pawai kebudayaan. Terlihat ribuan masyarakat Batanghari