Selasa, 12 Desember 2017
Pencarian


Sabtu, 18 November 2017 14:19 WIB

Mbak Suwanti, Guru Kontrak yang Mengabdi untuk Anak SAD

Reporter : Riki Saputra
Kategori : Ragam Features

Mbak Suwanti (jilbab biru) di tengah-tengah gerombolan anak SAD yang tengah belajar

Kajanglako.com, Merangin - "Saya ingin melihat mereka juga cerdas, sedikit ilmu kita akan berguna bagi mereka" itulah sepenggal kalimat dari sosok wanita tangguh bernama Suwanti (39), wanita kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, yang mengabdikan dirinya mencerdaskan Suku Anak Dalam (SAD) yang masih berusia dini.

Cerita Suwanti, guru kontrak Pemkab Merangin yang mengajar anak-anak SAD di wilayah Tabir Selatan, belakangan ini sering saya dengar. Apalagi setelah dirinya memposting beberapa foto dalam sebuah Whatsapp grup yang memperlihatkan dirinya tengah mengajar warga SAD.



Kisah perjalanan hidup Suwanti, menggugah nurani saya untuk berjumpa dengannya. Melalui pesan Whatsapp pula saya mengutarakan keinginan untuk bertemu dengannya. Namun keinginan saya saat itu belum bisa terwujud, jarak yang jauh dari tempat tinggalnya dengan Kota Bangko tempat dimana saya berdomisili, membuat agenda pertemuan selalu tertunda.

“Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba”, Senin siang 30 November 2017, akhirnya saya bisa bertatap muka dengan Mbak Suwanti, sapaan akrab banyak orang kepadanya. Kebetulan Mbak Suwanti ada sedikit urusan di Kota Bangko, sehingga melalui Whatshap grup ia mengabari saya.

Kesan pertama ketemu, saya melihat parasnya sama dengan ibu-ibu pada umumnya yang sudah berusia hampir memasuki kepala empat, image seorang guru atau pengajar begitu melekat di dirinya. Itu terlihat dari setelan seragamnya yang biasa dipakai oleh para tenaga pendidik.

Setelah masing-masing kami memperkenalkan diri dan sedikit berbasa-basi, Mbak Suwanti pun menceritakan pengalamannya mengajar anak SAD. Petualangannya mengajar ia mulai sejak tahun 2001 silam. Namun kala itu ia belum kesampaian untuk memberi pendidikan bagi anak-anak SAD, karena ia masih harus mengasuh anak keduanya yang masih bayi, sementara untuk mengajar anak SAD ia harus keluar masuk hutan.

"Jadi waktu itu saya cuma ngajar di TK Darma Wanita Al Huda Desa Bungo Tanjung, karena anak saya masih kecil," katanya.

*Ngajar di TK tanpa Gaji dan di SD Rp 100 Ribu Perbulan

Memiliki bayi yang masih butuh perhatian, Mbak Suwanti harus menahan hasratnya untuk mengajar anak-anak SAD. Namun karena kecintaannya terhadap dunia pendidikan, Ia salurkan hasratnya tersebut dengan dengan mengajar di Taman Kanak-kanak.

Selain di TK, Ia juga ngajar SD kelas jauh di Desa Bungo Tanjung, sejak 2001 hingga 2012, di TK dirinya berstatus Kepala Sekolah, sedangkan di SD Ia hanya guru kontrak komite.

"Jadi saya double job ngajar, di TK saya kepalanya dan di SD saya guru komite. Selama itu saya berbagi waktu," sebutnya.

Meski memiliki tugas rangkap, ternyata imbalan yang didapat Mbak Suwanti sangat minim. Jika pun ada, itu sama sekali tidak setimpal dengan pengabdiannya.

"Saya tidak mikir gaji, kalau mikir gaji mungkin saya sudah berhenti ngajar. Di TK saya ada bertahun tanpa gaji, sedangkan honor komite di SD cuma Rp 100 ribu perbulan," tutur wanita yang memiliki dua orang anak ini.

Namun pada tahun 2012, Mbak Suwanti harus menghadapi pilihan hanya diperbolehkan mengajar di satu tempat saja. Pilih TK atau SD, waktu itu Mbak Suwanti memilih mengajar di SD.

"Jadi saat itu UPTD Pendidikan nyuruh milih, tidak boleh ngajar dua sekaligus. Maka saya pilih ngajar kelas jauh SD 245 Desa Bungo Tanjung," imbuhnya.

Ngajar kelas jauh SD 245 dilakoni Mbak Suwanti hingga tahun 2014, karena SD kelas jauh itu sudah jadi negeri dan datang dua guru PNS, maka mbak Suwanti pindah ngajar ke SD 249 Desa Rawa Jaya, Kecamatan Tabir Selatan.

"Di SD 249 ini saya ngajar selama satu tahun 2014 hingga 2015," sebutnya.

*Berita TV Perkuat Niat Mengajar Anak Rimba

Belum kesampaian niat mengajar anak SAD dengan aktif di tahun 2001 karena anaknya masih bayi, Ternyata selang dua tahun setelah itu. Yakni tahun 2003, niatnya makin kuat setelah melihat tayangan program pendidikan SAD di TV.

"Melihat tayangan program pendidikan SAD, waktu itu saya benar-benar ingin mengajar untuk mereka, tapi karena berbagai pertimbangan maka saya urungkan," ungkap Suwanti.

Puncaknya tahun 2015 lalu, dirinya tidak bisa lagi menahan niat mengajar SAD. Apalagi setelah kunjungan Predisiden Joko Widodo ke warga SAD di Kabupaten Sarolangun.

Meski tidak merincikan waktu pastinya, pada tahun 2015 itu juga mbak Suwanti mengutarakan niatnya ke Dinas Sosial Merangin jika dirinya ingin mengabdi untuk anak SAD.

Gayung bersambut, ternyata di tahun itu juga keluar SK dari Dinas Pendidikan Merangin untuk dirinya mengajar anak SAD. Bahkan statusnya juga naik menjadi honor tenaga kontrak daerah dengan gaji Rp 700 ribu perbulan.

"2015 itu kan ada Pak Jokowi ke Sarolangun dan itu membuat saya makin tertarik. Lalu saya mengusulkan ke Dinas Sosial dan tahun itu juga saya dapat SK dari Diknas untuk mengajar SAD," sebutnya.

*Keluar Masuk Rimba dan Membawa Bekal Setiap Mengajar

Ternyata mengajar anak-anak SAD, awalnya tidaklah semudah yang Mbak Suwanti bayangkan. Tidak hanya harus keluar masuk hutan dengan perjalanan hingga 3 jam, tapi juga harus bisa adaptasi agar diterima komunitas yang hidup dengan cara nomaden (berpindah-pindah) tersebut.

Dia berkisah, awal-awal mengajar anak SAD ia harus didampingi Tumenggung (Kepala Suku). "Karena kalau orang baru mereka susah menerima, maka saya harus kenal dulu dengan ketua kelompok dan mengajar juga harus didampingi. Tapi setelah beberapa pertemuan tidak lagi," terangnya.

"Awalnya dulu saya juga sangat takut dengan anjing, sampai menjerit-menjerit. Tapi sekarang sudah terbiasa dan dengan waga SAD sudah seperti saudara," tambahnya lagi.

Selain harus bisa berbaur, tantangan lain yang harus dihadapi Mbak Suwanti ketika harus mencari siswa kelompok anak SAD di tengah hutan. Ia harus mengeluarkan energi ekstra, meski menggunakan kendaraan roda dua, untuk masuk hutan ia harus menempuh jarak hingga tiga jam perjalanan.

"Itu masuk hutan semua mencari siswa. Kelompok yang paling dekat itu satu jam dan yang jauh saya harus pake motor hingga tiga jam ke hutan. Itu medannya berat, karena jalannya di tengah hutan," Suwanti mengisahkan.

Setiap mengajar, dikatakan mbak Suwanti, jika dia harus membawa makanan untuk siswa yang diajarnya. Itulah cara paling ampuh, agar anak SAD mudah berkumpul dan mengikuti pelajaran yang diberikannya.

"Saya mengajar di lima kelompok berbeda dan selama lima hari. Jadi setiap ngajar ya harus bawa makanan untuk anak-anak tersebut," sebutnya.

*Ikhlas Mengabdi dan Motor Sering Mogok

"Kalau kita ikhlas dan banyak membantu, bantuan akan banyak pula datang ke kita," kata Mbak Suwanti, saat ditanya biaya yang ia harus keluarkan untuk membeli jajanan untuk anak SAD di setiap pertemuan.

Mbak Suwanti berkisah, kalau dirinya bukanlah orang dengan ekonomi yang berlebih. Dia hanya guru kontrak daerah dengan gaji Rp 700 ribu perbulan, itupun diterima setiap tiga bulan sekali.

Begitu juga dengan suaminya yang hanya pekerja biasa. Namun dengan kesederhanaan ia mampu membesarkan dan menyekolahkan dua anaknya.

"Kalau dihitung-hitung tidak sebanding lah. Tapi Alhamdulillah rezeki itu selalu ada, anak saya yang sulung sudah selesai kuliah dan sekarang sudah bekerja. Anak saya yang kedua juga sekolah di Jawa, sekarang kelas dua SMA," tuturnya.

Meski hanya menerima honor Rp 700 ribu perbulan, ternyata Mbak Suwanti tidak pernah kesulitan membeli jajanan di setiap kali akan mengajar anak SAD. Untuk lima kelompok anak SAD di daerah Makekal Ulu, Desa peyangga Mekar Jaya, Kecamatan Tabir Selatan.

"Yang saya ajar itu lima kelompok di daerah Makekal Ulu. Saya mengajar lima hari dalam seminggu, setiap kali ngajar tempatnya beda-beda, setiap pertemuan hingga 3 jam. Dan setiap ngajar itu saya harus bawa jajanan," jelasnya.

"Untuk membeli semua itu saya hanya menggunakan uang pribadi, sejak 2015 hingga 2017 cuma sekali dibantu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bungo Tanjung," ungkapnya.

Sepeda motor buntut jenis bebek, yang selalu setia mengantarkan Mbak Suwanti keluar masuk hutan. Karena kondisi medan yang sulit dan motornya yang sudah tua, tak jarang motornya tersebut mogok di tengah hutan.

"Saat ini motor saya sering mogok, sering mati saat jalan," sebutnya.

*Puas Melihat Anak SAD Sudah Bisa Membaca

Mbak Suwanti total mengajar 102 anak SAD dari lima kelompok yang berbeda. Dan sejauh ini sudah 15 orang anak didiknya itu yang lulus paket A atau setara SD.

"Jadi yang masih aktif tinggal 86 siswa lagi. Alhamdulillah 15 orang sudah lulus paket A," katanya.

Dirinya kini, sangat merasa puas melihat perkembangan anak SAD yang didiknya. Berkat kegigihan dan kesabarannya, kini anak SAD beberapa diantaranya sudah bisa menulis, membaca dan berhitung.

Menurut Mbak Suwanti, mengajar anak SAD tidaklah segampang mengajar anak sekolah pada umumnya. Lingkungan dan faktor gizi yang dimakan anak SAD, membuatnya mereka tidak semudah anak pada umumnya untuk menerima pelajaran.

"Ada kepuasan tersendiri melihat mereka sudah pada bisa membaca, menulis dan berhitung. Karena mengajar anak SAD sangat sulit, benar-benar butuh kesabaran dan kegigihan," jelasnya.

"Mereka sangat mudah lupa, diajari pagi itu sore sudah lupa. Jadi setiap pertemuan itu terus kita ingatkan," tambahnya.

*Kisah Mencari Peserta Ujian Hingga Muntah di Tengah Jalan

Meski secara berlahan bisa mengajari anak SAD membaca, menulis dan berhitung. Namun agar siswa tersebut mengikuti ujian paket A, Mbak Suwanti lagi-lagi harus berjuang keras.

Ia mengatakan harus, berjalan kaki ke tengah hutan hingga empat jam lamanya untuk mencari anak SAD agar mengikuti ujian paket A.

"Setelah empat jam jalan kaki ketemu sebanyak 15 orang. Itu harus saya lakukan, karena waktu itu data nama anak yang ikut ujian harus segera diserahkan," sebutnya.

"Tidak hanya mencari nama untuk peserta ujian, tapi juga harus ditanyakan kesediaan anaknya. Mau apa tidak ujian, makanya saya harus berjalan di tengah hutan untuk mencari mereka," tambah Suwanti.

"Waktu itu saya sampai muntah-muntah, karena medan yang saya lalui itu berat. Luar biasa hari itu saya mencari murid untuk peserta ujian," sambungnya lagi.

*Harapan Mbak Suwanti untuk Pemerintah

Hanya berkat pengabdian tulus dan semangat luar biasa yang membuat Mbak Suwanti tetap teguh dan konsisten untuk berjuang mencerdaskan anak SAD. Sepenggal cerita Mbak Suwanti ini tentu bisa menggambarkan begitu sulitnya mengajar ketika harus setiap hari keluar masuk hutan.

Terhadap sosok tangguh seperti Mbak Suwanti, pemerintah sudah sewajarnya memberi perhatian lebih. Gaji kecil yang ditambah dengan kendaraan butut untuk menjelajahi hutan sudah seharusnya jadi pertimbangan pemerintah untuk memberikan fasilitas pendukung bagi Mbak Suwanti, belum lagi persoalan sarana mengajar untuk anak SAD yang masih minim.

"Kalau bisa ada perhatian dari pemerintah. Baik itu untuk kendaraan operasional dan juga media belajar," harapnya. (kjcom)


Tag : #Orang Rimba #Suku Anak Dalam #Sekolah Rimba #Merangin #Tabir Selatan #Mbak Suwanti



Berita Terbaru

 

Senin, 11 Desember 2017 23:27 WIB

Pemayung Masih 'Takut' Gunakan Excavator Bantuan Provinsi, ini Penyebabnya


Kajanglako.com, Batanghari - Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi Jambi sudah memberikan bantuan dua Excavator mini untuk dua kecamatan di Kabupaten

 

Senin, 11 Desember 2017 23:15 WIB

Bank Indonesia Terbitkan Ketentuan Penyelenggaraan Teknologi Finansial


Kajanglako.com - Bank Indonesia (BI) menerbitkan ketentuan penyelenggaraan teknologi finansial untuk mendorong lahirnya berbagai inovasi dan mendukung

 

Pertemuan Bakohumas se-Provinsi
Senin, 11 Desember 2017 23:03 WIB

Melalui Bakohumas, Zola: Cerdas Menyikapi Berita Hoax


Kajanglako.com, Jambi  - Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli mengemukakan bahwa Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) merupakan saluran penyebaran

 

Senin, 11 Desember 2017 22:37 WIB

Zola Terima Apresiasi dari LPPM IPB


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Zumi Zola menerima apresiasi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor

 

Senin, 11 Desember 2017 22:19 WIB

Pengadaan Sapi Bermasalah, Kontrak CV Minang Vodia Utama Diputus


Kajanglako.com, Batanghari - CV Minang Vodka, selaku rekanan proyek pengadaan sapi gaduhan untuk kelompok tani di Batanghari, kontraknya resmi diputus. Sebelumnya,