Sabtu, 24 Oktober 2020


Senin, 05 Oktober 2020 05:58 WIB

Gigi Emas, Tindik Telinga dan Janggut

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Senyum yang menawan di Sumatra bagian tengah di abad ke-19 adalah senyum dengan bibir yang agak dikatupkan. Senyum lebar menyeringai dianggap menakutkan karena serupa dengan seringai anjing. Di antara bibir yang setengah tertutup itu akan tampak gigi yang diasah menjadi kecil dan diberi warna hitam. Van Hasselt kemudian menceritakan proses pengasahan gigi yang harus dilakukan agar pemiliknya dapat tersenyum menawan. Proses itulah yang sebetulnya ingin diceritakan di sini. Sayangnya, halaman 7 di buku versi digital yang kubaca raib. Tidak ditayangkan. Apa boleh buat. Kita lanjutkan cerita dengan tulisan van Hasselt di halaman 8.



Tukang asah gigi—yang disebut toekang pape—sudah menjalankan tugasnya. Gigi yang harus diasahnya sudah terasah. Sebelum ia pulang, orang yang memanggilnya menyediakan nasi kuning dan ayam panggang. Sebagian dimakannya di rumah itu, sebagian lagi dibawanya pulang. Selain itu, ia pun diberi satu soeke beras, setandan pisang dan uang sebanyak 20-30 duit sebagai imbalan. (Duit adalah koin tembaga di masa VOC. Empat buah duit bernilai 5 sen. Jadi, upah toekang pape itu berkisar di antara 25-37 sen).

Setelah rasa sakit di gigi yang diasah itu menghilang, mulailah proses menghitamkannya dengan memoleskan ‘badjo’ di gigi-gigi itu. Badjo dibuat dengan cara demikian: sepotong kayu marapejen atau karamoenting atau batok kelapa dibakar. Ketika dibakar, semacam cairan akan keluar dari kayu-kayu itu. Cairan itu dikumpulkan dengan menggunakan sebuah sendok besi, kemudan dicampur dengan rotan sago, dedaunan sakeh dan minyak kelapa (yang ketiganya juga dibakar sebelumnya). Di XII Koto, kayu-kayu itu dibakar di bawah batok kelapa yang dilubangi. Sebuah sendok besi diletakkan di atas lubang di batok tadi. Asap pembakaran membuat sendok itu menghitam. Abu hitam itulah yang kemudian dicampur dengan minyak dan beberapa rempah lain dan dioleskan di gigi. Selain membuat gigi yang baru diasah hitam, campuran itu juga konon, mematikan syaraf gigi sehingga tidak lagi terasa sakit.

Setelah setahun lebih berlalu, gigi yang sudah diasah itu dapat dihiasi dengan emas. Seorang pandai emas membuat lubang-lubang di gigi yang hendak dihias dan menyiapkan emas untuk menghiasnya. Toekang pape kemudian dipanggil untuk memasangkan emas itu di gigi. Van Hasselt mencatat bahwa sakit gigi tampaknya jarang diderita oleh orang Melayu. Konon, itu dikarenakan oleh kebiasaan mereka mengunyah sirih.

Tak beda dengan perempuan di Eropa, perempuan Melayu juga suka mengenakan perhiasan kuping. Mereka menindik daun telinganya. Di daerah XIII dan IX Koto serta Pariaman seringkali lubang tindik untuk perhiasan itu meregang dan melebar sampai-sampai daun telinganya hampir menyentuh bahu atau bahkan sampai sobek. Ini tidak tampak pada perempuan Koeboe yang sepertinya sama sekali tidak memiliki kebiasaan menghias telinganya.

Daun telinga anak-anak perempuan ditindik pada umur sekitar 7 atau 8 tahun. Bila sudah saatnya telinga ditindik, seorang dukun perempuan didatangkan. Ada dua cara untuk menindik telinga. Pada cara yang pertama, dukun perempuan itu mencubit daun telinga si anak perempuan dengan keras supaya nantinya tidak terasa sakit. Dukun itu kemudian mencari ‘poese’, yaitu tempat yang akan ditindik. Dengan menggunakan jarum atau duri landak, poese itu ditusuk. Cara kedua lebih sering dilakukan. Bagian dalam sebuah enau dipotong membentuk semacam cincin terbuka dengan ujung-ujung yang ditajamkan. Cincin itu dijepitkan di daun telinga, di bagian yan hendak dilubangi. Cincin enau itu dibiarkan tergantung selama kira-kira empat hari, lalu tempat jepitannya dilubangi dan cincin itu diputar sehingga betul-betul tergantung di dalam lubang tindikan. Untuk menjaga agar tidak meradang, lubang tindikan diolesi dengan kunyit. Setelah 5-8 hari, cincin enau tadi diganti dengan cincin lain yang terbuat dari sejenis daun rumput: ‘keliki kandji’ atau ‘pimping’ sampai lubang tindikan betul-betul pulih. Untuk melebarkan lubang tindikan itu, cincin rerumputan itu diganti lagi dengan tali rotan atau segulung daun ‘djaroeng’.

Orang Melayu memiliki suatu kebiasaan yang kemungkinan diambil alih dari orang Arab, yaitu mencat kuku. Biasanya kuku jari tangan maupun kaki dipotong pendek. Kebiasaan jelek menggigit-gigit kuku tidak tampak dilakukan oleh orang Melayu. Anak muda, anak-anak dan orang tua dari kalangan berada mencat merah kuku tangan dan kaki. Pada malam hari, setelah jari-jari kaki dan tangan dibersihkan, kuku-kuku dilumuri dengan ramuan dedaunan hinai yang dicampur dengan arang. Setelahnya, ujung-ujung jari dibungkus dengan daun bingkasok atau daun puding supaya ramuan daun hinai tadi tidak terlepas ketika tidur. Ada dua jenis daun hinai yang dapat digunakan sebagai pewarna kuku: daun paroe hinai (sejenis rempah) dan daun hinai parasi (sejenis pohon). Biji kasoembo juga digunakan sebagai pewarna, tetapi pewarna ini cepat hilang bila terkena air.

Raut wajah lelaki Melayu tampak seperti perempuan. Itu sesuai pengamatan van Hasselt. Kesan ini, katanya, mungkin muncul karena tak banyak tampak orang yang berkumis atau berjanggut. Tubuh lelaki Melayu tak banyak ditumbuhi bulu. Hanya kaki saja yang biasanya berbulu. Beberapa lelaki tua memiliki janggut tipis; lelaki-lelaki muda terkadang memelihara kumis, yang juga tipis. Di daerah Limoen dan Rantau di Baroew, kaum lelaki berkumis memoles kumisnya dengan minyak atau lilin, lalu memelintir ujung-ujung kumis itu ke atas.

Apakah bulu-bulu yang tumbuh di wajah dan tubuh dianggap bagus? Entahlah. Kemungkinan besar, tidak. Ada kebiasaan menggunakan pencabut bulu (pinset) yang disebut ‘sapi djanggoei’ untuk mencabuti bulu-bulu yang tumbuh di dagu, ketiak dan kemaluan. Ini dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Yang aneh, helai-helai bulu yang tumbuh pada  kutil di wajah dan leher dibiarkan tumbuh memanjang.

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #van Hasselt #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Jumat, 23 Oktober 2020 22:06 WIB

Jenazah Tertahan di RSI Arafah Jambi, 7 Hari Hasil Swab Tidak Kunjung Keluar


Kajanglako.com, Jambi  - Pihak keluarga jenazah M Ridwan (55) dan puluhan warga Plamboyan Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, mendatangi rumah

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:59 WIB

Bareskrim Polri Tetapkan 8 Orang Sebagai Tersangka Kebakaran Kejagung


Kajanglako.com, Jambi  - Bareskrim Polri menetapkan delapan tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung). Delapan tersangka itu

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:55 WIB

Kapolda Jambi Tegaskan Tidak Ada Ampun Anggota Terlibat Narkoba


Kajanglako.com, Jambi - Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi menegaskan, tidak ada ampun bagi anggota kepolisian di jajaran Polda Jambi yang terlibat

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:19 WIB

Makan Siang Bersama Usai Shalat Jumat, Cek Endra Didoakan Menang oleh Imam Masjid


Kajanglako.com, Sarolangun – Dukungan dan doa kepada Calon Gubernur Jambi nomor urut sat uterus mengalir. Kali ini doa agar Cek Endra menjadi Gubernur

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:06 WIB

Forum Sarolangun Bersatu Siap Satukan Para Tokoh dan Milenial Dukung Cek Endra-Ratu


Kajanglako.com, Sarolangun – Dikomandoi oleh H Muhammad Ali AB, Forum Sarolangun Bersatu siap bergerak menyatukan seluruh tokoh adat yang ada di