Selasa, 23 Januari 2018
Pencarian


Jumat, 29 Desember 2017 15:42 WIB

Gus Dur dan (Keluarga) Widjojo Nitisastro

Reporter : Redaksi
Kategori : Perspektif

Kiri-Kanan: Widjojo Nitisastro dan Gus Dur

Oleh: Hairus Salim Hs.

Ketika menjabat presiden, Gus Dur meminta Widjojo Nitisastro, menjadi salah seorang anggota Dewan penasehatnya dalam bidang ekonomi. Pengangkatan ini sudah barang tentu mengecewakan sebagian besar pendukungnya karena Widjojo dikenal sebagai salah seorang arsitek ekonomi Orde Baru dan bagian penting dari mereka yang disebut sebagai 'mafia barkeley'. Orang ingin Gus Dur menarik garis putus sama sekali terhadap Orde Baru. Nyatanya ini tidak dilakukan, dan dalam beberapa hal Gus Dur masih pakai orang-orang lama, sebagian demi alasan simbolik rekonsialiasi dan sebagian lain karena kebutuhan praktis-pragmatis.



Pertanyaannya mengapa Widjojo?

Baru-baru ini Kompas menerbitkan buku berjudul "Widjojo Nitisastro, Panditaning Para Raja, dalam kenangan putri tercinta, Widjajalaksmi Kusumaningsih." Sebagaimana judulnya, buku ini berisi kenangan putri Widjojo akan ayahandanya. Dalam Bab 3: "Gus Dur, Eyang Kakung Nitisastro, Jombang, dan Saya," si puteri bercerita hubungan keluarga mereka dan keluarga Gus Dur.

Awalnya pada 1992, Gus Dur bersama ibu, istri dan adiknya mengalami kecelakaan lalulintas. Luka parah membuat ketiga perempuan itu pun harus dirawat di RS tempat Widjajalaksmi dan suami berpraktik. Mereka tidak tahu ini keluarga siapa, tapi heran karena yang bezok tak habis-habis dari rakyat kecil hingga pejabat tinggi. Sampai dia ketemu dengan orang yang dipanggil om Emil Salim dan tante Sad (istri Sadli) yang turut membesuk. Kedua orang sahabat ayahnya ini pun tanya, kok dia ada di sini? Ia jawab, ia dan suaminya yang merawat tiga perempuan ini. Dia tanya, memang orang-orang ini siapa om? Emil Salim pun menceritakan kalau ini adalah keluarga Abdurrahman Wahid, Ulama dan cendikiawan Muslim dan Ketua PBNU.

Laksmi pun bercerita ke bapaknya kalau dia merawat keluarga Gus Dur. Bapaknya Widdjojo senang sekali karena, menurutnya, bapaknya pengagum Gus Dur. Sejak itu kedua keluarga ini jadi dekat. Lebih-lebih ternyata Widjojo sendiri, meski lahir di Malang, besar di Jombang, tak jauh dari rumah ibu Sinta. Kakek nenek kedua keluarga sudah kenal dekat jauh sebelumnya. Bahkan menurut Gus Dur, beberapa keluarga Nitisastro ada yang menjadi pengurus NU pada masa-masa awal. Rumah keluarga Nitisastro sendiri sering dipakai oleh NU (dan juga Muhammadiyah) di Jombang.

Yang menarik adalah pertanyaan Gus Dur kepada Laksmi dan suaminya, apakah mereka berdua sebagai pasangan suami istri baik-baik saja? Mereka menjawab, baik-baik saja. Memang ada apa? Soalnya kata Gus Dur, mereka berdua sebenarnya berasal dari garis keluarga yang berseteru sekitar dua abad lalu. Yang satu adalah keturunan Kiai Mutamakkin, sedangkan yang satunya lagi adalah keturunan Katib Anom. Mereka yang membaca sejarah Jawa akan mengerti siapa kedua tokoh ini. Sejarah menceritakan bahwa Kiai Mutamakkin dilaporkan ke Sultan telah melanggar perintah agama, dan yang mengadili adalah Katib Anom. Cerita ini termuat dalam Serat Cebolek.

Tentu saja Laksmi dan suaminya kaget mendengar cerita ini. Tapi juga campur senang karena ternyata mereka adalah keturunan orang-orang besar. Dan sekarag mereka menjadi lambang rekonsiliasi.

Gus Dur, Saya kira, adalah seorang Jawa yang gemar mencari asal-usul moyang dan menghubungkan dan dihubungkan dengan para leluhur tersebut secara genetik maupun secara spiritual. Barangkali tak usah diceritakan lagi kesukaannya berziarah kubur ke mana pun. Cerita ini membuat dua keluarga ini makin dekat dan akrab.

Jauh sebelum jadi presiden, Gus Dur sudah mengungkapkan kepada Widjojo kalau dia ingin dan akan jadi presiden. Meski heran dengan keadaan Gus Dur, Widjojo percaya bahwa kelak Gus Dur akan jadi presiden. Karena itu dia berpesan kepada putrinya untuk menjaga dan mengawasi kesehatan Gus Dur.

Gus Dur yang kalau bicara dengan Widjojo, menurut Laksmi, dalam bahasa Jawa Krama, atau kalau pun berbahasa Indonesia, sangat sopan dan rapi, kemudian ditunjuk sebagai salah seorang anggota Dewan penasehat dalam bidang ekonomi. Sayang tak banyak diceritakan dalam buku ini bagaimana "nasehat" itu diberikan dan apakah dijalankan?

Setelah Gus Dur tidak jadi presiden, kedua keluarga ini tetap dekat. Ketika ibu Widjojo berpameran lukisan, yang membuka adalah Gus Dur dan Bu Shinta.

29 Desember 2009, atau persis sewindu yang lalu, Gus Dur meninggal. Menurut Laksmi, ayahnya meneleponnya ketika ia dalam perjalanan memberitahu kalau Gus Dur meninggal. Ia sendiri sudah tahu dari berita tapi tetap mendengarkan pemberitahuan ayahnya karena merasakan kesedihan yang dirasakan ayahnya.

Demikianlah, mungkin hanya Gus Dur yang bisa "bermusuhan" dengan tetap menjalin persaudaraan. Persaudaraan itu abadi, dan perbedaan tak akan menyingkirkan persaudaraan.

*Penulis merupakan Direktur Yayasan LKiS Yogayakarta. Aktif sebagai peneliti sekaligus penerjemah sejumlah buku dan menulis masalah-masalah agama, kebudayaan, dan politik kebudayaan.


Tag : #Orde Baru #Mafia Barkeley #Gus Dur #Katib Anom



Berita Terbaru

 

Senin, 22 Januari 2018 19:57 WIB

Polisi Dalami Keberadaan Dugaan Adanya Aliran Sesat di Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari – Dugaan adanya aliran sesat yang meresahkan warga di Kecamatan Muara Tembesi, langsung direspon pihak kepolisian. Polisi

 

Senin, 22 Januari 2018 19:44 WIB

Diduga Ada Aliran Sesat di Wilayahnya, Bupati Sahirsyah Mengaku Belum Dapat Laporan


Kajanglako.com, Batanghari - Isu aliran sesat yang dibawa oleh Majelis Tafsir Alqur'an (MTA) di bawah pimpinan Ustadz Ahmad Saukina di Kecamatan Muara

 

Senin, 22 Januari 2018 18:52 WIB

Diduga Gangguan Jiwa, Trinawan Tiga Kali Tusuk Korbannya


Kajanglako.com, Batanghari - Ahmad Syamsi bin Samin (29) warga RT 10 Kelurahan Sridadi menjadi korban penganiayaan. Korban ditusuk tiga kali pada bagian

 

OTT KPK di Jambi
Senin, 22 Januari 2018 18:22 WIB

Begini Kata Zola Usai Jalani Pemeriksaan yang Kedua di KPK


Kajanglako.com, Jakarta – Gubernur Jambi, Zumi Zola keluar dari gedung KPK, sekitar pukul 17.00 WIB, dalam pemeriksaan yang kedua, Senin (22/1). Kepada

 

OTT KPK di Jambi
Senin, 22 Januari 2018 17:53 WIB

Zola Keluar Gedung KPK Setelah Lewati 8 Jam Pemeriksaan


Kajanglako.com, Jakarta – Setelah melewati hampir delapan jam pemeriksaan, Gubernur Jambi, Zumi Zola terlihat keluar dari Gedung Merah Putih KPK.