Senin, 23 Juli 2018


Kamis, 04 Januari 2018 14:36 WIB

Dinamika Festival Film Jambi (FFJ) 2017

Reporter : Redaksi
Kategori : Ragam

Suasana Diskusi Festival Film Jambi (FFJ) 2017

Oleh: Wiwin Eko Santoso*

Sebelum acara puncak malam Penganugerahan Festival Film Jambi 2017, pada Sabtu 23 Desember 2017, pukul 16.37, diadakan diskusi atau “Ngobrol Asyik tentang Film” di Galeri Art Tempoa Jelutung, yang dibuka oleh Ketua Forum Film Jambi (FFJ): Anton Oktavianto.



Festival Film Jambi (FFJ) 2017 yang bertajuk “Budaya dalam Peradaban” ini merupakan festival yang keempat kalinya. Even FFJ 2016 yang berlangsung Sabtu 26 Oktober 2016 dan bertema “Spirit Melayu Jambi” merupakan yang ketiga. Sementara FFJ yang kedua, terjadi Oktober 2015, bersamaan dengan Festival Batanghari. Untuk FFJ yang pertama, terjadi tahun 2011, sebelum Forum Film Jambi resmi terbentuk pada 20 Juli 2013.

Selain itu, pada Sabtu 23 Maret 2014, Forum Film Jambi yang muda ini, karyanya yang berjudul “Mawar 86” berhasil menjadi film terbaik juara pertama di ajang Police Movie Festival di Jakarta.

Dalam bincang atau diskusi kali ini, sempat ditanyakan, apa perbedaan Festival tahun 2017 dengan yang sebelumnya?

Menurut Edhiyanto, mulanya tahun 2011 ditargetkan sebagai waktu festival pertama oleh beberapa komunitas pencinta film Jambi, tetapi baru tahun 2012 terlaksana. Dari segi pendanaan, Festival Film Jambi 2017 ini mirip dengan tahun 2012 karena nyaris bersifat swadaya murni. Ada pihak yang membantu berupa tempat penyelenggaraan, yakni di gedung bekas Citra. Demikian itu terulang tahun 2017, FFJ memperoleh bantuan tempat di Galeri Art Tempoa Jelutung (oleh Harkopo Lie)

Sejak tahun 2008 hingga 2011 itu, terdapat 24 komunitas film yang tergabung dalam forum atau semacam kelompok diskusi film Jambi. Menariknya, empat kali festival berlangsung, ada komunitas pelajar yang selalu ikut, misalnya komunitas film SMK 8 Batanghari. Ini contoh adanya partisipasi dan minat tinggi dari pelajar. Sayangnya, sebagian dari mereka, setelah lulus sekolah entah berada di mana. Sebenarnya, FFJ dapat menjadi wadah insan muda perfilman Jambi agar dapat terus berkarya. FFJ sendiri masih berkarya, baik di bidang pendidikan, pengkajian seperti workshop, penciptaan, dan pengapresiasian. Demikian uraian Edhiyanto sebagai salah satu pendiri FFJ, yang juga seorang petani kopi di Desa Jangkat Kecamatan Sungai Tenang Jambi.

Selanjutnya, dalam diskusi ini, Ratna Dewi (salah satu dewan juri) memberikan catatan tentang Festival Film Jambi 2017. Pertama, dari 23 karya film yang masuk ke meja panitia, 11 karya datang dari Jambi dan 12 dari luar Jambi. Menariknya, 23 karya tersebut paling banyak diproduksi oleh peserta SMU/SMK dan Perguruan Tinggi. Dari Jambi, terdapat 8 film yang diproduksi oleh siswa SMU/SMK dan 2 karya dari universitas (Universitas Jambi), serta 1 dari Production House—bila benar film berjudul “Menjaga Tradisi Seberang” oleh Aan Tombong memang karya PH, sebab teknik sinematografinya cukup rapi. UNJA yang memiliki UKM bidang Film mengirimkan 2 karya berjudul “Plasebo” dan “Senandung Dalam Zaman”

Dari 12 karya luar Jambi, 8 karya merupakan produksi SMK dan 4 karya non-SMK, yakni 1 dari kampus dan 3 diduga dari PH (Production House). Jadi, 8 karya dari luar dan 8 karya pula dari Jambi dihasilkan oleh peserta setingkat SMU atau SMK (total 16 dari 23 film). Menariknya, menurut Ratna Dewi, Festival Film Jambi 2017 ini diramaikan oleh adik-adik muda dari SMU, selain wajar bila SMK punya jurusan khusus perfilman atau UKS (Unit Kegiatan Siswa) bidang sinema. Baik SMU maupun SMK, ini merupakan inkubator atau “pabrik” sineas potensial, khususnya bagi Jambi.

Kedua, dari segi sebarannya, peserta sudah mewakili ke-Indonesia-an. Ada 2 karya dari Ambon, 5 dari Lampung, 2 Bengkulu, 1 dari Sumatera Barat (UNAND), dan 1 Medan, serta 1 dari Jawa Tengah. Namun perlu digarisbawahi, baik dari Lampung maupun Bengkulu, 7 film tersebut karya anak SMK.

Cukup menarik, di luar kategori Fiksi Pelajar yang memang dibuat oleh siswa, ternyata dari 5 karya kategori Fiksi Umum, terdapat 3 film diproduksi oleh SMK, 1 oleh mahasiswa, dan 1 oleh PH (berjudul “Mbobot” dari Jawa Tengah). Dari Kategori Film Dokumenter, sebagian besar merupakan karya pelajar SMK dan hanya 2 karya dari PH.

Ketiga, dari segi tema, Festival 2017 ini menjadi menarik karena sejumlah karya pelajar memiliki tema dan isi film yang inspiratif. Menurut Ratna, beberapa karya terasa betul ingin menyampaikan pesan yang hebat, melampaui dunia mereka sendiri. Salah satu karya pelajar, yang masuk nominasi kategori Fiksi Umum, sanggup mengkonstruksi film dengan pendekatan semiotik dan penceritaan tak terduga. Karya tersebut cukup berat untuk usia mereka.

Terdapat 6 karya anak Jambi yang secara khusus berbicara tentang identitas budaya lokal. Mereka mengalami kegelisahan atas budaya Jambi yang kian asing di kalangan anak muda.

Salah satu ciri karya dianggap bagus, bila telah ditonton, isi film tersebut masih melekat di kepala hingga berhari-hari, bahkan tahunan. Kini, total dari 23 karya, Ratna Dewi mengaku masih ingat isi 21 film dengan kuat, dan hanya 2 karya yang hampir lupa karena lemah dari segi teknik film dan kontennya. Lagi-lagi, banyak karya siswa SMK mempunyai isi atau pesan yang baik sekali. Ada film berbicara tentang perempuan nikah dini, yang usia 6 tahun telah punya anak. Pernikahan itu terjadi karena sejak kecil perempuan tersebut pernah dilecehkan secara seksual oleh orang-orang terdekat, nyaris diperkosa, dan sebagainya. Ada pula karya siswa SMU yang berisi tentang politik identitas, yakni bagaimana Indonesia terkini dipecah belah oleh isu ras, agama, dan sentimen sejenisnya.

Ide dan isi film karya siswa itu cukup kuat, namun lemah dari segi teknik sinema. Contohnya film “Pemuda Pemersatu” karya siswa SMK Setih Setio 2 Muara Bungo. Pesan film ini bagus sekali, tentang penyadap karet yang tak bersekolah menegur teman-teman yang mampu bersekolah agar bermanfaat lebih daripadanya. Sayang, pesan bagus itu disampaikan secara verbal, bukan melalui simbol-simbol berupa alur atau gestur, agar berbeda dengan karya sastra, pidato atau khotbah. Tentu saja, ini menjadi tugas bagi Forum Film Jambi untuk terus memperbaiki kemampuan teknis film para siswa tersebut.

Terkait penuturan Edhiyanto tadi tentang siswa SMK yang lulus atau menang dalam Festival di Jambi tahun 2011, kemudian “hilang” tak berkarya, maka Ratna Dewi meminta Forum Film Jambi untuk melacak secara berkala keberadaan mereka. Tiap peserta yang nama dan alamatnya tercatat, tetap dihubungi kembali untuk even-even FFJ berikutnya. Diharapkan pula FFJ dapat menjadi pusat data film karya anak Jambi, misalnya dengan menyurati secara resmi ke sekolah, kampus, PH, atau komunitas, agar mereka memberikan informasi kemana saja dan dalam ajang film apa karya itu dikirim. Bila ada orang luar ingin meneliti tentang film karya anak Jambi, maka Forum Film Jambi dapat menjadi referensinya.

Di samping itu, Forum Film Jambi harus mampu melacak motivasi peserta yang mengirimkan karya ke Festival Film Jambi. Apakah karya tersebut hanya sekadar diikutkan untuk festival di Jambi, semata-mata berkaya saja, atau dimaksudkan sebagai kritik sosial bahkan propaganda politik tertentu. Boleh jadi ada karya yang menganggur lama atau yang mengalami kegagalan dalam festival lain, baru dikirim ke Jambi. Hal ini penting, agar Festival Film Jambi dapat menjadi baromenter alternatif capaian film Indonesia.

Secara tersirat, Anton Oktavianto tidak terlalu mempermasalahkan motivasi pengirim film ke Forum Film Jambi. Oleh karena Anton rutin datang ke berbagai komunitas film, termasuk kepada para pengajar, entah di Yogykarta, Solo, Jakarta, atau Bandung; maka boleh jadi para pengajar itu sengaja menyuruh mahasiswanya untuk mengirim karya ke Jambi. Ini dapat dimaklumi, sebab setiap sineas perlu proses perjuangan yang bertahap, dan Festival Film Jambi mungkin dianggap salah satu tahap awal menguji karya mereka. Sementara ini, Yogyakarta masih menjadi barometer perfilman.

Mengenai “kasus” siswa peserta terdahulu yang selepas sekolah tidak jelas rimba dan aktifitas seninya, Anton memiliki tanggapan tersendiri. Tahun 2016, saat masih di Dewan Kesenian Jambi (DKJ) sebagai ketua Komite Film dan Fotografi, Anton pernah mengusulkan beasiswa bagi siswa yang berprestasi dalam karya filmnya. Namun, setelah mengundurkan diri dari DKJ, Anton tidak tahu nasib rencana tersebut. Anton mengenang masa sekolah yang tidak tersalurkan bakat sinemanya sejak dini. Pendidikan di Indonesia menuntut siswa menguasai ilmu yang sama. Analogi kasarnya, di sekolah itu ada ikan, kucing, kambing, ayam, kuda—semuanya harus belajar memanjat pohon. Ikan pun harus bisa memanjat pohon. Siswa harus bisa fisika, padahal ia punya bakat akting, fotografi, atau semacamnya.

Sementara itu, menurut Dimas Arisandi (salah satu juri), siswa yang hilang setelah berkarya, boleh jadi akibat kecemasan tentang masa depan jika hidup sebagai film maker, sehingga mereka kuliah di luar dunia sinema. Di Jambi, masih ada orangtua yang menghalangi anaknya kuliah di jurusan seni dengan pertanyaan: “Kamu mau jadi pengamen ya?”, “Besok kamu mau kasih makan dan didik anakmu pakai apa?”, dan seterusnya. Ini perkara pola pikir saja. Di Bandung atau Yogyakarta, orangtua mudah menerima alasan anaknya kuliah seni, misalnya: “Saya mau bikin film, nguri-nguri budaya atau membesarkan budaya daerah”. Pungkasnya, Dimas berkata: “Maaf ya, kalau agak vulgar, kalau sekadar mencari makan, [di dunia film ini] gak usah khawatir. Saya pun merasakan [sebagai orang] dari daerah [bisa maju dan hidup].”

Menurut Dimas, justru ajang festival film dan diskusi di Tempoa ini merupakan salah satu solusi dinamis karena membuahkan sebuah keyakinan hidup dalam jaringan. Ia pun termasuk mengaktifkan Jaringan Pesantren Film Indonesia, misalnya Komunitas Pesantren Film Demak atau Jogja Pesantren Film. Oleh karena jaringan, film pendek “Rumah Untuk Nyai” yang digarapnya bersama Anton Oktavianto untuk Museum Gentala Arasy, juga diminta-tayang oleh Jombang TV. Begitu pula film pendek berjudul “Ilir-llir” di Demak, yang cukup heboh, karena dibawa oleh TKI Demak ke luar negeri.

Menurut Dimas, terdapat kepuasan tersendiri takala karyanya bermanfaat bagi kehidupan orang dan kepentingan ilmu lain. Contohnya, film dokumenter “Memayu Hayuning Bawono”(2012) tentang Ki Sigit Sukasman (pencipta Wayang Ukur), menjadi arsip sebuah museum di Leiden Belanda.

Mengenai beberapa siswa SMU/SMK yang karyanya terkesan ingin menyampaikan ide besar namun kerepotan dalam teknis sinemanya, bagi Dimas, itu bukanlah masalah. Sebab, teknis film dapat dipelajari sambil jalan. Satu hal penting baginya, sineas muda Jambi jangan takut terus berkarya. Demikian pula Josua, pria kelahiran Jambi dan sineas lulusan ISI Yogyakarta juga siap mengawal perjuangan film maker Jambi.

Diskusi ini selesai pukul 18.10 WIB. Selanjutnya, sesi ke-2 berlangsung pukul 18.50 hingga 20.10 WIB dan sesi ke-3 pada pukul 22.30 hingga 00.30 WIB. Sesi ke-3 merupakan permintaan peserta dari UNJA.

*Wiwin Eko Santoso merupakan pemerhati sejarah, alumnus Sejarah UGM Yogyakarta. Dalam “Ngobrol Asyik tentang Film”, penulis didapuk sebagai moderator.


Tag : #Festival Film Jambi #Dimas Arisandi #Forum Film Jambi #Galeri Art Tempoa Jelutung



Berita Terbaru

 

Senin, 23 Juli 2018 01:11 WIB

Selain HP, Sipir Lapas Bungo Temukan Benda Diduga Digunakan Napi untuk Kabur


Kajanglako.com, Bungo - Petugas Lembaga Pemasyarakatan Klas 2B Muara Bungo menemukan sejumlah barang di sel warga binaan saat razia digelar, Minggu (22/7)

 

Senin, 23 Juli 2018 00:59 WIB

Lapas Klas 2B Bungo Geledah Blok Napi


Kajanglako.com, Bungo - Lembaga Permasyaratan (Lapas) Klas 2B Muara Bungo melakukan penggeledahan blok hunian warga binaan.   Penggeledahan dipimpin

 

Senin, 23 Juli 2018 00:45 WIB

Bambang Bantah Sidak Sel Fasilitas Hotel Bintang Lima di Lapas Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Sidak yang dilakukan di Lapas Klas 2A Jambi, Minggu (22/7) malam, berkaitan dengan OTT KPK di Lapas Sukamiskin Jawa Barat, dibantah

 

Senin, 23 Juli 2018 00:29 WIB

Disinggung Soal Sidak Sel Mewah, Bambang: Tak Ada yang Perlu Dieskpos Media


Kajanglako.com, Jambi - Dilarangnya awak media tak boleh meliput Sidak yang dilakukan Kakanwil Kemenkumham Provinsi Jambi, Bambang Palasara, di Lapas Klas

 

Senin, 23 Juli 2018 00:10 WIB

Lapas Jambi Disidak Pasca OTT KPK di Lapas Sukamiskin


Kajanglako.com, Jambi - Pasca Komisi Pemberantas akorupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Kalapas Sukamiskin, Jawa Barat, terkait