Minggu, 23 September 2018


Jumat, 22 Desember 2017 15:59 WIB

Berebut Salafi

Reporter : Redaksi
Kategori : Pustaka

Karya Dr. Haedar Nashir (Ketua Umum Pusat Muhammadiyah)

Oleh: Ahmad Fuady*

Dulu, istilah pesantren salaf banyak digunakan sebagai ciri pesantren NU yang mengkaji kitab-kitab klasik ulama salaf. Salaf didefinisikan sebagai periode hingga berakhirnya keterbukaan ijtihad pembentukan mazhab fiqih, dan membedakannya dengan khalaf.

Inilah definisi Salaf pertama yang dikenal dan berkembang di kalangan NU dengan tambahannya yang terkenal, "Fiqh-nya Syafi'i, aqidahnya Asy'ari dan Maturidi, tasawufnya Al Ghazali." Haedar Nashir, penulis buku, menyebutnya sebagai "Salafi Tradisional".

Dalam perkembangan sejarahnya, juga kekacauan politik pada dinasti keislaman, pembaruan pendekatan dikemukakan Imam Ahmad bin Hanbal. Kemerosotan Islam ditengarai akibat jauhnya praktek keislaman melenceng dari asal, juga terpisahnya Islam dan politik. Pemikiran Imam Ahmad kemudian dikembangkan Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim al Jauzy, serta muridnya. Arahannya jelas: kembali kepada tradisi Rasulullah, menghilangkan praktik syirik dan bid'ah, serta akuisisi politik sekuler dengan Islam sebagai landasan utama.

Pemikiran mereka diterjemahkan dalam berbagai varian. Syaikh Abdul Wahhab memilih fokus pada aqidah dan ibadah, dan menjadi tonggak gerakan yang dikenal sebagai Wahabi di Saudi. Jamaluddin Al Afghani memelopori sikap anti Barat dengan gerakan pan Islamisme-nya, diikuti Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha --yang juga menginspirasi tokoh semisal Hasan Al Banna dan Sayyid Quthb.



Selepas belajar di Mekkah, Ahmad Dahlan mengaspirasi pemikiran tersebut dan menerjemahkannya dalam upaya yg tetap akomodatif dalam gerakan politik. Maka, muncullah Muhammadiyah dan gerakan serupa, seperti Al Irsyad dan Persis. Gerakan khas Indonesia ini kemudian didefinisikan sebagai "Salafi Reformis".

Di luar itu, ada yang tetap berpegang teguh pada pemurniah aqidah dan menjaga jarak terhadap politik. Gerakan ini dikenal sebagai "Salafi Da'wah" atau "Jamaah Salafiyah". Beberapa kelompok nampak keras, seperti Salafi Yamani dan Haraki. Pada titik tertentu, mereka bahkan dapat memberi label 'sesat' antar kelompok yang ada. Gerakan ini yang berkembang banyak belakangan melalui kanal YouTube dengan ajakan kembali kepada Qur'an dan Sunnah --juga dalam gradasi 'kekerasan' masing-masing.

Yang terakhir, tetap mengupayakan Islam sebagai ideologi yang dikelompokkan sebagai "Salafi Ideologis". Di dalamnya termasuk MMI dan Hizbut Tahrir. Al Ikhwan Al Muslimun (IM) setelah periode Hasan Al Banna dan Syaikh Hasan Al Hudaiby menjadi lebih keras untuk mengakuisisi ideologi negara Mesir di bawah pengaruh pemikiran Sayyid Quthb. Di Indonesia, corak ini memengaruhi gerakan Tarbiyah dengan mesin politiknya, namun dengan sentuhan yang lebih akomodatif. Belakangan, dalam periode demokrasi pascareformasi, gerakan ini menegaskan keberpihakannya kepada NKRI.

Selepas Abu Bakar Baasyir ditahan --yang melemahkan gerakan MMI, Hizbut Tahrir menjadi pejuang sendirian. Ia akhirnya pupus di bawah Perppu mutakhir dan menjadikannya Salafi Ideologis terstruktur terakhir yang mati di Indonesia.

Buku ini bermula dari disertasi Haedar Nashir di tahun 2008. Ditulis ulang menjadi buku di tahun 2011. Saya membacanya di tahun 2017 dan masih menemukan konteks yang bernas dalam situasi sosiopolitik saat ini. Buku ini juga membantu memahami sikap penulisnya yang kini menjadi Ketua Umum Muhammadiyah terhadap fenomena gerakan keislaman. Menariknya, buku ini disambut positif oleh banyak tokoh dari berbagai gerakan yang ada, terutama dari yang disebutnya sebagai 'Salafi Tradisional' dan 'Salafi Reformis'.

Saya mengambil pelajaran dari Bab Pertama buku ini: Satu akar, banyak tafsiran gerakan. Seharusnya, tak ada alasan untuk merawat pertengkaran.

 *PhD researcher di Erasmus University Medical Centre, Rotterdam, the Netherlands. 


Tag : #Al Ikhwan Al Muslimun #Hizbut Tahrir #Muhammad Abduh #Rasyid Ridha #Wahabi #Muhammadiyah #NU



Berita Terbaru

 

Pemilu 2019
Sabtu, 22 September 2018 20:14 WIB

Resmi Daftar ke KPU, Tim Jokowi-Ma'ruf Ajak Saling Menghargai


Kajanglako.com, Jambi -  Pengurus Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf Jambi, resmi mendaftar ke KPU Provinsi Jambi, Sabtu (22/9) sekira pukul 14.00 WIB.    Ketua

 

Sabtu, 22 September 2018 10:38 WIB

Ini Pesan Fachrori ke Al Haris dan Mashuri


Kajanglako.com, Merangin - Al Haris-Mashuri resmi jabat Bupati dan Wakil Bupati Merangin periode 2018-2023. Al Haris dan Mashuri dilantik langsung Plt

 

Sabtu, 22 September 2018 09:59 WIB

Haris-Mashuri Resmi Jabat Bupati dan Wakil Bupati Merangin


Kajanglako.com, Merangin - Al Haris-Mashuri resmi menjabat Bupati dan Wakil Bupati Merangin periode 2018-2023. Al Haris dan Mashuri dilantik Plt Gubernur

 

RAISSA 2018
Sabtu, 22 September 2018 09:59 WIB

Haji Husin Ahmad, Salah Satu Alumni Tertua yang Hadir di RAISSA 2018


Kajanglako.com, Jambi – Kegiatan Jalan Sehat Reuni Akbar SMA N 1 Kota Jambi (RAISSA) tahun 2018 yang digelar Sabtu (22/09) di Lapangan Kantor Gubernur

 

Kejurnas Panjat Tebing
Sabtu, 22 September 2018 09:35 WIB

11 Atlet Panjat Tebing Jambi Berlaga di Kejurnas Riau


Kajanglako.com, Jambi - Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Provinsi Jambi, untuk kesekian kalinya mengirimkan atletnya