Kamis, 14 Desember 2017
Pencarian


Kamis, 30 November 2017 13:57 WIB

Sajadah

Reporter :
Kategori : Sastra Cerpen

ilustrasi. sumber foto: annida-online.com

Oleh: Titas Suwanda

“Sekali lagi kukatakan, sajadah hanyalah alas salat. Alas untuk menyembah Allah. Hanya itu, tak lebih!” tegas Ustad Saleh. Suaranya yang bening berpantulan di dinding-dinding masjid seakan hendak memecahkan keheningan malam di kampung itu.



Anak-anak yang mengikuti tadarusan di masjid telah pulang ke rumah masing-masing. Di hadapannya, tersisa lima orang pemuda kampung yang tak lain muridnya sendiri. Murid-murid andalan Ustad Saleh yang membantunya mengajari anak-anak kampung mengaji setiap malam selepas salat isya. Kelima pemuda tanggung itu tampak duduk bersila sambil terus merunduk. Siapa yang berani menatap raut Ustad Saleh jika sedang menceramahi mereka? Sungguh, untuk menghela napas pun kelima pemuda itu terlihat begitu berhati-hati. Hanya sesekali diantara mereka berani mengangguk-anggukkan kepala.

“Benar itu sajadahmu, Bujang?” tanya Ustad Saleh sembari melekatkan pandangannya yang tajam kepada sesosok pemuda bertubuh kurus yang duduk paling kiri di barisan kelima pemuda kampung tersebut.

“Benar Tad, sajadah itu pemberian dari Wak saya yang baru pulang dari Mekah,” suara Bujang yang begitu lirih, nyaris hilang ditingkahi bunyi jangkrik dan katak yang riuh di luar masjid. Tangannya tak henti-henti memilin-milin ujung sajadah yang didudukinya.

“Bukannya aku melarang kau membawa sajadah barumu itu Bujang. Silahkan. Selama niatmu masih lurus. Beribadah karena Allah. Tapi jika sajadah itu hanya membuat kau jadi riya, kau jadi angkuh dan sombong, lebih baik sajadah itu kau tinggalkan di rumah saja. Allah tidak menilai ibadah seorang hambanya dari bagus atau tidaknya sajadah yang digunakan ketika bersembahyang,” tutur Ustad Saleh.

Tampaknya, ustad kampung itu masih menyimpan kekesalan lantaran sajadah yang dibawa Bujang membuat suasana tadarus tadi berlangsung tidak seperti malam-malam sebelumnya. Anak-anak kampung berusia lima sampai belasan tahun yang biasanya khusyuk menyimak bacaan ayat-ayat Al quran malah asyik memuji keindahan rupa sajadah Bujang. Ada yang mengelus-ngelus bulu sajadah yang lembut, ada juga yang berulangkali mencium atau menempelkan sajadah itu ke pipi dan kening mereka.

“Ingat Bujang, malam ini kali terakhir kau pamer sajadahmu di masjid. Sekarang untuk kalian semuanya, sebelum pulang semua perlengkapan dirapikan kembali, dan jangan lupa yang bertugas subuh nanti harus datang lebih dahulu seperti biasanya. Assalamu alaikum,” Ustad Saleh pun bangkit dari duduk setelah mengucap salam penutup wejangan terakhirnya malam itu. Perawakannya yang kharismatik menuju ke pintu, kemudian lenyap dibalut bayangan pohon mangga di sisi gerbang masjid.

***

 

Ustad Saleh memang masih muda. Tapi, perihal kedalaman pemahaman agama, dialah yang menjadi rujukan di kampung. Usianya baru genap empat puluh lima tahun. Ia asli orang kampung sini. Ia adalah putra semata wayang Haji Dulah yang semasa hidupnya juga dikenal sebagai pemuka agama. Ketika masih berusia belasan tahun, ia meninggalkan kampung. Sebagian besar masa remajanya dihabiskan mendalami pengetahuan agama di sebuah pesantren ternama di daerah itu. Setelah Haji Dulah wafat, atau berkisar sepuluh tahunan belakangan, barulah Ustad Saleh kembali ke kampung, berdakwah di tanah kelahirannya.

Kegusaran Ustad Saleh terkait penggunaan sajadah sebenarnya bukan tanpa alasan. Hal itu bersebab dari sikap orang-orang kampung yang menjadikan sajadah sebagai sarana menyombongkan diri. Alat memamerkan kemapanan kelas sosial. Perbincangan setelah dan sebelum salat di masjid hanya berkutat pada bentuk dan harga sajadah. Bahkan, banyak  orang kampung yang tergolong dari keluarga berada, selalu gonta-ganti sajadah setiap salat ke masjid. Namun, banyak juga warga kampung yang tergolong kurang mampu, ke masjid berbekal sajadah lusuh yang warnanya sudah pudar, atau benang-benangnya sudah banyak yang tercerabut. Maka tak pelak, warga yang tergolong kurang mampu ini akan jadi bahan tertawaan, bahan olok-olokan.

Pernah suatu ketika, Wak Tungau, salah seorang warga kampung, tak mampu menahan emosi lantaran diolok-olok Tuk Bango. Kejadian itu bermula ketika Tuk Bango menuduh Wak Tungau tidak khusyuk menjalankan salat. Kata Tuk Bango, sepanjang salat berjamaah berlangsung, mata Wak Tungau selalu melirik dan curi-curi pandang ke sajadah miliknya. Kebetulan Tuk Bango yang memang terkenal memiliki banyak sajadah yang bagus itu, salat di samping Wak Tungau. Wak Tungau jelas tak terima. Nyaris saja perkelahian fisik tak terhindarkan. Beruntung jamaah masjid langsung melerai.

“Astaghfirullah. Istighfar bapak-bapak! Ngucap! Ini rumah Allah,” kata Ustad Saleh waktu itu sambil geleng-geleng kepala seakan tak percaya kekonyolan warga kampung telah begitu kronis.

Namanya orang kampung, meski telah ditegur berkali-kali, tetap saja perkara sajadah yang dibawa untuk salat berjamaah di masjid menjadi perkara super penting. Bagi mereka, segala hal tentang sajadah menyangkut harga diri dan martabat. Tidak hanya di mata tuhan semata, terutama juga di mata seluruh manusia kampung.

“Bahkan kucing di kampung ini pun pilih-pilih, sajadah mana yang nyaman dan layak untuk ditiduri,” ungkap Yuk Ta’un, pemilik warung kopi yang letaknya tak jauh dari pojokan masjid.

Ada juga kelompok yang memanfaatkan keadaan. Mereka para pedagang keliling. Seperti tidak mau kehilangan momentum, dengan menggunakan mobil bak terbuka, para pedagang keliling makin rajin mengitari ruas-ruas jalanan kampung. Aslinya, dulu mereka jualan sayur. Tapi sejak sajadah booming di kampung, tentu saja sekarang mereka mengikuti selera pasar dengan menjual bermacam bentuk sajadah.

“India punya, turki punya, eropa juga ada. Asli arab, yang lokal juga tersedia,” melalui pelantang suara, para pedagang merayu warga kampung. Bahkan tak jarang mereka mengimingi-imingi pembeli dengan potongan hinga separuh harga.

“Ada diskon ya?”.

“Lima puluh persen Pak RT. Tinggal pilih mau model yang mana.” 

“Kalau yang ini berapa?”.

“Ini keluaran terbaru Pak RT. Edisi spesial. Sajadah ini dilapisi busa tebal. Jadi, sembahyangnya dijamin nyaman. Empuk Pak RT,” bujuk pedagang itu ketika suatu sore lewat di depan rumah Pak RT. Pak RT yang termakan umpan langsung membayar, takut kehabisan atau dibeli orang lain. Lantas buru-buru masuk rumah memamerkan sajadah baru itu kepada istrinya.

“Gimana Bu, Bagus kan?”

“Beli sajadah mahal-mahal kok bentuknya kayak kasur bayi, Pak..Pak.” sungut Bu RT memuramkan suasana rumah Pak RT sore itu. 

Melihat perilaku umum warga kampung, Ustad Saleh tentu makin gusar. Entah yang keberapa kali, ketika menjadi khatib di mimbar, di hadapan jamaah salat Jumat, Ustad Saleh mengkritik stereotip sikap warga terkait penggunaan sajadah.

“Sidang Jumat yang dimuliakan Allah. Kesempurnaan salat berjamaah adalah lurus dan rapatnya saf. Lantas bagaimana saf salat di masjid kita ini akan lurus dan kerapatannya teratur, jika ukuran sajadah tidak sama. Semua bertahan dengan sajadahnya masing-masing. Ingatlah para hadirin sekalian, sajadah bukan untuk memamerkan kelebihan kita di depan orang lain. Diterima atau tidaknya salat kita tidak bergantung pada sajadah yang kita gunakan. Bahkan Nabi sendiri pernah salat di atas tanah tanpa menggunakan sajadah,” papar Ustad Saleh waktu itu.

Demikianlah. Waktu pun terus berputar. Namun belum tampak adanya tanda-tanda warga kampung akan insyaf. Cerita-cerita konyol terkait sajadah silih berganti menguar ke udara. Seperti episode sinetron yang memang sengaja dibuat tak habis-habis. Sampai pada satu titik ketika Ustad Saleh mengumumkan sesuatu hal selepas salat magrib di masjid. Hal yang diharapkan bisa menjadi solusi. Hal yang kelak mampu mengubah mindset segenap warga kampung tentang sajadah.

“Bapak-ibu, saudara-saudari, anak-anakku, serta seluruh jamaah masjid yang saya hormati. Melalui kesempatan ini, saya umumkan bahwa pada hari Jumat minggu terakhir bulan depan, bertemat di masjid yang kita cintai ini, akan diselenggarakan pengajian akbar yang akan dihadiri oleh seorang ulama yang barangkali namanya sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Beliau tak lain adalah, Kyai Haji Abdullah Amin,” ungkap Ustad Saleh.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, Kyai Haji Abdullah Amin merupakan seorang pemuka agama terbaik. Seorang penceramah hebat yang dimiliki negeri ini. Beliau juga adalah guru saya, kyai panutan saya ketika masih di pesantren dulu. Tempo hari, beliau mengabari lewat telpon ke saya. Kabar baik ini telah saya koordinasikan dengan Bapak Kepala Desa,” sambung Ustad Saleh.

“Satu hal yang tak kalah pentingnya, Kyai Haji Abdullah Amin ternyata telah mendengar apa yang terjadi di kampung kita ini, khususnya peristiwa yang ditimbulkan oleh sajadah. Beliau berjanji akan membantu mencarikan jalan keluar persoalan kita. Beliau akan membagi-bagikan sajadah baru untuk semua jamaah yang hadir di pengajian akbar itu nantinya,” lanjut Ustad Saleh yang langsung disambut tepukan gemuruh seluruh yang hadir di masjid diselingi pekikan syukur. Terutama mereka yang sajadahnya sudah lusuh.

“Alhamdulillah,”.

“Alhamdulillah,”.

“Alhamdulillah,” pekikan Wak Tungau terdengar paling menggelegar.

***

Saat yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Sejak pagi, warga yang begitu antusias datang berbondong-bondong ke masjid. Masjid kampung pun tumpah ruah menyerupa lautan manusia. Beruntung panitia sepertinya telah memprediksi membludaknya jamaah pengajian. Di halaman masjid telah digelar banyak karpet dan tikar sambung-menyambung yang diperuntukkan bagi kaum perempuan. Sementara, jamaah laki-laki menyesaki bagian dalam masjid.

Pengajian berlangsung khidmat. Pesona Kyai Haji Abdullah Amin mampu menyedot perhatian warga. Banyak warga yang terkagum-kagum melihat langsung sosok kyai kharismatik itu. Belum lagi, kedalaman kajian yang beliau sampaikan di saat ceramah. Warga sungguh betah menyimak. Kyai Haji Abdullah Amin juga tergolong sangat humoris. Sesekali, beliau meyelipkan lelucon-lelucon segar disela ceramahnya. Tanpa terasa pengajian akbar itu pun usai. Didampingi Kepala Desa dan Ustad Saleh, Kyai Haji Abdullah Amin berserta rombongannya beranjak meninggalkan masjid. Kyai pun kelihatan cukup sibuk meladeni para jamaah yang ingin bersalaman sepanjang langkahnya menuju mobil. Ada juga yang mencuri-curi kesempatan untuk berpoto selfie bersama kyai.

Waktu yang ditunggu-tunggu warga pun tiba. Setelah rombongan Kyai Haji Abdullah Amin pergi, panitia pengajian terlihat mulai membagi-bagikan sajadah kenang-kenangan dari sang kyai. Mereka membagi kelompok menjadi pos-pos kecil, agar pembagian berjalan lancar. Hingga sore, panitia tetap bersemangat meski antrian warga masih panjang mengular menunggu giliran mendapatkan sajadah. Akhirnya, semua warga pulang dengan hati dan pikiran yang riang. Di bahu masing-masing mereka, sajadah baru terselempang.

Beberapa hari sesudah pengajian akbar itu, dengan diketahui Kepala Desa, pengurus masjid menyebarkan surat edaran berisi himbauan kepada seluruh warga.

“Demi kekompakan dan stabilitas desa, kami pengurus masjid menghimbau agar seluruh warga senantiasa menggunakan sajadah yang dibagikan saat pengajian akbar tempo hari. Hal ini dimaksudkan guna mencegah konflik horizontal antar warga yang diakibatkan oleh perbedaan sajadah seperti peristiwa yang sudah-sudah. Demikian, harap dimaklumi,” suara seorang anak sekolah terdengar lantang ketika membaca  edaran yang ditempelkan Bujang di dinding warung Yuk Ta’un.

Entah karena kharisma Kyai Haji Abdullah Amin, entah karena benar-benar telah insyaf, yang jelas sejak itu semua warga memang terlihat kompak. Sajadah yang mereka gunakan salat berjamaah di masjid selalu seragam. Tidak terdengar lagi kekonyolan-kekonyolan yang berpangkal dari sajadah.

Orang yang paling bahagia tentu saja Ustad Saleh. Ia makin betah berlama-lama di masjid sekadar mengobrol setiap habisnya waktu salat. Obrolan ringan tanpa topik yang jelas. Tapi yang pasti, bukan perkara sajadah. Setelah malam makin larut, seusai tadarusan barulah Ustad Saleh melangkah pulang. Langkah yang tenang. Langkah kemenangan sebab ia telah mengembalikan suasana masjid kembali nyaman. Sambil berjalan, sesekali Ustad Saleh mengelus sajadah lembut yang tersampir di bahu kanannya.

Barangkali, hanya dia dan warga kampunglah yang tahu, di balik lipatan sajadah itu tertulis sepotong kalimat dengan huruf kapital “KENANG-KENANGAN dari K. H. Abdullah Amin, calon Legislatif DPR Provinsi, Dapil 2. Mohon Doa dan Dukungannya”.

*Penulis merupakan Ketua Teater AIR Jambi sekaligus pengajar Bahasa Indonesia di SMPN 26 Muaro Jambi.




Berita Terbaru

 

OTT KPK di Jambi
Rabu, 13 Desember 2017 22:00 WIB

Zoerman Tak Penuhi Panggilan, KPK Belum Terima Alasannya


Kajanglako.com, Jambi - 2 dari 4 Pimpinan DPRD Provinsi Jambi, tidak memenuhi panggilan KPK sebagai saksi 4 tersangka kasus suap RAPBD Provinsi Jambi 2018,

 

OTT KPK di Jambi
Rabu, 13 Desember 2017 21:32 WIB

Info Terbaru KPK: Penyidik Dalami Keterlibatan Pimpinan dan Anggota DPRD Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Jakarta - KPK merilis info terbaru terkait kasus suap pengesahan RAPBD Provinsi Jambi Tahun 2018.  Jubir KPK Febri Diansyah menyebut,

 

OTT KPK di Jambi
Rabu, 13 Desember 2017 20:55 WIB

Keluar dari Gedung KPK, Syahbandar: Asal Kooperatif Insya Allah Nyaman


Kajanglako.com, Jakarta - Dua pimpinan DPRD Provinsi Jambi, Chumaidi Zaidi dan Syahbandar diperiksa KPK sebagai saksi hari ini. Keduanya menjalani pemeriksaan

 

Rabu, 13 Desember 2017 19:43 WIB

Rencana Pembangunan Mini GOR di Pemayung Bakal Tertunda


Kajanglako.com, Batanghari – Pemerintah Kabupaten Batanghari berencana akan membangun mini GOR di Kecamatan Pemayung pada 2018 mendatang. Namun,

 

Rabu, 13 Desember 2017 18:59 WIB

Dinilai Lamban, Pencairan Santunan Kematian Dikeluhkan Warga


Kajanglako.com, Batanghari - Anggota DPRD Kabupaten Batanghari A Butsiyantoni, mengaku telah menerima sejumlah laporan warga terkait santunan kematian