Minggu, 16 Desember 2018


Sabtu, 06 Januari 2018 08:15 WIB

Kepustakaan Sumatra dan (Jambi) di Belanda

Reporter : Redaksi
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran*

Ahli-ahli ilmu sosial dan ahli sejarah Indonesia menggali bahan untuk kajiannya mengenai masa lalu dari tulisan-tulisan yang pernah dibuat oleh orang-orang asing—terutama Belanda, yang datang ke nusantara sebagai pelaut, pedagang, pegawai VOC, pegawai Hindia-Belanda, misionaris, pelancong dan isteri lelaki-lelaki itu. Koleksi kepustakaan terbesar mengenai Indonesia tersimpan di Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional Republik Indonesia. Selain kedua tempat itu, dokumentasi mengenai Indonesia berlimpah ruah di sebuah perpustakaan di kota Leiden, negeri Belanda.



Sampai tahun 2014, perpustakaan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde) di kota Leiden hampir tak pernah kosong dari kunjungan peneliti-peneliti mancanegara. Perpustakaan itu menyimpan puluhan ribu buku, majalah, peta dan manuskrip yang berkaitan dengan daerah-daerah yang pernah menjadi jajahan Belanda: Indonesia, Karibia, Suriname dan beberapa tempat di Afrika. Sejak lama, Leiden memang menjadi pusat studi yang mempersiapkan para pegawai pemerintahan Hindia-Belanda untuk menghadapi masyarakat dan kebudayaan yang akan ditemui di nusantara. Studi khusus itu disebut Indologi.

Pada tahun 2014, karena pemotongan dana subsidi dari pemerintah negeri Belanda, KITLV terpaksa bernaung di bawah Universitas Leiden. Koleksi pustakanya disatukan dengan koleksi perpustakaan universitas. Bagi para peneliti, perpindahan itu tidak terlalu menyulitkan karena kebetulan bangunan lama perpustakaan KITLV terletak berseberangan dengan bangunan perpustakaan Universitas Leiden. Para peneliti dan mahasiswa hanya perlu menyeberangi jembatan kecil di atas Sungai Rijn, lalu menyeberangi jalan Witte Singel dan sampailah.

Sebetulnya, perpustakaan Universitas Leiden pun sejak dulu banyak menyimpan buku-buku mengenai Indonesia. Perpustakaan itu kerap mendapatkan hibah buku dan dokumen warisan dari gurubesar, peneliti dan mantan pegawai Hindia-Belanda yang meninggal dunia. Setahun sebelum koleksi KITLV pindah ke perpustakaan universitas, pada tahun 2013, perpustakaan Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT) di Amsterdam pun terpaksa menutup pintu karena kekurangan biaya. Sebagian dari koleksi lembaga ini dibeli oleh perpustakaan besar di Timur Tengah, sebagian lagi—yang sudah dipilih terlebih dahulu—dihibahkan kepada perpustakaan Universitas Leiden. Dengan demikian, setelah penyatuan koleksi buku dari tiga perpustakaan besar di negeri Belanda, yaitu perpustakaan KITLV, perpustakaan KIT dan koleksinya sendiri, maka perpustakaan Universitas Leiden memiliki koleksi buku dan dokumen yang luar biasa banyaknya.

Beberapa bulan lalu, September 2017, Universitas Leiden membuka Asia Library. Perpustakaan ‘baru’ ini sebetulnya merupakan penggabungan koleksi semua buku dari berbagai perpustakaan fakultas-fakultas di Leiden (bahasa dan sastra, arkeologi, ilmu sosial, sejarah) ke dalam satu katalogus maha besar. Asia Library—yang merupakan ruangan tambahan di atas salah satu bagian perpustakaan lama—kini menyediakan ruang multi-media untuk memutar film-film koleksinya, alat-alat fotokopi, printer dan unggahan digital dari sebagian buku dan naskah tua yang tersimpan. Meja-meja belajar yang dilengkapi dengan stopkontak listrik, computer, wifi tersedia di ruangan-ruangan luas yang dipenuhi oleh mahasiswa dan peneliti. Orang yang memasuki ruangan-ruangan Asia Library takkan mendengar suara apa pun kecuali ketuk jemari di atas komputer dan gemerisik halaman buku yang dibalik oleh pembacanya.

Namun, walau sudah ada perpustakaan modern dengan koleksi yang hampir lengkap, masih ada kendala besar yang menghambat penelitian seorang ahli sejarah atau ilmu sosial Indonesia. Buku-buku kontemporer acapkali ditulis dalam bahasa Inggris; akan tetapi, buku, majalah dan dokumen yang sangat diperlukan dan harus dibaca oleh pengkaji sejarah sosial dan budaya masyarakat-masyarakat nusantara di zaman penjajahan tidak ditulis dalam bahasa Inggris.

Hampir semuanya ditulis dalam bahasa Belanda abad ke-18 dan ke-19. Tak banyak ahli sejarah atau ahli ilmu sosial Indonesia yang menguasai bahasa Belanda, apalagi yang kuno. Karena itu, walau bahan kajian tentang masa lalu di nusantara tersedia, sebagian besar pakar itu terpaksa menggunakan sumber-sumber acuan kedua atau ketiga—yang ditulis di dalam bahasa Inggris oleh peneliti asing--untuk penelitiannya.

Sebagai antropolog yang memang dididik dan dilatih untuk dapat membaca dan mengolah kepustakaan berbahasa Belanda kuno untuk kepentingan kajian antropologi dan etnohistori, saya beruntung mendapatkan kesempatan menulis dan mengasuh rubrik sejarah sosial budaya untuk Kajanglako.com, yaitu ‘Telusur Jambi’. Terhitung Januari 2018, saya akan menulis setiap Sabtu di Portal Kajanglako,com, sebuah kanal berita dan pemikiran yang diawaki oleh anak-anak muda di Provinsi Jambi, Sumatra. 

Kesempatan ini menambah daftar rubrikasi mengenai sejarah sosial budaya Sumatra yang saya asuh dalam beberapa tahun sebelum ini, yaitu di Palembang (‘Palembang Tempo Doeloe’ di harian Berita Pagi, Palembang) dan rubrik serupa tentang Lampung (‘Lappung Beni’ di harian Fajar Sumatera, Bandar Lampung). Ketiga rubrik tersebut memiliki maksud dan tujuan yang sama, yaitu membuka akses kepustakaan berbahasa Belanda mengenai Palembang, Lampung dan kini, Jambi.

Rubrik ‘Telusur Jambi’ akan menceritakan kembali apa yang tertulis di dalam kepustakaan mengenai Jambi. Menceritakan kembali. Bukan menerjemahkan. Pendekatan ini sengaja dipilih karena tulisan dalam bahasa Belanda kuno akan sangat membosankan bila diterjemahkan begitu saja. Setiap artikel akan mencantumkan acuan kepustakaan yang jelas sehingga dapat dilacak kembali untuk yang memerlukannya. Saduran yang disajikan dalam ‘Telusur Jambi’ sedapat mungkin  tidak mengubah, tidak menambahi dan tidak mengurangi isi teks tulisan asli. Dengan demikian, artikel-artikel ‘Telusur Jambi’ diharapkan dapat dipergunakan sebagai data mentah dan tambahan pengetahuan bagi sejarahwan dan peminat sejarah Jambi.

Saran dan masukan dari pembaca sangat diharapkan. Selamat mengikuti rubrik ‘Telusur Jambi’.

*Penulis merupakan antropolog, pemerhati sejarah dan budaya. Kini mukim di Belanda. 


Tag : #Leiden #Asia Library #Jambi #Sumatra



Berita Terbaru

 

Minggu, 16 Desember 2018 15:48 WIB

Serahkan 6.000 Sertifikat Tanah Gratis kepada Rakyat Jambi, Jokowi: jangan Digadai


Kajanglako.com, Jambi - Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, melakukan kunjungan kerja ke Jambi , Minggu (14/12). Salah satu agendanya adalah memberikan

 

Minggu, 16 Desember 2018 15:44 WIB

Joko Tinjau Angsoduo Baru, Ini Hasil Bincangnya dengan Pedagang


Kajanglako.com, Jambi - Minggu pagi (16/12), Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (ASPARINDO) Joko Setiyanto, akhirnya menepati janjinya untuk

 

AJO Indonesia
Minggu, 16 Desember 2018 10:03 WIB

Menuju Rapimnas 2019, AJO Indonesia Siap Masuk Industri Digital 4.0


Kajanglako.com, Jakarta - Perwakilan DPD dan DPC Aliansi Jurnalistik Online Indonesia se Indonesia Hadir di kantor pusat DPP AJO Indonesia di bilangan

 

Minggu, 16 Desember 2018 08:31 WIB

Festival Kemah Kepemimpinan Pelajar SMA, Fachrori: Upaya Membangun Karakter Pelajar


Kajanglako.com, Jambi - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jambi, Fachrori Umar, mengapresiasi pembekalan kepemimpinan yang dilaksanakan oleh Pramuka. Dikatakan

 

Sabtu, 15 Desember 2018 15:32 WIB

PMII Bungo Donasikan Bantuan ke Anita Riana Pengidap Kanker Payudara


Kajanglako.com, Bungo – Sebagai bentuk kepedulian melihat kondisi Anita Riana, Warga Kecamatan Pelayang yang menderita kanker payudara, PC PMII Bungo