Minggu, 09 Agustus 2020


Minggu, 19 Juli 2020 09:47 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (7)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Setelah sekian lama di Jambi, Soury berubah pendapat. Bila awalnya ia tidak berpikir tak banyak komoditi dagang yang dapat diperoleh di Jambi, ia malahan kemudian menaruh harapan besar pada daerah itu sebagai pemasok lada. Rupanya, lada yang tersedia di pasar sebetulnya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang sebetulnya dihasilkan. Petani-petani lada, yaitu orang Minangkabau, terlibat dalam peperangan yang sudah berlangsung selama dua tahun. Sultan Jambi mengirim utusan untuk menengahi pertikaian itu, tapi sia-sia. Akhirnya, ada berita bahwa pertikaian itu sudah dapat diselesaikan dan mereka akan ‘turun’ ke Jambi 1,5 bulan kemudian. Bila itu terjadi, diperkirakan bahwa mereka akan membawa sekitar 20.000 pikul lada sekaligus karena mereka biasanya bersama-sama berangkat melayari Sungai Jambi dan Indragiri naik 100 sampai 150 buah perahu. Setiap perahu sarat bermuatan 150 pikul.



Karena mengetahui rute perjalanan itu, Soury menyarankan agar Kumpeni menempatkan seorang wakil di Indragiri. Awalnya, Soury sempat berniat menempatkan Sterck di Indragiri. Akan tetapi, setelah tahu bahwa Sterck banyak berulah dan kurang bertanggungjawab, ia memilih orang lain, yaitu Hendrick Bruijssens, pedagang di kapal Aeolus. Soury tidak perlu kecewa berharapan besar pada Jambi. Di kemudian hari, ketika karet mulai diekspor, komoditi itulah yang menyokong keuntungan perdagangan lada.

Andries Soury banyak berjasa bagi VOC di Jambi. Selama tiga tahun ia tinggal di daerah itu. Tidak diketahui berapa usianya ketika ia bertugas di sana; bahkan tempat lahirnya pun tidak diketahui pasti. Ketika diangkat sebagai pegawai VOC, tercatat Rotterdam sebagai tempat lahirnya, akan tetapi dalam akta nikahnya, tercatat Delft sebagai tempatnya lahir! Ia tiba di Hindia pada tahun 1609, menjadi Pedagang Pembantu pada tahun 1610 dan setahun kemudian bekerja di Gresik sampai tahun 1615. Pada bulan November 1618, ia mengajukan permohonan berhenti sebagai Pedagang Kepala di Jambi. Gajinya, yang selama ini berjumlah ƒ 100,- per bulan dinaikkan menjadi ƒ 200,- per bulan. Tahun itu juga ia diangkat menjadi anggota Dewan Hindia. Beberapa bulan kemudian, ia meninggalkan nusantara untuk menjadi wakil Gubernur di Coromandel.

Catatan FA: JWJ Wellan menutup artikelnya dengan dua buah lampiran, yaitu salinan surat Abraham Sterck dari Jambi, tertanggal 6 November 1615 dan salinan surat Andries Soury, tertanggal 10 Januari 1616. Kedua buah surat itu kini tersimpan di Arsip Kerajaan Belanda. JWJ Wellan mendasarkan tulisannya pada laporan di dalam kedua surat itu. Untuk kita dan untuk orang Belanda yang hidup di abad ke-21, tak mudah membaca kedua surat itu. Bahasa Belanda abad ke-17 sangat lain dengan bahasa Belanda perempat awal abad-20 ketika Wellan membuat tulisan ini dan berbeda pula dengan bahasa Belanda masa kini. Untunglah, ada Wellan yang membuat transliterasi dan merangkum isinya sehingga kita mendapatkan gambaran—walau sangat minim—mengenai Jambi di abad ke-17 itu. Yang juga adalah gambaran yang diberikannya mengenai persaingan, strategi dan intrik-intrik yang dilakukan para pedagang asing di Jambi pada waktu itu serta dinamika interaksi di antara pedagang-pedagang itu dengan Sultan dan petinggi-petinggi kesultanan.

Wellan meneruskan penelusurannya dan menulis artikel lain mengenai markas dan kiprah VOC di Jambi satu abad kemudian. Artikelnya berjudul ‘De Loge te Djambi in het jaar 1707’. Artikel inilah yang kini akan kita baca bersama.

Di Arsip Kerajaan Belanda di Den Haag tersimpan tiga sketsa markas Belanda di Djambi pada tahun 1701, yaitu: peta markas Kumpeni; denah pagar yang melingkungi markas itu dan sketsa bangunan-bangunan yang terdapat di  markas. Sketsa-sketsa dari Djambi itu merupakan satu-satunya sketsa markas VOC di dunia bagian timur.

Pada tahun 1707, masih saja tak banyak yang diketahui tentang Djambi. Satu-satunya sumber dengan informasi yang agak rinci adalah uraian dari Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie (1917). Di dalamnya tertulis: “Dengan tujuan utama untuk melepaskan diri dari ketergantungan perdagangan pada Bantam, VOC mendirikan kantor di Djambi pada tahun 1616. Kantor itu dipertahankan, dengan jeda sebentar pada tahun 1643, dan kemudian dilanjutkan lagi pada tanggal 20 September 1670 sampai Mei 1680, dan dilanjutkan lagi sampai 1696. Kantor itu terutama memperdagangkan lada dan berbagai hasil hutan. Pada tahun 1643, ditandatangani kontrak pertama dengan Sultan. Pada tahun 1687, VOC berhasil mewajibkan Sultan untuk setia bekerjasama dengan VOC ketika ia meminta bantuan Belanda untuk melawan serangan Radja Djohor dan Sultan Palembang.

Namun awalnya, hubungan di antara Sultan dan Belanda bukanlah hubungan yang bersahabat. Pada tahun 1690, terjadi pembunuhan kepala gudang VOC. Sultan Ingalaga, penguasa pertama dengan gelar Sultan,  yang bertahta pada waktu itu, ditangkap dan putranya, Kijai Gede dinobatkan sebagai penggantinya. Dalam masa pemerintahan penerus Kijai Gede pada tahun 1696, hubungan di antara Kesultanan Djambi dan Belanda menjadi begitu tegang sampai-sampai markas VOC di Djambi ditutup.

Pada tahun 1707, Sultan Djambi rupanya tertarik untuk berhubungan lagi dengan Belanda. Ia mengirimkan utusan untuk menemui Gubernur-Jendral. VOC kembali membuka kantor dan benteng di Moeara Koempih. Pada tahun 1724, benteng itu ditinggalkan lagi. Kemungkinan besar oleh terjadinya pemberontakan melawan Belanda. Sejauh diketahui, baru pada tahun 1833, Belanda kembali ke Djambi. Tak diketahui apa-apa mengenai Djambi di antara tahun 1724 dan 1833.”

*Pustaka Acuan: JWJ Wellan (ed), Abraham Sterck and Andries Sourij. “Onze Eerste Vestiging in Djambi. Naar Oorspronkelijke Stukken,” dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië. Deel 82 (1926), pp. 339-383.


Tag : #Telusur #Sejarah VOC di Jambi #Naskah Klasik Belanda #Kesultanan Jambi #Lada



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Minggu, 09 Agustus 2020 04:39 WIB

Ekspedisi Militer Belanda ke Djambi


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Willem Adriaan van Rees (1820-1898) sebetulnya merupakan perwira militer KNIL yang ditugaskan ke Hindia-Belanda

 

Al Quran Berbahasa Melayu Jambi
Minggu, 09 Agustus 2020 04:36 WIB

Perspektif Moderat dan Ilmiah Penting dalam Penerjemahan Alquran


Kajanglako.com, Kota Jambi-Kementerian Agama mendukung keberagamaan yang moderat dan berbasis ilmu pengetahuan. Produk-produk yang dihasilkan, termasuk

 

Jelang Pilgub 2020
Sabtu, 08 Agustus 2020 20:54 WIB

Cek Endra Bongkar Kelebihan Pasangan CE - Ratu yang Tidak Dimiliki Paslon Lain


Kajanglako.com, Batanghari - Dalam sambutannya saat melantik Tim Pemenangan Jambi Cerah Kecamatan Muara Bulian dan Muara Tembesi, Sabtu (07/08), Cek Endra

 

Jelang Pilgub 2020
Sabtu, 08 Agustus 2020 17:47 WIB

Antusias Terhadap Pasangan CE - Ratu, Ini Target Suara yang di Canangkan Arzanil


Kajanglako.com, Batanghari – Antusias warga serta seluruh Tim Pemenangan Calon Gubernur Cek Endra dan Calon Wakil Gubernur Ratu Munawaroh saat keduannya

 

Jelang Pilgub 2020
Sabtu, 08 Agustus 2020 14:44 WIB

Cek Endra Lantik Tim Pemenangan Jambi Cerah Muara Bulian dan Tembesi


Kajanglako.com, Batanghari - Dengan segala keterbatasan dan protokol kesehatan Covid 19, Calon Gubernur (Cagub) Jambi Cek Endra resmi melantik dan mengukuhkan