Jumat, 22 Juni 2018


Minggu, 28 Januari 2018 17:39 WIB

Pertempuran Berdarah di Djambi

Reporter : Redaksi
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Putra Mahkota mengutus seorang mantri untuk mengantarkan suratnya kepada Toean Talanie (Tun Telanai). Berperahu, mantri itu meneruskan perjalanan dan akhirnya tiba di kota Djambi. Para hulubalang mengabarkan kepadanya bahwa utusan dari anak (angkat) Radja Siam telah tiba di kota. Toean Talanie menerima surat itu dengan upacara resmi sebagaimana surat dari seorang Radja harus diterima. Seorang pembesar membacakan surat itu dengan suara lantang.



Toean Talanie terhenyak mendengar isi surat itu. Di manakah adanya anak Radja Siam itu? Mantri menjelaskan: Putra Mahkota berada di Kepedis, tak jauh dari Moeara Koempeh. Toean Talanie diam sesaat, lalu ia berkata tegas: “Sampaikan kepada Toean-mu bahwa aku tak pernah mempunyai anak seorang pun. Karena itu, aku sama sekali tak tahu apa pun perihal yang tertulis di surat ini!”

Mantri itu kembali ke Kepedis. Ia melaporkan segala-sesuatu yang telah dilihat, didengar dan dialaminya. Rasa tak puas bergolak di hati Putra Mahkota. Ia mengharapkan jawaban atas suratnya. Mantri itu diperintahkannya untuk sekali lagi menghadap Toean Talanie. Kembalilah Mantri ke kota Djambi. Sekali lagi, para hulubalang menyampaikan kedatangan utusan anak Radja Siam. Namun, kali ini Toean Talanie sama sekali tak berkenan menerimanya. Ia hanya berpesan untuk menyampaikan kepada Putra Mahkota bahwa ia, Toean Talanie, tak pernah mempunyai anak seorang pun.

Bukan main gusarnya Putra Mahkota mendengar laporan mantri ketika lelaki itu tiba kembali di Kepedis. Putra Mahkota segera memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan persenjataan. Kapal-kapal di armadanya pun dipersiapkan untuk menyerang Djambi. Secepat mungkin, armada bersenjata lengkap itu berangkat.

Serangan dadakan itu mengejutkan rakyat kota Djambi. Mereka sama sekali tidak menduga akan diserang. Tak seorang pun siap menghadapi serangan Putra Mahkota. Pun demikian, didorong oleh Toean Talanie, seluruh rakyat mengangkat senjata untuk mempertahankan kota.

Pertempuran berlangsung selama tujuh hari berturut-turut. Tak henti. Darah, merah segar, tumpah membanjiri Djambi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Separuh rakyat Djambi tewas. Toean Talanie akhirnya memanggil Putra Mahkota. Kemarahan menggelegak di hati Putra Mahkota. Walau telah begitu banyak rakyat Djambi yang tewas dalam pertempuran, Toean Talanie masih saja tak dapat dipaksa mengakui dirinya sebagai anak. Menahan marah, pemuda itu datang memenuhi panggilan Toean Talanie.

Ketika akhirnya mereka bertemu muka, secepat kilat, Putra Mahkota mengangkat tombaknya dan menyerang ayahnya. Toean Talanie terluka parah. Namun ia masih bernafas. Tersengal-sengal, ia berkata: “Dengan sepotong besi pun, kau takkan dapat menghabisi nyawaku! Apalagi dengan sebongkah batu! Mengapa kau menginginkan kematianku? Lebih baik kita mengakhiri pertempuran berdarah ini. Marilah kita berdamai.”

Wajah Putra Mahkota tampak beringas dan di sudut bibirnya, kemarahan berbusa-busa. Ia berteriak: “Tidak! Salah seorang di antara kita harus menjadi pemenang pertarungan ini!”

Pemuda itu memungut sebongkah batu besar di dekatnya. Ia mengangkat batu itu tinggi di atas kepalanya. Toean Talanie, yang lemas dan lemah karena telah banya kehilangan darah, tak berdaya. Hantaman batu di tangan Putra Mahkota membuatnya menghembuskan nafas terakhir.

Pertempuran terhenti oleh kematian Toean Talanie. Pembesar kerajaan, para kepala dusun, dan seluruh rakyat Djambi menekuk lutut menyembah Putra Mahkota. Permaisuri, isteri Toean Talanie, menceritakan bahwa memang benar adanya: Putra Mahkota adalah anak kandungnya. Putra Mahkota adalah anak kandung Toean Talanie. Puaslah hati Putra Mahkota. Pertanyaan yang selama ini menghantui hatinya telah terjawab.

Putra Mahkota memerintahkan untuk menyiapkan perbekalan dan kapal-kapalnya. Ia akan kembali ke Siam. Para pembesar kerajaan dan para kepala adat Djambi dibawanya serta. Djambi ditinggalkannya. Semak dan pepohonan tumbuh tanpa ada yang peduli. Djambi kembali menjadi belantara. Ramalan yang dulu pernah disampaikan kepada Toean Talanie telah menjadi kenyataan.

Catatan FA (Frieda Amran): Demikianlah legenda Toean Talanie yang dicatat oleh penulis Anonim. Penulis ini menyambung dengan tulisan mengenai asal-usul dan silsilah raja-raja Djambi. Seperti juga legenda tentang Toean Talanie, kisah mengenai asal-usul raja-raja Djambi merupakan catatan dari cerita seseorang di Djambi kepadanya.

Seorang lelaki bernama Datoek Padoeka Barhalo yang berasal dari Turki datang dengan armada besar. Ia diiringi oleh sepasukan orang-orang bersenjata lengkap. Lelaki itu memerintahkan untuk berlabuh dan melepas sauh di Poeloe Barhalo (Pulau Berhala). Mereka membangun permukiman dan menetap di sana. Datoe Padoeka Barhalo mengangkat dirinya sebagai raja. Lelaki inilah yang menjadi poyang pertama raja-raja Djambi. Tak lama setelah bertahta, ia memperoleh seorang anak lelaki yang diberi nama: Datoe Padoeka Ningsoen.

Setelah Datoe Padoeka Barhalo meninggal dunia, Datoe Padoeka Ningsoen bertahta. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Datoe Padoeka Barhalo menuntut suatu janji dari anaknya: setiap tahun, ia harus datang menghadap ke Sultan Mataram untuk menyampaikan sembah setia. Setiap kali pula, ia harus membawa dan mempersembahkan tiga hal, yaitu sejenis dedaunan keramat, sejenis ikan yang diasinkan dan sejenis ikan yang dikeringkan.

Datoe Padoeka Ningsoen mengangguk. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia memenuhi janji. Setiap tahun, ia pergi menghaturkan sembah kepada Sultan Mataram. Ia juga pergi ke Palembang dan menghaturkan sembah kepada Demang Lebar Daon. Datoek Padoeka Ningsoen menikah dengan anak perempuan Demang Lebar Daon. Perempuan itu dibawanya pulang ke Poeloe Barhalo.

Tak lama kemudian, Datoe Padoeka Ningsoen memutuskan untuk meninggalkan Poeloe Barhalo. Ia membangun permukiman di Djabong (Tanjung Jabung). Seluruh keluarga dan rakyatnya pindah pula ke permukiman baru itu.

Datoe Padoeka Ningsoen dikaruniai empat orang anak lelaki, yaitu:  Orang Kaijo Pingaij (Orang Kayo Pingai), Orang Kaijo Itam (Orang Kayo Hitam), Orang Kaijo Kadataran (Orang Kayo Kedataran) dan Orang Kaijo Kamoe (Orang Kayo Gemuk).

*Sumber naskah: Anonim. ‘Legenden van Djambi,’ dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, vol 8 (Batavia: Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen, 1846. Hal. 33- 56.


Tag : #Datoek Padoeko Berhalo #Orang Kayo Hitam #Raja-raja Jambi #Sumatra #Demang Lebar Daoen #Orang Kayo Pingai #Toean Talanie #Raja Siam #Jambi



Berita Terbaru

 

Kebakaran
Kamis, 21 Juni 2018 23:00 WIB

Kebakaran Rumah Makan di Bungo, Diduga Sengaja Dibakar Orang Tak Dikenal


Kajanglako.com, Bungo - Sebuah rumah pribadi dan sekaligus rumah makan di bungo ditinggal mudik di Jalan Ali Sudin, Kamis malam (21/6), hangus sekejap

 

Kebakaran
Kamis, 21 Juni 2018 22:54 WIB

Di Tinggal Mudik, Satu Rumah Makan Hangus Terbakar


Kajanglako.com, Bungo - Sebuah rumah pribadi dan sekaligus rumah makan di Bungo yang ditinggal mudik di Jalan Ali Sudin, Kamis malam (21/6) hangus sekejap

 

Curat
Kamis, 21 Juni 2018 19:08 WIB

Polsek Pelawan Singkut Tangkap Kawanan Spesialis Bongkar Rumah


Kajanglako.com, Sarolangun - Dua orang pelaku tindak pidana Pencurian dengan Pemberatan (Curat) berhasil ditangkap Polsek Pelawan Singkut.    Penangkapan

 

Pilwako Jambi 2018
Kamis, 21 Juni 2018 18:48 WIB

Dugaan Tak Netral, Oknum ASN Dilaporkan Fasha-Maulana ke Panwaslu


Kajanglako.com, Kota Jambi - Diduga tak netral di Pilwako, oknum ASN dilaporkan Tim Fasha-Maulana ke Panwaslu Kota Jambi.    Dugaan Ketidaknetralan

 

Pilkada Serentak 2018
Kamis, 21 Juni 2018 17:41 WIB

Fasha Diundang Warga Tionghoa Hadiri Malam Kekaraban


Kajanglako.com, Kota Jambi – Isu soal kenaikan pajak di Kota Jambi yang selama tahapan Pilkada Kota Jambi terus ditujukan kepada Pasangan Calon nomor