Sabtu, 21 Juli 2018


Sabtu, 13 Januari 2018 07:48 WIB

Kisah Toean Talanie

Reporter : Redaksi
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Dalam perselancaran di dunia maya mencari kepustakaan mengenai Jambi, tulisan yang pertama diketemukan adalah karya seorang penulis anonim. Tulisannya yang berjudul ‘Legenden van Djambi’ dimuat dalam majalah Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie yang terbit di Batavia pada tahun 1846. Simaklah.



Sang penulis tanpa nama--Anonim—membuka ceritanya dengan mengungkapkan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu di nusantara termaktub di dalam legenda-legenda dan cerita rakyat. Walaupun jelas berisi banyak khayalan, namun bila ditelisik dengan hati-hati, cerita-cerita itu seringkali mengacu pada suatu peristiwa atau unsur dalam sejarah yang memang benar pernah terjadi. Karena itulah, Raffles dan Crawfurd banyak mengumpulkan legenda yang diceritakan kepada mereka. Ini juga dilakukan oleh penulis lain, yaitu Valentijn. Namun, penulis-penulis itu tak banyak menyinggung Djambi, padahal kerajaan itu juga menyimpan banyak cerita.

Ketika sedang berada di Djambi, Anonim berkesempatan mendengarkan  dan mencatat dua buah cerita. Yang pertama adalah legenda tertua mengenai Toean Talanie dan yang kedua merupakan cerita mengenai asal-usul dan perkembangan Kesultanan Djambi. Menurut cerita, Toean Talanie adalah raja pertama yang menguasai Djambi. Pada mulanya, rakyatnya tinggal di Moeara Djambi. Pun sampai sekarang, masih tampak tinggalan dinding sebuah ‘dalm’ (dalem atau kraton) di tempat itu.

Lima orang kepala adat melaksanakan pemerintahan di Djambi, yaitu Sie Gantan Perak, Sie Mata Ampat, Sie Pahit Lida, Si Tadjam Boekit dan Sie Tahie Mata. Toean Talanie memerintahkan agar Pahit Lida agar menggali saluran air (kanal) sampai ke laut. Ketika saluran itu selesai, mulailah air mengalir sampai ke Moeara  Djambi. Saat itulah Toean Talanie memberikan nama pada wilayah kekuasaannya: Djambi. Ini asal mula kerajaan itu.

Setelah sekian lama memerintah di Djambi, Toean Talanie belum juga dikaruniai keturunan. Hal ini membuatnya murung karena itu berarti bahwa setelah ia meninggal dunia, kerajaan itu akan jatuh ke tangan orang lain. Siang dan malam ia merenung. Segala sesuatu yang dapat dilakukannya, telah dilakukan. Ia telah meminta nasehat dan saran dari semua orang cerdik dan pandai. Sia-sia.

Isteri Toean Talanie pun telah mencoba melakukan segalanya. Segala macam obat ditelannya. Tak ada yang berhasil. Akhirnya, ia memanjatkan doa kepada para dewa. Dan, ia diberkahi. Beberapa bulan kemudian, perempuan itu hamil. Bukan main bahagianya suami-isteri itu. Setiap hari Toean Talanie menyelenggarakan pesta untuk rakyatnya. Di pesta-pesta itu, Toean Talanie bermain catur dengan pion-pion yang terbuat dari berbagai jenis bebatuan. Ketika tulisan ini diterbitkan, perangkat permainan catur itu masih disimpan oleh Sultan Djambi yang sedang berkuasa.

Sembilan bulan berlalu. Ratu Djambi melahirkan. Seorang bayi lelaki. Namun, ketika bayi itu keluar dari rahim ibundanya, bayi itu tergelincir lepas dari tangan dukun yang membantu persalinan itu. Bayi itu terjatuh ke lantai. Lantai tempatnya jatuh terbelah dua. Toean Talanie heran dan takjub mendengar berita jatuhnya bayi itu dan terbelahnya lantai di ruang persalinan. Ia berpikir panjang, lalu berkesimpulan bahwa peristiwa itu merupakan pertanda bahwa nantinya, anak itu akan memiliki kekuasaan yang jauh lebih besar dan akan jauh lebih dihormati rakyat daripada dirinya sendiri.

Pikiran ini membuatnya resah. Toean Talanie duduk di pendopo. Ia memanggil semua penasehat dan hulubalangnya; ia memanggil semua cerdik-cendekia dan para ulama ke hadapannya. Toean Talanie menceritakan segala sesuatu yang terjadi saat kelahiran anaknya. Tak pelak, semua yang mendengarnya terkejut dan terheran-heran. Tak seorang pun  dapat memberikan saran atau petuah. Kepada Toean Talanie, mereka meminta waktu selama tujuh hari untuk berpikir dan berunding. Permohonan ini dikabulkan oleh Toean Talanie.

Pada waktu yang telah ditentukan, tujuh hari kemudian, para penasehat itu datang lagi menghadap Toean Talanie. Mereka menghaturkan sembah, lalu berkata: “Tabik, Toean Talanie. Kami mohon maaf dan ampun. Terpaksa kami menyampaikan bahwa kelahiran anak itu membawa duka dan lara.”

Toean Talanie terdiam. Lalu, ia memerintahkan para penasehatnya untuk menjelaskan segala-sesuatu yang perlu dijelaskan. Mereka tak perlu takut bahwa ia akan murka karena ia yakin betul bahwa apa yang akan disampaikan didasarkan atas niat yang baik.

Seseorang membuka suara. “Tabik Toean Talanie! Anak itu adalah anak yang membawa bencana. Ia tak dapat dibiarkan tinggal di negeri ini karena setelah ia menginjak usia dewasa, Toeanku takkan lagi dapat hidup tenang. Ia akan mencelakakan Toeanku. Tak ada jalan lain kecuali membuang anak itu ke laut!”

Mendengar kata-kata itu, Toean Talanie terpukul. Tiadakah jalan lain yang dapat ditempuh untuk menghindari malapetaka itu? Para penasehat menggelengkan kepala. Para dewa telah memberi pertanda. Tak ada yang dapat berubah. Tak ada yang dapat diubah.

Toean Talanie mendatangi isterinya. Ia mengulangi kata-kata para penasehatnya. Sang Ratu dan kaum perempuan di sekitarnya mulai menangis dan meratap.

“Diamlah,” kata Toean Talanie. “Para dewa telah memberikan pertanda. Satu-satunya yang dapat dilakukan untuk menunjukkan cinta pada anak kita adalah mengantarnya sendiri dan menyerahkannya kepada laut.”

Toean Talanie memerintahkan hulubalang untuk membuat peti berlapis tujuh yang kedap air. Setelah selesai, para penasehat membawa peti itu ke dalam rumah Toean Talanie. Pakaian yang paling bagus dan mewah dikenakan di tubuh anaknya. Sambil menangis tersedu-sedan, Sang Ratu memeluk anaknya untuk terakhir kalinya. Dengan lembut, Toean Talanie merangkul anak itu, lalu meletakkannya hati-hati di dalam peti. Sebuah surat berisi nama dan asal-usul anak itu diletakkannya pula di dalam peti itu.

Para penasehat menutup peti itu, lalu melemparkannya ke dalam laut. Angin, yang tadinya bertiup sepoi, berhembus kencang. Dalam waktu singkat, peti itu sudah menghilang dari pandangan mata. Toean Talanie berduka. Isterinya, Sang Ratu, lebih sedih lagi.

Peti berlapis tujuh tadi, dengan bayi di dalamnya, terombang-ambing di laut selama 40 hari. Lalu, angin berhenti bertiup dan ombak berhenti bergulung. Peti itu terdampar di pelabuhan di negeri Siam. Karena badai telah reda, Raja Siam memutuskan untuk berlayar dan memancing ikan di laut. Permaisurinya pun ikut. Tak terhitung banyaknya perahu yang mengiringi kapal mereka.

Tak berapa lama kemudian, seseorang menemukan sebuah peti di dalam air. Peti bagus itu diangkat dan segera diserahkan kepada Raja Siam.

*Sumber naskah: Anonim. ‘Legenden van Djambi,’ dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, vol 8 (Batavia: Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen, 1846. Hal. 33- 56.


Tag : #Toean Talanie #Jambi #Sumatra #Kerajaan Siam #Batavia



Berita Terbaru

 

Sabtu, 21 Juli 2018 16:36 WIB

Tembus 300 Komentar Pasang Foto Mantan, Bacaleg Ini Ditagih Warganet


Kajanglako.com, Bungo - Media sosial benar-benar dimamfaatkan sejumlah Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) untuk mencari dukungan dan simpati warganet, jelang

 

Penemuan Ular Piton
Sabtu, 21 Juli 2018 16:14 WIB

Ular Piton Sepanjang 8 Meter Hebohkan Warga Jujuhan


Kajanglako.com, Bungo - Warga Ujung Tanjung Kecamatan Jujuhan dihebohkan  penangkapan ular piton sepanjang 8 meter. Penangkapan ini bermula ada warga

 

Sabtu, 21 Juli 2018 16:09 WIB

Ayam Warga Sering Hilang, Ular Piton Sepanjang 8 Meter Ini Penyebabnya


Kajanglako.com, Bungo - Warga Ujung Tanjung, Kecamatan Jujuhan, dihebohkan penangkapan Ular Piton sepanjang 8 meter.    Penangkapan ular ini

 

AJO Indonesia
Sabtu, 21 Juli 2018 15:52 WIB

DPD AJOI Sumsel Resmi Dilantik, Rival Ahmad : “Bukan Organisasi Biasa, Kami Beda"


Kajanglako.com, Sumatera Selatan – Setelah resmi melantik pengurus Dewan Pimpinan Daerah Aliansi Jurnalistik Online Indonesia (DPD AJO Indonesia)

 

Sabtu, 21 Juli 2018 13:16 WIB

Protes ke Perusahaan, Warga Tanam Pohon Pisang Setinggi 2 Meter di Tengah Jalan


Kajanglako.com, Bungo - Sebagai bentuk kekecewaan dengan PT Sathia Kisma Usaha (SKU), warga Dusun Telentam menanam pohon pisang setinggi dua meter di tengah