Sabtu, 21 April 2018


Jumat, 22 Desember 2017 17:15 WIB

Legenda Asal Usul Negeri Lempur

Reporter : Redaksi
Kategori : Oase

ilustrasi. sumber: imanzenit.com

Dahulu kala, di hutan belantara, berdiri sebuah kerajaan Pamuncak tiga kaum. Seperti namanaya, Kerajaan itu di perintah oleh tiga orang bersaudara. Adapun ke tiga orang bersaudara tersebut yaitu : Rencong Talang, Pamuncak Tanjung Seri, dan Pamuncak Koto Tapus.

Ketiga bersaudara itu hidup dengan rukun dan damai, adapun jika salah satu di antara mereka ada yang kewalahan atau ada dalam kesulitan maka yang lainnya turun tangan untuk membantunya. Dan sebaliknya, jika mendapat sebuah yang membuat senang mereka tidak lupa untuk saling berbagi.



Suatu ketika, hasil panen rakyat di wilayah kekuasaan Pemuncak Rencong Talang sungguh melimpah. Dengan melimpahnya hasil panen kali ini, Pemuncak Rencong Talang bermaksud mengadakan pesta panen dengan mengundang beberapa kerabat dan keluarga-keluarganya yang lain. Karena tidak bisa hadir, Maka Pemuncak Tanjung Seri pun mengutus Isteri dan kedua anaknya untuk menghadiri pesta panen tersebut.

Dan berangkatlah Isteri dan kedua anak dari Pemuncak Tanjung Seri ke pesta panen yang diadakan di negeri Pemuncak Rencong Talang. Setelah beberapa hari melakukan perjalanan tibalah di tempat dimana pesta itu berlangsung. Hari kenduri dan pesta panen pun tiba. Seperti yang telah di rundingkan bahwa pesta tersebut akan di adakan selama tiga hari tiga malam. Semua Rakyat pun sangat bergembira dan sangat menikmati pesta tersebut.

Tepat pada malam ketiga pesta panen itu, hadirlah anak dara dari Pamuncak Tanjung Seri. Karena kecantikannya Anak dara dari Tanjung Seri tersebut pun menjadi incaran para pemuda. Berlangsungnya pesta tersebut pun sangat meriah, sampai tak terasa semua yang mengikuti pesta tersebut larut dalam kegembiraan hingga tak terasa ayam jantan pun telah berkokok berkali-kali, yang menandakan pagi hari akan segera tiba, akhirnya si ibu gadis itupun mengajak anaknya pulang.

"Pulang yu nak, sudah pagi, sebentar lagi siang", kata ibunya.

Tapi, saking masih asyiknya di pesta itu gadis itu pun tidak menghiraukan panggilan dari ibunya. Sampai ada seorang pemuda di dekatnya yang bertanya pada gadis itu,

"Siapa perempuan tua yang memanggilmu itu?" tanya pemuda itu.

Mendengar pertanyaan pemuda itu ia pun segera menjawab, "Oo..., perempuan itu adalah pembantu saya." tegas gadis itu tidak mengakui itu adalah ibunya.

Sakit hati sang ibu mendengar hal itu. Ia tak menyangka anak gadisnya akan berbicara seperti itu, sampai Ia tega tidak mengakui bahwa ia adalah ibunya yang ada malah menganggap ia sebagai pembantunya. Tapi sang ibu hanya memendam rasa sakit hatinya itu.

Keesokan harinya, kedua anak dari Pamuncak Tanjung Seri dan isterinya pulang kembali ke negerinya. Di kisahkan ketika rombongan itu tiba di daerah antara Pulau Sangkar dan Lolo yang berawa dan berlumpur itu. Terlihat gadis yang merupakan seorang gadis raja itu tidak mau berdekatan dengan ibunya, dan hal itu juga yang akhirnya menambah rasa sakit hati ibunya.

Kemudian, ibunya (Isteri Pamuncak Tanjung Seri) itu pun berdo'a kepada Tuhan agar anak gadisnya yang durhaka itu di makan oleh rawa lumpur. Dan ternyata Tuhan mengabulkan do'anya. Si dara gadis cantik nan rupawan itu kakinya terjerat oleh rawa yang berlumpur itu, sehingga ia terbenam makin dalam. Ia pun menangis, berteriak minta tolong kepada ibu dan pengawalnya. Tapi, baik pengawal maupun ibunya tidak menghiraukannya, seraya berkata;

"Aku bukan ibumu, Aku hanyalah pembantumu." kata si ibu.

Sementara, si gadis cantik itu meraung sambil berkata, "Tolooong..., tooloooong ibu, maafkanlah Aku, Aku tidak akan lagi berbuat seperti itu, Aku tidak akan lagi durhaka kepadamu."

Namun ibunya sama sekali tidak menghiraukan gadis itu. Malah ia mengambil gelang dan Selendang Jambi yang di pakai anaknya. Setelah di ambil barang tersebut, maka gadis itu tenggelam semakin dalam hingga hanyut, hilang tak terlihat batang hidungnya lagi.

Terhitung setelah kejadian itu, tempat si gadis itu hanyut dalam lumpur itu, tempat itu kemudian dinamakan negeri lempur oleh penduduknya, dan nama lempur tersebut berasal dari kata Lumpur.

Sementara itu, gelang yang tadi di ambil dari gadis itu di buang di sebuah tebat, sehingga tebat tersebut dinamakan Tebat Gelang. Kemudian, kain panjang atau Selendang Jambi yang tadi pun di buang pula ke dalam tebat lainnya, sehingga tebat itu di beri nama Tebat Jambi.

*Sumber cerita: Rahimsyah, MB. 2007, Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Lengkap 33 Provinsi. Bintang Usaha Jaya, Surabaya.


Tag : #Legenda Jambi #Tebat Jambi



Berita Terbaru

 

Bawaslu
Sabtu, 21 April 2018 19:36 WIB

Tambah Anggota Bawaslu Provinsi, Ini Muatan Penting Pengumuman Bawaslu RI


Kajanglako.com, Jambi - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Republik Indonesia (RI) resmi menetapkan tim seleksi Bawaslu untuk 27 Propinsi di Indonesia yang

 

Pilkada Kerinci 2018
Sabtu, 21 April 2018 17:56 WIB

Undangan Tatap Muka Kian Padat, Zainal-Arsal Berbagi Tugas


Kajanglako.com, Kerinci - Dukungan untuk Zainal Abidin dan Arsal Apri, calon Bupati dan Wakil Bupati Kerinci nomor urut 3 terus mengalir.    Dukungan

 

Sabtu, 21 April 2018 15:13 WIB

Hadir Dua Kali Seminggu, Warga Apresiasi Pengobatan Gratis dr Maulana


Kajanglako.com, Kota Jambi - Setelah pada Sabtu lalu pengobatan gratis dokter Maulana hadir untuk masyarakat Kelurahan Rajawali, kali ini dokter Maulana

 

Sabtu, 21 April 2018 14:02 WIB

Memotivasi Ratusan Pelajar, Fasha: Jangan Remehkan Teman


Kajanglako.com, Kota Jambi - DR Syarif Fasha, Wali Kota Jambi yang saat ini tengah cuti, memberikan motivasi dihadapan ratusan pelajar di Abadi Convetion

 

Sabtu, 21 April 2018 13:08 WIB

Maulana Hadiri Peringatan Harlah Fatayat NU ke-68


Kajanglako.com, Kota Jambi - Ketua Harian Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Jambi, DR. dr. H. Maulana MKM menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) Fatayat