Sabtu, 24 Oktober 2020


Kamis, 24 September 2020 05:33 WIB

Adrian B. Lapian

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Kami biasa memanggilnya Pak Lapian, tapi kadang-kadang juga Pak Adri. Nama lengkap beliau Adrian Bernard Lapian. Beliau telah lama wafat, hampir 10 tahun yang lalu, tapi sosoknya tidak mudah saya lupakan. Terasa ada afeksi jika berada di dekatnya, semacam kedamaian, seperti gabungan kebapakan dan kolegialitas, an affectionate harmless person. Meskipun saya tidak jadi ikut tim penelitiannya tentang maritim di Maluku seperti setengah dijanjikan Pak Edi Masinambow saat saya melamar masuk Leknas, saya merasa dekat dengan beliau. Saya kira banyak yang merasa begitu, tidak hanya saya. Kolegialitas yang ada di Leknas dan kedeputian  IPSK (Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan) LIPI, tahun 80an dan 90an membuat kami sering bertemu, mungkin karena jumlah peneliti saat itu belum banyak dan kantor belum menjadi overly bureaucratic. Setahu saya, penelitian Leknas sejak awal tahun 80an itu banyak diarahkan ke Indonesia bagian timur. Pak Adri dan Pak Edi, keduanya berasal dari Minahasa Sulawesi Utara memiliki peran sangat besar dalam mengarahkan penelitian itu. Di samping mereka,  peran dua ahli antropologi Belanda yang tinggal di Jakarta, Jacob Vredenbergt dan CA van der Leeden juga menjadi penting. Mungkin saat itu bisa dikatakan sebagai kembalinya peneliti-peneliti Belanda ke Indonesia setelah generasi ahli-ahli sebelumnya terpaksa harus pulang bersamaan dengan meningkatnya ketegangan hubungan antara Indonesia dan Belanda  menyangkut soal Irian Barat (sekarang Papua).



Jika saya ingat-ingat, Pak Adri, juga Pak Edi adalah orang-orang yang sering mengingatkan kami yang lebih muda tentang pentingnya teori dan metodologi penelitian. Bagi mereka, sebuah hasil penelitian hanya akan menjadi bermakna jika data yang menjadi dasar untuk menarik kesimpulan dikumpulkan dengan metode yang benar. Sementara metode pengumpulan data yang benar hanya mungkin dibuat jika kerangka teori yang dipakai juga benar. Bagi mereka kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Disertasi Pak Adri "Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX", membuktikan seriusnya sebuah penelitian. Disertasi doktor yang diselesaikan pada usia yang tidak lagi muda itu dianggap sebagai sebuah karya penting dalam penulisan sejarah maritim. Namanya kembali bergaung ketika orang ramai memperbincangkan kebesaran masa lalu bahwa konon Indonesia pernah menjadi negara maritim. Tanpa penulisan sejarah tentang apa yang sebenarnya terjadi kebesaran masa lalu yang banyak diomongkan itu tidak lebih dari sebuah mitos atau eskapisme, upaya melarikan diri dari kenyataan pahit yang dialami dari kegagalan bersaing dengan bangsa lain di masa kini.

Perfeksionisme Pak Lapian dan keteguhannya terhadap kecermatan sebuah karya ilmiah ditunjukkan dengan kekecewaannya atas penerbitan disertasinya oleh sebuah penerbit di Yogyakarta karena semestinya ada beberapa bagian yang perlu diperbaharui sesuai perkembangan historiografi. Disertasi itu kemudian diterbitkan lagi dengan tambahan sebuah post-script yang dibuatnya. Komunitas Bambu yang menerbitkan lagi disertasi itu dimotori JJ Rizal, salah satu muridnya di jurusan sejarah UI. JJ Rizal juga yang membuat dokumentasi film tentang Pak Lapian, antara lain menemani mencari bekas rumahnya saat dia dilahirkan, di sebuah kota di pantai Utara Jawa Tengah, Tegal. Saya lupa menanyakan mengapa dia begitu tertarik untuk meneliti soal bajak laut, dan sejarah kelautan menjadi passion-nya. Anthony Reid, sejarawan dari Australia yang mengenal dengan baik Pak Lapian dalam sebuah tulisan menyebutkan hampir seluruh perpustakaan di dunia yang menyimpan arsip tentang sejarah maritim di Nusantara telah dikunjungi oleh Pak Lapian.

Ket: Karya tulis pak Adrian B. Lapian.

Tahun 84-86 setelah pulang dari menyelesaikan program master saya di ANU, saya terlibat penelitian dampak sosial pembangunan di Indonesia Timur. Kami memilih dua kabupaten di kawasan timur, yaitu Minahasa dan Lombok Barat. Saya memilih isu sentralisasi dan pendekatan top-down dalam pembangunan. Di lihat dari perspektif hari ini, kedua isu itu telah jauh berubah meskipun akibatnya bagi masyarakat mungkin tidak banyak berubah. Sebuah temuan yang menurut saya penting dari penelitian itu adalah teralienasinya masyarakat dalam proses pembangunan. Jopie Wangania, antropolog dari Fakultas Sastra UI, yang berasal dari Minahasa mengkritik keras presentasi saya di LIPI. Sebagai pembahas Jopie tanpa ampun telah membantai saya. Mungkin karena kasihan Pak Mochtar Buchori, Deputi IPSK saat itu, ikut bicara dari floor. Pak Buchori, seorang yang selalu mengartikulasikan pendapatnya dengan elegan, menunjukkan sisi lain dari temuan saya yang menurutnya penting. Tidak lama setelah seminar di LIPI yang sempat menciutkan nyali saya itu, saya ikut dalam rombongan besar dari Jakarta untuk mengikuti seminar hasil-hasil penelitian Indonesia Timur di Manado. Dalam rombongan besar itu ada Pak Edi, Pak Lapian dan Pak Mochtar Buchori serta banyak lagi yang lain, termasuk beberapa dari luar negeri, terutama Belanda.

Lucunya, jika di Jakarta dibantai, di Menado temuan saya dijadikan headline oleh Kompas yang mengirimkan wartawan seniornya untuk meliput. Di halaman depan Kompas pagi yang kami baca sambil sarapan berbunyi "Kesenjangan Birokrasi dan Masyarakat". Rupanya Mas Sularto telah menjadikan presentasi saya sebagai berita utama. Pak Woworuntu, Rektor Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) di depan Pak Sofian Effendi dari UGM dan lainnya yang lagi sarapan bersama itu bilang "Untung Worang baru diganti Mantik, kalau enggak kita pasti kena tegur". Worang memang gubernur Sulawesi Utara yang terkenal bertangan besi. Temuan saya dari penelitian di Minahasa dan Lombok yang mengkritik birokrasi dan muncul di halaman muka Kompas itu pastilah akan membuatnya naik pitam.

Meskipun Irian Barat akhirnya berhasil direbut dari tangan Belanda (1969), proses integrasinya setengah abad yang lalu terbukti menyisakan banyak persoalan sosial politik, bahkan hingga hari ini. Sementara itu, pencaplokan Timor Timur tahun 1974 menambah persoalan baru di wilayah Indonesia bagian timur. Sebagai ahli sejarah yang memahami dengan baik Belanda dan Portugis, Pak Lapian menjadi peneliti yang ilmunya sangat diperlukan untuk mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah. Tanpa banyak publikasi tidak sedikit sumbangan Pak Lapian dalam membantu pemerintah menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di kawasan timur itu.

Posisinya sebagai sejarawan yang bekerja di lembaga ilmu pengetahuan milik negara dan keyakinannya bahwa  kebenaran ilmiah sesungguhnya tidak mengenal batas negara pastilah menimbulkan konflik dalam batinnya. Peran yang tidak mudah itu mau tidak mau harus dihadapinya dengan kepala dingin, antara lain ketika dia harus membela negaranya dalam sengketa wilayah dengan Malaysia menyangkut keberadaan pulau Sipadan dan Ligitan di perbatasan Kalimantan Timur dan Sabah. Diapun harus berhadapan dengan koleganya ahli sejarah dari Belanda dalam dispute soal hasil Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) 1969  di Irian Barat, juga dalam soal Timor Timur yang dia tahu dengan pasti bahwa klaim Indonesia secara historis tidak dapat dibenarkan karena wilayah itu adalah koloni Portugis.

Dalam kasus Papua, kepiawaiannya untuk menempatkan diri sebagai ahli sejarah dalam dispute soal Pepera dia tampilkan antara lain dalam resensi yang ditulis secara berimbang terhadap buku tebal karya koleganya, sejarawan Belanda, Peter Drooglover yang ditugasi oleh parlemen Belanda untuk meneliti kasus Pepera 1969, benarkah telah terjadi pemaksaan dalam proses penentuan pendapat rakyat itu? Peter Drooglover yang tidak dapat ijin dari pemerintah Indonesia untuk melakukan penelitian di Indonesia itu menyadari bahwa bukunya "Act of Free Choice", ada yang kurang, tapi apa boleh buat. Pak Adri Lapian yang sejak awal tahu tentang penelitian itu lagi-lagi berada dalam posisi yang dilematis, keharusan membela negara atau mengatakan sebuah kebenaran. Mungkin generasi yang baru perlu berkaca dari legacy yang telah diteladankan oleh Pak Lapian. Bagaimana tidak menghianati negara namun tetap menjaga integritasnya sebagai ilmuwan.

Mengenang Pak Lapian, setidaknya bagi saya,  berarti mengingat sebuah generasi ilmuwan sosial  Indonesia yang berdiri setara dengan peneliti asing. Kolaborasi penelitian dengan pihak luar didasari oleh mutual trust bukan karena kita memerlukan dana penelitian dari mereka. Pada beberapa kesempatan ikut terlibat dalam kegiatan yang bersifat internasional dengan para senior saya itu, peran Bu Moertiningsih dan Pak Soehartono yang mengelola bagian hubungan internasional LIPI menjadi vital dan Pak Lapian akrab dengan mereka. Penunjukan Pak Lapian sebagai ketua tim ilmiah dari program UNESCO, napak tilas perjalanan Marco Polo dari Osaka ke Venesia (1990-91) yang dikenal sebagai Jalan Sutra (Silk Road) hanyalah satu contoh dari pengakuan internasional itu. Yang penting juga dicatat, dalam kegiatan ini Pak Lapian mengikutsertakan dua peneliti LIPI, Dedi Adhuri dan Fadjar Thufail, sebagai caranya untuk mentransmisi etos kepenelitian maritim kepada kolega penelitinya yang lebih muda.

Pak Lapian, seperti juga Pak Edi tidak mungkin diingat tanpa menyinggung Minahasa. Minahasa adalah salah satu tempat yang saya sukai. Saya merasa memiliki banyak teman di Minahasa, salah satu teman yang selalu menemani jika ke Minahasa adalah Alex Ulaen dosen Unsrat. Meskipun dilahirkan di Tegal seperti saya, Pak Lapian pastilah tidak merasa menjadi orang Tegal, tetapi Minahasa. Di Tomohon sebuah kota yang saat itu tidak terlalu ramai, berhawa sejuk dengan orang-orangnya yang ramah, Pak Lapian memiliki rumah panggung dari kayu bekas peninggalan bapaknya. Dari beranda rumahnya gunung Lokon yang selalu berasap tampak menjulang dengan gagahnya. Biasanya setelah dari rumah Pak Lapian kami mengunjungi rumah Pak Woworuntu yang tidak jauh letaknya dari rumah Pak Lapian. Kuliner dan jajanan  lokal Minahasa selalu menjadi bagian penting setiap kali saya ke sana. Pak Lapian tidak lupa membawa kami ke toko roti langganannya, dan mengajak kami ke rumahnya yang lain di pinggir pantai di Amurang, menghadap ke lautan Pasifik. Di setiap rumahnya selalu ada perpustakaan tempat menyimpan buku-bukunya. Mungkin itu buku-buku yang dikoleksinya dari berbagai kota di dunia ketika dia meneliti sejarah maritim yang menjadi passion-nya. Buku-buku itu saya dengar telah disumbangkan ke jurusan sejarah Unsrat. Semoga dari sana lahir sejarawan-sejarawan penerus Pak Adri Lapian.

*Peneliti independen. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #AB. Lapian #Maritim



Berita Terbaru

 

Jumat, 23 Oktober 2020 22:06 WIB

Jenazah Tertahan di RSI Arafah Jambi, 7 Hari Hasil Swab Tidak Kunjung Keluar


Kajanglako.com, Jambi  - Pihak keluarga jenazah M Ridwan (55) dan puluhan warga Plamboyan Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, mendatangi rumah

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:59 WIB

Bareskrim Polri Tetapkan 8 Orang Sebagai Tersangka Kebakaran Kejagung


Kajanglako.com, Jambi  - Bareskrim Polri menetapkan delapan tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung). Delapan tersangka itu

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:55 WIB

Kapolda Jambi Tegaskan Tidak Ada Ampun Anggota Terlibat Narkoba


Kajanglako.com, Jambi - Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi menegaskan, tidak ada ampun bagi anggota kepolisian di jajaran Polda Jambi yang terlibat

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:19 WIB

Makan Siang Bersama Usai Shalat Jumat, Cek Endra Didoakan Menang oleh Imam Masjid


Kajanglako.com, Sarolangun – Dukungan dan doa kepada Calon Gubernur Jambi nomor urut sat uterus mengalir. Kali ini doa agar Cek Endra menjadi Gubernur

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:06 WIB

Forum Sarolangun Bersatu Siap Satukan Para Tokoh dan Milenial Dukung Cek Endra-Ratu


Kajanglako.com, Sarolangun – Dikomandoi oleh H Muhammad Ali AB, Forum Sarolangun Bersatu siap bergerak menyatukan seluruh tokoh adat yang ada di