Selasa, 12 Desember 2017
Pencarian


Rabu, 15 November 2017 13:19 WIB

Hikayat Negeri Jambi: Struktur dan Sumber Naskah Kesejarahan Melayu Abad XIX (Bagian I)

Reporter :
Kategori : Jejak

Silsilah Raja-Raja Jambi

Oleh: Sergei Kukushkin*

Wilayah di timur Sumatera yang sekarang dinamakan Jambi mempunyai sejarah yang kaya. Pada masa permulaan kerajaan Hindu, Jambi menjadi kesultanan yang makmur dan kuat, secara bertahap jatuh di bawah kontrol orang Eropa, dan sekarang menjadi bagian dari negara Indonesia.



Mengenai awal mula Jambi, kita tidak banyak tahu. Namun demikian, periode semenjak abad XVII dan seterusnya digambarkan secara detail dalam beberapa kajian2 yang terutama merujuk pada sumber-sumber Eropa. Naskah kesejarahan berbahasa Melayu yang berasal dari Jambi terbilang langka. Naskah-naskah tersebut disusun pada paruh kedua abad XIX. Berdasarkan standar historiografi modern, sebagian besar informasi yang tercantum di dalamnya sangat dapat digolongkan sebagai sejarah.

Pada saat yang sama, naskah-naskah tersebut menyediakan kesempatan unik: memungkinkan kita untuk mengamati sejarah Jambi melalui pandangan cendekiawan lokal yang hidup pada abad XIX yang percaya bahwa catatannya atas berbagai peristiwa merupakan kebenaran, persis seperti pendirian sarjana modern saat membuat rekonstruksi sejarah yang terutama didasarkan atas sumber-sumber Eropa. Rujukan cendekiawan Melayu tradisional beraneka ragam, termasuk Al-Qur-an dan al-Sunnah, yakni sumber pengetahuan tertinggi dalam agama Islam. Untuk menciptakan pola narasi historis, ia menggunakan naskah Melayu atau naskah asing3 sebagai model. Ia juga menggunakan tradisi lokal sebagai sumber informasi yang relevan.

Salah satu naskah kesejarahan itu adalah Hikayat Negeri Jambi4 (selanjutnya disingkat HNJ). HNJ adalah naskah yang paling konsisten memuat, dan sepenuhnya merupakan sebuah, narasi historis Melayu. HNJ menarasikan sejarah kesultanan sejak awal hingga akhir, atau sejak penguasa pertama bertahta hingga masa penulisan naskah tersebut. Ada dua manuskrip HNJ: Leiden Cod. Or. 2013 dan Cod. Or. 12182. Keduanya adalah naskah asli yang ditulis pada paruh kedua abad XIX. Saat itu, Belanda telah menguasai Jambi, memaksa Sultan melarikan diri dari ibu kota, dan mengangkat salah satu anggota keluarganya sebagai penguasa boneka.

Sebagaimana Sejarah Melayu, yang ditulis setelah kejatuhan Malaka untuk mengabadikan kebesaran sejarah kerajaan itu bagi kepentingan generasi mendatang dan untuk menjelaskan proses kehancurannya, HNJ mencerminkan pandangan dan sikap penyusunnya terhadap sejarah Jambi—kerajaan yang bersaing dengan lawan yang kuat tetapi seimbang, yaitu Johor dan Palembang—yang pada akhirnya jatuh ke tangan orang-orang Eropa.

Berdasarkan tokoh-tokoh utamanya dan hubugan mereka dengan alam dan politik, HNJ dapat dibagi menjadi beberapa bagian: Hikayat Tun Telanai5, Hikayat Orang Kaya Hitam, dan Hikayat Pangeran Rengas Pendek. Setelah akhir bagian ketiga, masih ada dua bagian lanjutan, yang disebut fasal dan diberi nomor 4 dan 5 (bagian ketiga juga disebut fasal, tetapi tanpa nomor).

Dalam artikel ini, kami hanya akan mengkaji tiga bagian pertama dan permulaan fasal keempat saja yang tampaknya menjelaskan periode awal sejarah Jambi. Pada periode ini, kita tidak mempunyai dekomentasi apa pun. Jadi, satu-satunya hal yang dapat kita rekonstruksi adalah gagasan sejarah lokal yang tersimpan dalam kepala pengarang HNJ ketika ia menulis naskah itu. Dalam masyarakat yang pada dasarnya tidak akrab dengan tradisi tulis, ingatan kolektif masyarakat ditransmisikan secara lisan, dan pengarang HNJ mesti menggunakan cerita rakyat dan legenda lokal (sebagai sumber rujukan untuk menulis naskah tersebut). Di bawah ini saya akan menunjukkan bagaimana dalam HNJ sumber lisan digunakan dan diorganisir menurut gagasan tertentu.

Bagian pertama bercerita tentang negeri asal yang dikuasai Tun Telanai. Nama tokoh ini tidak dikenal dalam literatur Melayu.6 Kerajaannya terletak di dekat muara sungai, dan disebutkan bahwa kerajaan itu masih ada bekasnya di sana. Tun Telanai dibantu lima hulubalang: Si Kentang Perak, Si Mata Empat, Si Pahit Lidah, Si Tajam Burit, dan Si Tahi Mata. Tentang cikal-bakal nama kerajaan itu, diceritakan bahwa: Tun Telanai memerintahkan Si Pahit Lidah untuk menggali terusan yang membentang dari ibu kota sampai ke laut. Tugas tersebut diselesaikan dalam waktu empat “jam”. Karena inilah kerajaan itu dinamai Jam-bi.

Tun Telanai awalnya tidak punya anak. Setelah jampi-jampi dukun ternyata gagal membuat istrinya hamil, ia berdoa kepada dewa mohon diberi keturunan. Ada peramal yang memperingatkan Tun Telanai bahwa anaknya kelak akan membunuhnya. Setelah anak itu lahir, Tun Telanai memerintahkan agar anak itu dimasukkan ke dalam peti yang akan dibuang ke laut. Akan tetapi, anak itu selamat, dan diadopsi oleh raja-ratu kerajaan Siam sebagai putra mereka. Ia dibesarkan layaknya putra kandung mereka sendiri. Namun, ketika bermain bersama anak-anak menteri dan pegawai kerajaan lainnya, putera Tun Telanai itu menunjukkan kekuatan yang dahsyat dan karakter yang membahayakan. Saat dewasa, ia ingin menyelidiki asal-asulnya. Diiringi tentara Siam, ia7 pun pergi ke Jambi. Tapi ternyata Tun Telanai menolak mengakuinya sebagai anak. Selanjutnya pecahlah pertempuran antara Tun Telanai dan putranya. Tidak ada yang menang. Melihat hal ini, Tun Telanai memutuskan bahwa salah satu di antara mereka harus kalah agar pertempuran berakhir. Ia pun memberi petunjuk kepada anaknya bagaimana cara untuk membunuhnya. Setelah membunuh ayahnya, putra Tun Telanai membawa seluruh rakyat ke Siam, meninggalkan kerajaan itu. Seiring bergulirnya waktu, kerajaan itu berubah menjadi hutan belantara. Inilah akhir dari Hikayat Tun Telanai.

Bagian HNJ berikutnya, Hikayat Orang Kaya Hitam, bermula dengan kisah seorang pangeran Turki, Datuk Paduka Berhala. Bangkai kapalnya ada di pulau Berhala yang terletak antara pulau Singkep dan muara Batang Hari. Di sana ia membangun pemukiman, dan pergi ke Palembang untuk menikah dengan anak perempuan Demang Lebar Daun. Setelah Datuk Paduka Berhala wafat, anaknya, yaitu Datuk Paduka Ningsun melaksanakan wasiat ayahnya untuk membangun pemukiman baru di Ujung Jabung (kini Tanjung Jabung) yang berlokasi di wilayah daratan. Berdasarkan wasiat ayahnya pula, Datuk Paduka Ningsun mulai menyerahkan upeti tahunan kepada kerajaan Mataram Jawa. Ketika ia wafat, anak sulungnya, yaitu Orang Kaya Hitam menjadi pengusa baru dan memindahkan ibu kota serta seluruh rakyatnya lebih ke hulu, ke Muara Simpang.

Orang Kaya Hitam berhenti mengirim upeti ke Mataram dan menerima surat murka dari raja Jawa. Dengan menyamar, Orang Kaya Hitam serta dua saudaranya pergi ke Mataram. Di sana mereka mendapatkan keris sakti.8 Sekembalinya dari Jawa, Orang Kaya Hitam menaklukkan seluruh kampung yang terletak di hulu sungai Batang Hari hingga Muara Tembesi. Lantaran Orang Kaya Hitam tidak punya anak, maka setelah ia wafat kerajaan itu diperintah oleh saudara-saudaranya. Salah satu dari mereka, Orang Kaya Mamak, pergi ke Jawa, menikah dengan perempuan Jawa, dan dikaruniai lima anak. Sesudah saudaranya yang terakhir wafat, Orang Kaya Mamak dipanggil pulang ke Jambi untuk memimpin kerajan itu, tetapi meninggal dalam perjalanan. Inilah akhir Hikayat Orang Kaya Hitam dan tiga saudaranya.

Pada permulaan bagian berikutnya, Hikayat Pangeran Rengas Pendek, kelima anak Orang Kaya Mamak harus mengangkat raja baru Jambi dari kalangan mereka sendiri, untuk memenuhi wasiat ayah mereka. Pertama-tama, mereka memindahkan ibu kota ke Rengas Pendek, lebih ke hulu, dan kemudian memilih saudara termuda mereka untuk menjadi raja dengan gelar Pangeran Rengas Pendek.

Cerita sekarang berpindah ke Puteri Pinang Masak, anak perempuan Yang Dipertuan Minangkabau. Ingin membangun tempat tinggalnya sendiri, ia meninggalkan Minangkabau dan bermukim di wilayah yang dahulu kala dikuasai oleh Tun Telanai, yang hingga saat itu masih berupa hutan belantara. Mendengar hal ini, Pangeran Rengas Pendek mengirim duta untuk mengunjungi Sang Puteri. Kemudian pangeran menemui sendiri Sang Puteri. Kasih sayang yang terbit di dalam lubuk hati mereka, berujung di pelaminan. Mereka kembali untuk hidup bersama di Rengas Pendek. Mereka dikaruniai empat anak. Inilah akhir Hikayat Pangeran Rengas Pendek.

Bagian selanjutnya, fasal keempat, berkisah tentang anak-anak Pangeran Rengas Pendek, yang memindahkan ibu kota ke hulu. Sebelum memilih raja dari kalangan mereka sendiri, mereka memulai ekspansi lanjutan, berencana menaklukkan seluruh daerah pedalaman anak sungai Batang Hari. Mendengar keberhasilan penaklukan mereka, Yang Dipertuan Minangkabau menghimpun prajurit dan rakyatnya, dan pergi ke Tanjung Semalidu yang terletak di perbatasan Minangkabau-Jambi. Di sana ia pun sadar bahwa pesaing potensialnya yang berasal dari Jambi adalah cucu-cucunya sendiri. Disaksikan Yang Dipertuan Minangkabau, empat kakak-beradik itu memilih yang paling muda di antara mereka, yaitu Panembahan Di Bawah Sawah, sebagai raja berikutnya. Mereka juga membuat kesepakatan dengan orang-orang Minangkabau terkait pembagian wilayah kekuasaan dan batas-batas kerajaan.

Dalam perjalanan pulangnya, Panembahan Di Bawah Sawah mengumpulkan makanan dari kampung-kampung jajahan yang baru ditaklukkan, mengirim makanan itu ke hilir menggunakan ratusan rakit yang terbuat dari batang pisang. Rakit-rakit itu berhenti di sebuah tempat bernama Tanah Pilih (sekarang ibu kota Provinsi Jambi), di mana Panembahan naik ke daratan dan bertapa selama tujuh hari tujuh malam. Akhirnya, ada dua roh leluhur yang datang menemuinya. Dengan imbalan baju Panembahan sendiri, kedua roh leluhur itu memberinya tiga benda pusaka: Si Jimat (sebuah meriam keramat), Si Timang Jambi (sebuah gong), dan Si Macan Turu (sebuah tombak). Setelah itu, rakyat mulai membangun benteng dan kota, tepat ketika Panembahan Di Bawah Sawah dianugerahi aneka gelar dan jabatan oleh saudara-saudaranya.

Panembahan Di Bawah Sawah punya dua anak, seorang puteri yang menikah dengan raja Johor, dan seorang putera yang setelah kematian ayahnya mewarisi tahta kerajaan dengan gelar Sultan Agung Seri Ingalaga, penguasa Jambi pertama yang menyandang gelar sultan. Di titik ini, bagian HNJ yang bernuansa legenda berakhir karena kami percaya bahwa Sultan Agung adalah raja yang menguasai Jambi pada abad XVII. Para sejarawan menjumpai nama Sultan Agung dalam sumber-sumber Eropa.

Sisa bagian keempat dan seluruh fasal kelima juga cukup menarik, karena di sini kita punya kesempatan untuk membandingkan naskah Melayu dengan sumber Belanda, tetapi kajian itu jauh melampaui lingkupan artikel ini. Sekarang, mari kita amati bagaimana pengarang HNJ menata informasi dari sumber-sumber lokal yang tersedia dalam rangka menyusun narasi tentang Jambi mengikuti pola umum naskah-naskah kesejarahan Melayu.

 

*Artikel ini merupakan terjemahan Widodo, mahasiswa tingkat akhir Universitas Taman Siswa Yogyakarta atas tulisan Sergei Kukushkin dengan judul Hikayat Negeri Jambi: The Structure and Sources of A Nineteenth-Century Malay Historical Work yang diterbitkan dalam jurnal Indonesia and the Malay World, Vol. 32, No, 92, Maret 2004, hlm. 53-61.

Oriental Centre Russian State Library

3/5 Vozdvizhenka Street

Moscow, Russia 119019


Tag : #Naskah Melayu Jambi #Hikayat Negeri Jambi #Silsilah Raja-Raja Jambi #Piagam dan Cerita Rakyat Jambi #Sumatra



Berita Terbaru

 

Senin, 11 Desember 2017 23:27 WIB

Pemayung Masih 'Takut' Gunakan Excavator Bantuan Provinsi, ini Penyebabnya


Kajanglako.com, Batanghari - Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi Jambi sudah memberikan bantuan dua Excavator mini untuk dua kecamatan di Kabupaten

 

Senin, 11 Desember 2017 23:15 WIB

Bank Indonesia Terbitkan Ketentuan Penyelenggaraan Teknologi Finansial


Kajanglako.com - Bank Indonesia (BI) menerbitkan ketentuan penyelenggaraan teknologi finansial untuk mendorong lahirnya berbagai inovasi dan mendukung

 

Pertemuan Bakohumas se-Provinsi
Senin, 11 Desember 2017 23:03 WIB

Melalui Bakohumas, Zola: Cerdas Menyikapi Berita Hoax


Kajanglako.com, Jambi  - Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli mengemukakan bahwa Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) merupakan saluran penyebaran

 

Senin, 11 Desember 2017 22:37 WIB

Zola Terima Apresiasi dari LPPM IPB


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Zumi Zola menerima apresiasi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor

 

Senin, 11 Desember 2017 22:19 WIB

Pengadaan Sapi Bermasalah, Kontrak CV Minang Vodia Utama Diputus


Kajanglako.com, Batanghari - CV Minang Vodka, selaku rekanan proyek pengadaan sapi gaduhan untuk kelompok tani di Batanghari, kontraknya resmi diputus. Sebelumnya,