Sabtu, 24 Oktober 2020


Minggu, 18 Oktober 2020 09:10 WIB

Selilit Kain di Pinggang

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Untuk mengamati orang Melayu dewasa, lelaki dan perempuan, van Hasselt dan timnya pergi ke pasar. Untuk mengamati anak-anak, mereka kembali ke dusun. Halaman di sekitar setiap rumah di dusun selalu penuh dengan anak-anak bermain. Pada umumnya, semua anak itu tampak sehat. Yang mencolok mata adalah bahwa hampir semuanya berperut bulat, agak luncung. Rambut anak biasanya dicukur sebagian atau seluruhnya. Terkadang satu, dua atau tiga rumpun rambut dibiarkan, disisir atau di dikepang dengan hiasan benang berwarna. Kadang-kadang sebuah jimat kecil digantungkan di kepang rambut itu. Pada anak lelaki, terkadang seikat rambut dibiarkan tumbuh panjang di dahi. Pada anak perempuan, di belakang kepalanya. Yang paling menyedihkan adalah anak-anak Koeboe. Di daerah Rawas, anak-anak itu kurus dan hampir seluruh tubuhnya penuh dengan  koreng dari penyakit kulit.



Di dalam album foto penjelajahan, termaktub lebih dari 100 tipe fisik penduduk Sumatra bagian tengah. (catatan FA: foto-foto dan lukisan yang dibuat dalam rangka penjelajahan Sumatra Tengah memang sangat banyak. Setahu saya, foto-foto dan lukisan dan ilustrasi itu belum pernah dikumpulkan menjadi satu. Kini, dokumentasi visual itu tersebar di berbagai koleksi aneka perpustakaan di negeri Belanda).

Ragam pakaian orang Melayu mencengangkan. Betapa besar kontras di antara kumuhnya pakaian  yang dikenakan seorang petani Melayu yang membajak sawahnya dan gemerlap-mewahnya pakaian seorang Toeankoe yang berjalan di belakang seorang Asisten-residen Belanda. Di antara kedua sumbu ekstrim ini ada keragaman pakaian dan perhiasan. Terkadang tak terlalu tampak bedanya akan tetapi penting bagi yang mengenakan, terutama bagi orang yang mengenal adat istiadat setempat serta hak-hak dan kewajiban-kewajibannya.

Adat itulah yang merupakan faktor utama yang paling penting. Berbeda dengan di daerah-daerah lain di dunia, usia, kemampuan, status, tempat tinggal, gaya hidup dan pekerjaan bukanlah hal-hal yang menentukan model dan cara berpakaian. Bila seorang Kepala Laras pulang ke rumahnya setelah mnghadiri upacara adat dan kemudian berganti baju dan menyimpan lagi pakaian kebesarannya, lelaki itu takkan mudah dapat dikenali. Ia akan tampak sama saja dengan warga dusun lainnya. Begitu pula halnya dengan Toeankoe Pasimpai dan kerabatnya, yang kesemuanya merupakan keturunan langsung dari raja-raja Minangkabau. Dalam hidup sehari-hari, pakaian mereka sama sederhana atau mungkin lebih bagus sedikit dibandingkan dengan pakaian yang dikenakan para kuli yang mengangkut barang dan perbekalan penjelajahan. Sebaliknya, bila sudah terdengar suara rebab dan gendang, penanda diadakannya pesta adat, petani yang tadi di sawah atau seorang kuli takkan mungkin dapat dikenali lagi. Semua orang datang dengan baju yang paling baik dan perhiasan paling bagus yang biasanya disimpan rapat-rapat di dalam peti kayu di rumah.

Walaupun sungguh beragam modelnya, van Hasselt berusaha juga menggambarkan pakaian orang Melayu. Sehari-hari, kaum perempuan mengenakan kain katun berwarna biru tua, putih atau hitam. Kain itu dililitkan dipinggang dan tergantung sampai ke mata kaki. Lembaran kain itu tidak terlalu panjang (kain panjang dari Jawa lebih panjang) sehingga bila dipakai, kaki perempuan yang mengenakannya acap tampak sampai ke paha ketika ia berjalan. Kain ini disebut juga ‘kain dalam’.

Di Soepajang, Siroekam, Alahan Pandjang, Lolo dan Soengei Pagoe, di atas kain dalam ini dililitkan lagi kain berwarna merah atau hitam. Kain luar ini—yang disebut ‘kamben’ atau ‘landjen’  lebih pendek dari kain dalam dan hanya menutupi pinggang sampai ke lutut. Lilitan kedua kain ini diteguhkan oleh selembar kain sepanjang 1.5 sampai 2 meter. Kain pelilit ini, yang digunakan sebagai sabuk pengikat, disebut ‘tjawe’ atau ‘kabe pinggang’. Untuk memasang kain dalam, kamben maupun ‘kabe pinggang’, orang hanya menyatukan kedua ujungnya di bagian atas, memutarnya sehingga menyatu, lalu menggulungnya keseluruhannya sehingga dengan sendirinya kain-kain itu terpasang kencang.

Di banyak daerah, kaum perempuan tidak menutupi tubuh bagian atas. Hanya perempuan yang sudah berusia lanjut atau di Alahan Pandjang dan daerah-daerah bersuhu agak dingin, digunakan ‘badjoe’. Di kota, bagian utara Dataran Tinggi Padang dan dataran rendahnya, kaum perempuan selalu mengenakan badjoe.

Badjoe koeroeng atau badjoe dalam merupakan semacam kemeja. Ada yang berlengan panjang, ada pula yang berlengan pendek. Warna badjoe yang paling tampak adalah biru. Di pergelangan lengan badjoe itu dijahitkan 6-7 kancing logam sebagai perhiasan. Kalau pun ada bagian baju yang harus di’kancing’, maka pengancingan itu dilakukan dengan menggunakan kancing kait.

Entah mengapa, van Hasselt agak bingung menghadapi ‘salendang’, kain yang lebarnya 3.75m dan panjangnya beberapa meter. Terkadang, selendang itu dililitkan dengan berbagai cara dan digunakan sebagai penutup kepala. Di XII Koto, ujungnya dibiarkan tergantung ke bawah. Terkadang selendang itu dililitkan di pinggang atau disampirkan di bahu. Terkadang pula, digunakan untuk menggendong anak, di punggung atau di pinggul. Dalam pertemuan dengan orang Eropa, selendang itu dililitkan untuk menutupi tubuh bagian atas.

Walaupun terkadang dililitkan di atas kepala, bila mereka bekerja di ladang, kaum perempuan mengenakan ‘toedoeng’, topi berbentuk kerucut yang terbuat dari kulit bambu, daun pandan atau lidi bambu.

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Telusur #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Sejarah Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Jumat, 23 Oktober 2020 22:06 WIB

Jenazah Tertahan di RSI Arafah Jambi, 7 Hari Hasil Swab Tidak Kunjung Keluar


Kajanglako.com, Jambi  - Pihak keluarga jenazah M Ridwan (55) dan puluhan warga Plamboyan Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, mendatangi rumah

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:59 WIB

Bareskrim Polri Tetapkan 8 Orang Sebagai Tersangka Kebakaran Kejagung


Kajanglako.com, Jambi  - Bareskrim Polri menetapkan delapan tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung). Delapan tersangka itu

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:55 WIB

Kapolda Jambi Tegaskan Tidak Ada Ampun Anggota Terlibat Narkoba


Kajanglako.com, Jambi - Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi menegaskan, tidak ada ampun bagi anggota kepolisian di jajaran Polda Jambi yang terlibat

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:19 WIB

Makan Siang Bersama Usai Shalat Jumat, Cek Endra Didoakan Menang oleh Imam Masjid


Kajanglako.com, Sarolangun – Dukungan dan doa kepada Calon Gubernur Jambi nomor urut sat uterus mengalir. Kali ini doa agar Cek Endra menjadi Gubernur

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:06 WIB

Forum Sarolangun Bersatu Siap Satukan Para Tokoh dan Milenial Dukung Cek Endra-Ratu


Kajanglako.com, Sarolangun – Dikomandoi oleh H Muhammad Ali AB, Forum Sarolangun Bersatu siap bergerak menyatukan seluruh tokoh adat yang ada di