Selasa, 25 September 2018


Sabtu, 20 Januari 2018 08:19 WIB

Putra Mahkota Radja Siam

Reporter : Redaksi
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Radja Siam memperhatikan peti besar di hadapannya. Beberapa waktu lalu, peti itu masih terapung-apung di atas air. Para hulubalang mengangkatnya dan meletakkannya di hadapan raja. Peti itu ternyata tidak terkunci. Tak pula ada peralatan yang melekat padanya untuk membukanya. Namun demikian, beberapa saat kemudian, peti itu terbuka. Enam buah peti di dalamnya pun terbuka sendiri. Pada peti yang paling dalam, peti yang ketujuh, barulah tampak sebuah gembok dan anak kunci untuk membukanya.  Semakin terheran-heranlah orang melihat peti berlapis tujuh itu.



Sang Radja membuka gembok pengunci peti yang ketujuh, lalu membuka tutupnya perlahan. Seorang bayi lelaki tidur di dalamnya. Di dekatnya, terdapat selembar surat yang bertuliskan: “Bayi ini adalah anak lelaki Toean Talanie (Tun Telanai), Radja Djambi.”  Sang Radja mengangkat bayi itu dan menyerahkannya ke tangan isterinya. Permaisuri berdecak kagum melihat ketampanan wajah bayi itu dan memeluknya hangat.

Bukan main senangnya Radja Siam dan permaisurinya memperoleh bayi itu. Anak itu disayang seolah anak mereka sendiri. Ia diemong dan dimanja oleh Pengasuh Kerajaan menjadi anak yang nakal. Anak-anak pembesar Kerajaan Siam—yang diharuskan bermain dengannya—kewalahan menghadapinya. Ia berlaku semena-mena, memukul dan menendang teman-temannya bermain. Tak seorang pun melarangnya. Tak juga Sang Radja dan Permaisuri yang mencurahkan kasih-sayang berlebihan kepadanya. Dengan bersuka cita, Radja Siam bahkan mengumumkan bahwa ia telah memiliki seorang putra mahkota.

Lama-kelamaan, anak-anak para mantri kerajaan yang kesal melihat prilakunya, mencibir: “Hei! Di manakah sebetulnya ayahmu? Kau hanyalah anak terlantar yang dibuang ke laut! Kau hanyalah diangkat anak oleh Radja Siam!” Si Putra Mahkota terkejut mendengar kata-kata ini. Lalu, pergilah ia menghadap Radja Siam. Dengan suara gundah, ia bertanya: “Benarkah bahwa aku bukan anak Baginda? Benarkah bahwa aku diketemukan di laut? Katakanlah yang sebenarnya!”

“Anakku!” seru Sang Permaisuri, yang duduk di samping Sang Radja. “Siapa lagi orangtuamu kalau bukan kami sendiri? Mengapa kau tanyakan hal ini?”

Anak itu tetap murung. Semakin orang membujuk dan membesarkan hatinya, semakin murung dan gundah hatinya.

“Katakanlah yang sebenarnya,” ujarnya. “Andai tak diketahui siapa ayahku yang sebenarnya, lebih baik aku mati saja daripada menanggung malu dituduh sebagai anak terlantar yang dibuang orangtuanya sendiri!”

Radja Siam betul-betul gusar pada anak-anak yang telah membuka rahasia penemuan anaknya. Ia segera memerintahkan pengawalnya untuk membunuh anak-anak itu. Dan, itu pun terjadi. Entah berapa banyak anak yang dibunuh ketika itu. Sebuah maklumat diumumkan ke segala penjuru Kerajaan Siam: barang siapa yang membuka rahasia penemuan anaknya akan dikenakan sanksi hukuman mati. Tentu tak ada lagi yang berani membahas perihal asal-usul Putra Mahkota. Ia tak lagi gundah-gulana.

Empat belas tahun berlalu sejak anak itu diangkat anak oleh Radja Siam. Pada suatu hari, pertanyaan-pertanyaan lama mengenai asal-usulnya muncul lagi di dalam pikiran. Ia merenung dan berpikir, siang dan malam, bagaimana caranya ia dapat mengusut asal-usulnya? Akhirnya ia menghadap ayahnya, Sang Radja. Ia menyampaikan bahwa ia bermimpi. Seorang lelaki tua di dalam mimpinya berkata bahwa ia bukanlah anak kandung Radja Siam. “Kau diketemukan terapung-apung di dalam peti di tengah laut,” kata lelaki tua itu. “Kau sebetulnya anak kandung seorang raja yang berkuasa di sebuah negeri jauh.”

Permaisuri mendengar ceritanya, lalu berkata: “Anakku, janganlah kau terlalu mempercayai mimpi!”

Akan tetapi, anak itu berseru: “Maafkan aku, Ayah-Bunda. Aku tak dapat mempercayai kata-katamu. Jika tak ada yang mau menceritakan yang sebenarnya, aku akan bunuh diri saat ini juga!”

Putra Mahkota menghunus kerisnya dan bersiap hendak menusukkannya ke dadanya sendiri. Permaisuri berteriak dan merebut keris itu dari tangan anaknya. Radja pun bangkit. Ia kini yakin bahwa hal penemuan anak itu di tengah laut tak lagi dapat dirahasiakan. Dengan penuh kasih-sayang, Radja memeluk anaknya.

“Anakku, memang benar kata orang. Kau bukan anak kandungku. Namun demikian, aku menyayangi dirimu karena sebenarnyalah, aku Ayahmu. Aku telah menganggap dirimu anak kandung sejak lahir; aku telah mendidikmu, menyayangi dan melindungi dirimu. Aku telah memutuskan bahwa kau adalah Putra Mahkota yang akan menggantikan diriku sebagai Radja Siam dan memimpin kerajaan ini di kemudian hari.”

Putra Mahkota menjatuhkan diri di hadapan Radja Siam dan menangkupkan tangan memberi sembah. “Betapa pun Baginda menyayangi diriku dan apa pun yang kau niatkan untukku di masa depan, dan andai pun aku dapat menduduki tahta Keradjaan Siam, semua itu tak dapat menghapus kenyataan bahwa aku adalah seorang anak yang terbuang. Aku akan selalu dilecehkan orang selama aku tak mengetahui siapa ayahku yang sebenarnya. Aku ingin pergi mencarinya sendiri. Ketika ia mengakui diriku sebagai anaknya, saat itulah malu yang menodai namaku akan terhapus.”

Radja Siam menarik nafas berat. Ia terpaksa memberikan izin dan restu kepada anaknya. Toean Talanie (Tun Telanai), Radja Djambi. Itulah ayah kandung Putra Mahkota. Radja Siam memerintahkan untuk menyiapkan sebuah armada dengan kapal-kapal yang dilengkapi dengan segala macam persenjataan dan perbekalan untuk perjalanan panjang yang akan ditempuh Putra Mahkota. Segala sesuatu dipersiapkan seolah mempersiapkan perjalanan seorang raja. Dalam waktu tiga hari, segalanya telah siap.

Angin bertiup mengembangkan layar kapal-kapal itu. Berangkatlah Putra Mahkota dan para pengiring dan pengawalnya. Perjalanan menyeberang laut berjalan lancar. Tanpa terasa, mereka sudah tiba di muara sungai besar di Djambi. Putra Mahkota memerintahkan armadanya untuk memasuki sungai itu menuju Moeara Koempeh.

Setelah membuang jangkar di Moeara Koempeh, Putra Mahkota memerintahkan anak buahnya untuk membuat pertahanan dan beberapa rumah. Tempat itu diberinya nama Kepedis. Ia memanggil salah seorang mantri dan memerintahkannya untuk menyampaikan selembar surat ke tangan Toean Talanie. Surat itu berisi pertanyaan sebagai berikut: Atas nama Radja Siam, Radja Djambi dimohon menerangkan, apakah benar ia telah memasukkan anak kandungnya ke dalam peti dan apakah benar peti  yang berisi anak itu dan selembar surat dengan nama Toean Talanie sebagai ayahnya, telah dibuang ke laut?

*Sumber naskah: Anonim. ‘Legenden van Djambi,’ dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, vol 8 (Batavia: Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen, 1846. Hal. 33- 56.


Tag : #Raja Siam #Jambi #Sumatra #Legenden van Djambi #Toean Talanie



Berita Terbaru

 

Kekerasan Terhadap Jurnalis
Selasa, 25 September 2018 15:05 WIB

Penyidikan Kasus Ancaman Pembunuhan Wartawan, Camat Marosebo Ulu Berhalangan Hadir


Kajanglako.com, Batanghari - Polres Batanghari terus melakukan penyelidikan terhadap kasus ancaman pembunuhan wartawan yang dilakukan oknum ASN Kantor

 

Selasa, 25 September 2018 13:43 WIB

Penjual Emas PETI Diamankan saat Tunggu Pembeli di Pinggir Jalan


Kajanglako.com, Merangin - Polisi Resor Merangin mengamankan dua orang penjual emas hasil pertambangan ilegal. Pelaku diamankan di wilayah Kelurahan Pasar

 

Lelang Jebatan
Selasa, 25 September 2018 13:26 WIB

Tiga Besar Lelang Jabatan Pemprov Diumumkan, Ini Daftarnya


Kajanglako.com, Jambi - Panitia Pelaksana Lelang Jabatan Pemprov Jambi, telah mengumumkan tiga besar terbaik hasil uji kompetensi lelang jabatan Eselon

 

Unjuk Rasa
Selasa, 25 September 2018 12:57 WIB

Pilrio Ditunda, Warga Ujung Tanjung Unjuk Rasa ke DPRD Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Ratusan masyarakat Dusun Ujung Tanjung, Kecamatan Jujuhan menggeruduk Kantor DPRD Bungo, Selasa (25/9).   Dalam aksinya warga

 

Selasa, 25 September 2018 12:35 WIB

Di Tungkal Marak Penipuan Berkedok Undian Berhadiah


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Barat - Ada cara saja pelaku penipuan untuk mengelabui korban, saat ini di Kuala Tungkal tengah marak penipuan berkedok