Sabtu, 24 Oktober 2020


Minggu, 11 Oktober 2020 08:54 WIB

Kau Gigit Aku, Maka Kau Pun Kugigit!

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)       

Minggu lalu, proses pengasahan gigi pada masyarakat Sumatra bagian tengah tidak dapat digambarkan di rubrik ‘Telusur Jambi’ karena halaman yang menceritakannya tidak terunduh di versi buku yang diolah. Untunglah, setelah lama berselancar di internet, halaman yang raib itu ketemu juga. Jadi, proses pengasahan gigi itu sebagai berikut.



Seorang pemuda atau gadis yang hendak mengasah giginya memberitahukan niatnya itu kepada orangtuanya dan kepada gurunya (bila ia belajar soeran keagamaan). Setelah itu, pada suatu hari, seorang ‘toekang pape’, lelaki atau perempuan, dipanggil dan disuguhi sirih dan pinang sebelum adat itu dimulai.

Pertama-tama, toekang pape memberikan buah pepaya yang dibakar untuk dikunyah-kunyah oleh  pasien yang giginya hendak diasah. Buah pepaya bakar itu akan melembutkan gigi. Sementara itu, selembar tikar dibentangkan untuk tempat si pasien tiduran terlentang dengan sebuah bantal untuk kepalanya. Sepotong kayu dimasukkan di antara kedua rahang yang terbuka lebar agar mulut si pasien tidak dapat ditutup.

Toekang pape menyiapkan peralatannya: sebuah gergaji kecil (yang dibuat dari sebilah pisau) dan batu persegi atau kikir diletakkannya di dalam mangkok perunggu berisi air yang diramu dengan berbagai dedaunan rempah dan benda yang terbuat dari emas. Setelah itu, mulailah toekang pape bekerja. Yang pertama diasah adalah gigi di rahang atas. Geraham, gigi yang letaknya di mulut bagian dalam dan tak tampak, tidak diasah. Gigi-gigi lainnya diasah sedikit dengan kikir atau batu, lalu dengan menggunakan gergajinya, gigi-gigi itu dipotong. Setelah itu, gigi-gigi itu diasah lagi dengan kikir sampai bekas potongan gigi tidak terasa tajam lagi. Selama proses yang menyakitkan itu, sama sekali tak terdengar lenguh, apalagi teriak kesakitan dari si pasien. Memang orang Melayu bukanlah orang yang lemah hati.

Gigi di rahang bawah dipotong sampai hampir ke gusi. Cara ini disebut ‘boele’. Gigi di rahang atas diasah dengan tiga cara: ‘balantiek’ (model parit), ‘tarah kasau’ (diasah rata) dan ‘roentjing’ (meruncing). Model pengasahan yang terakhir itu tampaknya banyak dilakukan  di daerah XII Koto.

Setelah selesai dipakai mengasah gigi, gergaji yang digunakan ditusukkan ke dalam sepotong batang pisang. Menurut kepercayaan, hal ini juga akan menjauhkan si pasien dari hal–hal yang tidak diinginkan. Untuk menghindari rasa sakit gigi setelah diasah, gigi-gigi itu diolesi dengan ramuan yang dibuat dari lada yang ditumbuk, dicampur dengan air jeruk dan abu. Selesailah sudah proses pengasahan gigi itu.

Di mata anggota-anggota tim penjelajahan, yang sangat mengganggu kecantikan atau ketampanan orang Melayu adalah gondok yang seringkali sangat besar. Gondok itu terutama tampak pada orang yang agak tua di daerah dataran tinggi. Penyakit ini sangat ditakuti dan penyebab maupun obatnya tidak diketahui. Ketika mengunjungi orang Koeboe, Cornelissen tidak melihat adanya orang berpenyakit gondok, akan tetapi banyak orang tua memiliki benjolan di bagian luar paha.

Pada saat pesta, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak kecil dan anak muda dilumuri ramuan pemutih. Di daerah Rawas, ramuan itu berwarna kuning karena terbuat dari kunyit. Bagian dada, lengan, pipi dan dahi merata dilumuri ramuan itu. Di Rawas, ramuan itu disebut ‘bedak’; di dataran tinggi Padang disebut badaq. Untuk membuatnya, orang menumbuk halus beras putih yang kemudian diayak, dijemur di bawah sinar matahari lalu dicampur dengan bunga melati, tanjung atau bebungaan wangi lainnya. Kemudian bubuk beras yang sudah halus itu diayak sekali lagi untuk mengeluarkan bunga-bunga kering di dalamnya, lalu dengan mencampurnya dengan air sedikit, bubuk itu dibentuk menjadi bola-bola sebesar kelereng. Bola-bola itu dijemur lagi sampai kering. Untuk menggunakannya, bola-bola itu digesek-gesek dan bubuk yang terlepas dicampur air sedikit agar mudah dioleskan di badan.

Rambut orang Melayu hitam dan lebat. Helai-helainya agak kasar dan biasanya mulai memutih di kala orang berusia sekitar 30 tahun. Hampir semua orang berambut lurus. Namun, di hampir setiap dusun, ada beberapa orang yang berambut ikal atau keriting. Banyak orang Koeboe berambut keriting kecil-kecil yang dibiarkan tumbuh panjang. Di daerah Limoen dan Rantau di Baroew pun banyak lelaki berambut keriting kecil-kecil.

Kaum perempuan memiliki tiga cara untuk menata rambut, yaitu ‘basanggoewe’, ‘balapie’ dan ‘bakondeh’. Pada model pertama, rambut dipelintir seperti pita. Di daerah selatan Dataran Tinggi Padang, pelintiran rambut itu dibiarkan tergantung di sebelah kiri wajah; di daerah Rawas, Lebong dan Limoen, plintiran rambut itu dibiarkan tergantung di belakang kepala. Model kedua banyak tampak di daerah XIII dan IX Koto serta di Alahan Pandjang. Pada model ini, rambut itu dibelah di bagian depan, lalu dikepang panjang seperti rambut orang Cina. Bedanya, orang Cina memelintirkan pita sutra atau benang di kepangnya. Model terakhir, kondeh, banyak digunakan oleh kaum perempuan di kota-kota besar dan di daerah Painan, khususnya di negari Ngalau –Gadang. Pun di Talang-Liat, di Lebong, beberapa perempuan menata rambut dengan model kondeh. Model ini juga tampak digunakan oleh beberapa orang perempuan Koeboe.

Van Hasselt mencatat bahwa perempuan di daerah XII Koto dan di bagian selatan Koto VII kurang merawat rambut. Tampaknya mereka tidak terbiasa menyisirnya sehingga rambut mereka terlihat kusut dan penuh dengan kutu.  Sisir buatan Cina yang dapat dibeli di pasar rupanya tidak mampu mengusir kutu-kutu rambut itu. Biasanya kaum perempuan menggunakan cara lain untuk menghilangkan kutu: dengan rambut terurai, mereka duduk berderet. Mereka saling mengutui. Prinsip utama yang diterapkan di sini bila seekor kutu berhasil ditangkap adalah: kau gigit aku, maka kau pun kugigit!

Suatu saat, van Hasselt bertemu dengan seorang dukun yang membiarkan rambutnya sampai memanjang beberapa meter. Rambut itu tidak pernah disisir dan berwarna kecoklatan. Rambut kusut itu digulungnya beberapa kali di bahunya lalu diselipkannya di bawah lengannya!

Kaum lelaki biasanya memotong rambutnya pendek. Para pemuda di Rawas, Lebong dan Djambi hilir membiarkan rambutnya tumbuh sampai ke bahu. Seperti juga para gadis, mereka pun mengolesi rambutnya dengan minyak yang harum. Terkadang, rambut lelaki dicukur gundul. Di Lebong, terkadang seikat rambut dibiarkan di dekat pelipis kiri dan kanan. Di Sidjoendjoeng selatan, XII Koto, Rantau di Baroew dan Limoen banyak pula tampak lelaki yang membiarkan rambutnya tumbuh panjang—sama panjang dengan kaum perempuan. Rambut lelaki diikat, lalu digelung dan disimpan di bawah ikat kepala.

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #telusur #sejarah jambi #ekspedisi sumatra tengah #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Jumat, 23 Oktober 2020 22:06 WIB

Jenazah Tertahan di RSI Arafah Jambi, 7 Hari Hasil Swab Tidak Kunjung Keluar


Kajanglako.com, Jambi  - Pihak keluarga jenazah M Ridwan (55) dan puluhan warga Plamboyan Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, mendatangi rumah

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:59 WIB

Bareskrim Polri Tetapkan 8 Orang Sebagai Tersangka Kebakaran Kejagung


Kajanglako.com, Jambi  - Bareskrim Polri menetapkan delapan tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung). Delapan tersangka itu

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:55 WIB

Kapolda Jambi Tegaskan Tidak Ada Ampun Anggota Terlibat Narkoba


Kajanglako.com, Jambi - Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi menegaskan, tidak ada ampun bagi anggota kepolisian di jajaran Polda Jambi yang terlibat

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:19 WIB

Makan Siang Bersama Usai Shalat Jumat, Cek Endra Didoakan Menang oleh Imam Masjid


Kajanglako.com, Sarolangun – Dukungan dan doa kepada Calon Gubernur Jambi nomor urut sat uterus mengalir. Kali ini doa agar Cek Endra menjadi Gubernur

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:06 WIB

Forum Sarolangun Bersatu Siap Satukan Para Tokoh dan Milenial Dukung Cek Endra-Ratu


Kajanglako.com, Sarolangun – Dikomandoi oleh H Muhammad Ali AB, Forum Sarolangun Bersatu siap bergerak menyatukan seluruh tokoh adat yang ada di