Jumat, 19 Agustus 2022


Sabtu, 06 Agustus 2022 10:38 WIB

Keresahan Adalah Bom Waktu

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* 

I



Sebuah esai yang gagah ditulis oleh Nono Anwar Makarim, Pemimpin Umum Harian KAMI almarhum, di tahun 1968. (Budaya Jaya, No. 1, Tahun I – Jni 1968). Esai itu berjudul “Belenggu Sikap Mental”.

Dalam esainya ini Nono pada pokoknya mencoba merangsang kita untuk berani secara terbuka membicarakan berbagai konflik yang diam-diam hidup di masyarakat. Menurut Nono, disadari atau tidak kita sebenarnya telah terbelenggu oleh sikap mental “takut membicarakan konflik sosial secara terbuka”.

Dengan gagahnya Nono bilang bahwa kita semua sebenarnya hidup di bawah suatu diktatur-diktatur yang tidak berujud fisik! Sikap mental kita terbelenggu oleh suatu interpretasi kaku terhadap istilah-istilah “gotong royong”, “musyawarah mencapai mufakat”. Kita telah mematikan, mencekik “Bhineka” dan mendewakan “Tunggal Ika”. Dalam kehidupan ekspresi intelektuil kita terdapat terlalu banyak tabu, terlalu banyak “pantang”, terlalu banyak “momok”.

Selanjutnya, Nono mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya telah dibesarkan memalui konflik-konflik sosial. Akhirnya diserukan oleh Nono: “Marilah kita memberanikan diri bahwa konflik sosial telah merupakan kultur politik Indonesia”. “Mengapa dimatikan konflik-konflik itu, mengapa kita berpura-pura seakan-akan tidak ada konflik?”

II

Bahwa sejarah kemudian menyajikan suatu rangkaian peristiwa yang berbeda dengan harapan Nono, sama sekali bukanlah kesalahan Nono. Seruannya kepada kita untuk berani secara terbuka membicarakan berbagai konflik, rupanya tidaklah mendapatkan pasaran. Selama ini konflik tetap merupakan momok, konflik tidak pernah dibicarakan secara terbuka. Selama ini konflik adalah bagaikan bisul-bisul yang tumbuh dengan subur di bawah kulit tubuh kita, yang pada saatnya menjadi matang dan “pecah” dengan sendirinya. Apabila kita amati dengan seksama, pecahnya bisul-bisul itu tampaknya terjadi secara periodik.

Tahun 70-71, menjelang Pemilu muncul berbagai aksi protes seperti GAK (Gerakan Anti Korupsi), GOLPUT (Golongan Putih) dll. Tahun 73-74, teerjadi gelombang demonstrasi mahasiswa yang berakhir dengan peristiwa MALARI. Sasaran demonstrasi ini adalah para Aspri Presiden, dominasi modal asing (Jepang) dll. Tahun 77-78, kembali mahasiswa-mahasiswa di seluruh kota besar di Indonesia: Medan, Palembang, Jakarta, Jogya, Surabaya, Ujung Padang dan Denpasar melancarkan aksi protes menentang kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah menjelang Sidang Umum MPR.

Berbagai konflik sosial yang terjadi ternyata tidak pernah diselesaikan dengan cara membicarakannya secara terbuka, secara ilmiah dan dewasa. Konflik sosial itu telah ditekan dan dicoba dihilangkan dengan cara menghalang-halangi munculnya. Dalam menekan serta menghalangi munculnya konflik tidak jarang dipergunakan cara-cara kekerasan senjata. Pemerintah Suharto memang selama ini telah terbukti sebagai pemerintah yang kuat. Kekuatan ini terutama dimungkinkan oleh karena pemerintah Suharto didukung secara fisik oleh kekuatan militer. Suharto sendiri adalah seorang jendral – seorang komandan militer.

Meskipun di dalam pemerintah yang sekarang terdapat orang-orang seperti Widjojo, Ali Wardhana, Emil Salim, Habibie dan lain-lain yang notabene adalah orang-orang sipil, akan tetapi bukan rahasia lagi bahwa para profesor ini tidak lebih sebagai pelaksana-pelaksana pembangunan yang gerak-geriknya tidak boleh lebih dari batas-batas yang telah digariskan oleh komandan-komandan mereka yang tidak lain para jendral. Partai Politik yang sejak Pemilu tahun 1977 dilebur menjadi 2 partai (PDI dan PPP) dan 1 Golkar, sampai saat ini haruslah diakui baru berfungsi sebagai “estalase” negara demokrasi belaka. Peranan partai-partai sebagai lembaga penyalur kedaulatan rakyat belum banyak berarti, gerak-gerik merekapun masih terkendali di bawah kekuatan rezim militer yang berkuasa.

“Kestabilan dan Keamanan” merupakan kata-kata keramat yang selalu dijadikan alasan oleh rezim militer yang saat ini berkuasa untuk mereda suara-suara sumbang yang bersalah dari berbagai lapisan masyarakat yang merasa tidak puas. Sampai hari ini usaha meredakan konflik sosial yang terjadi dengan cara menekannya dari permukaan kesadaran masyarakat kelihatannya cukup berhasil. Cuman masalahnya, sampai kapan?

III

Ibrahim Zakir, salah seorang pimpinan DMUI – dalam dialog dengan massa mahasiswa UI tanggal 19 Januari 1978 di kampus Salemba, mengatakan bahwa peranan mahasiswa dengan berbagai aksi protes yang dilancarkan ke alamat pemerintah adalah sebagai “klep pengaman”. Maksudnya, dengan adanya aksi-aksi mahasiswa keresahan yang hidup dalam berbagai lapisan masyarakat menjadi tersalurkan. Dalam kenyataannya memang demikian adanya. Tahun 71, 74 dan 78 merupakan tahun-tahun dimana mahasiswa tampil ke muka sebagai ujung tombak keresahan masyarakat.

Pemerintah yang bijak seharusnya menyadari penanan aksi-aksi mahasiswa semacam ini. Mereka seharusnya berterima kasih kepada kelompok anak muda ini yang dalam setting kehidupan bernegara telah berperan sebagai defense mechanism bagi keselamatan negara. Kelompok mahasiswa selama ini diam-diam telah berfungsi sebagai “mekanisme pertahanan bagi keseimbangan antara pemerintah dan masyarakat.”

Aksi-aksi mahasiswa adalah “alarm” tanda bahaya yang membangunkan penguasa untuk segera bangun karena ada bagian rumah yang terbakar. Dengan adanya alarm ini menjadikan penguasa segara tahu bahwa kebakaran harus segera dipadamkan sebelum seluruh rumah habis terbakar dimakan api.

Adalah kepicikan yang akan berakhir fatal dengan kebijaksanaan yang salah dari penguasa terhadap aksi protes mahasiswa. Pemberangusan total yang dilakukan penguasa terhadap aksi-aksi mahasiswa, sadar atau tidak adalah sebuah tindakan “bunuh diri”, karena dengan lumpuhnya aksi-aksi mahasiwa penguasa sesungguhnya telah menghilangkan “klep pengaman”, mematikan “alarm” tanda bahaya yang merupakan “mekanisme pertahanan dirinya”. Hilangnya mekanisme pertahanan (defensi mechanism) ini pada gilirannya akan menggangu keseimbangan kedudukan penguasa dan rakyat.

IV

Tidak lama sesudah kampus-kampus dibungkam (“dinormalisir”) dan para pimpinan mahasiswa dipenjarakan – bermunculan berbagai peristiwa di dalam masyarakat sebagai manifestasi dari keadaan yang tidak seimbang antara penguasa dan rakyat. Berbagai kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi, harga barang pokok sehari-hari yang tidak terjangkau, berbagai tindakan dari pejabat-pejabat baik dipusat maupun di daerah yang dirasakan tidak adil dan sewenang-wenang merupakan gejala-gejala keresahan yang muncul ke permukaan.

Rakyat kecil dari berbagai daerah Indonesia dengan kaki telanjang secara dramatis telah berbondong-bondong mengadukan nasibnya ke DPR Pusat di Jakarta. Sekali lagi, adalah suatu kepicikan yang bisa-bisa berakibat fatal apabila penguasa membesarkan kecurigaannya untuk mencari kambing hitam di balik jejak kaki-kaki yang telanjang itu!

Gejala-gejala yang muncul ke permukaan yang mengindikasikan meningkatnya keresahan rakyat dari hari ke hari semakin sering kita dengar. Penduduk desa yang sehari-hari bergumul dengan cangkul dan tanah itu rupanya sudah banyak yang tidak dapat menahan diri lagi terhadap penderitaan yang ditanggungnya. Kasus “Siria-ria” di Sumatera Utara dan “Jenggawah” di Jawa Timur adalah dua contoh yang paling aktual dari keresahan yang tak tertahankan oleh rakyat.

Keresahan rakyat kecil adalah bagaikan sebuah bom waktu yang jarumnya setiap detik berdetak menuju titik akhir. Siapakah yang dapat menghentikan detak jarum bom waktu?

V

Sebelas tahun telah berlalu sejak esai gagah Nono yang berjudul “Belenggu Sikap Mental” itu ditulis. Selama waktu yang cukup lama itu ternyata banyak peristiwa besar maupun kecil telah terjadi di atas panggung kehidupan negara kita. Kini, ketika setiap hari kita merasakan, membaca dan mendengar berbagai kasus yang menunjukkan bahwa keresahan telah menjadi milik umum – seruan Nono dalam tulisannya itu terasa sangat relevan.

Gejala keresahan yang muncul di mana-mana pada dasarnya bersumber dari konflik-konflik sosial yang selama ini tak terselesaikan. Bahkan jauh dari terselesaikan, konflik-konflik inipun tidak pernah kita bicarakan secara terbuka. Apapun alasan yang hendak kita kemukakan, tidak bisa diingkari bahwa kita adalah orang-orang yang takut terhadap ketidakstabilan dan ketidakharmonisan – tapi tanpa sadar cara-cara yang kita lakukan justru telah mengorbankan keseimbangan, kestabilan dan keharmonisan itu sendiri.

Keresahan yang saat ini berlangsung adalah sebuah bom waktu yang kita pasang sendiri yang jarumnya setiap saat berdetak. Untuk bisa menghentikan detak jarum bom waktu ini kita harus terlebih dahulu menyelesaikan konflik-konflik yang mendasarinya. Tanpa itu, bom waktu itupun pada saatnya akan benhenti berdetak – tapi pada detik ia meledak!

*Penulis adalah peneliti independen. Bekerja sebagai peneliti LIPI dari tahun 1980 sampai tahun 2017.Esai ini sebelumnya dimuat di Koran Mahasiswa UI Salemba, No. 75, tanggal 20 Oktober 1979, halaman 4 dan 7. Redaksi kajanglako akan memuat tulisan-tulisan penulis secara berkala yang pernah terbit di koran Salemba UI.  


Tag : #akademia #konflik sosial #orde baru #Nono Anwar Makarim



Berita Terbaru

 

Rabu, 17 Agustus 2022 15:15 WIB

Bupati Beserta Forkopimda Saksikan Upacara Detik Detik Proklamasi Secara Virtual


    DHARMASRAYA – Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan bersama Ketua DPRD, Pariyanto, unsur Forkopimda, Sekda Dharmasraya, Adlisman,

 

Rabu, 17 Agustus 2022 10:53 WIB

Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-77 di Dharmasraya Berlangsung Khidmat


  DHARMASRAYA – Pelaksanaan pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77 di Kabupaten Dharmasraya

 

Perspektif
Rabu, 17 Agustus 2022 08:30 WIB

Gerakan Mahasiswa Sebagai Katalisator Perubahan Politik


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* I Kehadiran kelompok mahasiswa sebagai salah satu kekuatan politik sesudah kemerdekaan merupakan suatu kenyataan yang riil.

 

Selasa, 16 Agustus 2022 22:16 WIB

Bupati Hadiri Pengesahan Warga Baru PSHT Cabang Dharmasraya


  DHARMASRAYA - Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuaku Kerajaan menghadiri pengesahan warga baru Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Dharmasraya

 

Selasa, 16 Agustus 2022 22:11 WIB

Bupati Dengarkan Pidato Kenegaraan Presiden dalam Rangka Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-77


    DHARMASRAYA - Sebagai rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) ke-77 tahun 2022, Bupati Dharmasraya,