Selasa, 27 Oktober 2020


Sabtu, 15 Agustus 2020 06:22 WIB

Ekspedisi Militer Belanda ke Djambi (2)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Keputusan untuk melanjutkan perjalanan pada tanggal 19 Agustus sebetulnya sangat disesalkan. Oleh lalu-lintas perairan, ramai hilir-mudiknya perahu, dapat dipastikan bahwa keberadaan ekspedisi militer di dermaga Muntok sudah bukan lagi rahasia di Djambi. Setiap hari tertunda-tundanya perjalanan ekspedisi itu memberikan Sultan Djambi kesempatan untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik, bila memang ia sudah memutuskan untuk melawan dan menentang Belanda. Apa boleh buat. Bagaimana pun, armada Belanda berangkat pada tanggal yang direncanakan itu.



Keesokan harinya, 20 Agustus, mereka tiba di muara Sungai Djambi dan menjatuhkan sauh. Kapal Celebes terus berlayar untuk mengantarkan Komisaris-Pemerintah ke Moeara Koempeh yang terletak di antara muara sungai dan kota Djambi. Lima hari berikutnya diperlukan untuk menambang kapal-kapal, kecuali ZM Groningen dan kapal pengangkut perbekalan pangan, ke Moeara Koempeh. Lalu, dua hari tambahan diperlukan untuk menambang kapal pengangkut perbekalan pangan.

28 Agustus. Perjalanan dilanjutkan lagi. Komandan ekspedisi membagi-bagi peluru dan menempatkan penjaga di setiap kapal. Para penjaga itu diperintahkan untuk sedapat mungkin mengabaikan tembakan-tembakan yang datang dari darat. Namun, walau mereka membuka mata dan telinga, tak terdengar tembakan apa pun dari dusun-dusun yang mereka lewati. Siang hari, mereka tiba di Kepulauan Sidjoendjang yang berjarak beberapa jam dari Djambi. Di tempat ini, mereka menunggu kedatangan semua kapal di armada. Manifes yang sudah disiapkan barulah akan diantarkan kepada Sultan bila seluruh armada telah berkumpul lagi.

Malam hari tanggal 29 Agustus, Kapten Kroesen memerintahkan agar dua orang serdadu pribumi yang berpakaian sebagai kuli diantarkan ke darat. Kedua orang itu ditugaskan untuk meneliti apakah ada jalan darat dari Djambi ke Moeara Koempeh. Mereka juga harus mencari informasi mengenai kekukatan dan sarana pertahanan Sultan Djambi. Menjelang dini hari, kedua serdadu itu kembali ke kapal. Rupanya mereka tersesat di hutan. Namun, mereka masih dapat melaporkan bahwa mereka sama sekali tidak melihat adanya jalan setapak atau pun tanda-tanda kehidupan dari ‘musuh’ (maksudnya, orang Djambi). Karena kurang puas, empat orang, yaitu Kroesen, Gallas, Bouricius dan van der Hegger Spies menawarkan diri untuk turun ke darat mendapatkan informasi yang lebih baik. Akan tetapi, pimpinan ekspedisi menganggap rencana ini terlalu berbahaya dan menolak usul itu. Bulan Agustus semakin mendekati penghujungnya dan Ekspedisi Militer itu belum melakukan apa-apa. Kapal-kapal uap di armada itu hilir-mudik menambang kapal-kapal layar yang besar melewati gundukan-gundukan pasir di sungai.

1 September. Pimpinan ekspedisi, Kapten Backerus dan 20 orang ‘flankeur’ (anggota-anggota infanteri yang bertugas mendampingi dan menjaga garis belakang) pindah ke kapal Bennet. Kapal itu bergerak melewati beberapa pulau. Para perwira dan petinggi di kapal itu meneliti kecermatan dan ketepatan peta mereka. Di kejauhan, mereka melihat kraton Sultan. Kemunculan mereka tertangkap mata oleh orang-orang di darat, dari pertahanan Sultan yang pertama. Orang-orang itu melepas beberapa tembakan ke kapal Belanda itu. Kapten kapal Bennet memutar kemudi dan mereka kembali lagi ke tempat mereka semula berlabuh.

Pagi-pagi tanggal 2 September, kapal terakhir bergabung dengan armada. Dua puluh empat kemudian, seluruh armada bergerak bersama sampai ke dekat kota Djambi. Seseorang diutus turun ke darat untuk menyampaikan manifes kepada Sultan.

Dari tempat mereka melepas sauh, kota Djambi tampak menarik. Di tepian, terlihat rumah-rumah di atas tiang berlatar belakang hijau pepohonan dan belukar. Di atas kraton, bendera Sultan berkibar. Di seberang sungai, di tepian kanan, tampak beberapa pertahanan. Di tepian kiri, di atas beberapa rumah, berkibar bendera-bendera putih. Di mana-mana tampak penduduk sibuk membangun benteng dan pertahanan lainnya.

Sambil menunggu tanggapan Sultan, pimpinan ekspedisi mengatur rencana penyerangan: pasukan-pasukan akan turun dari kapal di gundukan pasir di sungai dan kemudian terus ke darat. Lalu, melalui hutan, mereka akan mencoba mendekati bagian belakang pertahanan Sultan di tepian. Setelah pertahanan ini ditaklukkan, mereka akan terus merangsek ke kraton. Sementara itu, dari atas kapal, pertahanan-pertahanan itu ditembaki dengan gencar supaya pasukan yang di darat mendapat waktu melakukan penaklukkan.

Rencana yang rinci adalah sebagai berikut: satu jam sebelum matahari terbit, perwira-perwira rendah dan awak kapal Cornelia Mathilda akan dibawa ke darat oleh enam buah sekoci dari kapal-kapal dagang, dua perahu bersenjata dan kapal Bennet. Setelah mereka, kapal Bennet kemudian mengantarkan para perwira, detasemen artileri dan mortir-mortirnya serta pasukan musik dari kapal Regina Maris, sementara sekoci-sekoci mengantarkan para perwira rendah dan serdadu-serdadu mereka. Divisi darat Marinir yang terdiri dari 4 perwira, 110 perwira rendah dan pasukan mereka (di bawah pimpinan Letnan-laut van der Hegge Spies) mendarat dengan kapal-kapal sendiri. Para kuli diantarkan ke darat oleh perahu-perahu Soengsang.

Kompi ke-3 membuka jalan di garis depan. Mereka bertugas di hutan. Kompi pertama bertugas di gundukan pasir di sebelah kanan dan kompi keempat yang merupakan pasukan penutup, bertugas di gundukan pasir sebelah kiri. Yang ditugaskan di garis depan adalah dua orang perswira staf, detasemen ‘sappeur’ (yang bertugas atas konstruksi dan infrastruktur espedisi) serta artileri dari pasukan infanteri. Perbekalan dan ambulans dikawal khusus oleh peleton pertama pasukan-pasukan penutup. Seorang perwira medik ditugaskan untuk mendampingi setiap bagian.

Dalam perencanaan rinci itu ditentukan pula: setiap orang dibekali beberapa roti keras dan satu kali ransum daging yang sudah masak. Pada hari pendaratan, koki di kapal menyiapkan masakan (Jadi, setidak-tidaknya setiap orang yang bertugas, meninggalkan kapal dengan perut kenyang!).

Ketentuan penting yang lain adalah: seluruh aksi pendaratan dilakukan dalam diam. Tidak diperkenankan menggunakan atau membunyikan genderang, terompet atau sangkakala atau pun jam.

*Pustaka Acuan: WA van Rees. Eenige Krijgstogten op de Buitenbezittingen. Arnhem: DA Thieme. 1866. (Hal. 159-176).


Tag : #Telusur #Ekspedisi Militer Belanda ke Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Senin, 26 Oktober 2020 16:58 WIB

Di Mandiangin, Tim Haris-Sani Tak Gentar Berjuang dan Tim Koalisi Partai Makin Solid


Kajanglako.com, Sarolangun - Tim Pemenangan Haris-Sani Kecamatan Mandiangin, tak gentar berjuang untuk Haris-Sani meski di Sarolangun terdapat kandidat

 

Pandemi Covid 19
Senin, 26 Oktober 2020 16:23 WIB

Vaksin yang Paling Umum Dicari Saat Covid-19


Kajanglako.com - Pemberian vaksin memang harus diperhatikan, tidak hanya untuk balita atau anak-anak namun juga untuk orang dewasa. Sistem imun sebetulnya

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Senin, 26 Oktober 2020 16:15 WIB

Fachrori-Syafril Siap Libatkan Perguruan Tinggi Bangun Jambi


Kajanglako.com, Jambi – Bersama Fachrori Umar, Calon Wakil Gubernur Jambi Syafril Nursal menyatakan akan melibatkan Perguruan Tinggi, dalam pembangunan

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Senin, 26 Oktober 2020 16:04 WIB

Program Unggulan Cek Endra-Ratu Munawaroh, Misi #1


Kajanglako.com, Jambi – Mewujudkan Jambi CERAH 2024, menjadi visi besar pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jambi, Cek Endra – Ratu

 

Jelang Pilgub Jambi 2020
Senin, 26 Oktober 2020 14:04 WIB

Visi Misi Jambi Berkah: Kemajuan dan Kesejahteraan Masyarakat Jambi


Kajanglako.com, Jambi – Debat pertama Calon Gubernur pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jambi tahun 2020, yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan