Selasa, 27 Oktober 2020


Minggu, 13 September 2020 12:32 WIB

Ekspedisi Militer Belanda ke Djambi (5)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Banyak orang Jambi yang bersembunyi di sekitar kraton. Ketika istana Sultan dimasuki Belanda, mereka terus-menerus menembak musuh-musuh berkulit putih itu. Kroesen memerintahkan agar sekompi pasukan infanteri menyapu kampung-kampung di sekitar kraton dan mengamankannya. Bubuk mesiu yang secara tidak sengaja meledak membuat van Leersum, pemimpin kompi infanteri itu dan 12 orang anak buahnya, luka-luka bakar. Mereka segera dibantu oleh dua orang tenaga medik yang sejak penyerangan dimulai, sibuk menangani dan merawat serdadu-serdadu Belanda yang memerlukannya.



Lama-kelamaan, tak ada lagi peluru yang memberondong Belanda. Pasukan-pasukan Sultan yang tadinya mempertahankan kraton telah menyelamatkan diri ke kedua benteng lain di dekat kraton Pangeran Ratoe. Kraton ini pun menjadi sasaran tembakan dari kapal-kapal perang di atas air. Menjelang pk 11.30, tak ada lagi tembakan dari benteng kraton itu.

Pasukan-pasukan Belanda itu sudah letih betul. Api yang berkobar-kobar dari segala arah menghalangi pasukan-pasukan darat untuk menaklukkan dan menduduki kraton Pangeran Ratoe. Mayor van Langen memutuskan untuk memberikan waktu beristirahat selama beberapa jam kepada anak buahnya. Menjelang siang, ia menerima kabar bahwa kraton itu dan bentengnya sudah kosong. Pk 16.00,  ia memerintahan peleton di bawah pimpinan Hafeli dan Engel untuk menduduki kraton itu.

Setelah Belanda berhasil menguasai tepian kanan Jambi, penduduk di tepian kiri menyerah. Ekspedisi militer Belanda itu merasa beruntung. Tanpa harus terlalu banyak atau terlalu jauh berbaris, mereka memenangkan pertempuran dengan hanya sedikit korban. Empat orang tewas dan 39 orang luka-luka (13 orang di antaranya menderita luka bakar). Sultan Jambi terusir dari kratonnya, benteng-bentengnya telah dapat diduduki dan persenjataannya: 41 buah ‘lilla’ (meriam kecil), 4 buah meriam perunggu dan 14 buah meriam besi. Kesemuanya beragam kaliber.

Dalam pandangan Belanda, kekalahan Sultan Jambi dalam pertempuran itu disebabkan oleh beberapa hal. Tersedianya persenjataan yang cukup banyak membuat Sultan memperkirakan bahwa pasukan-pasukannya cukup kuat untuk melawan Belanda. Namun, Sultan tidak memimpin sendiri pasukan-pasukannya. Tambahan lagi, tampaknya ia kurang menguasai strategi berperang. Ia memperkuat pertahanan kraton dari sisi depan dan rupanya, abai memperkirakan adanya kemungkinan serangan yang datang dari bawah benteng terjauh. Ketika benteng itu berhasil ditaklukkan, pertahanan di sisi belakang dan kiri-kanannya menjadi rentan. Sultan pun tidak mengawasi gerak-gerik armada Belanda di sungai sehingga kapal-kapal perang itu dapat mendekat sampai jarak setengah jam saja jauhnya dari kraton. Karena itulah, serangan dari arah sungai barangkali dapat dianggap sebagai serangan tak terduga baginya.

Kemenangan ekspedisi militer itu sangat memuaskan petinggi-petinggi Belanda di Batavia. Di kemudian hari, pimpinan ekspedisi dan pasukan-pasukan yang ikut bertempur pada tanggal 6 September itu mendapatkan penghargaan berupa uang. Kerajaan Belanda juga menganugerahkan penghargaan-penghargaan tertinggi negeri: 8 buah ‘ridderkruis’ (medali kekesatriaan) dan 14 gelar penghargaan kepada Angkatan Darat; 16 buah ‘ridderkruis’, sebuah pedang kehormatan dan 36 buah gelar penghargaan kepada Angkatan Laut.

Ekspedisi militer itu dianggap telah menunaikan tugasnya dengan penaklukkan Jambi. Yang masih harus dilakukan adalah mendirikan pos militer yang dapat menjamin keselamatan berkibarnya bendera Belanda di sana. Sebagian pasukan, sebanyak 260 orang infanteri, di bawah pimpinan Backerus, diperintahkan untuk tetap tinggal di Jambi. Backerus juga mendapat tugas tambahan untuk memimpin dan mengatur hubungan dan situasi politik. Kapal uap Celebes dan dua perahu bersenjata pun ditinggalkan untuk mengamankan daerah itu.

Dalam waktu singkat,  sekitaran kraton diperkuat lagi dengan dua buah benteng lagi yang dikelilingi oleh air. Di dalam lingkungan kraton, Belanda mempersiapkan beberapa buah barak, sebuah rumah sakit dan sebuah gudang amunisi. Setelah semua itu selesai dibangun, anggota-anggota ekspedisi yang tidak tinggal di sana, bersiap-siap meninggalkan Jambi. Pada tanggal 28 Oktober, armada kapal perang Belanda berangkat dan tiba di Batavia, pada tanggal 14 November.

Kesultanan Jambi tidak lagi bebas merdeka. Belanda menyatakan bahwa Sultan Ratoe Taha Sifoedin tidak lagi bertahta.

*Pustaka Acuan: WA van Rees. Eenige Krijgstogten op de Buitenbezittingen. Arnhem: DA Thieme. 1866. (Hal. 159-176)


Tag : #Telusur #Kesultanan Jambi #Mayor van Rangen #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Senin, 26 Oktober 2020 16:58 WIB

Di Mandiangin, Tim Haris-Sani Tak Gentar Berjuang dan Tim Koalisi Partai Makin Solid


Kajanglako.com, Sarolangun - Tim Pemenangan Haris-Sani Kecamatan Mandiangin, tak gentar berjuang untuk Haris-Sani meski di Sarolangun terdapat kandidat

 

Pandemi Covid 19
Senin, 26 Oktober 2020 16:23 WIB

Vaksin yang Paling Umum Dicari Saat Covid-19


Kajanglako.com - Pemberian vaksin memang harus diperhatikan, tidak hanya untuk balita atau anak-anak namun juga untuk orang dewasa. Sistem imun sebetulnya

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Senin, 26 Oktober 2020 16:15 WIB

Fachrori-Syafril Siap Libatkan Perguruan Tinggi Bangun Jambi


Kajanglako.com, Jambi – Bersama Fachrori Umar, Calon Wakil Gubernur Jambi Syafril Nursal menyatakan akan melibatkan Perguruan Tinggi, dalam pembangunan

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Senin, 26 Oktober 2020 16:04 WIB

Program Unggulan Cek Endra-Ratu Munawaroh, Misi #1


Kajanglako.com, Jambi – Mewujudkan Jambi CERAH 2024, menjadi visi besar pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi, Cek Endra – Ratu

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Senin, 26 Oktober 2020 14:04 WIB

Visi Misi Jambi Berkah: Kemajuan dan Kesejahteraan Masyarakat Jambi


Kajanglako.com, Jambi – Debat pertama Calon Gubernur pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jambi tahun 2020, yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan