Selasa, 23 Januari 2018
Pencarian


Jumat, 22 Desember 2017 17:15 WIB

Legenda Asal Usul Negeri Lempur

Reporter : Redaksi
Kategori : Oase

ilustrasi. sumber: imanzenit.com

Dahulu kala, di hutan belantara, berdiri sebuah kerajaan Pamuncak tiga kaum. Seperti namanaya, Kerajaan itu di perintah oleh tiga orang bersaudara. Adapun ke tiga orang bersaudara tersebut yaitu : Rencong Talang, Pamuncak Tanjung Seri, dan Pamuncak Koto Tapus.

Ketiga bersaudara itu hidup dengan rukun dan damai, adapun jika salah satu di antara mereka ada yang kewalahan atau ada dalam kesulitan maka yang lainnya turun tangan untuk membantunya. Dan sebaliknya, jika mendapat sebuah yang membuat senang mereka tidak lupa untuk saling berbagi.



Suatu ketika, hasil panen rakyat di wilayah kekuasaan Pemuncak Rencong Talang sungguh melimpah. Dengan melimpahnya hasil panen kali ini, Pemuncak Rencong Talang bermaksud mengadakan pesta panen dengan mengundang beberapa kerabat dan keluarga-keluarganya yang lain. Karena tidak bisa hadir, Maka Pemuncak Tanjung Seri pun mengutus Isteri dan kedua anaknya untuk menghadiri pesta panen tersebut.

Dan berangkatlah Isteri dan kedua anak dari Pemuncak Tanjung Seri ke pesta panen yang diadakan di negeri Pemuncak Rencong Talang. Setelah beberapa hari melakukan perjalanan tibalah di tempat dimana pesta itu berlangsung. Hari kenduri dan pesta panen pun tiba. Seperti yang telah di rundingkan bahwa pesta tersebut akan di adakan selama tiga hari tiga malam. Semua Rakyat pun sangat bergembira dan sangat menikmati pesta tersebut.

Tepat pada malam ketiga pesta panen itu, hadirlah anak dara dari Pamuncak Tanjung Seri. Karena kecantikannya Anak dara dari Tanjung Seri tersebut pun menjadi incaran para pemuda. Berlangsungnya pesta tersebut pun sangat meriah, sampai tak terasa semua yang mengikuti pesta tersebut larut dalam kegembiraan hingga tak terasa ayam jantan pun telah berkokok berkali-kali, yang menandakan pagi hari akan segera tiba, akhirnya si ibu gadis itupun mengajak anaknya pulang.

"Pulang yu nak, sudah pagi, sebentar lagi siang", kata ibunya.

Tapi, saking masih asyiknya di pesta itu gadis itu pun tidak menghiraukan panggilan dari ibunya. Sampai ada seorang pemuda di dekatnya yang bertanya pada gadis itu,

"Siapa perempuan tua yang memanggilmu itu?" tanya pemuda itu.

Mendengar pertanyaan pemuda itu ia pun segera menjawab, "Oo..., perempuan itu adalah pembantu saya." tegas gadis itu tidak mengakui itu adalah ibunya.

Sakit hati sang ibu mendengar hal itu. Ia tak menyangka anak gadisnya akan berbicara seperti itu, sampai Ia tega tidak mengakui bahwa ia adalah ibunya yang ada malah menganggap ia sebagai pembantunya. Tapi sang ibu hanya memendam rasa sakit hatinya itu.

Keesokan harinya, kedua anak dari Pamuncak Tanjung Seri dan isterinya pulang kembali ke negerinya. Di kisahkan ketika rombongan itu tiba di daerah antara Pulau Sangkar dan Lolo yang berawa dan berlumpur itu. Terlihat gadis yang merupakan seorang gadis raja itu tidak mau berdekatan dengan ibunya, dan hal itu juga yang akhirnya menambah rasa sakit hati ibunya.

Kemudian, ibunya (Isteri Pamuncak Tanjung Seri) itu pun berdo'a kepada Tuhan agar anak gadisnya yang durhaka itu di makan oleh rawa lumpur. Dan ternyata Tuhan mengabulkan do'anya. Si dara gadis cantik nan rupawan itu kakinya terjerat oleh rawa yang berlumpur itu, sehingga ia terbenam makin dalam. Ia pun menangis, berteriak minta tolong kepada ibu dan pengawalnya. Tapi, baik pengawal maupun ibunya tidak menghiraukannya, seraya berkata;

"Aku bukan ibumu, Aku hanyalah pembantumu." kata si ibu.

Sementara, si gadis cantik itu meraung sambil berkata, "Tolooong..., tooloooong ibu, maafkanlah Aku, Aku tidak akan lagi berbuat seperti itu, Aku tidak akan lagi durhaka kepadamu."

Namun ibunya sama sekali tidak menghiraukan gadis itu. Malah ia mengambil gelang dan Selendang Jambi yang di pakai anaknya. Setelah di ambil barang tersebut, maka gadis itu tenggelam semakin dalam hingga hanyut, hilang tak terlihat batang hidungnya lagi.

Terhitung setelah kejadian itu, tempat si gadis itu hanyut dalam lumpur itu, tempat itu kemudian dinamakan negeri lempur oleh penduduknya, dan nama lempur tersebut berasal dari kata Lumpur.

Sementara itu, gelang yang tadi di ambil dari gadis itu di buang di sebuah tebat, sehingga tebat tersebut dinamakan Tebat Gelang. Kemudian, kain panjang atau Selendang Jambi yang tadi pun di buang pula ke dalam tebat lainnya, sehingga tebat itu di beri nama Tebat Jambi.

*Sumber cerita: Rahimsyah, MB. 2007, Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya.


Tag : #Legenda Jambi #Tebat Jambi



Berita Terbaru

 

Senin, 22 Januari 2018 19:57 WIB

Polisi Dalami Keberadaan Dugaan Adanya Aliran Sesat di Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari – Dugaan adanya aliran sesat yang meresahkan warga di Kecamatan Muara Tembesi, langsung direspon pihak kepolisian. Polisi

 

Senin, 22 Januari 2018 19:44 WIB

Diduga Ada Aliran Sesat di Wilayahnya, Bupati Sahirsyah Mengaku Belum Dapat Laporan


Kajanglako.com, Batanghari - Isu aliran sesat yang dibawa oleh Majelis Tafsir Alqur'an (MTA) di bawah pimpinan Ustadz Ahmad Saukina di Kecamatan Muara

 

Senin, 22 Januari 2018 18:52 WIB

Diduga Gangguan Jiwa, Trinawan Tiga Kali Tusuk Korbannya


Kajanglako.com, Batanghari - Ahmad Syamsi bin Samin (29) warga RT 10 Kelurahan Sridadi menjadi korban penganiayaan. Korban ditusuk tiga kali pada bagian

 

OTT KPK di Jambi
Senin, 22 Januari 2018 18:22 WIB

Begini Kata Zola Usai Jalani Pemeriksaan yang Kedua di KPK


Kajanglako.com, Jakarta – Gubernur Jambi, Zumi Zola keluar dari gedung KPK, sekitar pukul 17.00 WIB, dalam pemeriksaan yang kedua, Senin (22/1). Kepada

 

OTT KPK di Jambi
Senin, 22 Januari 2018 17:53 WIB

Zola Keluar Gedung KPK Setelah Lewati 8 Jam Pemeriksaan


Kajanglako.com, Jakarta – Setelah melewati hampir delapan jam pemeriksaan, Gubernur Jambi, Zumi Zola terlihat keluar dari Gedung Merah Putih KPK.