Selasa, 14 Agustus 2018

Kamis, 11 Januari 2018 13:21 WIB

Letkol Ahmad Husein dan Terbentuknya Provinsi Jambi

Reporter : Redaksi
Kategori : Sosok

LetKol. Ahmad Husein

Salah satu fase penting perjuangan menuju realisasi provinsi Jambi, yaitu sidang pleno Badan Kongres Rakyat Dambi (BKRD), 6 januari 1957 pukul 02:00 dengan resmi menetapkan keresidenan jambi Daerah Otonomi Tingkat 1 Provinsi yang berhubungan langsung dengan pemerintah pusat dan keluar dari provinsi Sumatera Tengah.

Kebulatan tekad dari berbagai elemen masyarakat tersebut adalah kehendak sejajar dengan saudara-saudara di daerah lain. Sanggupkah Jambi Menjadi Provinsi? itulah pertanyaan penting yang menyeruak dalam sidang maupun kongres sedaerah Jambi dalam rentang 1946 hingga kelak berhasil menjadi Provinsi (merujuk UU Darurat No. 19 tahun 1957 tentang Pembentukan Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi).



Dalam keadaan demikian itu, Dewan Banteng selaku penguasa pemerintah provinsi Sumatera Tengah yang telah mengambil alih pemerintahan provinsi sumatera tengah dari gubernur Ruslan Mulyohardjo pada tanggal 9 januari 1957 menyetujui keputusan BKRD.

Enam  bulan kemudian, tepatnya pada 8 agustus 1957, ketua Dewan Banteng Letkol Ahmad Husein melantik Residen Djamin gr. Datuk Bagindo sebagai acting gubernur dan H. Hanafi sebagai wakil Acting Gubernur provinsi Djambi, dengan staf 11 orang, yaitu Nuhan, Rd. Hasan Amin, M.Adnan Kasim, H.A. Manap ,Salim,Syamsu Bahrun, Kms. H.A.Somad. Rd. Suhur, Manan , Imron Nungcik dan Abd Umar yang di kukuhkan dengan SK.No.009/KD/U/L KPTS. Tertanggal 8 ferbuari 1957 dan sekaligus meresmikan berdirinya provinsi jambi di halaman rumah Residenan Jambi (kini Gubernuran Jambi)

Merujuk sumber dewanbangteng.blogspot.co.id, berikut redaksi Kajanglako sertakan data mengenai sepak terjang Ketua Dewan Banteng, yakni Letkol Ahmad Husein, kelahiran Padang, Sumatera Barat, 1 April 1925, dalam perjalanan sejarah perjuangan republik Indonesia.

Sejak kecil, Ahmad Husein dianggap anak yang tidak macam-macam. Pendiam dan sangat hati-hati. Ahmad Husein lahir dalam suasana perjuangan. Kedua orang tua saya berasal dari Sumatera Barat. Ayahnya bernama Abdul Kahar, memiliki rumah obat (apotik), di samping bekerja di sebuah rumah sakit tentara di kota Padang. Sedikit dari keahlian sang ayah mengalir kepada Ahmad Husein. Saat keluar dari rumah tahanan militer, hal yang pertama kali dilakukan oleh Ahmad Husein adalah membuat limun. Resep itu diperoleh dari sang ayah.

Ibu Ahmad Husein bernama Sa’adijah. Orangnya sangat sederhana. Berdasarkan keterangan dari Ahmad Husein sang ibu digambarkan sebagai sosok yang penyanyang. Kasih sayang yang diberikan kepada Ahmad Husein bersaudara sangat membekas sampai sekarang. Sejak kecil ibu Ahmad Husein selalu mengajarkan bertingkah laku mengikuti adat istiadat masyarakat Minangkabau. Adat Bersendi Syarak dan Syarak Bersendi Kitabullah. Agama merupakan dasar utama pendidikan.

Pada tanggal 15 Februari 1958 di Padang dia membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dibawah pimpinan Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana Menteri dengan tujuan mengoreksi pemerintahan otoriter Soekarno yang dianggap inkonstitusional dan mengabaikan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah. Tindakan koreksinya itu ternyata mendapat sambutan berupa aksi militer dari pemerintah pusat di Jakarta sehingga menimbulkan perang saudara di Sumatera Barat.

Letkol Ahmad Husein adalah Pemimpin Dewan Banteng yang didirikan di Sumatra Barat. Dewan Banteng yang dibentuk di Padang pada tanggal 20 Desember 1956 adalah cikal bakal dari PRRI, walaupun pada awalnya bertujuan membangun daerah yang dirasa tertinggal dibanding pembangunan di pulau Jawa. Dewan Banteng diprakarsai oleh Kolonel Ismail Lengah, Letnan Kolonel Ahmad Husein ditunjuk sebagai ketua. Pada tanggal 15 Februari 1958 Letnan Kolonel Achmad Hussein memproklamasikan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Letnan Kolonel Achmad Hussein menujuk Mr. Syafruddin Prawiranegara sebagai perdana menterinya.

Letkol Ahmad Husein mengambil alih jabatan Gubernur Sumatera Tengah dari tangan Gubernur Ruslan Mulyoharjo. Tindakan Ahmad Husein itu membuat Pemerintah Pusat memenuhi tuntutan Dewan Banteng dengan membentuk Komando Militer di Sumatera Tengah yaitu Komando Militer Daerah Sumatera Tengah (KMDST) yang terlepas dari Komando Tentara Teritorium (TT) I Bukit Barisan yang berkedudukan di Medan, sedangkan Ahmad Husein diangkat menjadi Panglima KMDST dengan pangkat Kolonel. Dalam hal ini beberapa tuntutan Dewan Banteng dipenuhi oleh pemerintah pusat.

Kesaksian wartawan Keyes Beech dalam bukunya “Not without the americans “ menggambarkan pengiriman senjata ke Padang tahun 1957 dan sekaligus memberikan gambaran satu sisi perspektif posisi Ahmad Husain dalam pergerakan PRRI dengan beberapa spekulasi dan persepsi sejarah yang melatarbelakanginya.

Berdasarkan perspektif Keyes Beech Letkol Ahmad Husein mempunyai peran dalam penyeludupan senjata yang dikirimkan oleh Amerika Serikat sebagai bantuan terhadap perjuangan PRRI. Berikut ini adalah skenario yang dibangun oleh Keyes Beech, Sebuah kapal barang Amerika diatur untuk mengangkut alat alat berat dan bahan pembangunan yang akan di turunkan di Padang. Kapal itu juga membawa sejumlah persenjataan yang dalam manifest ditujukan untuk kebutuhan militer Thailand. Ketika kapal merapat di pelabuhan, Kolonel Ahmad Husein – komandan militer Sumatera tengah – dilapori atas penemuan senjata senjata di kapal ini. Ia lalu memerintahkan agar senjata senjata tadi dibongkar dan ‘ diamankan ‘. Seminggu kemudian si penulis bertemu agen CIA di Bangkok. Sang Agen mengamini, bahwa cara cara seperti yang dilakukan untuk memasok senjata untuk pemberontak PRRI di Sumatera.

Perang PRRI, sebuah pemberontakan atau sebuah perjuangan dari ketidakadilan penguas? Pada 28 November 1998, Letnan Kolonel Ahmad Husein kembali ke hadirat Illahi Rabbi, dan dimakamkan di Makam Pahlawan Kuranji, Padang, Sumatera Barat. Namanya memang sudah tidak terdengar lagi tahun-tahun belakangan ini. Ahmad Husein dianggap identik sebagai “pemberontak Namun di satu sisi dia berjuang atas ketidak adilan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat. Sejarah memang berjalan dalam dua sisi, karena ketika sejarah berjalan dalam satu sisi, maka dapat dipastikan sejarah berada dibawah seorang tirani. 


Tag : #Dewan Banteng #Sumatera Tengah #Jambi #Sumatra Barat #Haji Hanafie #PRRI



Berita Terbaru

 

Pemilu 2019
Selasa, 14 Agustus 2018 19:30 WIB

Satu Bacaleg PPP Dapil Sarolangun-Merangin Meninggal Dunia


Kajanglako.com, Jambi - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mendapatkan kabar duka di tengah persiapan menghadapi Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, Satu

 

Pencurian
Selasa, 14 Agustus 2018 18:16 WIB

Pernah Rampok Uang Rp 1,4 M, Edi Kembali Berulah Curi Motor Teman Sendiri


Kajanglako.com, Batanghari - Edi Pirmansyah alias Herman, resedivis yang pernah melakukan perampokan uang Rp 1,4 miliar pada tahun 2010 lalu, kembali berulah

 

Selasa, 14 Agustus 2018 17:58 WIB

LPG 3 Kg Langka, Operasi Pasar Diserbu Masyarakat


Kajanglako.com, Merangin - Gas 3 Kg langka di Kota Bangko beberapa pekan terakhir. Jika pun ada, gas subsidi tersebut harus didapat dengan harga diatas

 

Kasus Korupsi Rumah PNS
Selasa, 14 Agustus 2018 13:37 WIB

Kejati Akan Limpahkan Berkas Madel ke Pengadilan


Kajanglako.com, Jambi - Muhammad Madel, mantan Bupati Sarolangun dan Joko Susilo mantan Kepala Pengelola Koperasi Sarolangun menjadi tersangka dalam kasus

 

Selasa, 14 Agustus 2018 13:23 WIB

Wakil Ketua DPRD Merangin Ditetapkan Tersangka Korupsi


Kajanglako.com, Merangin - Wakil Ketua DPRD Merangin, Isnedi, ditetapkan menjadi tersangka kasus korupsi uang yang harus dipertanggungjawabkan (UYHD) di