Sabtu, 21 Juli 2018


Kamis, 04 Januari 2018 16:41 WIB

Kiai dan Penceramah Selebritis

Reporter : Redaksi
Kategori : Oase

Kiri-kanan atas: KH. Bisri Syansuri. KH. Hasyim Asy'ari. KH. Wahab Hasbullah. Kiri-kanan bawah: EMHA Ainun Nadjib (Cak Nun). KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Musthofa Bisri (Gus Mus). Sumber: Maiyah Pasuruan.

Oleh: Dr. Zastrouw Al-Ngatawi*

Dikisahkan ada seorang pelacur yang datang menghadap Kiai Abdul Djalil Mustaqim, pengasuh Pesantren PETA Tulungagung yang berloksi di Jalan Kiai Haji Wahid Hasyim No.27, Kauman, Kec. Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Sang pelacur minta doa ke Kiai Djalil agar dirinya laris. Kiai Djalil mendoakan pelacur tersebut. Selang beberapa minggu pelacur tersebut kembali sowan dan menyatakan diri mau taubat.



Kepada Kiai Djalil pelacur tersebut bercerita, setelah didoakan dia mendapat banyak tamu bahkan dirinya hampir tidak pernah berhenti melayani tamu, sehingga tidak bisa istirahat. Si pelacur merasa tidak kuat lagi menjalani profesinya sehingga memutuskan untuk berhenti dan tobat.

Dalam kisah lain disebutkan mengenai kearifan Kiai Chudlori, pengasuh pesantren API Tegalrejo, Magelang, yg lebih mendahulukan membeli gamelan daripada membangun mesjid. Dengan keputusan ini seolah Kiai Chudori memenangkan kelompok pecinta gamelan daripada membela kepentingan Islam. Padahal semua itu dikakukan justru untuk menjaga kerukunan dan ketentraman sebagai wujud kemuliaan ajaran Islam dan tingginya ahlak kaum muslimin.

Kisah-kisah seperti ini banyak dijumpai dalam kehidupan Kiai dengan berbagai versi. Inilah yang menyebabkan masyarakat selalu merasa terayomi dan terselesaikan masalahnya setelah menghadap Kiai. Hati mereka terasa tenang dan jiwanya tenteram setelah mendengar wejangan Kiai.

Mengapa Kiai bisa bersikap seperti itu? Karena Kiai hidup bersama masyarakat, selalu berada di tengah masyarakat sehingga bisa mengerti, memahami dan empati terhadap berbagai problem dan kesulitan hidup masyarakat. Seorang Kiai selalu dituntut mencari solusi alternatif untuk memecahkan persoalan ummat secara kongkrit. Bukan sekedar menjadi penceramah yang memberikan khotbah normatif atau menjadi hakim moral yg sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Laku hidup yang seperti inilah yang membuat seorang Kiai memiliki sikap dan pandangan keagamaan yang arif. Kearifan ini menjadi dasar dalam mengamalkan dan mengajarkan agama dalam realitas yang sangat rumit dan kompleks. Kearifan ini pula yg membuat Kiai tidak sembarangan menerapkan teks dan ayat-ayat agama yg membuat mereka mudah menjadi hakim moral terhadap masyarakat. Mereka sangat hati-hati dalam menggunakan simbol-simbol agama, tidak mudah mengobral ayat. Semua ini dilakukan demi menjaga sakralitas agama itu sendiri.

Dalam pikiran para Kiai, membuat rakyat hidup rukun, damai dan bahagia jauh lebih penting daripada meceramahi rakyat tentang syariah. Karena bagi Kiai inilah cara terbaik mengajarkan dan mengamalkan ajaran agama. Artinya agama harus hadir secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Bukan sekedar retorika di media sosial atau di mimbar-mimbar khutbah.

Meski banyak Kiai yang punya keahlian ceramah, tapi ceramah2 mereka penuh dengan kesejukan yang mententramkan. Tidak bikin resah, gelisah karena berbagai caci maki yang menebatkan kebencian dan permusuhan.

Kapasitas dan moralitas Kiai yang seperti ini berbeda dengan para penceramah jaman now yang cenderung lebih mementingkan kemampuan orasi dan keterampilan menarik perhatian massa meski dengan ilmu agama yang pas-pasan. Semakin terampil berorasi dan menyampaikan ajaran agama secata tekstual retorik sehingga mampu membuat ummat berdecak kagum, maka dia akan semakin populer dan banyak mendapat pengikut. Kearifan dan kesantunan seolah bukan menjadi suatu yg diperlukan bagi penceramah zaman now.

Seorang penceramah tidak perlu memikirkan apakah kebenaran yang disampaikan itu bisa memancing kegaduhan atau tidak, menyebabkan keretakan sosial atau tidak. Bagi mereka kebenaran agama (tentunya yang sesuai dengan pikiran mereka) harus disampaikan. Kalau perlu dengan caci maki dan hujatan agar audience yakin atas kebenaran yang disampaikan. Semakin bisa menghakimi orang lain dan semakin bisa bikin kegaduhan maka akan semakin dianggap pemberani dan hebat.

Inilah yang menyebabkan seorang penceramah merasa tidak perlu bersusah payah memahami konteks sosial masyarakat. Tidak perlu mengerti perasaan dan kesulitan ummat yang mengharuskan mereka bergelut dengan realitas secara intens.

Kebutaan atas realitas dan nihilnya rasa empati membuat mereka kehilangan kearifan, sehingga mudah tergelincir masuk dalam dunia selibritis. Hanyut dalam gegap gempita tepukan massa. Selain itu sikap seperti ini mudah dimanfaatkan oleh kepentingan politik yang lebih mengedepankan syahwat kekuasaan dan ambisi-ambisi yang bersifat profan dan sempit. Inilah yang membedakan sosok Kiai dengan penceramah dan selibritis zaman now.

Kiai mendidik dan menyampaikan ajaran agama dengan menyentuh rasa batin melalui pendidikan dan pembudayaan serta laku hidup yang nyata. Sedangkan penceramah menyampaikan ajaran agama dengan menyentuh dan membakar emosi, tetapi mengabaikan rasa. Kiai mengajarkan kebenaran dengan pendekatan kemaslahatan dalam perspektif baik-buruk. Sedangkan penceramah sering menggunakan perspektif benar salah dengan cara-cara agitatif, sehingga sering memancing konflik dan kegaduhan.

Misalnya, ketika Kiai Djalil mendoakan pelacur bukan berarti beliau tidak mengerti hukumnya zina. Demikian juga ketika Kiai Chudori membela kelompok gamelan sehingga lebih mendahulukan membeli gamelan daripada bangun mesjid. Ini bukan berarti beliau menganggap membangun mesjid tidak penting. Sebagai seorang ulama beliau-beliau sangat faham terhadap syariat dan hukum Islam. Tetapi sebagai Kiai yang kuyup dengan kenyataan hidup, mereka juga sangat memahami cara dan metode mendidik masyarakat agar bisa menerapkan syariat secara tepat dan akurat, dan menjalankannya secara suka rela. Ini bisa terjadi karena sebagaimana dinyatakan Gus Mus: “Kiai itu yandzurunal ummah bi ainin rahmah" ( melihat umat dengan kacamata kasih sayang)*. Dengan kaca mata ini Kiai bisa menerima para pelacur dan para pendosa lainnya secara terbuka. Dan mereka2 itu merasa nyaman dan tenteram ketika menghadap Kiai.

Berbeda dengan kecenderungan penceramah zaman now yang hanya melihat persoalan dari sisi benar salah, sesat dan tidak sesat sesuai pemahaman mereka sendiri. Sehingga mudah marah-marah, menyesatkan dan menghakimi dengan intimidasi moral sebagaimana yang terlihat di berbagai media akhir-akhir ini. Bisa dikatakan penceramah yang seperti ini cenderung "yandzurunal ummah bi 'ainin ghodzob" (memandang ummat dengan kacamata marah/benci)*. Akibatnya ummat yang merasa berdosa bukannya jadi sadar tapi malah jadi takut dan menjauh.

Karena hidupnya yang selalu berada di tengah-tengah umat, maka tidak jarang kehidupan Kiai luput dari perhatian dan liputan media. Tidak seperti penceramah yang setiap saat diliput media, sehingga popilaritasnnya bisa menyamai para selibritis. Bahkan lagi plesir diliput diunggah di medsos dilarang ceramah karena dianggap provokatif, teriak-teriak di medsos hingga memancing kegaduhan, seolah Islam terancam. Padahal banyak Kiai yang hidupnya diancam dan diintimadasi mereka tetap berdakwah dengan ikhlas dan tenang. Tidak gaduh dan bikin fitnah kesana kemari.

Alangkah baiknya jika para Kiai ini bisa tampil di media agar kearifan mereka bisa menjadi teladan. Dan akan lebih baik jika penceramah bisa menjalani laku hidup seperti Kiai, sehingga memiliki ahlak dan kearifan seperti para Kiai. Jika hal ini belum bisa terwujud maka diperlukan kepekaan batin dan kejernihan hati agar tidak mudah terpukau oleh para penceramah yang sudah jadi selibriti, hanya menyampaikan kebenaran tetapi mengabaikan kemaslahatan karena penuh hujatan dan caci maki.

Semoga kita mampu membedakan mana Kiai dan mana penceramah yang sudah jadi selibriti.

*Penulis dalah budayawan dan ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (LESBUMI) periode 2004-2009. Ia memiliki ciri khas selalu memakai blangkon dan cukup sering mengisi acara di TV. Tulisan ini merupakan status Line/ FB penulis yang disebarluas oleh nitizen.


Tag : #kasih sayang #kesederhanaan #Gus Dur #Emha Ainun Najib #Gus Mus



Berita Terbaru

 

Sabtu, 21 Juli 2018 16:36 WIB

Tembus 300 Komentar Pasang Foto Mantan, Bacaleg Ini Ditagih Warganet


Kajanglako.com, Bungo - Media sosial benar-benar dimamfaatkan sejumlah Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) untuk mencari dukungan dan simpati warganet, jelang

 

Penemuan Ular Piton
Sabtu, 21 Juli 2018 16:14 WIB

Ular Piton Sepanjang 8 Meter Hebohkan Warga Jujuhan


Kajanglako.com, Bungo - Warga Ujung Tanjung Kecamatan Jujuhan dihebohkan  penangkapan ular piton sepanjang 8 meter. Penangkapan ini bermula ada warga

 

Sabtu, 21 Juli 2018 16:09 WIB

Ayam Warga Sering Hilang, Ular Piton Sepanjang 8 Meter Ini Penyebabnya


Kajanglako.com, Bungo - Warga Ujung Tanjung, Kecamatan Jujuhan, dihebohkan penangkapan Ular Piton sepanjang 8 meter.    Penangkapan ular ini

 

AJO Indonesia
Sabtu, 21 Juli 2018 15:52 WIB

DPD AJOI Sumsel Resmi Dilantik, Rival Ahmad : “Bukan Organisasi Biasa, Kami Beda"


Kajanglako.com, Sumatera Selatan – Setelah resmi melantik pengurus Dewan Pimpinan Daerah Aliansi Jurnalistik Online Indonesia (DPD AJO Indonesia)

 

Sabtu, 21 Juli 2018 13:16 WIB

Protes ke Perusahaan, Warga Tanam Pohon Pisang Setinggi 2 Meter di Tengah Jalan


Kajanglako.com, Bungo - Sebagai bentuk kekecewaan dengan PT Sathia Kisma Usaha (SKU), warga Dusun Telentam menanam pohon pisang setinggi dua meter di tengah