Sabtu, 24 Oktober 2020


Rabu, 14 Oktober 2020 13:36 WIB

Jakob Oetama dan Indonesia yang Mencair

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Suatu hari, ketika melakukan penelitian tentang masyarakat sekitar Candi Borobudur, dalam perjalanan menemui Romo Warso, seorang pastur yang memutuskan meninggalkan jubahnya  dan memilih memimpin sebuah aliran kejawen di desa asalnya, Mas Coro yang menemani saya, menunjuk sebuah rumah, cukup besar dengan halaman yang luas dibandingkan rumah-rumah di sekelilingnya, "Ini rumah Pak Jakob Oetama" kata Mas Coro (baca:http://kajanglako.com/id-9724-post-sucoro.html). Rumah itu terlihat tertutup pintu dan jendela-jendelanya, halamannya bersih, tapi sepi, seperti tidak ada penghuninya. Saya membayangkan bagaimana hubungan Pak Jakob dengan rumah masa kecilnya itu. Saya juga tidak tahu bagaimana hubungan beliau dalam lingkungan keluarga besarnya. Tentu, seperti banyak orang lain, saya mengenal Jakob Oetama, yang nama besarnya tidak lepas dari Harian Kompas, yang hampir setiap hari sepanjang tahun, diantar oleh loper koran ke rumah kami. Dibaca atau tidak dibaca, Kompas setia menjadi bagian dari keseharian kami sekeluarga. Tdak seperti sahabat saya Mohamad Sobary dan mereka yang beruntung karena dekat dengan Jakob Oetama, imajinasi saya tentang Pak Jakob sangat terbatas, sebagian saya peroleh dari obrolan dengan Sobary. Sebagian saya dengar dari sana sini, juga tentang kedermawanannya yang telah melegenda dalam memberikan bantuan keuangan bagi koleganya yang sedang membutuhkan bantuan.



Di Kompas, Senin 12 Oktober 2020 ada tulisan St Sularto, mantan wartawan senior dan Pemred Kompas, yang saya duga, orang yang sangat dekat, jika tidak paling dekat dengan Jakob Oetama, "Humanisme, Soedjatmoko, Widjojo, dan Jakob Oetama". Tulisan itu tampaknya untuk menyambut peringatan 40 hari wafatnya Pak Jakob. Beberapa buku tentang JO, demikian konon beliau dipanggil di lingkungan kerjanya, hampir selalu ditulis oleh Mas Larto, tidak aneh kalau dia bisa menceritakan kedekatan JO dengan tokoh terkenal Soedjatmoko dan Widjojo Nitisastro - yang kebetulan seperti JO berlatarbelakang Jawa. "Saya melihat ada titik-titik temu yang subtil di antara ketiganya, hati dan pemikiran mereka tentang humanisme", tulis Mas Larto. Dalam tulisan pendek itu, Mas Larto menilai kalau JO bergaul lebih intensif dengan Widjojo daripada Soedjatmoko. Kedekatan Widjojo, arsitek pembangunan ekonomi Orde-Baru dengan JO dan Kompasnya digambarkan dengan baik dalam artikel pendek Mas Larto itu, dan ini penting bagi mereka yang tertarik dengan sejarah intelektual publik di negeri ini.

Harian Kompas, meskipun lahir ketika Soekarno masih menjadi presiden (28 Juni 1965), namun kita tahu beberapa bulan kemudian Soekarno mulai dipreteli kekuasaannya. Soeharto-lah yang antara lain didukung oleh Widjojo yang dengan gerak cepat sejak awal mulai mengkonsolidasi kekuasaannya. Sebuah kudeta merangkak, kata Asvi Warman. Kompas dengan kata lain tumbuh bersama menguatnya Soeharto dan Orde-Baru. Widjojo adalah orang yang membangun sisi ekonomi Orde Baru, sementara sisi politik mungkin mula-mula didesain oleh orang-orang seperti Ali Moertopo dan para pembantunya. Apa yang digambarkan oleh St. Sularto barulah sekelumit sisi ekonomi pembangunan Orde-Baru. JO dalam tafsir saya adalah seorang tokoh nasional yang hidup dan bergulat dalam kedua sisi Orde-Baru, sisi politik dan sisi ekonomi. Jika sisi pembangunan ekonomi telah cukup banyak digambarkan, kita sesungguhnya memerlukan penjelasan bagaimana JO bergumul dalam sisi politik Orde-Baru. Pergumulan JO dalam sisi politik Orde-Baru pastilah sangat menarik. Sebagai media yang diterbitkan oleh orang-orang Katolik dalam sebuah masyarakat muslim tentulah banyak rintangan dan tantangan yang harus dihadapi, tidak saja untuk bisa eksis, tetapi yang lebih menarik lagi mampu menjadi kelompok bisnis yang besar. Bukan rahasia lagi berbagai insiden yang melibatkan sentimen keagamaan sempat melanda Kompas sepanjang hayatnya. Bagaimana Jakob Oetama mendayung perahu di antara karang-karang yang tajam ini mungkin hanya dia dan orang-orang dekatnya yang tahu.

Dalam sebuah konferensi besar tentang Orde-Baru pada tahun 1988 di Australian National University, Canberra, Australia, hadir tidak hanya puluhan ahli tentang Indonesia tetapi juga tokoh-tokoh nasional yang penting termasuk JO. Dalam konferensi besar ini Mohamad Sadli, anggota tim ekonomi Widjojo, menjadi pembicara kunci. Pada sesi tanya jawab, JO mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup menarik, "Apakah Pak Harto mempertimbangkan kritik dari pers?". Jawaban Pak Sadli, tidak kalah menariknya, "Tidak, Pak Harto tidak mendengarkan kritik, dia memiliki pertimbangan sendiri". Saya kira, JO kecewa mendengar jawaban itu, mungkin kemudian dia berpikir, lantas apa gunanya pers selama ini buat Pak Harto? Barangkali dalam hidupnya JO juga berusaha dekat dengan Suharto, seperti dia juga dekat dengan Widjojo, tetapi Suharto saya kira adalah sebuah enigma dalam politik Indonesia yang sulit didekati. Mungkin di pemerintahan Orde-Baru, JO juga dekat dengan pejabat tinggi lainnya, seperti Moerdiono, orang yang lama bekerja menjadi pembantu terdekat Pak Harto.

Seperti halnya Soeharto, Widjojo juga sebuah enigma, pribadi yang di dalam dirinya menimbulkan banyak pertanyaan, ada aura yang meskipun membuat kita merasa dekat tetap ada yang terus seperti tersembunyi di sana. Soeharto dan Widjojo Nitisastro adalah dua tokoh yang cukup lama bekerjasama, namun kita tidak tahu hubungan personal antara keduanya seperti apa. Hubungan antara keduanya meskipun secara resmi terputus sejak 1983 tapi secara tidak resmi terus berlangsung. Dalam sebuah riset kecil tentang Widjojo, dari beberapa narasumber yang dekat dengan Widjojo, saya mendapatkan sisi "sekretif" dari Widjojo. Widjojo dikenal sebagai orang yang jarang berbicara di depan pers, sampai akhir hayatnya tidak ada biografi yang berhasil ditulis tentang dirinya (baca:https://kajanglako.com/id-11070-post-widjojo-nitisastro.html). Kedekatan siapapun dengan Widjojo, menimbulkan dugaan bahwa kedekatan itu bisa jadi lebih bersifat transaksional, dalam bahasa St. Sularto, dalam artikel pendeknya, hubungan yang bersifat "simbiosis mutualistis", karena saling menguntungkan. Apakah JO juga memiliki sisi "sekretif" seperti Widjojo dan Suharto? Saya menduga begitu. JO menurut St. Sularto lebih dekat dengan Widjojo daripada dengan Soedjatmoko. Seperti dikatakan St. Sularto, selain soal pertumbuhan dan pemerataan, soal kebebasan menjadi perhatian Soedjatmoko. Saya kira itu yang membedakan antara Soedjatmoko dengan Widjojo dan sekaligus dengan Soeharto.

Soedjatmoko, Widjojo, Suharto dan juga Jakob Oetama adalah tokoh-tokoh besar pasca Soekarno, pasca 1965. Kebesaran mereka menjulang pasca penghilangan golongan kiri di Indonesia. Tahun 2007, dalam peluncuran  dua buku yang berisi kumpulan tulisan para sahabat dan kolega sebagai tribute untuk 70 Tahun Widjojo Nitisastro yang seharusnya dilakukan pada tahun 1997, tetapi oleh Widjojo diminta ditunda peluncurannya, konon karena ada yang dianggapnya belum tepat saatnya. Dalam acara di Hotel Santika, Slipi, Jakarta; di tengah suasana penuh kegembiraan itu sebuah suara sumbang terdengar. Dalam sesi yang dibuka untuk para hadirin menyampaikan pendapat,  Mochtar Pabottingi, peneliti dari LIPI, mengingatkan tentang ribuan orang yang menjadi korban persekusi politik dalam peristiwa 1965. Menurut Mochtar, dalam merayakan keberhasilan Orde-Baru jangan dilupakan bahwa keberhasilan itu dibangun dengan  bertumpu pada ribuan korban itu. Sebuah peringatan yang sungguh menyengat para tokoh besar yang hadir saat itu. Tapi saya lihat, orang-orang itu seperti melihat apa yang disampaikan oleh Mochtar Pabottingi sebagai angin lalu saja, menyengat sesaat tapi harus dilupakan, sesuatu yang tidak pantas dibicarakan dalam sebuah perayaan yang penuh suka-cita itu. Saya kira, apa yang disampaikan oleh Mochtar Pabottingi berkaitan dengan sesuatu yang bagi Widjojo, dan Suharto; ditabukan, sesuatu yang berkaitan dengan makna kebebasan.

Pengenalan saya tentang JO yang berhasil membesarkan sebuah usaha penerbitan harian menjadi konglomerasi bisnis yang cabang usahanya telah merambah ke mana-mana itu, sangatlah sedikit. Mungkin secara akademik, Daniel Dhakidae, yang menulis disertasi di Universitas Cornell tentang The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry paling paham bagaimana menjelaskan dinamika proses konglomerasi itu terjadi. Daniel yang pernah bekerja sebagai Kepala Litbang Kompas (1994-2004), menggantikan Parakitri Tahi Simbolon yang kemudian memimpin KPG, juga orang yang tidak saja melihat Kompas dan dengan demikian JO, dari luar, tetapi juga dari dalam. JO, seperti Soedjatmoko, Soeharto dan Widjojo; telah menjadi sejarah, bagian masa lalu dari sebuah bangsa yang penting bagi kita untuk bercermin dan belajar. Dalam dunia pers, menarik barangkali menilai bagaimana JO berpolitik dan mengartikan kebebasan berekspresi dibandingkan umpamanya dengan Mochtar Lubis, Rosihan Anwar dan Goenawan Mohamad.

Dalam sebuah makalah pendek yang dipresentasikan pada Simposium Hari Lahir Pancasila, 2016 di kampus UI, Jakob Oetama menguraikan gagasannya yang dia beri judul "Indonesia, Identitas dan Modernitas". Meskipun cukup pendek, dalam makalah itu JO menyitir lumayan banyak penulis buku, seperti Huntington, Giddens, Erickson dan Schiler – refleksi dari bacaannya yang yang sangat luas. Ada bagian dari isi makalah itu yang bagi saya memperlihatkan kegelisahannya yang mungkin akan selalu begitu dalam melihat bangsanya, saya kutipkan, "Perasaan gamang disertai munculnya semacam kecemasan dan serba pertanyaan, serta suasana keprihatinan itulah yang umumnya kita rasakan akhir-akhir ini. Pertanyaan pun muncul seperti: Siapakah kita ini? Kenapa sebagai bangsa terasa cair? Mengapa persoalan susul menyusul?  Kenapa marak kembali daya dan ekspresi yang cenderung menegangkan sesama komunitas warga?". Tidak banyak saya kira, tokoh seperti Pak Jakob, konsisten sebagai intelektual publik sekaligus sukses membangun imperium bisnis.

Jakob Oetama, seperti pendahulunya, Soedjatmoko, Suharto dan Widjojo, adalah enigma dalam proses pembentukan bangsa yang tak ada terminasinya. Saat ini kita bisa menilai legacy Jakob Oetama, tidak saja dalam kaitan dengan jurnalisme, tetapi juga dalam enterpreneurship dan perannya sebagai guru bangsa. Guru bangsa, ya guru bangsa sebuah istilah yang kita pakai selain bapak dan ibu bangsa yang lebih dulu kita kenal. Jakob Oetama menjadi besar pasca krisis 1965, melewati krisis 1998 dan wafat ketika Indonesia sedang memasuki sebuah krisis yang baru. Sebuah krisis tidak saja karena pandemi yang belum teratasi, tetapi juga karena berbagai masalah politik dan ekonomi yang membuat masyarakat, mengutip Pak Jakob, menjadi “Indonesia yang mencair”. Bagaimana nasib Kompas tanpa JO di era krisis yang baru ini? Semoga legacy JO telah tertanam dan menjadi pemandu para penerusnya. Saya tidak membayangkan sebuah pagi tanpa Kompas dilempar loper koran melewati pagar depan rumah saya.

*Peneliti independen. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Sosok #Kompas #Jakob Oetama #Orde Baru #Pers



Berita Terbaru

 

Jumat, 23 Oktober 2020 22:06 WIB

Jenazah Tertahan di RSI Arafah Jambi, 7 Hari Hasil Swab Tidak Kunjung Keluar


Kajanglako.com, Jambi  - Pihak keluarga jenazah M Ridwan (55) dan puluhan warga Plamboyan Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, mendatangi rumah

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:59 WIB

Bareskrim Polri Tetapkan 8 Orang Sebagai Tersangka Kebakaran Kejagung


Kajanglako.com, Jambi  - Bareskrim Polri menetapkan delapan tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung). Delapan tersangka itu

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:55 WIB

Kapolda Jambi Tegaskan Tidak Ada Ampun Anggota Terlibat Narkoba


Kajanglako.com, Jambi - Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi menegaskan, tidak ada ampun bagi anggota kepolisian di jajaran Polda Jambi yang terlibat

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:19 WIB

Makan Siang Bersama Usai Shalat Jumat, Cek Endra Didoakan Menang oleh Imam Masjid


Kajanglako.com, Sarolangun – Dukungan dan doa kepada Calon Gubernur Jambi nomor urut sat uterus mengalir. Kali ini doa agar Cek Endra menjadi Gubernur

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:06 WIB

Forum Sarolangun Bersatu Siap Satukan Para Tokoh dan Milenial Dukung Cek Endra-Ratu


Kajanglako.com, Sarolangun – Dikomandoi oleh H Muhammad Ali AB, Forum Sarolangun Bersatu siap bergerak menyatukan seluruh tokoh adat yang ada di