Selasa, 14 Juli 2020


Sabtu, 20 Juni 2020 07:23 WIB

Pandemi, George Floyd dan Marginalisasi Papua

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Pandemi virus Corona yang menyebar dengan cepat ke seluruh pelosok bumi menjadi batu uji ketahanan semua negara tanpa kecuali. Pandemi ini membuka  kotak pandora setiap bangsa ketika menyusup dalam sekat-sekat dan lapisan-lapisan sosial, membuka luka-luka lama yang dipendam dan ketimpangan sosial-ekonomi antar golongan yang selama ini hendak disembunyikan. Energi negara yang terkuras untuk mengendalikan pandemi ini bertambah berat ketika ketimpangan struktural berubah menjadi perlawanan terhadap ketidakadilan yang menjadi tanggung jawab negara. Gelombang protes yang berawal dari kematian George Floyd, pemuda kulit hitam di tangan polisi di Minnesota, dan telah mengimbas gerakan anti rasisme di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, adalah pantulan dari terbukanya kotak pandora itu.



Pada bulan Oktober 2016 saya ke Cornell University untuk menghadiri seminar mengenang Ben Anderson yang diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa Indonesia di negeri Paman Sam itu. Setelah selesai seminar, saya ke New York City dan Washington DC yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Ithaca, tempat universitas Cornell berada. Saya memang telah berniat, dalam kunjungan yang relatif singkat itu, ingin melihat dua tempat, yaitu Ground Zero di New York dan The National Mall di Washington DC. The Mall adalah kompleks galeri dan museum yang berderet di kiri kanan sebuah boulevard lebar untuk pejalan kaki, tidak jauh dari Gedung Putih. Setelah berkeliling, tanpa sengaja saya melihat sebuah bangunan yang unik, seperti dari kayu karena warnanya yang coklat; dan dalam kunjungan sebelumnya tidak saya lihat. Saya menyaksikan orang-orang berjalan ke gedung itu, sebagian besar berkulit hitam, dugaan saya Afro-American. Saya baru tahu kemudian setelah masuk ke lobinya yang luas, bahwa bangunan dengan arsitektur unik itu adalah Museum of Afro-American History of Art and Culture dari Smithsonian Institute yang baru diresmikan oleh Presiden Barack Obama.

Di museum yang megah itu, periode sejarah dari masyarakat Afro-American sejak pertama kali mereka dibawa ke benua Amerika sebagai budak, sampai periode paling mutakhir ketika seorang Afro-American berhasil menjadi presiden Amerika Serikat ditampilkan dengan sangat menarik. Informasi tentang sejarah orang-orang Afrika yang dibawa dengan kapal-kapal sebagai budak belian untuk dipekerjakan di perkebunan itu digambarkan melalui berbagai media dengan sangat detail, atraktif, gamblang dan tidak membosankan. Dalam sejarah itu digambarkan darimana orang-orang Afrika itu berasal, bagaimana mereka ditangkap dan diperdagangkan dengan nilai berapa, diberangkatkan dari pelabuhan mana, berapa orang, oleh perusahaan apa, dengan kapal apa,  bagaimana suasana di kapal, berapa orang yang mati, tiba di pelabuhan apa dan kemudian dipekerjakan dimana, dan bagaimana mereka hidup di tempat yang baru. Perang sipil yang kemudian terjadi di Amerika Serikat bersumber dari persoalan budak ini, antara mereka yang ingin melanjutkan perbudakan dan mereka yang mau menghapus perbudakan ini. Perbudakan memiliki arti yang sangat penting bagi sejarah dan psikologi bangsa Amerika.

Bagi saya yang paling menarik dari isi museum Afro-American ini adalah keterbukaan informasi disertai fakta-fakta yang digambarkan dengan sangat hidup tentang sejarah kelam yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam narasi sejarah pembentukan bangsa Amerika. Penderitaan, korban, perlakuan tidak manusiawi, perlawanan dan perjuangan menegakkan keadilan dan persamaan hak bagi orang Afro-American ini ditampilkan dengan lugas. Seandainya saya seorang kulit putih, mungkin akan merasa malu, atau bisa juga marah, karena di situ saya digambarkan sebagai penindas yang tidak memiliki rasa kemanusiaan, dan memperlakukan para budak itu tidak ada bedanya dengan hewan. Di museum itu digambarkan ironi dan hipokrisi dari para founding fathers bangsa Amerika yang membuat deklarasi bahwa "all human being are created equal", namun pada saat yang bersamaan orang-orang berkulit hitam itu masih menjadi warganegara kelas dua. Perjuangan persamaan hak yang dipimpin Marthin Luther King tahun 1968 dan mengakibatkan dia dibunuh memang telah banyak merubah keadaan. Namun kematian George Floyd 25 Mei 2020 lalu di tangan polisi dan memicu gelombang protes terbesar setelah 1968 itu menunjukkan bahwa diskriminasi rasial itu belum berakhir.

Ket: rasisme terhadap orang Papua. sumber: suarapapua.com

Hari ini, membaca dan melihat gelombang protes yang meluas dan masih terus terjadi di tengah pandemi yang belum terkendali ingatan saya melayang ke ruang- ruang museum Afro-American di The Mall Washington DC itu. Saya tak habis pikir kenapa masih ada diskrepansi yang besar dalam psikologi bangsa Amerika ini, antara di satu sisi pengakuan atas ketidakadilan yang terjadi pada masa lalu, dan di sisi lain, dengan praktek diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam wawancara sebuah stasiun TV yang kemudian terekam di youtobe dengan Paul Krugman, ekonom dari Princeton University, peraih Nobel tahun 2008, saya menemukan penjelasannya. Wawancara itu berkisar pada buku yang belum lama terbit Capital in the Twenty First Century yang ditulis oleh Thomas Piketty, seorang ekonom yang lebih senang menyebut dirinya sebagai ahli ilmu sosial, asal Prancis. Buku Piketty, menurut Krugman, telah berhasil menunjukkan dengan data statistik yang tak terbantahkan tentang ketimpangan sosial-ekonomi di Amerika Serikat yang menganga antara segelintir kecil orang kaya dan mayoritas warga negara yang miskin, dan dari proporsi yang miskin itu sebagian besar adalah orang Afro-American.

Temuan penting dari Piketty, menurut Krugman adalah fakta sejarah panjang bagaimana kapitalisme telah bekerja dalam proses marjinalisi orang Afro-American. Marjinalisasi itu bersifat masif dan struktural, melekat (embedded) tidak saja  dalam lembaga-lembaga ekonomi, tetapi juga institusi hukum, sosial dan politik. Mendengarkan penjelasan Krugman, saya dapat memahami mengapa gelombang protes yang saat ini terjadi tidak dapat dipisahkan dari proses panjang marjinalisasi yang dialami oleh komunitas Afro-American itu. Apa yang saya lihat di museum yang menggambarkan telah diakuinya ketidakadilan dalam sejarah bangsa Amerika Serikat terbukti tidak cukup untuk menghilangkan rasisme tanpa disertai perubahan yang bersifat struktural agar diskriminasi yang melekat dalam berbagai institusi sosial, hukum dan politik yang sehari-hari dijalankan dalam kehidupan masyarakat Amerika Serikat itu terhapus.

Gelombang protest anti rasisme itu sekarang berimbas ke Indonesia, lalu, pelajaran apa yang bisa kita petik sebagai sebuah bangsa dari dari pengalaman sejarah bangsa Amerika Serikat? Apa yang saya saksikan di Museum of Afro-American History of Art and Culture, yaitu telah diakuinya ketidakadilan dan perlakuan tidak manusiawi terhadap para budak belian yang diangkut dengan kapal-kapal dari benua Afrika itu, juga secara hukum para keturunan budak-budak itu sekarang sudah tidak lagi dibedakan hak-haknya sebagai warga negara, tetapi mengapa diskriminasi rasial itu tetap terjadi? Kita tentu bisa mencari penjelasan yang bersifat kultural tentang diskriminasi ras itu, namun yang tampaknya sulit dibantah adalah penjelasan struktural seperti dikemukakan oleh Paul Krugman berdasarkan penelitian longitudinal Thomas Piketty tentang ketimpangan antar golongan yang semakin menganga lebar. Berkaca dari pengalaman Amerika barangkali tidak terlalu sulit sebetulnya untuk menjelaskan mengapa begitu cepat reaksi anti rasisme juga terjadi di Indonesia. Selama lima puluh rekayasa sosial di Indonesia salah satu hasil yang mungkin paling mencolok adalah kesenjangan sosial-ekonomi, dan di Papua kesenjangan itu telah berhimpit dengan pelapisan dan identitas sosial (50 Tahun Rekayasa Sosial: 5 Bias dan 5 Mitos). Dalam sebuah tulisan di The Jakarta Post tahun 2012 “Papua and problem of structural injustice” saya telah menyinggung persoalan ini. Kita tidak akan pernah menemukan solusi bagi masalah Papua, termasuk isu rasisme ini, jika kita sebagai bangsa tidak mampu memahami proses-proses marginalisasi dan ketimpangan sosial yang bersifat struktural yang terus berlangsung itu. Pandemi telah membuka Kotak Pandora!

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Tulisan-tulisan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dapat dibaca di rubrik Akademia portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Rasialisme di Amerika #Rasialisme di Indonesia #Marginalisasi Papua



Berita Terbaru

 

Senin, 13 Juli 2020 23:30 WIB

Terdampak Covid-19, Mahasiswa UNBARI Protes Mahalnya Biaya Kuliah


Kajanglako.com, Jambi  - Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Batanghari (Unbari) Jambi menyampaikan dua permasalahan pokok terkait kampus,

 

Senin, 13 Juli 2020 23:18 WIB

Fachrori Salurkan JPS Covid-19 Tahap Dua untuk 3.523 KK di Tanjabar


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar menyatakan, Pemerintah Provinsi Jambi akan terus berupaya dalam membantu meringankan beban masyarakat

 

Senin, 13 Juli 2020 23:12 WIB

Fachrori Tinjau Pelaksanaan Protokol Covid-19 di PT Lontar Papyrus


Kajanglako.com, Jambi – Gubernur Jambi  Dr.Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum mengemukakan bahwa aspek kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 dan

 

Sejarah VOC di Jambi
Senin, 13 Juli 2020 17:18 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (6)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam penilaian Soury, semua penduduk Jambi miskin. Ia juga menilai semua orang itu merupakan pencuri

 

Senin, 13 Juli 2020 15:21 WIB

Hari Ketiga Pencarian, Jasad Pelajar SMP Bungo yang Tenggelam Ditemukan Mengapung


Kajanglako.com, Bungo - Pelajar SMP di Kabupaten Bungo, yang tengelam pada Sabtu (11/7/20) lalu, akhirnya ditemukan Senin, (13/7/20) sekitar pukul