Minggu, 16 Desember 2018


Rabu, 31 Januari 2018 13:58 WIB

Orang Kubu dalam Kaca Mata Edwin Meyer Loeb

Reporter : Redaksi
Kategori : Pustaka

Ilustrasi: Dua orang Kubu (Orang Rimba/Suku Anak Dalam) menari di sebuah pondok di hutan di daerah Tebo, Djambi (sebelum 1921). Koleksi TropenMuseum

Oleh Adi Prasetijo*

Buku Edwin Meyer Loeb berjudul Sumatra, Its History And People (1935) ini sebenarnya membahas tentang sejarah sumatra dan masyarakat yang menghuni pulau itu. Salah satu kajianya di buku ini adalah tentang Orang Kubu (untuk menyebut Orang Rimba atau Suku Anak Dalam), yang menjadi tinjauan penulis dalam kesempatan ini.



Orang Kubu di buku ini dibagi ke dalam empat bagian, yaitu sejarah Orang Kubu, lokasi mereka, dan pengistilahan Kubu sendiri; ekonomi dan mata pencaharian; organisasi sosial (sistem kekerabatan, perkawinan, dan kelahiran-kematian; dan agama yang mereka anut.

Ras Veddoid

Loeb melihat bahwa antara ras dan kebudayaan sebagai suatu kesatuan. Hal ini nampak pada penjelasannya tentang orang Kubu yang dilihatnya sebagai ras Veddoid. Ia melihat ada kesinambungan dan kemiripan kebudayaan di antara ras-ras Veddoid. Suku Sakai dan orang Kubu misalnya, selain mempunyai jenis ras yang sama, juga mempunyai kebudayaan yang mirip. Kemiripan kebudayaan misalnya nampak dalam cara hidup mereka yang nomadik, cara berpakaian, dan kebiasaan orang Kubu yang tidak bersunat. Suatu kebiasaan yang lazim bagi masyarakat Veddoid pada umumnya, meskipun terdapat pengecualian dengan orang-orang Australia (hlm. 285).

Selain Veddoid, di Sumatra terdapat dua ras lain yaitu Negrito dan Malaysian (Melayu). Ras Veddoid sendiri mempunyai ciri-ciri pendek dan tinggi antara 153-158 cm untuk laki-lakinya. Mereka berkulit cokelat tetapi lebih terang. Rambut mereka berombak, rambut hitam yang kasar, mempunyai tonjolan mata yang menonjol, dan dahi yang mencekung. Hidung mereka pesek, muka kasar, dan dagu yang mencekung. Mulut mereka besar dengan bibir yang tipis. Veddoid merupakan dolichocephalic (index tengkorak kurang dari 75) dan mempunyai tengkorak yang kecil. Menurut Loeb, ras Veddoid ini kemudian bercampur darah dengan ras yang lain.

Suku Senoi atau Sakai adalah salah satu contoh sisa ras Veddoid yang menurut Loeb masih asli. Kleiweg de Zwaan, seorang ilmuwan Belanda, mempercayai bahwa  ras Veddoid yang ada di Sumatra mempunyai hubungan darah dengan ras Vedda yang ada di Ceylon/Srilangka. Van Dongen bahkan menulis bahwa orang Kubu tidak mempunyai folkore. Ini menyerupai orang Veddas di Srilangka (Ceylon), yang juga memperoleh kebudayaan Singhalese yang telah hilang bahasa aslinya dan folkorenya.

Di Sumatra, garis darah Veddoid ini nampak sangat menonjol di kalangan orang-orang Kubu di Palembang. Menurut Loeb, ras veddoid di Sumatra ada dalam dua suku, yaitu Orang Kubu dan Suku Sakai yang ada di provinsi Siak. Ada beberapa orang di semenanjung Malaya yang mempunyai kemiripan dengan mereka. Seperti orang-orang di Enggano dan Mentawai. Loeb juga menyimpulkan bahwa orang primitif Malayu di Sumatra adalah merupakan ras campuran dengan Veddoid.

Loeb merujuk pada Kleiweg de Zwaan yang menunjukan bahwa kebudayaan primitif Melayu tersebut mempunyai kemiripan dengan  kebudayaan veddoid. Seperti terlihat pada Suku Senoi/Sakai yang sangat tipikal.  Mereka adalah orang nomadik, hidup dari berburu dan mencari ikan, membuat sendiri pondoknya, dan mengenakan pakaian dari kulit tapa. Selain mereka menggunakan sumpitan dan panah beracun, Suku Senoi juga memakai panah dan busur. Mereka monogami dan tidak mempunyai pemimpin formal dalam memimpin mereka. Mereka juga tidak begitu mendalami pertanian. Mereka mempunyai anjing sebagai binatang pemburu. Selain itu oleh Kleiweg de Zwaan, digambarkan mereka tidak mengenal pekerjaan yang berhubungan dengan metal, keramik, dan waeving (hlm.15).

Orang Kubu sendiri menurut Loeb hidup di rawa-rawa yang ada di antara sungai Musi, Rawas, Tembesi, dan Batang hari. Mereka berkumpul dan dicatat dalam beberapa desa/dusun. Pada tahun 1907 tercatat terdapat 7.590 orang Kubu yang tersebar dalam lima marga. Secara fisik, menurut Loeb hidup mereka cukup menyedihkan, terutama wanita. Hampir semua dari mereka telah berpindah agama menjadi Islam, tetapi hanya perpindahan nama saja. Mereka tidak diperkenankan untuk makan makanan yang telah menjadi kebiasaan mereka, bekas-bekas omnivora, dan makan semua jenis binatang yang berdarah, meskipun telah membusuk.

Hubungan Orang Kubu dengan Orang Melayu

Hubungan kedua suku itu merupakan hubungan dagang yang tidak pernah dilakukan secara langsung, tetapi dilakukan melalui cara “silent barter” atau barter secara tersembunyi. Mereka meninggalkan barang-barangnya di semak-semak, lalu orang Melayu yang mengambilnya dan menggantinya dengan barang lain sebagai pembayarannya.

Meskipun mereka kurang melakukan hubungan langsung dengan orang Melayu, bagi Loeb orang Kubu mengambil bahasa, organisasi sosial, dan agama orang Melayu Palembang (hlm.282). Ia melihat bahwa banyak unsur-unsur kebudayaan orang Kubu yang diambil dari unsur-unsur kebudayaan Melayu. Lebih tepatnya, ia mengatakan terjadi suatu peniruan terhadap nilai-nilai budaya orang Melayu. Ada beberapa fakta yang ia ungkapkan untuk memperkuat pendapatnya. Misalnya, pernyataanya tentang jumlah istri yang lebih dari seorang. Ia mengatakan “Kemungkinan peniruan dari orang Malayu, Kubu membiarkan mempunyai istri sebanyak yang ia sukai. Secara formal ada 3 istri, tetapi sekarang tidak ada yang lebih dari dua. Jika ada seorang Kubu mempunyai dua istri, ia membuat shelter lebih besar dan tidur di pusatnya dengan istri di sisinya.”(hlm. 284)

Contoh lain yang ia berikan adalah cara orang Kubu meyelesaikan masalahnya dengan orang luar. Dalam menyelesaikan permasalahan, secara alami tidak ada perang antara berbagai komunitas Orang kubu, atau dengan orang luar. Dan Loeb melihat bahwa cara penyelesaian itu, mereka dapatkan dari  orang Melayu (hlm. 285). Atau dalam agama orang Kubu, yang ia nilai adalah bentuk awal dari kepercayaan orang Melayu dulu ketika mereka masih mempercayai Hindu. Meskipun ia mengetahui hanya sedikit tahu tentang keyakian asli orang-orang Kubu, ia melihat bahwa praktek shamanisme orang Kubu telah menunjukan bahwa orang-orang ini telah dipengaruhi oleh orang Melayu dalam praktek dan doktrin, jauh sebelum mereka punya perhatian untuk banyak mengadopsi di dalam cara  dari kebudayaan material. Ia nyatakan juga secara tegas bahwa dalam praktek itu tidak ada pandangan Kubu tentang shamanism, ini adalah Hindu dan Malayu (hlm.286).

Loeb melihat orang Kubu terlambat dalam merubah pola hidupnya, dan melanjutkan hidupnya sebagai pengembara di semak belukar sampai pemerintah Belanda memaksa mereka untuk menetap dan melakukan pertanian. Meskipun pada saat ini Kubu menolak untuk bekerja seperti biasanya dan mandi (hlm.282). Ia melihat perubahan besar dalam kehidupan Orang Kubu terjadi ketika pemerintahan Belanda di Palembang mengambil bahan-bahan dari mereka dan menggunakan orang Malayu untuk menarik pajak di bawah pengawasan pemerintahan Belanda. Produk sumber daya alam dari hutan dikumpulkan sebagai pajak. Dan pada tahun 1890, ketika  minyak ditemukan di Palembang, Orang Kubu semenjak itu mulai belajar menggunakan uang (hlm. 282).

Kubu Liar dan Kubu yang Beradab

Loeb mengkategori orang Kubu dalam dua tipe, yaitu kubu liar dan yang beradab. Ia membedakannya berdasarkan atas pola hidupnya. Misalnya ia menyebut orang Kubu yang liar adalah masyarakat yang hidupnya nomadik (mengembara) dan orang Kubu yang beradab adalah masyarakat yang telah hidup menetap. Ia memberi contoh bagaimana orang Kubu yang liar, seperti Kubu Ridan berada hampir lama 1 bulan dalam satu tempat, kadang hanya 1 minggu, tergantung dari keadaannya, seperti pepohonan yang ada di sekitarnya yang hanya menawakan sedikit makanan, atau tidak cukup ikan di sungai atau rawa-rawa, dan mereka tidak dapat memperoleh makanan favoritnya, kura-kura mereka akan pindah. Hal ini berbeda dengan orang Kubu yang menetap, yang mencoba untuk hidup dari hasil pertanian. Juga dalam organisasi sosialnya, orang Kubu yang beradab/menetap dibagi atas dasar saudara, di dalam peniruan mereka kepada tetangga mereka, Kubu yang liar hanya mempunyai organisasi keluarga (hlm. 284).

Loeb melihat pengkategorian Kubu yang menetap dan Kubu yang liar ini sebagai akibat dari pemaksaan yang dilakukan oleh pemerintahan Belanda. Pada waktu itu pemerintah Belanda melakukan pemaksaan agar orang Kubu mau menetap dan melakukan usaha pertanian. Meskipun begitu ada orang Kubu yang menolak untuk bekerja seperti biasanya dan mandi (hlm.282). Ia melihat perubahan besar dalam kehidupan Orang Kubu ini terjadi ketika pemerintahan Belanda di Palembang mengambil bahan-bahan dari mereka dan menggunakan orang Malayu untuk menarik pajak dibawah pengawasan pemerintahan Belanda. Produk sumber daya alam dari hutan dikumpulkan sebagai pajak. Dan pada tahun 1890, ketika  minyak ditemukan di Palembang. (hlm. 282).

Loeb melihat orang Kubu yang liar mempunyai karakter yang rendah. Seperti nampak ketika ia membicarakan makanan dan pola makan orang Kubu liar yang tidak mengenal nasi, dan tidak biasa memakannya. Dikatakannya bahwa mereka tidak akan makan kucing, harimau, dan gajah. Mereka makan babi liar, semua jenis kera, dan kura-kura, binatang yang tidak dimakan oleh orang Melayu. Mereka sangat senang dengan pisang. Mereka  lebih menyukai makan buah-buahan, tumbuhan berumbi (earth root), cacing/ulat, kadal, dan ular. Mereka menggali untuk mencari cacing dan tumbuhan yang menjalar dengan menggunakan serpih yang dibentuk dari bambu, atau parang yang didatangkan dari orang Melayu. Semua makanan dibakar diatas api, diputar-putar sedikit dan kemudian mereka makan. Mereka tidak menggunakan garam (hlm. 283).

Terhadap stigma yang diberikan kepada nama mereka, orang Kubu yang beradab tidak mau disebut demikian, mereka lebih suka disebut sebagai Orang Darat atau Orang Laut, penduduk yang ada di daratan atau sungai. Pada tahun 1906, Van Dongen, berhubungan dengan orang Kubu yang terisolasi di rawa-rawa Sungai Ridan di mana mereka telah meninggalkan nama Kubu. Untuk lebih terlihat beradab, mereka menggunakan kata-kata saudara.

Tetapi pada kenyataan, tidak semua nilai-nilai budaya Kubu tersebut hilang pada orang Kubu yang menetap. Yang terjadi adalah bentuk-bentuk variasi dari nilai-nilai yang sudah ada. Ia mencontohkan  dalam “melangun”, tradisi meningalkan orang mati atau orang yang sekarat oleh keluarganya. Ia melihat bahwa pengecualian pada orang Kubu yang beradab ketika yang sakit adalah anak-anak. Mereka  tidak serta merta pergi meninggalkan si sakit, seperti yang dilakukan orang Kubu yang liar, tetapi ia akan menengoknya terlebih dahulu. Setelah dirasakan kemungkinan sembuh besar, ia akan merawat si sakit. Apabila si sakit meninggal, mereka akan pergi ke tempat lain. Seperti yang ia ungkapkan,

Agama

Forbes, seorang penulis Inggris yang mengunjungi Kubu pada 1885, menulis “Mereka kelihatannya tidak mempunyai gagasan tentang kedaan setelah mati. Mereka mengatakan, Ketika kita mati, kita mati.” Forbes mengetahui bahwa orang Kubu menghindari kematian, dalam tulisannya ia menulis, “Di dalam kedaan liar mereka meninggalkan kematian. Mereka tidak dikubur di suatu tempat dimana mereka mati, memberi suatu tempat meskipun setelah secara luas tempat itu tersebar”. Hagen juga menulis bahwa orang Kubu tidak percaya akan jiwa yang hidup setelah mati. Orang Kubu membebaskan kematian mereka kepada binatang liar/buas.

Menurut Van Dongen, kepercayaan Orang Kubu berdasar pada kepercayaan, yaitu setiap manusia dibuat atas sipat (material), roh (semangat, jiwa, benda pemikiran) dan nyawa (kesehatan yang memproduksi bahan/zat). Tubuh material disamakan dengan sifat. Jiwa ada dalam nyawa, atau nafas, dimana tidak akan meninggalkan tubuh hingga manusia mati, dan roh. Roh adalah semangat atau kekuatan untuk berpikir, adalah dapat meninggalkan tubuh dan mengembara, seperti di dalam mimpi. Dalam kematian njawa dan roh akan kembali ke surga dan mereka diterima oleh Tuhan atau (Radja Njawa) untuk kebaikan atau kejahatan. Radja Njawa dapat diartikan, menurut Van Dongen, adalah semua jiwa/spirit, dunia spirit, dan kekuatan spirit/jiwa.

Orang Kubu mengenal dukun, yang disebutnya sebagi malim. Orang Kubu menyatakan bahwa dukun pertama yang disebut sebagai malim kujug, mencapai gelar dan mempunyai kekuatan untuk membebaskan hantu, dengan membawa anjingnya (kujug) kembali hidup. Kemudian di setiap daerah mengirimkan seseorang untuk belajar di bawah pengawasan malim kujug, hingga setiap daerah memperoleh kepala malimnya sendiri. Dalam masa kini kata”malim” merupakan bentuk kependekan dari “dukun bermalim”.

Malim kepala datang turun temurun, dari ayah ke anak yang sulung. Pada masa ini malim kepala dipanggil pengasu (asu adalah anjing). Malim kepala bertindak sebagai kepala pejabat di pembebasan, upacara keagamaan, dan pertemuan keagamaan yang penting. Masyarakat yang lain, dimana orang yang membantu, biasanya muridnya adalah biasanya malim.

Dalam cara yang sama sebagai malim kujug dibantu oleh istrinya ketika ia membawa anjingnya kembali ke kehidupan semula. Dengan membersihkan roh jahat keluar dari binatang, dengan demikian kini setiap malim pengasu mempunyai istrinya sebagai pembantunya dalam upacara. Sang istri kemudian mendapatkan julukan ulubalang.

Jika seseorang sakit, malim yang dipanggil untuk mengusir setan yang ada dalam pasien. Prosesi ini disebut bermalim. Ada beberapa macam cara formulasi pengusiran setan dengan menggunakan lagu yang disebut saleh, selain itu ada pertemuan religius pengusiran hantu yang tidak berbeda jauh dengan proses lainnya. Sehari sebelum proses penyembuhan semuanya haruslah disiapkan, dan menyiapkan makanan yang diperlukan. Semua makanan dibawa dalam “tujuh”, ada 7 macam barang.

Malim yang berfungsi sebagai pembantunya dan ulubalang, tidak makan apapun selama malam pengusiran setan, tetapi mereka merokok dan  mengunyah sirih. Jika ada oprang lain yang makan, mereka akan duduk mengambil jarak. Malim kepala, dan biasanya pembantunya juga, menutup lubang di tubuh mereka selama mereka melakukan tugasnya. Mereka mungkin mendengar apapun, melihat apapun, meskipun menguap atau sakit perut, ketuka berkonsentrasi. Ini juga merupakan alasan bahwa pertemuan penting keagamaan diadakan malam hari. Menjelang terbit matahari, malim kepala dan pembantunya mensucikan dirinya dengan mandi. Kemudian membasuh tubuh mereka dengan air jeruk.

Kesimpulan

Loeb melihat kebudayaan orang Kubu dalam suatu prespektif evolusi, sesuatu yang ia sadari benar. Seperti ia ungkapkan dalam pengantar bukunya, bahwa ia memilih untuk melakukan pendekatan teoritis yang sifatnya evolusionari. Suatu pemikiran teoritis yang ketika pada masa itu memang sedang menonjol.

Ia melakukan kontak dengan para ilmuwan evolusianari, seperti Keller, Kroeber, dan Lowie (hlm. 3). Sehingga wajar bahwa kemudian nampak adanya perbandingan antara kebudayaan orang Kubu sebagai ras Veddoid dan kebudayaan Melayu sebagai ras Melayu, yang kedua perbandingan kebudayaan tersebut dilihatnya dalam suatu prespektif kesinambungan perkembangan kebudayaan yang berangkat dari bentuk yang  sederhana hingga menjadi kompleks, seperti dipaparkan di atas.

Dalam bukunya ini, Loeb mengakui bahwa ia tidak mengetahui asal usul kata-kata Kubu, Lubu, dan Ulu. Istilah itu muncul di kalangan penduduk desa, yakni Kubu berarti orang-orang/seseorang yang makan segalanya termasuk makanan yang tidak bersih, dimana mereka tidak hidup/tinggal di dalam rumah, dan tubuh mereka tidak bersih sebagai akibat penolakan mereka terhadap air. Juga pengkategorian orang Kubu yang beradab dan yang liar. Pengkategorian ini bersifat bias karena dalam pengkategoriannya, ia mendasarkan pada pengamatan gejala-gejala yang nampak saja.

Di samping itu, secara metodologis, buku Loeb ini mempunyai banyak kelemahan. Ia banyak mendasarkan tulisannya pada beberapa karya etnografi lama hasil tulisan ilmuwan asing seperti orang Belanda, Prancis, dan Jerman, yang mempunyai banyak kelemahan dalam tehnik-tehnik pengambilan data. Meskipun melakukan field work yang ia lakukan selama beberapa tahun, yaitu dari tahun 1926 – 1927 dan 1928 – 1929, ia menyadari berbagai kekurangan itu.

*Tulisan di atas merupakan timbangan antropolog Adi Prasetijo, Ph.D. terhadap buku Sumatra, Its History And People karya Edwin Meyer Loeb (1935). Versi indonesia buku ini telah diterjemahkan oleh Ombak Yogyakarta dengan judul Sumatra: Sejarah dan Masyarakatnya (2013). Dalam tulisan ini, penulis menggunakan kata Orang Kubu merujuk kepada definisi yang diberikan oleh Edwin M. Loeb untuk menyebut Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) sekarang.


Tag : #Orang Rimba #Jambi #Sumatra #Suku Anak Dalam #Orang Kubu



Berita Terbaru

 

Minggu, 16 Desember 2018 15:48 WIB

Serahkan 6.000 Sertifikat Tanah Gratis kepada Rakyat Jambi, Jokowi: jangan Digadai


Kajanglako.com, Jambi - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, melakukan kunjungan kerja ke Jambi , Minggu (14/12). Salah satu agendanya adalah memberikan

 

Minggu, 16 Desember 2018 15:44 WIB

Joko Tinjau Angsoduo Baru, Ini Hasil Bincangnya dengan Pedagang


Kajanglako.com, Jambi - Minggu pagi (16/12), Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (ASPARINDO) Joko Setiyanto, akhirnya menepati janjinya untuk

 

AJO Indonesia
Minggu, 16 Desember 2018 10:03 WIB

Menuju Rapimnas 2019, AJO Indonesia Siap Masuk Industri Digital 4.0


Kajanglako.com, Jakarta - Perwakilan DPD dan DPC Aliansi Jurnalistik Online Indonesia se Indonesia Hadir di kantor pusat DPP AJO Indonesia di bilangan

 

Minggu, 16 Desember 2018 08:31 WIB

Festival Kemah Kepemimpinan Pelajar SMA, Fachrori: Upaya Membangun Karakter Pelajar


Kajanglako.com, Jambi - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi, Fachrori Umar, mengapresiasi pembekalan kepemimpinan yang dilaksanakan oleh Pramuka. Dikatakan

 

Sabtu, 15 Desember 2018 15:32 WIB

PMII Bungo Donasikan Bantuan ke Anita Riana Pengidap Kanker Payudara


Kajanglako.com, Bungo – Sebagai bentuk kepedulian melihat kondisi Anita Riana, Warga Kecamatan Pelayang yang menderita kanker payudara, PC PMII Bungo