Selasa, 14 Juli 2020


Rabu, 24 Juni 2020 12:41 WIB

Widjojo Nitisastro

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Widjojo Nitisastro baru berusia setahun ketika Sumpah Pemuda dideklarasikan di Batavia 28 Oktober 1928. Lahir di Malang, Jawa Timur, pada tanggal 23 Sptember 1927 dari keluarga nasionalis, tidak aneh ketika menjadi menjadi siswa SMA di Malang Widjojo remaja sudah ikut TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) dan terlibat dalam pertempuran melawan sekutu di Surabaya. Ayahnya sendiri bekerja sebagai seorang Penilik Sekolah Rakyat, anggota PARINDRA (Partai Republik Indonesia Raya) yang aktif sebagai tenaga sukarela dalam organisasi petani. Ayahnya memilih menjadi guru Taman Siswa daripada menjadi guru sekolah resmi Belanda. Setelah perang usai dan lulus SMA Widjojo masuk FEUI yang dekannya saat itu adalah Soemitro Djojohadikusumo, seorang tokoh PSI (Parta Sosialis Indonesia). Sejak mahasiswa Widjojo sudah bekerja di Biro Perancang Negara (cikal bakal Bappenas) yang diketuai Soemitro Djojohadikusumo di bawah Perdana Menteri Djuanda. Pada saat inilah (1952-53) Widjojo berkenalan dengan Nathan Keyfits, seorang ahli demografi berkebangsaan Kanada yang diperbantukan di Biro Perancang Negara. Pada tahun 1954 Widjojo dan Keyfits menulis buku bersama “Penduduk dan Pembangunan Indonesia”.



Pada tahun 1955 dalam sebuah simposium, Widjojo, saat itu masih mahasiswa, berdebat dengan Wilopo, seorang sarjana hukum, mantan Perdana Menteri dan petinggi (PNI) Partai Nasional Indonesia, tentang peran negara dalam pembangunan ekonomi. Widjojo dalam simposium itu tidak sependapat dengan Wilopo yang mengatakan bahwa negara harus sepenuhnya mengendalikan arah pembangunan ekonomi. Widjojo berpendapat bahwa negara perlu memasukkan peran ekonomi pasar (market economy) agar tidak menjadi negara totaliter. Dalam debat yang intinya berkisar pada interpretasi terhadap Pasal 33 UUD 1945 itu sudah terlihat bahwa Widjojo Nitisastro pada dasarnya meragukan kegunaan prinsip “kekeluargaan” dalam mengelola pembangunan ekonomi. Setelah lulus dengan predikat cumlaude (1955) Widjojo diangkat menjadi Direktur LPEM (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat), FEUI. Tahun 1957 dengan beasiswa dari Ford Foundation Widjojo melanjutkan studi di Universitas Berkeley. Widjojo hanya memerlukan waktu 3 ½ tahun untuk menyelesaikan doktornya, dengan tesis yang berjudul “Migration, Population, Growth and Economic Development in Indonesia: A study of the Economic Consequences of Alternative Patterns of Inter-island Migration” sebuah studi yang memperlihatkan perhatiannya yang besar pada dimensi demografis yang harus diperhitungkan dalam perencanaan pembangunan di negerinya.

Sepulang dari Berkeley, pada Juni 1962, dalam usia 34 tahun, Widjojo dikukuhkan sebagai guru besar di FEUI dengan orasi yang berjudul “Analisa Ekonomi dan Perencanaan Pembangunan”. Selain mengajar di FEUI, Widjojo dan Mohamad Sadli mengajar di SESKOAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) yang dipimpin oleh Brigjen Suwarto, yang bersahabat dengan Guy Pauker dari Rand Corporation yang punya kaitan dengan CIA. Tahun 1964 Widjojo menjadi Dekan FEUI menggantikan Soemitro Djojohadikusumo yang hengkang ke luar negeri. Pada tahun itu juga Widjojo diangkat sebagai Direktur Leknas (Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan)-LIPI.  Setelah peristiwa 1965 meletus, Widjojo Nitisastro sudah mengetahui di mana dia harus memihak. Pada tahun 1966 sebuah peristiwa penting terjadi yaitu dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret yang menjadi legitimasi bagi Suharto untuk mengendalikan keadaan. Ketika situasi politik telah dikuasai oleh Suharto dan operasi penghancuran PKI atau yang dianggap PKI mulai dilakukan sementara keadaan perekonomian sudah bisa dipastkan tidak terkendali, ada paling tidak dua pertemuan “ilmiah” penting yang sangat menentukan arah rekayasa sosial (social engineering) selama 50 tahun kemudian. Pertemuan “ilmiah” pertama diselenggarakan oleh KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia) dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dengan nama “Simposium Menjelajah Tracee Baru”, 6-9 Mei, dimana Widjojo menyampaikan makalah berjudul “Menyusun Kembali Sendi-sendi Ekonomi dengan Prinsip-prinsip Ekonomi”. Pertemuan “ilmiah” yang kedua adalah Seminar Angkatan Darat ke-2, 25-26 Agustus, dimana Emil Salim menyampaikan makalah berjudul “Pokok-pokok Pikiran Mengenai Rencana Stabilisasi dan Rehabilisasi Ekonomi”. Tidak lama kemudian Widjojo diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan oleh Jendral Suharto, dengan anggota antara lain Mohamad Sadli, Subroto, Ali Wardhana dan Emil Salim.

Ketika tahun 1966 inflasi dikabarkan mencapai 600 persen, yang terjadi adalah stagflasi; dan adalah Widjojo Nitisastro dan tim ekonom-teknokratnya yang menyusun agenda pemulihan ekonomi. Widjojo Nitisastro bisa dinilai sebagai pemimpin yang berhasil membuat Indonesia keluar dari krisis. Sebuah keputusan penting yang dampak negatifnya tidak terbayangkan saat itu  adalah dikeluarkannya Undang-undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) No 1/1967.  Jeffrey Winters, dalam Power in Motion: Capital Mobility and the Indonesian State (1996) mengungkapkan dengan rinci proses negosiasi antara para CEO perusahaan-perusahaan multinasional dengan perwakilan RI yang dipimpin oleh Sultan Hamengkbuwono IX. Bak Kuda Troya kepentingan para kapitalis menjebol kedaulatan negara melalui UU ini. Benteng kedaulatan negara memang telah runtuh di tahun 1965 dan Sukarno yang lama diincar untuk dijatuhkan telah dilucuti kekuasaannya pada tanggal 11 Maret 1966. Sejak itu sebuah practical ideology yang bernama pembangunan mulai menjadi haluan negara. Pembangunan ekonomi adalah sebuah ideologi-kerja (a working ideology) yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dengan prinsip dasar pragmatisme. Bagi Widjojo Nitisastro apa yang dikatakan orang sebagai kemajuan (progress) tidak lain adalah hasil dari sebuah perencanaan pembangunan ekonomi secara bertahap.

Widjojo Nitisastro adalah seorang intelektual yang berhasil membangun reputasinya sebagai seorang patron bagi sebuah kelompok ekonom-teknokrat yang melalui proses kolegial yang cukup lama berhasil menjadi sebuah team-work yang sangat solid. Oleh para koleganya Widjojo dianggap sebagai “lurah” sebuah tipe kepemimpinan tradisional Jawa yang menonjolkan bukan sekedar rasa hormat, tapi rasa segan atas otoritas kekuasaan yang melekat pada diri sang “lurah”. Otoritas kekuasaan dari sang “lurah” bukan karena faktor usia yang lebih tua dari yang lain, namun karena karisma yang dibangun dari kemampuan mempimpin, menemukan solusi dan menunjukkan arah yang harus dipilih dalam sebuah situasi yang penuh ketidakpastian. Sebagai “lurah” Widjojo tidak mau banyak bicara, jika dicari wartawan dia cukup menyuruh Emil Salim sebagai juru bicaranya. Sampai akhir hayatnya Widjojo selalu menolak untuk ditulis biografinya. Widjojo Nitisastro tidak hanya memiliki daya nalar yang jernih tetapi juga intuisi politik yang tajam. Keberhasilan Widjojo Nitisastro terletak pada kombinasi faktor kepemimpinan dan team-work-nya yang teruji dalam waktu yang cukup panjang.

Widjojo Nitisastro boleh dibilang tidak lama menduduki posisi resmi dalam pemerintahan. Pada tahun 1983, saat itu masih berusia 55 tahun, sebuah usia yang masih relatif muda, Widjojo Nitisastro memilih untuk tidak meneruskan duduk secara resmi di pemerintahan. Seorang bekas asistennya menceritakan ada alasan yang bersifat pribadi yang membuatnya memilih berhenti duduk di pemerintahan. Posisinya sebagai Menteri Koordianator Bidang Ekonomi, digantikan oleh orang kepercayaannya, Ali Wardhana. Meskipun tidak memiliki jabatan resmi, oleh Ali Wardhana, Widjojo Nitisastro tetap berkantor dan diberi tempat yang istimewa. Kita tidak mungkin membayangkan Widjojo Nitisastro benar-benar pensiun. Meskipun mungkin jabatan resminya sekedar sebagai penasehat, hampir bisa dipastikan nasehatnya itulah yang akan menjadi dasar pertimbangan Ali Wardhana dan menteri-menteri ekonomi dan keuangan lainnya untuk mengambil sebuah kebijakan. Legacy Widjojo Nitisastro adalah pada keberhasilannya mengkonstruksi sebuah ideologi-kerja (a working ideology) yang secara konsisten diterapkan dalam pembangunan ekonomi yang terencana dan bertahap. Ideologi-kerja yang ditanamkan oleh Widjojo Nitisastro ini terbukti mampu bertahan melewati berbagai perubahan politik, termasuk reformasi 1998. Presiden dan pemerintahan boleh berganti tetapi ideologi-kerja yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dan investasi dengan prinsip pragmatisme; terus bertahan sampai hari ini. Mohamad Sadli, salah seorang anggota tim inti Widjojo yang mungkin paling ideologis dibandingkan yang lain suatu kali mengatakan pada Thee Kian Wie what is good is what works, sebuah ungkapan yang mengingatkan pada Teng Hsiao Ping, perdana menteri yang berhasi mereformasi Tiongkok yang mengatakan “tidak peduli kucing itu putih atau hitam yang penting bisa menangkap tikus”.

Legacy Widjojo Nitisastro sejak dia mengubah strategi pembangunan dengan mantra pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan sampai sekarang.  Keberhasilannya menurunkan angka kemiskinan adalah sebuah fakta yang tidak bisa dibantah, namun juga merupakan fakta yang tak terbantahkan bahwa kesenjangan ekonomi selama 50 tahun meningkat dengan tajam. Kalau kita memang bangsa yang cerdas, ketika saat ini pandemi sudah pasti mengakibatkan krisis ekonomi; inilah kesempatan yang tepat untuk meninjau ulang ideologi-kerja ala Widjojo Nitisastro. Kalau mau jujur, ideologi-kerja ala Widjojo Nitisastro inilah sesungguhnya yang diam-diam telah menjadi haluan negara dan melandasi setiap RUU, UU dan berbagai kebijakan pemerintah, dimana pertumbuhan ekonomi menjadi pertimbangan utama bukan keadilan sosial.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Seri intelektual publik terbit saban Senin di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Widjojo Nitisastro #Orde Baru



Berita Terbaru

 

Senin, 13 Juli 2020 23:30 WIB

Terdampak Covid-19, Mahasiswa UNBARI Protes Mahalnya Biaya Kuliah


Kajanglako.com, Jambi  - Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Batanghari (Unbari) Jambi menyampaikan dua permasalahan pokok terkait kampus,

 

Senin, 13 Juli 2020 23:18 WIB

Fachrori Salurkan JPS Covid-19 Tahap Dua untuk 3.523 KK di Tanjabar


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar menyatakan, Pemerintah Provinsi Jambi akan terus berupaya dalam membantu meringankan beban masyarakat

 

Senin, 13 Juli 2020 23:12 WIB

Fachrori Tinjau Pelaksanaan Protokol Covid-19 di PT Lontar Papyrus


Kajanglako.com, Jambi – Gubernur Jambi  Dr.Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum mengemukakan bahwa aspek kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 dan

 

Sejarah VOC di Jambi
Senin, 13 Juli 2020 17:18 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (6)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam penilaian Soury, semua penduduk Jambi miskin. Ia juga menilai semua orang itu merupakan pencuri

 

Senin, 13 Juli 2020 15:21 WIB

Hari Ketiga Pencarian, Jasad Pelajar SMP Bungo yang Tenggelam Ditemukan Mengapung


Kajanglako.com, Bungo - Pelajar SMP di Kabupaten Bungo, yang tengelam pada Sabtu (11/7/20) lalu, akhirnya ditemukan Senin, (13/7/20) sekitar pukul