Selasa, 12 Desember 2017
Pencarian


Kamis, 16 November 2017 08:19 WIB

HIKAYAT NEGERI JAMBI: Struktur dan Sumber Naskah Kesejarahan Melayu Abad XIX1 (Bagian II)

Reporter :
Kategori : Jejak

Naskah Sejarah Kerajaan Jambi

Oleh: Sergei Kukushkin*

Naskah kesejarahan Melayu punya dua fungsi. Pertama, menjabarkan darah ningrat dan legitimasi sebuah dinasti. Kedua, narasi itu disusun sedemikian rupa untuk mengungkapkan makna tersembunyi dari berbagai peristiwa dan hakikat tak terlihat yang bekerja di bawah permukaan yang kasat mata (Braginsky 1983: 101-102). Bagian pertama biasanya berisi mitos tentang asal-usul dinasti yang sedang berkuasa, berdasarkan mitos lokal tentang kesatuan langit (matahari), air, dan bumi. Ini membuat dinasti yang sedang berkuasa tampak sebagai penjelmaan tata kosmik dan tata sosial. Dengan demikian, melegitimasikan haknya untuk menguasai seluruh subyeknya. Bagian kedua memaparkan periode sejarah. Bagian ini memuat daftar penguasa dan kebijakan-kebijakan mereka, dilengkapi dengan laporan peristiwa-peristiwa terpenting yang terjadi pada rezim masing-masing. Pemilihan peristiwa mana yang diceritakan,  dan bagaimana hubungan antarperistiwa itu, tergantung pada kemauan pengarang sendiri.



Pada kasus HNJ, pengarang di dalam benaknya memiliki ide terutama tentang relasi hulu-hilir dalam kerajaan Jambi.9 Pendek kata, hakikat relasi itu adalah dominasi ekonomi-politik orang-orang asing yang berasal dari hilir terhadap penduduk asli yang bermukim di hulu, dan segala hal yang merupakan akibat dari situasi tersebut. Karena pengarang HNJ termasuk orang-dalam istana, ia punya hubungan yang kuat dengan dinasti yang sedang berkuasa, dan karena itu, salah satu tugasnya adalah membuktikan legitimasi dan hak dinasti itu untuk menguasai seluruh wilayah Jambi. Situasinya, bagaimana pun juga, lebih kompleks lagi. Bagian akhir HNJ mengandung keterangan yang lebih relevan dengan situasi politik di Jambi pada masa disusunnya hikayat itu, dan yang menggunakan pendekatan relasi hulu-hilir dari sudut pandang yang lain.10

Tidak kurang pentingnya tugas pengarang HNJ yang kedua. Pertama, memposisikan Jambi dalam ruang dan waktu. Maksudnya, menempatkan Jambi di antara kerajaan-kerajaan yang terkuat di sekitarnya—bahkan bila kekuatan mereka telah lama melemah dan pada waktu itu telah menjadi legenda belaka—yaitu Malaka, Johor, dan Mataram (dalam HNJ, yang disebut sebagai Mataram adalah Jawa dalam seluruh periode sejarahnya). Kedua, mengaitkan Jambi dengan keagungan masa lalu. Jadi, secara magis mencoba menjamin terwujudnya keagungan masa depan.

Sekarang, mari kita perhatikan bagaimana pengarang menggunakan legenda-legenda lokal untuk membangun narasinya.

Bagian pertama, oleh pengarang diberi judul Hikayat Tun Telanai, hampir independen dari bagian-bagian HNJ lainnya. Bagian ini terhubung dengan bagian HNJ lainnya hanya ketika pengarang menyebutkan kerajaan Tun Telanai yang didiami kembali oleh Puteri Pinang Masak saat ia meninggalkan Minangkabau. Tetapi, di dalam cerita-cerita rakyat, Tun Telanai sering disebut bersama dengan Puteri Pinang Masak, sebagai seorang peminang yang gagal, yang terperdaya oleh muslihat Sang Puteri. Tun Telanai tidak mampu memenuhi persyaratan yang diajukan oleh Sang Puteri, yakni membangun sebuah istana dalam waktu satu malam. Dalam salah satu cerita rakyat, setelah gagal meminang Sang Puteri, Tun Telanai mengangkat Sang Puteri sebagai anak perempuannya. Kemudian Sang Puteri menjadi ratu dan menikah dengan Datuk Paduka Berhala untuk mulai membentuk dinasti (Andaya, 1993: 2012). Dalam cerita rakyat yang lain, setelah gagal membangun istana dalam satu malam, Tun Telanai merasa frustasi, dan menendang istana yang belum rampung itu. Istana itu roboh seketika. Batu-batunya jatuh di dekat Muara Tebo pada sebuah tempat bernama Kampung Candi, yaitu Kampung Percandian Hindu (Kahar dkk., 1980/1981: 71-72). Dalam cerita rakyat yang sama—rupanya merupakan sebuah campuran dari dua cerita berbeda—kisah itu disambung dengan: “Setelah itu, Tun Telanai punya seorang anak...”, kemudian dihubungkan dengan kisah putera Tun Telanai (tak disebutkan siapa ibunya) yang ditakdirkan akan membunuh ayahnya, dengan detail yang sama seperti di dalam HNJ.

Di dalam HNJ, hubungan antara kisah Tun Telanai ini dengan sisa-sisa peradaban Hindu juga dibangun dengan jelas. Bekas ibu kota kerajaan Tun Telanai dinyatakan masih tampak di Jambi.11 Baru setelah berdoa kepada dewa Hindu, istrinya memperoleh seorang anak. Tun Telanai sendiri bermain catur dengan salah seorang pengawalnya, Si Pahit Lidah. Pion catur yang mereka pakai terbuat dari batu, dan disebutkan bahwa satu set perlengkapan catur yang sama disimpan di dalam istana Sultan yang tengah berkuasa. Tak jauh dari ibu kota Jambi, terdapat salah satu jejak peninggalan agama Hindu: empat batu prasejarah yang oleh penduduk setempat dinamakan batu catur (empat batu, atau batu catur), untuk menjelaskan bahwa pada masa lalu para raja menggunakan batu-batu itu untuk bermain catur.12

Dalam sebuah cerita rakyat, di mana anehnya Si Pahit Lidah adalah perempuan yang tergila-gila pada Raja Banting, seorang Jawa, Tun Telanai menjadi putera raja ini. Tun Telanai datang ke Jambi dalam rangka mencari Raja Banting dan membunuh ayahnya itu karena Sang Raja enggan pulang ke Jawa (Kearifan 1993: 127-129).  Disebutkan, kisah ini berasal dari seorang lelaki yang pernah bekerja sebagai juru tulis di istana Jambi. Editornya menambahkan:

... cerita tentang Tun Telanai ini ada yang menceritakan bahwa dia adalah seorang anak yang durhaka, membunuh ayahnya sendiri, ibunya berasal dari Siam bapaknya dari India merantau ke Jambi.13

Hikayat Tun Telanai menggambarkan tokoh Tun Telanai. Pada satu sisi, ia adalah raja Jambi dan nenek moyang rakyat Jambi yang digdaya. Tetapi pada sisi yang lain, ia dihubungkan-hubungkan dengan peradaban Hindu masa lampau dan tidak mempunyai masa depan. Inilah sebabnya mengapa HNJ menyebutkan bahwa orang-orang Siam14 membawa seluruh rakyat Jambi ke negeri mereka dan meninggalkan kerajaan itu dalam keadaan tak berpenghuni. Dalam pandangan masyarakat Melayu abad XIX, peradaban Hindu masa lampau tampak amat jauh jaraknya, jika bukan dianggap tidak ada lagi. Bahkan, ketika beberapa cerita rakyat mengisahkan bahwa Tun Telanai tidak lenyap sama sekali ataupun tidak dibunuh, dia mewariskan kerajaannya, tidak kepada keturunan kandungnya, tetapi kepada anak perempuan angkatnya, dan di Jambi ia tidak meninggalkan sesuatu pun kecuali kisah jejak langkah dan legendanya.

Masa lampau ini ditulis menurut konvensi sejarah, jika bukan konvensi sastra. Kebanyakan naskah kesejarahan, mulai dari Sejarah Melayu hingga Hikayat Merong Mahawangsa, mencantumkan deskripsi periode Hindu, tetapi di dalam HNJ deskripsi itu tidak dalam bentuk mitos asal-usul (the myth of origin), melainkan dalam bentuk yang lebih menyerupai hikayat petualangan dengan formula dan motif konvensionalnya, dengan awal dan akhir yang pasti, dengan demikian benar-benar menciptakan jarak antara kedua bagian narasi itu, yaitu antara bagian pertama, Hikayat Tun Telanai, dengan bagian kedua, Hikayat Orang Kaya Hitam.

Periode selanjutnya bermula dari hal yang baru, yang sungguh berbeda tokoh dan latarnya. Satu-satunya kaitan antara bagian pertama dan kedua HNJ adalah Puteri Pinang Masak. Di dalam cerita rakyat, ia dihubung-hubungkan dengan Tun Telanai maupun Datuk Paduka Berhala. Di dalam HNJ, ia dihubungkan, meskipun secara tak langsung, dengan Tun Telanai (dengan menempati daerah yang pernah Tun Telanai kuasai) dan dengan Datuk Paduka Berhala (dengan menikahi salah seorang keturunannya).

Datuk Paduka Berhala, yang di dalam cerita rakyat ataupun di dalam HNJ dikatakan sebagai pangeran yang berasal dari Turki (Rum), dikenal oleh orang Minangkabau (dengan gelar Suri Maharaja Di Raja), sebagai salah satu penguasa Hindu mereka dahulu kala (Westenenk, 1916: 245, 255). Di dalam inskripsi Melayu Minangkabau yang berasal dari pedalaman Kerinci yang ditulis pada tanduk kerbau dengan aksara rencong Sumatera Selatan, Paduka Berhala disebut sebagai nenek-moyang penduduk Padang Panjang, yaitu Minangkabau, dan cucunya bernama Puteri Unduk Pinang Masak, sedangkan saudaranya bernama Perpatih Nan Sebatang, seorang pahlawan Minangkabau (Westenenk, 1922). Sang Puteri harus meninggalkan kampung halamannya dan mengadakan perjalanan berkeliling, pertama kali bersama ibunya, kemudian sendirian. Tampaknya, ide puteri Minagkabau yang merantau, dibutuhkan oleh orang Melayu Jambi untuk menguatkan klaim mereka demi menguasai wilayah hulu. Sejauh ini, saya belum menemukan bukti yang mendukung asumsi ini dalam sumber-sumber Minangkabau. Orang Minangkabau terkenal karena adat merantau mereka, tetapi para perantau itu adalah laki-laki, sedangkan hak waris tanah dan properti dipindahtangankan melalui garis perempuan.

Dalam berbagai cara pengungkapan, Datuk Paduka Berhala dan keturunannya mirip dengan Iskandar Zulkarnain, leluhur legendaris sultan-sultan Malaka serta anak-cucunya. Seperti Iskandar, Datuk Paduka Berhala datang dari Byzantium.15 Seperti Sang Sapurba, Datuk Paduka Berhala, seorang asing, menikahi puteri pemimpin setempat, Demang Lebar Daun. Dengan demikian, membangun ikatan dengan dunia Melayu. Seperti Sultan Mansur Shah, Orang Kaya Hitam menikahi puteri raja Jawa,16 memastikan kemerdekaan dan kedudukan sederajatnya dengan kerajaan yang kuat itu.

Baik di dalam HNJ atau pun di dalam cerita rakyat, Orang Kaya Hitam adalah sosok yang pertama kali memerintahkan penghentian pengiriman upeti ke Mataram. Ini menunjukkan terjadinya perkembangan kekuatan pertahanan kerajaan karena ibu kotanya pindah menjauh dari laut dan mendekat ke daerah pedalaman. Sejak peristiwa penghentian pengiriman upeti itu, perpindahan ibu kota lebih ke hulu mendominasi narasi. Masing-masing penguasa berikutnya, terus memindahkan ibu kota ke arah hulu, hingga memuncak pada pernikahan cucu Datuk Paduka Berhala dengan Puteri Pinang Masak; pasangan itu membangun ibu kota kerajan mereka di wilayah yang dahulu kala menjadi kerajaan Tun Telanai—di mana Telanaipura, ibu kota Provinsi Jambi saat ini, terletak. Wilayah ini dapat disebut sebagai tanah tak bertuan. Kerajaan yang baru dibangun itu diperintah oleh seorang lelaki dari hilir dan seorang perempuan dari hulu (Minangkabau). Dengan demikian, mengukuhkan hak anak-cucu mereka untuk menguasai seluruh teritorial Jambi. Selanjutnya, kami menemukan maksud diceritakannya pernikahan ini, yaitu ketika generasi berikutnya memulai ekspansi baru ke wilayah hulu dan bertemu dengan Yang Dipertuan Minangkabau di Semalidu—yang mengakui mereka sebagai cucunya sendiri—untuk menetapkan batas di antara dua kerajaan itu. Ketika penguasa Jambi sampai pada wilayah perbatasan mereka dan menetapkan ibu kota baru yang permanen, kodrat relasi hulu-hilir berubah: sejak itu, wilayah hulu mengabdi tidak sebagai obyek ekspansi atau daerah jajahan, tetapi sebagai daerah yang menyokong penguasa (atau leluhurnya) ketika berlangsung konflik dengan kekuatan eksternal atau dengan kekuatan di dalam dinasti itu sendiri. Pada saat yang sama, relasi hulu-hilir itu berhenti mendominasi narasi, dan tema pokok HNJ berganti menjadi (1) susunan struktur kerajaan dan (2) relasi eksternal dengan Johor, Palembang, dan Belanda.

Pada bagian awal HNJ, deskripsi relasi Jambi dengan kerajaan lain terbatas pada perjalanan Orang Kaya Hitam ke Mataram. Petualangannya di sana menjadi bahan baku dari beberapa legenda yang menceritakan kisah tersebut secara lebih rinci daripada HNJ. Tetapi sebagai legenda dan teks sastra, esensi semua cerita itu sama: Jambi menolak menyerahkan upeti ke Jawa, penguasanya pergi ke sana, menikahi seorang puteri Jawa, dan mendapatkan sebuah keris sakti yang menjadi pusaka suci keluarganya. Motif yang sama kita temukan di dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah, walaupun di dalam kedua naskah itu Sultan Malaka-lah yang menikahi sang puteri, sementara seluruh pertempuran dijalankan oleh Hang Tuah yang mendapatkan keris sakti.

Di dalam HNJ, segalanya dijalankan oleh Orang Kaya Hitam sendiri. Kedua saudaranya yang menemaninya pergi ke Jawa, melulu beraksi sebagai penonton ketika Orang Kaya Hitam mengamuk dan ketika ia berdamai dengan Sultan Mataram, itu pun jika mereka dianggap beraksi. Agaknya, sekembalinya dari Jawa, Orang Kaya Hitam menjadi lebih kuat daripada Mansur Shah, Sultan Malaka. Ia tidak hanya menikahi seorang puteri Jawa, yang mengukuhkan persahabatan dengan kerajaan yang kuat dan mengancam ini, tetapi juga memperoleh sebuah keris sakti, dua tombak, dan sebuah pedang. Di antara senjata-senjata itu, kerislah yang paling penting karena dalam segala hal keris itu persis seperti Taming Sari-nya Hang Tuah: pada mulanya keris itu ditempa untuk membunuh Orang Kaya Hitam, tetapi ia malah memperoleh senjata mematikan itu, kemudian keris itu menjadi sarana yang memuluskan keberhasilannya. Hang Tuah, setelah menjadi prajurit yang kuat, menjadi benar-benar tidak terkalahkan. Orang Kaya Hitam, setelah menjadi menantu Sultan Jawa, menaklukkan wilayah hulu hingga Muara Tembesi—hampir setengah dari panjang Sungai Batang Hari; dengan demikian, meletakkan landasan substansial untuk ekspansi berikutnya.

Pencarian pusaka tersebut mencapai puncaknya pada fasal keempat. Panembahan Di Bawah Sawah, penguasa legendaris terakhir dan ayah tokoh sejarah pertama di dalam HNJ, memperoleh sebuah meriam keramat, gong, dan tombak dari roh leluhur setempat ketika ia kembali dari perjalanannya dari hulu, di mana ia telah membuat perjanjian dan manandai perbatasan wilayah dengan orang-orang Minangkabau. Pada tokoh ini, terangkum seluruh motif konseptual HNJ. Ia merupakan keturunan seorang pangeran muslim, seorang pemimpin Melayu, seorang sultan Jawa, dan seorang penguasa Minangkabau. Ia tinggal di kerajaan yang dulu pernah didiami rakyat lokal di mana masih terdapat sisa-sisa peradaban Hindu. Ia membangun ibu kotanya di antara hulu dan hilir sungai Batang Hari. Ia memiliki pusaka dari Jawa dan dari roh leluhur setempat. Puterinya menikah dengan penguasa Johor dan puteranya menikmati kemenangan dalam peperangan melawan kesultanan yang kuat ini.17 Namun demikian, puteranya tidak saja menjadi pemenang perang, tetapi juga menyaksikan kedatangan Belanda, dan kecewa berat dengan sahabatnya itu karena Sultan yang sedang berkuasa ditangkap dan dibuang ke Batavia.

Rupanya, saat menyusun narasinya, kepala pengarang HNJ disesaki dengan semua konsep dan peristiwa itu. Dalam menyusun HNJ, ia menggunakan mitos dan legenda lokal, dan mencari inspirasi dari Sejarah Melayu dan naskah kesejarahan Melayu lainnya.

*Artikel ini merupakan terjemahan Widodo, mahasiswa tingkat akhir Universitas Taman Siswa Yogyakarta atas tulisan Sergei Kukushkin yang berjudul Hikayat Negeri Jambi: The Structure and Sources of A Nineteenth-Century Malay Historical Work, diterbitkan dalam jurnal Indonesia and the Malay World, Vol. 32, No, 92, Maret 2004, hlm. 53-61.

Oriental Centre Russian State Library

3/5 Vozdvizhenka Street

Moscow, Russia 119019


Tag : #Jambi #sumatra #Nusantara #Naskah Melayu Jambi #Hikayat Negeri Jambi



Berita Terbaru

 

Senin, 11 Desember 2017 23:27 WIB

Pemayung Masih 'Takut' Gunakan Excavator Bantuan Provinsi, ini Penyebabnya


Kajanglako.com, Batanghari - Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi Jambi sudah memberikan bantuan dua Excavator mini untuk dua kecamatan di Kabupaten

 

Senin, 11 Desember 2017 23:15 WIB

Bank Indonesia Terbitkan Ketentuan Penyelenggaraan Teknologi Finansial


Kajanglako.com - Bank Indonesia (BI) menerbitkan ketentuan penyelenggaraan teknologi finansial untuk mendorong lahirnya berbagai inovasi dan mendukung

 

Pertemuan Bakohumas se-Provinsi
Senin, 11 Desember 2017 23:03 WIB

Melalui Bakohumas, Zola: Cerdas Menyikapi Berita Hoax


Kajanglako.com, Jambi  - Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli mengemukakan bahwa Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) merupakan saluran penyebaran

 

Senin, 11 Desember 2017 22:37 WIB

Zola Terima Apresiasi dari LPPM IPB


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Zumi Zola menerima apresiasi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor

 

Senin, 11 Desember 2017 22:19 WIB

Pengadaan Sapi Bermasalah, Kontrak CV Minang Vodia Utama Diputus


Kajanglako.com, Batanghari - CV Minang Vodka, selaku rekanan proyek pengadaan sapi gaduhan untuk kelompok tani di Batanghari, kontraknya resmi diputus. Sebelumnya,