Minggu, 09 Agustus 2020


Senin, 20 Juli 2020 07:04 WIB

Pramoedya Ananta Toer

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Ketika diminta memberikan sambutan pada pembukaan pameran lukisan Yos Suprapto di TIM tahun 1994, Pramoedya Ananta Tour antara lain menceritakan bahwa dirinya tidak pernah meminta apapun dari Tuhan. Tuhan, menurut Pram telah memberinya otak dan dua tangan, dan itu sudah cukup. Dengan otak dan dua tangan yang telah diberikan oleh Tuhan itu Pram mengatakan bisa berpikir, bekerja dan dia tidak merasa perlu meminta apa-apa lagi dari Tuhan. Bagi saya, mendengarkan langsung kata demi kata yang diucapkan dengan nada yang jelas dan tegas keluar dari mulut Pramoedya itu, samasekali bukan sebuah kesombongan, apalagi keinginan untuk tidak mengakui adanya Tuhan. Pernyataannya itu memperlihatkan sebuah religiousity yang dalam bahwa sebagai manusia kita harus bersyukur dan wajib menggunakan apa yang telah diberikan oleh Tuhan itu sebaik-baiknya. Sebaik-baiknya bagi Pramoedya saya kira adalah bekerja sekeras mungkin untuk kepentingan masyarakat dan memperbaiki nasib bangsanya.



Pramoedya mungkin masih novelis terbesar yang dimiliki Indonesia. Namanya beberapa kali masuk dalam nominasi penerima hadiah Nobel sastra. Buku Pram terutama tetralogi pulau Buru-nya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) telah berhasil menginspirasi generasi muda meskipun oleh Orde Baru buku-buku itu sempat dilarang karena dianggap mengajarkan komunisme. Sebuah tuduhan yang tidak berdasar dan mencerminkan rendahnya apresiasi terhadap intelektualisme. Dalam menulis tetralogi itu Pram memang secara sadar ingin mewariskan ceritanya untuk generasi muda, agar mereka mengetahui sejarah bangsanya. Pramoedya menulis bukan untuk mengejar keindahan sastrawi namun menggunakan sastra untuk menggugah semangat anak muda akan nasib bangsanya yang sebagian masih mengalami penindasan.

Dalam rubrik Iqra majalahTempo edisi 13-19 Juli 2020, ditampilkan sosok Oey Hiem Hwie, mantan wartawan koran Trompet Masyarakat, seorang Sukarnois, Sekretaris Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (BAPERKI) cabang kabupaten Malang, yang bertemu dengan Pram karena pada akhir 1965 sama-sama ditahan di penjara Nusakambangan dan kemudian satu dek dalam kapal menuju pembuangan mereka ke kamp konsentrasi tapol di Pulau Buru. Di pulau Buru Oey Hiem Hwie adalah orang yang membantu Pram melahirkan tetralogi Pulau Buru. Dikisahkan dalam Tempo itu bagaimana Oey Hiem Hwie mencari kertas dan pensil buat Pram untuk bisa menulis. Kantong semen bekas dia kumpulkan, dia potong menjadi ukuran A4 HVS, untuk menjadi kertas tulis. Pensil dia dapatkan dengan menukar telur ayam hutan melalui petugas yang sering ke kota. Ketika harus menyelundupkan naskah itu dia harus pura-pura menggigil demam, agar tidak digeledah penjaga. Draft Bumi Manusia tulisan tangan Pram di kertas semen itu sekarang bisa disaksikan di perpustakaannya Medayu Agung di Jalan Medokan Ayu Selatan GG IV No 42, Surabaya.

Pramoedya Ananta Toer sepanjang hidupnya telah membuktikan bahwa dia bekerja dengan keras, tidak berhenti menulis meskipun dalam lingkungan  yang tidak hanya tidak bersahabat, tetapi membelenggunya secara fisik. Pramoedya orang yang mengalami di penjara baik pada zaman Sukarno maupun Suharto. Gaya tulisan Pram, di mata saya yang bukan ahli di bidang kesusastraan, mirip narasi etnografis seorang antropolog, deskripsi yang rinci tentang realitas sosial yang dilihatnya. Ketika bercerita tentang peristiwa yang terjadi dalam sebuah episode sejarah seperti yang kita baca dalam tetralogi pulau Buru, meskipun tokoh-tokohnya sebagian adalah rekaannya, namun dia memiliki referensi dari tokoh yang sesungguhnya, misalnya Tirto Adhi Soerjo, yang dalam buku lain yang non-fiksi dia sebut sebagai Sang Pemula.

Blora, tempat lahir dan dibesarkannya Pram, adalah kawasan yang banyak dihuni oleh Sedulur Sikep atau Samin. Samin menjadi sebutan buat Orang Jawa yang mengikuti ajaran Samin Surosentiko. Samin Surosentiko yang oleh Belanda ditangkap karena dianggap memimpin sebuah pembangkangan, antara lain dengan mengajak para pengikutnya untuk tidak mau membayar pajak, kemudian diasingkan sampai meninggalnya (1914) di Sawah Lunto, Sumatera Barat. Dalam sejarah politik, fenomena Samin yang melawan pemerintah kolonial tanpa menggunakan kekerasan adalah sebuah enigma. Samin muncul mendahului gerakan-gerakan perlawanan yang lebih modern. Sejauh yang saya tahu, Pram tidak pernah menyinggung soal Samin Surosentiko dalam tulisan-tulisannya. Saya sendiri merasa bahwa ajaran Samin Surosentiko pada dasarnya memiliki persamaan dengan ajaran-ajaran Jawa yang lain yang menekankan pada etika keselarasan antara manusia dengan sesama maupun dengan alam semesta. Tuhan dalam ajaran Jawa disebutkan sebagai "tan keno kinoyo ngopo", tak terdeskripsikan, undiscribable.

Bagi Pramoedya menulis cerita untuk diwariskan kepada generasi muda bangsanya, saya kira, adalah manifestasi pilihan tingkah laku untuk ikut membangun karakter bangsanya. Dalam sebuah wawancara dia mengatakan tidak ada rasa dendam di hatinya terhadap mereka yang telah memperlakukannya secara kejam selama menjadi tapol. Bagi Pram terlalu rendah harga dirinya jika dia masih menyimpan dendam bagi mereka yang di matanya sudah tidak punya nilai lagi. Jika ada orang yang masih dia hormati, katanya waktu itu, hanya Gus Dur. Presiden Suharto, selalu dia bahasakan sebagai Harto saja, memperlihatkan di matanya sebagai orang yang tidak memiliki harga. Dalam sebuah kunjungan ke rumahnya di Utan Kayu Rawamangun Jakarta Timur (1984) karena dititipi oleh Max Lane gambar cover buku The Earth of Mankind, terjemahan Bumi Manusia yang akan diterbitkan oleh Penerbit Pinguin, sambil tertawa keras Pram menunjuk telinganya yang rusak pendengarannya, katanya karena dipukul popor senjata oleh tentara.

Pram minta agar saya berbicara agak keras karena dia bilang telinganya setengah tuli. Pram sendiri, di sela-sela hisapan rokok kreteknya, berbicara dengan suara keras, tegas dengan sesekali gemertak suara gigi gerahamnya beradu, merefleksikan kekerasan hidup yang dialami. Dalam perjalanan pulang sehabis bertemu Pram saya berkata dalam hati bagaimana orang sekeras itu bisa menulis cerita yang sangat menyentuh hati. Ketika diangkut dengan kapal ke pulau Buru, Oey Hwim Wie menempati dek atas bersama dengan Pramoedya dan para tapol yang digolongkan sebagai kelas ringan, sementara mereka yang digolongkan kelas berat ditempatkan di dek bawah yang lebih sempit dan pengap. Karena selalu bersama-sama itulah Oey Hwim Wie merasa dekat dengan Pram dan bertekat membantu Pram agar bisa menuliskan cerita-ceritanya. Setelah mereka dibebaskan, pada tahun 1979 Pram sempat berkunjung ke Surabaya saat peresmian dibukanya perpustakaan Medayu Agung.

Pram dan Oey Hwim Wie adalah contoh dari ribuan orang yang dipenjara dan  dibuang ke pulau Buru tanpa pernah ada proses pengadilan yang membuktikan apa dan di mana kesalahan mereka. Mereka dianggap sebagai komunis yang tidak bertuhan. Komunisme, yang oleh Orde Baru telah diratakan dengan tanah, alias sudah tidak ada lagi, ternyata setiap tahun masih selalu menjadi bulan-bulanan, dan setiap kali seperti dibunuh kembali. Frans Magnis Suseno, yang telah mendalami Marxisme dan Komunisme dalam kolomnya di Kompas 10 Juli 2020, menulis dengan judul "Komunisme Memang Gagal". Yang terasa aneh, dalam tulisan pendek itu Magnis Suseno menyarankan supaya TAP MPRS Nomor XXV/1966 justru jangan dicabut karena menurut pendapatnya TAP ini mempunyai kekuatan simbolis penting yaitu "menegaskan bahwa di Indonesia tidak ada tempat bagi suatu ideologi dan gerakan politik yang mendasarkan diri pada ateisme". Membaca tulisan ini ingatan saya melayang ke TIM saat Pram menyambut pameran lukisan sahabat saya Yos Suprapto. Bagi saya pernyataan Magnis Suseno ini sungguh sangat mengecewakan. Sebagai orang yang mendalami Etika Jawa dia telah luput memahami agama Jawa dan tidak membaca sejarah. Pernyataan Magnis Suseno tentang komunisme dan ateisme adalah statemen politik yang lebih didasari oleh keyakinan ideologi keagamaannya daripada kearifan yang dilandasi oleh nalar yang memancarkan kecerahan akal budi.

*Peneliti. Seri intelektual publik terbit saban Senin di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #akademia #pramoedya ananta toer #tetralogi pulau buru #oey hwim wie



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Minggu, 09 Agustus 2020 04:39 WIB

Ekspedisi Militer Belanda ke Djambi


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Willem Adriaan van Rees (1820-1898) sebetulnya merupakan perwira militer KNIL yang ditugaskan ke Hindia-Belanda

 

Al Quran Berbahasa Melayu Jambi
Minggu, 09 Agustus 2020 04:36 WIB

Perspektif Moderat dan Ilmiah Penting dalam Penerjemahan Alquran


Kajanglako.com, Kota Jambi-Kementerian Agama mendukung keberagamaan yang moderat dan berbasis ilmu pengetahuan. Produk-produk yang dihasilkan, termasuk

 

Jelang Pilgub 2020
Sabtu, 08 Agustus 2020 20:54 WIB

Cek Endra Bongkar Kelebihan Pasangan CE - Ratu yang Tidak Dimiliki Paslon Lain


Kajanglako.com, Batanghari - Dalam sambutannya saat melantik Tim Pemenangan Jambi Cerah Kecamatan Muara Bulian dan Muara Tembesi, Sabtu (07/08), Cek Endra

 

Jelang Pilgub 2020
Sabtu, 08 Agustus 2020 17:47 WIB

Antusias Terhadap Pasangan CE - Ratu, Ini Target Suara yang di Canangkan Arzanil


Kajanglako.com, Batanghari – Antusias warga serta seluruh Tim Pemenangan Calon Gubernur Cek Endra dan Calon Wakil Gubernur Ratu Munawaroh saat keduannya

 

Jelang Pilgub 2020
Sabtu, 08 Agustus 2020 14:44 WIB

Cek Endra Lantik Tim Pemenangan Jambi Cerah Muara Bulian dan Tembesi


Kajanglako.com, Batanghari - Dengan segala keterbatasan dan protokol kesehatan Covid 19, Calon Gubernur (Cagub) Jambi Cek Endra resmi melantik dan mengukuhkan