Minggu, 09 Agustus 2020


Senin, 13 Juli 2020 15:08 WIB

Herbert Feith

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden yang isinya membubarkan Konstituante dan memutuskan kembali ke Undang-undang Dasar 1945. Konstituante yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil partai peserta Pemilu 1955 saat itu sedang berusaha menyusun UUD yang baru karena UUD 1945 sejatinya bersifat sementara. Tentu ada berbagai faktor yang bermain di balik dikeluarkannya Dekrit Presiden itu. Herbert Feith yang sejak awal tahun 50an sudah bekerja sambil melakukan penelitian di Jakarta untuk disertasinya di Universitas Cornell menganalisa periode sejarah politik sampai keluarnya Dekrit Presiden itu. Di bawah bimbingan George Kahin yang bukunya dianggap monumental Nationalism and Revolution in Indonesia (1952), Herbert Feith seperti melanjutkan periode sejarah pasca kemerdekaan yang ditulis gurunya. Disertasi doktornya tersebut kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 1962 dengan judul The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. 



Dalam sebuah seminar intern di Department of Social and Political Change, Australian National University, Jamie Mackie, ketua departemen saat itu, menyebut Herbert Feith, dengan sedikit sinis,  a secular saint. Herbert Feith sendiri suka memperolok dirinya sebagai "Yahudi Abangan". Jamie Mackie, Herbert Feith juga John Legge, adalah ilmuwan-ilmuwan sosial generasi pertama Australia yang memilih Indonesia sebagai fokus penelitian mereka. Ketiganya, seperti ilmuwan sosial Amerika, mulai menggantikan ilmuwan-ilmuwan sosial Belanda yang meninggalkan Indonesia setelah kemerdekaan. Di antara mereka bertiga mungkin hanya Herbert Feith yang melakukan penelitian sekaligus mendedikasikan diri untuk membantu secara langsung masyarakat Indonesia. Di antara banyak inisiatif yang dilakukannya, adalah dibentuknya sebuah lembaga yang bernama Australian Volunteers International (AVI). Mungkin karena aktifitas sosial yang dilakukannya itulah Jamie Mackie menyebutnya sebagai secular saint.

Herbert Feith, sesuai dengan judul tesisnya, menilai telah terjadi degradasi demokrasi di Indonesia pasca Dekrit Presiden itu. Dalam sebuah resensi terhadap tesis yang kemudian diterbitkan sebagai buku itu, Harry Benda, sejarawan dari Yale University yang meneliti tentang Islam di zaman pendudukan Jepang, mengkritik Herb yang dianggap mengajukan pertanyaan keliru karena beranggapan ada yang namanya demokrasi di Indonesia. Perdebatan antara Herbert Feith dan Harry Benda yang menjadi pembimbing Ong Hok Ham di Yale University, merupakan perdebatan penting dalam studi politik Indonesia , keduanya melihat demokrasi di Indonesia dengan asumsi dan cara pandang yang berbeda.  Debat antara keduanya semula muncul di Journal of Asian Studies (1964, 1965), yang kemudian diterbitkan ulang dalam buku Interpreting Indonesian Politics: Thirteen Contribution to the Debate yang diedit oleh Ben Anderson dan Audrey Kahin (1982).

Sebagai sejarawan Benda menilai Feith tidak memberi perhatian cukup pada sejarah yang bagi Benda penting sebelum demokrasi seperti barang asing dicangkokkan dalam masyarakat Indonesia. Bagi Benda menganggap demokrasi mengalami penurunan seperti menganggap demokrasi telah lama ada. Benda menilai jangan-jangan demokrasi memang sebagai sesuatu yang irrelevant dalam konteks Indonesia. Benda mengkritik mereka yang merasa bahwa demokrasi konstitusional di Indonesia mengalami penurunan berdasarkan kacamata "barat"-nya. Apakah demokrasi di Indonesia bisa dinilai dengan kaca mata "barat", inilah juga menurut Benda problematiknya.

Kedekatan Herbert Feith dengan Indonesia, seperti saya temukan juga pada Ben Anderson, bukan hanya karena Indonesia adalah obyek penelitiannya, tapi lebih dari itu, Indonesia seperti sudah menjadi bagian dari dirinya. Berbeda dengan Anderson yang dicekal dan dilarang masuk Indonesia selama 26 tahun, Feith meskipun juga kritis terhadap Suharto dan Orde-Baru masih bebas keluar masuk Indonesia. Ketegangan hubungan sempat terjadi antara Feith dengan Ben Anderson, Ruth MC Vey dan Frederick Bunnel, setelah Herbert Feith membaca draf  Cornell Paper yang dibagikan dalam lingkungan terbatas. Sebagai bagian dari lingkungan terbatas itu Herbert Feith termasuk dikirimi draf Cornel Paper yang melakukan analisa cepat (preliminary analysis) terutama berdasarkan berita-berita koran yang dapat diakses, dan ketiga penulisnya sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa 1965 sebagai an internal army affairs dan menilai bahwa PKI dan Bung Karno hanya merupakan pihak yang kemudian dikorbankan.

Pangkal ketegangan antara Herbert Feith terutama dengan Ben Anderson dan Ruth Mc Vey, adalah karena Herb dianggap tidak cukup prihatin terhadap para korban, bahkan dalam artikel pendek yang ditulis sebagai komentar terhadap peristiwa 1965 Herb seperti memberikan apologia terhadap militer yang dalam Cornell Paper justru dianggap sebagai  biang kerok tragedi 1965.  Surat RuthMc Vey dan kemudian disusul surat dari Ben Anderson dengan nada keras terhadap pandangan Herb tersebut sangat mengejutkan Herb. Herbert Feith tidak menyangka koleganya di Cornell akan beraksi sekeras itu. Episode ketegangan antara Herb dengan koleganya dari Cornell dalam kasus 1965 itu direkam dengan baik oleh Jemma Purdey yang menulis dengan bagus buku biografi Herbert Feith (2011), From Vienna to Yogyakarta: The Life of Herb Feith.

Herbert Feith meninggal 15 November 2001 saat naik sepeda di perlintasan kereta, saat itu mungkin dia sedang memikirkan sebuah rencana kegiatan baru di Indonesia.  Cara meninggalnya, menurut sahabat-sahabat terdekatnya khas Herb, sederhana, saat bersepeda. Kematiannya yang mendadak merupakan kehilangan besar bagi Indonesia yang saat itu justru sedang menaiki tangga demokrasi.Herbert Feith, seperti juga Ben Anderson; mungkin tidak suka kalau disebut sebagai "Indonesianist". Hubungannya dengan Indonesia meskipun diawali oleh rasa ingin tahu, rasa simpati terhadap orang-orang yang meskipun masih miskin secara ekonomi dipandang sebagai orang-orang yang punya harga diri meskipun mereka tahu sulitnya mengisi kemerdekaan setelah berhasil mengusir penjajah. Herbeth Feith, yang mengungsi mengikuti orang tuanya ke Australia dari represi yang dialami orang-orang Yahudi di bawah fasisme Nazi Jerman,  mengetahui dengan baik arti sebuah kemerdekaan dan kebebasan. Menjelang masa pensiunnya sebagai akademisi Herbert Feith oleh teman-temannya dianggap mulai lebih banyak menggunakan waktunya untuk menjadi aktifis daripada sebagai akademisi. Ketika tentara Indonesia mencaplok Timor Portugis di tahun 1974 Herbert Feith termasuk yang mulai menentang dan mencurahkan sebagian waktunya untuk terlibat dengan advokasi di Timor Timur.

Peristiwa pencaplokan Timor Portugis oleh tentara Indonesia di bawah Ali Moertopo dan Benny Moerdani dengan CSIS sebagai think tank nya, telah membuat orang-orang seperti Herbert Feith dan Ben Anderson, juga tidak sedikit ahli Indonesia lain, seperti sejarawan ahli Diponegoro, Peter Carey dari Oxford University, disappointed dan disillusioned dengan Suharto dan Orde-Baru. Timor Timur memang sejarah buruk Indonesia pasca tragedi politik 1965 yang mengantarkan Suharto dan para jenderalnya menguasai panggung politik Indonesia. Dari 1974 hingga referendum 1999 yang memperlihatkan rakyat Timor Timur memilih merdeka, adalah sebuah sejarah yang menunjukkan bahwa kolonialisme ternyata tidak hanya monopoli bangsa Eropa. Indonesia yang lahir dari perlawanan terhadap kolonialisme ternyata di bawah Suharto dan para jendral dan think tank-nya, terbukti bisa menjadi kolonialis dari bangsa kulit berwarna.

Kecintaan Herbert Feith yang dalam terhadap Indonesia pastilah terluka dengan keputusan Indonesia menjadi kolonialis baru di dunia ketiga. Seperti dia juga terluka ketika Presiden Sukarno membubarkan konstituante dan mengeluarkan Dekrit pada tanggal 5 Juli 1959, 60 tahun yang lalu. Mungkin yang membuat Herbert Feith tidak patah hati terhadap Indonesia karena dia tahu Indonesia tidak identik dengan Sukarno, atau Suharto; yang keduanya pasti mengecewakan hatinya. Kecintaan Herbert Feith tidak pupus terhadap Indonesia karena, saya menduga, cinta dan simpatinya adalah pada "rakyat" Indonesia, pada orang-orang biasa, pada orang Indonesia pada umumnya. Hati dan simpatinya sepenuh dan setulusnya pada orang-orang Indonesia yang berharap kemerdekaan dari kolonialisme Belanda betul-betul menjadi jembatan emas menuju masyarakat yang adil dan makmur.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku, dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Herb Feith #Cornell Paper #Dekrit Presiden Sukarno



Berita Terbaru

 

Sejarah Jambi
Minggu, 09 Agustus 2020 04:39 WIB

Ekspedisi Militer Belanda ke Djambi


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Willem Adriaan van Rees (1820-1898) sebetulnya merupakan perwira militer KNIL yang ditugaskan ke Hindia-Belanda

 

Al Quran Berbahasa Melayu Jambi
Minggu, 09 Agustus 2020 04:36 WIB

Perspektif Moderat dan Ilmiah Penting dalam Penerjemahan Alquran


Kajanglako.com, Kota Jambi-Kementerian Agama mendukung keberagamaan yang moderat dan berbasis ilmu pengetahuan. Produk-produk yang dihasilkan, termasuk

 

Jelang Pilgub 2020
Sabtu, 08 Agustus 2020 20:54 WIB

Cek Endra Bongkar Kelebihan Pasangan CE - Ratu yang Tidak Dimiliki Paslon Lain


Kajanglako.com, Batanghari - Dalam sambutannya saat melantik Tim Pemenangan Jambi Cerah Kecamatan Muara Bulian dan Muara Tembesi, Sabtu (07/08), Cek Endra

 

Jelang Pilgub 2020
Sabtu, 08 Agustus 2020 17:47 WIB

Antusias Terhadap Pasangan CE - Ratu, Ini Target Suara yang di Canangkan Arzanil


Kajanglako.com, Batanghari – Antusias warga serta seluruh Tim Pemenangan Calon Gubernur Cek Endra dan Calon Wakil Gubernur Ratu Munawaroh saat keduannya

 

Jelang Pilgub 2020
Sabtu, 08 Agustus 2020 14:44 WIB

Cek Endra Lantik Tim Pemenangan Jambi Cerah Muara Bulian dan Tembesi


Kajanglako.com, Batanghari - Dengan segala keterbatasan dan protokol kesehatan Covid 19, Calon Gubernur (Cagub) Jambi Cek Endra resmi melantik dan mengukuhkan