Selasa, 14 Juli 2020


Sabtu, 27 Juni 2020 15:46 WIB

Pancasila dan Ketakutan-ketakutan di Sekitar Kita

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Seorang teman mengirimkan rekaman orasi Yudi Latief yang disampaikan pada acara  Haul ke-13 wafatnya intelektual Islam Indonesia paling terkemuka, Nurcholis Madjid (https://youtu.be/YDWbazEERNc). Di orasi yang cukup singkat itu saya melihat dan mendengar bagaimana satu persatu dari kelima sila dalam Pancasila ditafsir melalui kaca mata Islam, atau bisa juga dilihat sebaliknya, bagaimana Islam ditafsir melalui kaca mata Pancasila. Hasilnya menurut pendapat saya sebuah sintesa yang luar biasa mencerahkan. Sebagai seorang warganegara saya bersyukur ada intelektual muda Islam yang menekuni Pancasila secara mendalam dengan komitmen pencarian agenda masa depan kebangsaan seperti Yudi Latief. Bagi saya substansi orasi Pancasila melalui YouTube itu menepis dan mengobati gejala ketakutan-ketakutan yang diam-diam kita idap sebagai sebuah bangsa.



Kita mendapatkan pencerahan bahwa Pancasila bukanlah sekadar sebuah kompromi atau ideologi gado-gado untuk meredakan terjadinya konflik politik, terutama karena ada sebagian kalangan Islam yang masih menginginkan sebuah ideologi yang lebih tegas  menonjolkan keislaman. Orasi itu menegaskan bahwa keinginan untuk menolak Pancasila  sesungguhnya tidak punya lagi dasar pijak. Namun yang juga tidak kalah penting dari orasi itu adalah masih kuatnya kekhawatiran sebagian kalangan nasionalis bahwa Pancasila harus diwujudkan dalam sebuah undang-undang. Undang-undang yang menegaskannya sebagai haluan negara dan mengatur bagaimana lembaga-lembaga negara dan pemerintah bekerja agar tidak menyeleweng dari Pancasila. Keinginan seperti ini adalah kekonyolan yang hanya akan berakibat pada pengkerdilan dan pemfosilan Pancasila.

Orasi Yudi Latif sangat penting karena berhasil menempatkan Pancasila sebagai landasan filosofis sebuah negara yang bernama Indonesia yang memiliki konfigurasi sosio-geografis dan sejarah politik yang berbeda dengan negara-negara lain. Islam adalah sebuah agama besar yang dianut oleh warga dari berbagai bangsa dan negara, dan meskipun di Indonesia dianut oleh mayoritas penduduk, menurut Yudi Latief tidak berarti membuatnya memiliki klaim untuk menentukan ideologi bangsa, mengingat bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Indonesia membutuhkan sebuah ideologi yang mampu mempersatukan keragaman itu dalam sebuah landasan yang menjunjung tinggi prinsip kesetaraan dan keadilan sosial.

Uraiannya tentang sila pertama, dengan memberi makna kata "esa" dengan tafsirnya yang mengacu pada pandangan-pandangan berbagai tradisi agama, tidak hanya Islam, memperlihatkan erudisinya yang menukik dalam sekaligus mengangkat ke ketinggian makna ketuhanan dari pemahaman yang saat ini terkesan wantah dan dangkal. Pancasila  sebagaimana pertama kali dipidatokan oleh Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI kita tahu memang kemudian bergulir dan berproses sampai pada bentuk tekstualnya yang kita kenal dan pakai sekarang. Proses perkembangan dan perubahan teks Pancasila memantulkan proses negosiasi politik yang terjadi dan penafsiran terhadap teks Pancasila mau tidak mau mengharuskan kita untuk selalu kembali pada konteks negosiasi politik itu. Kelebihan Yudi Latief dalam memberikan penafsiran adalah mengartikulasikannya sebagai sebuah tantangan yang dihadapi hari ini. Sebuah tantangan yang wajar jika tidak sepenuhnya terbayangkan oleh Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945, tiga perempat abad yang lalu, sebelum terjadinya Perang Dingin, Peristiwa 1965, kejatuhan dirinya, Orde Baru, runtuhnya Tembok Berlin, War on Terror, revolusi teknologi informasi, global warming dan sekarang krisis akibat pandemi Covid-19.

Kedangkalan dan kewantahan dalam menafsirkan Pancasila inilah yang ingin dijebol oleh Yudi Latief dalam orasi yang disampaikan dalam Haul ke-13 Nurcholis Madjid yang salah satu kredo yang dicetuskannya pada awal tahun 1970an berbunyi “Islam Yes and Partai Islam No”. Nurcholis Madjid seperti Yudi Latief sekarang sangat menyadari tantangan besar yang dihadapi oleh sebuah republik yang mayoritas warga negaranya memeluk agama Islam adalah Islam. Keduanya, seperti juga mendiang Gus Dur dan  intektual Islam sepuh kita Buya Syafii Maarif; mengerti dengan baik sebuah bahaya besar ketika Islam berubah sebagai sebuah ideologi politik yang diusung oleh partai Islam. Islam bagi Nurcholis Madjid, Gus Dur, Buya dan Yudi Latief harus diangkat ke ketinggian sehingga mampu melihat hutan tidak hanya sibuk berkutat melihat pohon-pohon. 

Partai Islam sebagai pengejawantahan Islam tidak lain adalah bentuk politisasi Islam, pengkerdilan Islam sekadar sebagai alat mobilisasi politik. Islam sebagai partai politik ditolak Nurcholis Madjid dan Yudi Latief, juga saya kira Gus Dur dan Buya Syafii, karena mencerminkan kedangkalan memaknai Islam dan kegagalan menempatkan Islam sebagai sumber nilai-nilai luhur yang memancar dari ketinggian dan mencerahkan siapapun yang berada di bawahnya. Setiap upaya untuk menginstitusionalisasikan Islam sebagai bagian dari kerja-kerja politik dalam masyarakat selalu beresiko meredusir Islam dalam fungsinya hanya sebagai sebuah instrumen politik. Instrumentalisasi Islam mungkin memang tidak terhindarkan namun baik Nurcholis Madjid maupun Yudi Latief mengingatkan untuk selalu kembali menempatkan Islam dalam kedudukannya sebagai sumber pencerahan di ketinggian itu.

Seperti halnya Islam sebagai sebuah sumber pencerahan yang harus ditarik ke atas, ke sebuah ketinggian, Pancasila menurut Yudi Latief juga harus ditempatkan dalam ketinggian untuk bisa menerangi apa saja yang terletak di bawahnya. Sejak pertama kali dipidatokan oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 hingga hari ini Pancasila akan selalu  berada dalam berbagai tegangan politik, dan kita tahu ada saat- saat ketika tegangan politik tertarik terlampau ke kiri atau terlalu ke kanan. Dalam pergerakan pendulum politik yang bersifat horizontal itu Pancasila akan selalu menghadapi resiko untuk didegradasi sekadar sebagai instrumen untuk kepentingan politik jangka pendek. Instrumentalisasi Pancasila bisa dilihat dalam dua bentuk, yang pertama mengkonstruksinya sebagai mitos dan kedua sebagai petunjuk praktis dalam tingkah laku sehari-hari.

Sebagai mitos Pancasila dipercaya mengandung dalam dirinya mantra kesaktian. Orang tidak perlu repot-repot menafsir Pancasila karena mitos hanya butuh dipercaya. Tidak perlu penjelasan bagaimana kelima sila menjadi senjata ampuh yang telah menyelamatkan sebuah bangsa dari mereka yang dianggap oleh penguasa sebagai pengkhianat bangsa, atau mereka yang ingin mengubah dasar negara: ekstrim kiri, ekstrim kanan, dan kaum separatis. Sebagai mitos yang sakti Pancasila adalah palu gada yang siap untuk menggebuk mereka yang dicap sebagai golongan anti-Pancasila. Sementara sebagai petunjuk praktis yang diharapkan bisa menjadi pedoman bertingkah laku sehari-hari warga negara, instrumentalisasi Pancasila diwujudkan melalui berbagai bentuk indoktrinasi, pedoman dan peraturan perundang-undangan.

Kedua bentuk instrumentalisasi Pancasila itu, sebagai mitos maupun sebagai pedoman praktis, saya menduga bermuara dari adanya rasa khawatir dan ketakutan, terutama dari yang sedang berkuasa di republik ini, seolah-olah ada yang sedang mengancam Pancasila, ada yang ingin menyelewengkan bahkan ingin mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain. Dalam psikologi politik, ada yang disebut sebagai perceived threats. Perceived threats  adalah ancaman sebagai hasil persepsi, bukan ancaman sebagai sebuah realitas. Ancaman itu ada di benak para penguasa yang kebetulan sedang memegang kekuasaan di negeri ini, atau setidak-tidaknya merasa sedang menguasai negeri ini.

Sebagai hasil persepsi, ancaman itu sering sejatinya didasari oleh rasa ketakutan akan kehilangan kekuasaan yang sedang digenggamnya. Ada maling yang dibayangkan akan mencuri kekuasaan yang sedang kita pegang. Ketakutan-ketakutan di sekitar kita itu seringkali bersifat ilusif, bersumber dari rasa tidak aman, rasa tidak percaya diri, dan ingin belindung di balik Pancasila. Orasi Pancasila Yudi Latief itu mengingatkan kita, terutama yang sedang berkuasa, tentang bahaya pengkerdilan dan pemfosilan Pancasila.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Pancasila #Ideologi Negara #Yudi Latief #Nurcholis Madjid



Berita Terbaru

 

Senin, 13 Juli 2020 23:30 WIB

Terdampak Covid-19, Mahasiswa UNBARI Protes Mahalnya Biaya Kuliah


Kajanglako.com, Jambi  - Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Batanghari (Unbari) Jambi menyampaikan dua permasalahan pokok terkait kampus,

 

Senin, 13 Juli 2020 23:18 WIB

Fachrori Salurkan JPS Covid-19 Tahap Dua untuk 3.523 KK di Tanjabar


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar menyatakan, Pemerintah Provinsi Jambi akan terus berupaya dalam membantu meringankan beban masyarakat

 

Senin, 13 Juli 2020 23:12 WIB

Fachrori Tinjau Pelaksanaan Protokol Covid-19 di PT Lontar Papyrus


Kajanglako.com, Jambi – Gubernur Jambi  Dr.Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum mengemukakan bahwa aspek kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 dan

 

Sejarah VOC di Jambi
Senin, 13 Juli 2020 17:18 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (6)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam penilaian Soury, semua penduduk Jambi miskin. Ia juga menilai semua orang itu merupakan pencuri

 

Senin, 13 Juli 2020 15:21 WIB

Hari Ketiga Pencarian, Jasad Pelajar SMP Bungo yang Tenggelam Ditemukan Mengapung


Kajanglako.com, Bungo - Pelajar SMP di Kabupaten Bungo, yang tengelam pada Sabtu (11/7/20) lalu, akhirnya ditemukan Senin, (13/7/20) sekitar pukul