Sabtu, 24 Oktober 2020


Minggu, 20 September 2020 05:00 WIB

Hilir-Mudik Orang Sumatra Tengah

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Selama hampir lebih dari satu tahun, pembaca-pembaca rubrik ‘Telusur Jambi’ bersama-sama ikut ‘menjelajahi’ Sumatra Tengah, khususnya Jambi, bersama tim Ekspedisi Sumatra Tengah yang dipimpin oleh J. Schouw Santvoort, J.F. Snelleman, A.L. van Hasselt dan D.D. Veth. Tim penjelajahan itu ditambah lagi dengan orang-orang Belanda yang bertugas sebagai Kontrolir di tempat-tempat yang disinggahi, kepala-kepala adat dan orang setempat yang menjadi pemandu jalan, Koki, beberapa pembantu, pendayung-pendayung perahu serta serombongan kuli yang bertugas menggotong semua barang dan perbekalan penjelajahan.



Tujuan utama penjelajahan itu adalah mengisi bagian-bagian blangko di atas peta Sumatra. Sampai pertengahan tahun 1870an, daerah-daerah tepi pantai Sumatra dan daerah-daerah bersungai besar seperti Sungai Musi sudah dipetakan. Namun, daerah yang relatif jauh dari pantai timur Sumatra dan dibatasi pula oleh gunung-gunung Bukit Barisan di sisi lainnya belum banyak didatangi Belanda. Selain membuat catatan rinci mengenai tingginya gunung, dalamnya sungai dan aneka kelok-keloknya, tanaman dan binatang di daerah-daerah yang dijelajahi, ekspedisi itu mengumpulkan peralatan bermatapencaharian, perhiasan, mainan, benda-benda relijius, tim ekspedisi itu mencatat pula ciri-ciri fisik manusia yang hidup di dusun-dusun yang didatangi; bahasa, peribahasa, cerita-cerita rakyat serta adat istiadat di sana.

Ekspedisi Sumatra Tengah diterbitkan menjadi beberapa buku tebal. Salah satunya adalah laporan perjalanan (khususnya di daerah Jambi) yang sudah ditayangkan di rubrik ‘Telusur Jambi. Buku lainnya khusus berisi deksripsi dan catatan mengenai geologi dan geografi Sumatra tengah. Yang lain lagi khusus mengenai tanaman dan tetumbuhan. Jilid ketiga, buku khusus mengenai masyarakat dan bahasa masyarakat Sumatra Tengah, tebal sekali. Empat ratus lima belas halaman. Buku tebal yang dioleh AL van Hasselt inilah yang akan dibaca bersama mulai akhir pekan ini, dengan catatan bahwa bagian-bagian yang ditayangkan dari buku itu hanyalah yang terkait masyarakat, kebudayaan dan bahasa di Jambi saja.

Semakin lama tim penjelajahan Sumatra Tengah itu berada di antara orang-orang yang hidup di Sumatra Tengah, semakin banyak mereka berkesempatan mengamati adat-kebiasaan mereka, maka semakin yakinlah mereka bahwa memang orang-orang itu termasuk ras Melayu. Walaupun demikian, masih ada perbedaan-perbedaan di antara kelompok-kelompok masyarakat itu. Menurut van Hasselt, perbedaan-perbedaan itu disebabkan oleh iklim dan lingkungan yang berlainan serta cara masing-masing kelompok masyarakat itu menghadapinya. Tampak pula ada perbedaan dalam pola berpakaian, berprilaku dan cara hidup kelompok-kelompok yang sudah berhubungan dengan orang-orang Barat yang berkuasa dan menjajah dibandingkan dengan kelompok-kelompok masyarakat yang otonom dan masih merdeka.

Penduduk Redjang dan Lebong berbeda dengan penduduk yang tinggal di daerah Rawas. Orang Melayu-Manangkabo lebih banyak menunjukkan persamaan dengan penduduk Redjang dan Lebong. Penduduk Rantau-di-Baroe menunjukkan banyak kesamaan dengan penduduk Soengei Tanang, Limoen dan Batang Asei, namun berbeda dengan penduduk di Beneden-Djambi (Jambi Bawah) dan yang tinggal di sepanjang aliran Tembesi. Secara fisik, mereka tampak mirip dengan orang Rawas.

Persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan itu tidak terjadi secara kebetulan saja. Cerita-cerita rakyat banyak mengisahkan perpindahan masyarakat dari satu tempat ke tempat lainnya. Orang Lebong yang banyak mendirikan dusun-dusun di daerah Redjang mengaku merupakan keturunan seorang Radjo dan empat orang Tiang (dewan penasehat) yang pindah dari daerah Minangkabau ke Aman. Daerah Limoen, Batang Asei, Soengei Tanang, Rantau di Baroe dan daerah-daerah di dataran tinggi Djambi ditinggali oleh penduduk yang awalnya datang dari Minangkabau. Sampai saat Ekspedisi Sumatra Tengah dilakukan, perpindahan penduduk, terutama orang-orang yang hendak menghindari jangkauan kekuasaan sistem peradilan Hindia-Belanda, dari Dataran Tinggi Padang ke daerah Jambi masih banyak terjadi.  

Di zaman Kesultanan Palembang, banyak pula orang Rawas yang pindah ke tepian Tembesi. Setelah Palembang dikuasai Belanda, tambah banyak lagi orang Rawas yang memilih pindah tinggal di daerah Jambi yang masih merdeka daripada harus mengakui kepemimpinan Belanda yang bermarkas di Moeara Roepit. Orang-orang itu membangun permukiman di Soeka Pindah. Keturunan orang-orang ini maupun penduduk Jambi hilir dan dan Rawas telah bercampur-baur dengan keturunan orang Jawa yang mengikuti raja-raja mereka ke Palembang dan Jambi beberapa abad sebelumnya.

Satu kelompok masyarakat lagi tinggal di Sumatra Tengah, yaitu orang Koeboe yang dianggap sebagai kelompok masyarakat tertua. Secara fisik, mereka tampak lain dengan penduduk Sumatra Tengah lainnya. Orang Koeboe tinggal di rimba raya yang dibatasi oleh sungai-sungai Musi, Rawas, Tembesi dan Jambi. Di dalam belantara, sebagian besar orang Koeboe berpindah-pindah. Hanya terkadang saja mereka tinggal di dekat suatu dusun. Sebagian dari mereka memilih tinggal menetap di tepian Soengei Lalan.

Dahulu kala, wilayah jelajah orang Koeboe itu tidak dibatasi oleh kelima sungai di atas. Menurut van Hasselt, ketika ekspedisi berlangsung, jejak-jejak ciri fisik mereka hanya tampak sedikit di bagian selatan Dataran Tinggi Padang, terutama di XII Kota. Konon, di Abei, seorang kerabat Radjo yang tua merupakan cucu dari suami-isteri Koeboe yang ditangkap dari belantara Abei. Di daerah itu, juga ada cerita bahwa dahulu kala, sembilan orang Koeboe—lelaki, perempuan dan anak-anak—meminta izin untuk membuat permukiman di sana. Permohonan itu diizinkan setelah mereka menyatakan  bahwa mereka bukan lagi rakyat Sultan Jambi, melainkan mengakui kedaulatan raja Minangkabau.

“Hambo indak basoetan ka Djambi; hambo baradjo ka Manangkabo. Kaloe ka baradjo, ka basoetan ka Djambi, hambo lamakan boeah pitatah, bahayam koewauw, bakambing kidjang, baatok sike, badinding banije.”  Ungkapan di atas menyatakan bahwa mereka akan selalu mengakui raja Minangkabo sebagai rajanya dan bila mereka mengingkari janji setia ini, maka mereka akan selamanya dikucilkan ke hutan: makan buah pitatah yang sangat pahit, makan burung kuwau sebagai ayam, (memelihara) kijang sebagai (ternak) kambing dan membangun rumah beratap sike dan berdinding baniye.

Ungkapan janji itu ternyata sia-sia saja. Menurut cerita, orang-orang Koeboe itu tidak lama tinggal di daerah itu. Rupanya mereka sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan menetap di dusun dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di sana.

*Pustaka Acuan: Van Hasselt. ‘Volksbeschrijving en Taal,’ dalam Midden-Sumatra: Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, 1877-1879 (Prof PJ Veth, ed). Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Telusur #D.D. Veth #Ekspedisi Sumatra Tengah #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Jumat, 23 Oktober 2020 22:06 WIB

Jenazah Tertahan di RSI Arafah Jambi, 7 Hari Hasil Swab Tidak Kunjung Keluar


Kajanglako.com, Jambi  - Pihak keluarga jenazah M Ridwan (55) dan puluhan warga Plamboyan Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, mendatangi rumah

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:59 WIB

Bareskrim Polri Tetapkan 8 Orang Sebagai Tersangka Kebakaran Kejagung


Kajanglako.com, Jambi  - Bareskrim Polri menetapkan delapan tersangka kasus kebakaran Gedung Utama Kejaksaan Agung (Kejagung). Delapan tersangka itu

 

Jumat, 23 Oktober 2020 21:55 WIB

Kapolda Jambi Tegaskan Tidak Ada Ampun Anggota Terlibat Narkoba


Kajanglako.com, Jambi - Kapolda Jambi Irjen Pol Firman Shantyabudi menegaskan, tidak ada ampun bagi anggota kepolisian di jajaran Polda Jambi yang terlibat

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:19 WIB

Makan Siang Bersama Usai Shalat Jumat, Cek Endra Didoakan Menang oleh Imam Masjid


Kajanglako.com, Sarolangun – Dukungan dan doa kepada Calon Gubernur Jambi nomor urut sat uterus mengalir. Kali ini doa agar Cek Endra menjadi Gubernur

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Jumat, 23 Oktober 2020 18:06 WIB

Forum Sarolangun Bersatu Siap Satukan Para Tokoh dan Milenial Dukung Cek Endra-Ratu


Kajanglako.com, Sarolangun – Dikomandoi oleh H Muhammad Ali AB, Forum Sarolangun Bersatu siap bergerak menyatukan seluruh tokoh adat yang ada di