Selasa, 14 Juli 2020


Selasa, 16 Juni 2020 07:08 WIB

S.K. Trimurti

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Surastri Karma Trimurti (Selanjutnya ditulis S.K.Trimurti) baru lahir ketika organisasi Budi Utomo dibentuk pada tanggal 20 Mei 1908 oleh beberapa dokter Jawa seperti Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo berusia 4 tahun. Organisasi sosial pertama yang dianggap sebagai penanda mulai munculnya kesadaran berbangsa ini didirikan oleh segelintir kecil mereka yang telah mengenyam pendidikan modern. Sejak itulah sejarah seperti bergulir cepat, pendidikan barat mengajarkan tidak saja "knowledge" tetapi juga melatih "knowhow", bagaimana membuat organisasi dan bagaimana menyatukan kepentingan bersama, dengan kata lain bagaimana berpolitik.



Setelah 1908 kita mencatat lahirnya Sarekat Dagang Islamiyah 1909, Muhammadiyah 1910, Indishe Partij 1912 dan seterusnya. Proses politik yang bergulir cepat itu seperti terkulminasi ketika Sumpah Pemuda diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda Kedua di Jakarta. Pada tanggal 22-25 Desember 1928 kaum perempuan mengadakan kongresnya yang pertama di Yogyakarta. S.K. Trimurti beranjak dewasa dalam poses politik yang bergulir cepat itu, dan politik seperti telah menjadi darah dan dagingnya.

Tahun 1926 dua tahun sebelum diadakan Kongres Pemuda kedua dan Kongres Perempuan pertama, adalah tahun yang sangat istimewa dalam sejarah sosial politik Indonesia. Pada tahun 1926 PKI, partai politik pertama yang didirikan orang Indonesia melakukan pemberontakan di Banten dan Sumatera Barat. Pada tahun 1926 juga Bung Karno menulis artikelnya yang berjudul "Islam, Marxisme dan Nasionalisme" di koran Suluh Indonesia Muda. Sebuah artikel yang gaunya masih terasa hingga hari ini. Pada tahun 1933 karena tergerak oleh pikiran-pikiran Bung Karno, S.K.Trimurti masuk Partindo di Bandung, tempat dia bekerja sebagai guru SD, setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan sekolah gurunya di Solo. Pada tahun 1936 karena aktifitas politiknya SK Trimurti ditangkap Belanda dan diskap di penjara Bulu di Semarang. Sekeluar dari penjara S.K. Trimurti meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan menjadi wartawan. Pada tahun 1930an itu tidak sedikit wartawan yang sekaligus adalah tokoh pergerakan. Tirto Adi Surjo, Mas Marco, Haji Misbach adalah wartawan-wartawan yang menggunakan dunia jurnalisme sebagai medan perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang karena tulisan-tulisannya yang dianggap menyudutkan tentara Jepang, S.K.Trimurti dijebloskan ke penjara, kali ini di Blitar. Konon, di penjara Blitar Trimurti berjumpa dengan Umi Sardjono, pejuang perempuan sekaligus pengagumnya. Mereka bersama-sama kemudian mendirikan organisasi Barisan Buruh Wanita (BBW) dan Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) yang tahun 1954 berubah menjadi Gerwani (Gerakan wanita Indonesia). Pada tahun 1960an S.K. Trimurti menjauh dari Gerwani setelah organisasi ini mendekat ke PKI. Ketika terjadi ontran-ontran politik 1965, S.K. Trimurti dan suaminya Sayuti Melik selamat melewati masa yang serba tidak menentu itu.

Di masa Orde-Baru keduanya bersimpang jalan, perempuan kelahiran Boyolali, 11 Mei 1912 ini ikut menjadi bagian dari mereka yang kritis di luar kekuasaan. Sementara Sayuti Melik memilih ikut mereka yang berkuasa, menjadi amggota DPR-GR mewakili Golkar. Pada tahun 1980 S.K. Trimurti termasuk salah seorang yang ikut menandatangani "Petisi 50", sebuah protes dan kritik yang ditujukan kepada Presiden Suharto. Petisi ini ditandatangani oleh tokoh-tokoh dari berbagai kalangan yang isinya menyuarakan keprihatinan tentang situasi bangsa dan negara yang dinilai memburuk karena pemerintahan yang semakin represif.

Ket: Sayuti Melik dan S.K. Trimurti dengan dua anaknya. Sumber foto: Historia.id.

Ada banyak fase dalam kehidupan S.K. Trimurti yang membuatnya menjadi istimewa, semuanya tidak bisa dilepaskan dari politik: pendidikan, kewartawanan dan perburuhan. Setiap fase dalam kehidupannya sangat kaya sebagai teladan kehidupan perempuan yang hidup seperti melampaui zamannya. Dalam konteks eksploitasi ekonomi, kegiatannya dalam memperjuangkan hak-hak kaum buruh menjadi sangat relevan hari ini ketika nasib buruh seperti tidak beranjak meskipun Indonesia merdeka sudah mendekati tiga perempat abad. Ada yang terasa ironis ketika nasib buruh hari ini tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi pada masa lalu ketika pemerintah kolonial bekerja sama dengan para investor. Susan Blackburn (2004) dalam bukunya “Women and the state in modern Indonesia” mengutip John Ingelson, menulis: “The colonial power was closely aligned with the interest of foreign investors, a measure of successful colonialism being a flourishing export economy. Consequently, workers lacked effective protective legislation, and the emerging union movement in the Indies suffered state repression”. Betapa mirip dengan apa yang sedang terjadi sekarang, ketika UU Cipta Lapangan Kerja sengaja dikebut pertama-tama untuk menarik investasi dengan akibat menekan hak-hak buruh. Dalam kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Amir Sjarifudin, dua perempuan diangkat sebagai menteri, S.K. Trimurti diangkat sebagai Menteri Perburuhan dan Maria Ulfah Santoso sebagai Menteri Sosial. Ada dua buku yang ditulis S.K. Trimurti tentang perburuhan: A.B.C. Perdjuangan Buruh, diterbitkan oleh Pusat Pimpinan PBI, Yogyakarta, 1948; dan Hubungan Pergerakan Buruh Indonesia dengan Pergerakan Kemerdekaan Nasional, Yayasan Idayu-Jakarta, 1975.

Saya hanya bisa membayangkan betapa serunya kehidupan S.K. Trimurti dan Sayuti Melik, dua orang muda yang sangat idealis, sama-sama menjadi aktifis politik tahun 1930an dan 1940an, menjalin hubungan selagi melakukan kegiatan politik dan kemudian memutuskan menikah. Keduanya aktif dalam berbagai gerakan bawah tanah, ikut terlibat langsung dalam detik-detik proklamasi kemerdekaan, dan menapaki hari-hari setelah kemerdekaan yang diperjuangkan dicapai, alangkah kaya nuansa hidup mereka. Kita yang hidup dalam alam kemerdekaan ini tampak miskin dalam pengalaman dan kelihatan gagap untuk sekedar mengapresiasi perjuangan mereka dulu. Di dunia kewartawanan yang penuh passion inilah S.K. Trimurti bertemu Sayuti Melik wartawan yang lebih senior yang kemudian meminangnya. Bagi generasi sekarang, sulit membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia pada masa itu, apalagi  membayangkan para tokoh pergerakan politik yang berada dalam pengawasan mata-mata polisi pemerintah kolonial Belanda. Di sinilah memang pentingnya arsip, penulisan kembali sejarah, film dokumenter maupun novel, cerita pendek, biografi serta film-film yang sengaja dibuat berdasarkan sejarah dan kehidupan tokoh-tokoh pada masa lalu.

S.K. Trimurti, wafat 20 Mei 2008 dan Sayuti Melik, wafat 27 Februari 1989; adalah dua orang yang menjadi pelaku sejarah, tidak hanya di pinggiran tetapi di jantungnya. Penjara bukan hal yang ditakutkan, konon keduanya selalu menyiapkan sebuah koper di rumahnya, jika sewaktu-waktu ditangkap, mereka sudah siap. Keduanya bisa digolongkan sebagai bagian dari gerakan kiri, dalam pengertian sejarawan Harry Poeze yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti dan menulis tentang Tan Malaka dan gerakan kiri di Indonesia. Keduanya sudah aktif ketika PKI melakukan pemberontakan terhadap kolonial Belanda tahun 1926, Sayuti Melik termasuk yang dibuang ke Digul (1927-1933) menjadi anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang diketuai Sukarno dan termasuk pemuda yang membawa Sukarno dan Hatta ke Rengas Dengklok dan mengetik naskah proklamasi. SK Trimurti dan Sayuti Melik juga berada dalam pusaran konflik yang terjadi di antara elit politik pada saat Peristiwa Madiun tahun 1948: Sukarno, Hatta, Sjahrir, Nasution, Musso, Amir Sjarifuddin, Tan Malaka. Pada ontran-ontran tahun 1965 merekapun tidak jauh dari pusat gempa yang terjadi. Gerakan Kiri, Golongan Kiri, apa dan siapa sesungguhnya mereka? Saya merasakan ada sebuah “grey areas” (wilayah abu-abu) ketika menyebut gerakan dan golongan kiri, dan ketika begitu banyak orang mati karena dianggap sebagai orang kiri. Rasanya ada yang salah (a fault line) ketika yang abu-abu dalam sekejab menjadi hitam-putih. Dalam sebuah kesempatan ngobrol dengan Harry Poeze sambil makan siang di ruang seminar KITLV di Leiden, Harry Poeze mengiyakan ketika saya kemukakan kegelisahan saya tentang adanya “a political fault line” di wilayah abu-abu yang bisa mematikan banyak orang itu.

 

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer.


Tag : #Akademia #S.K. Trimurti #Saya Melik #Jurnalisme #Politik 1965 #Budi Utomo



Berita Terbaru

 

Senin, 13 Juli 2020 23:30 WIB

Terdampak Covid-19, Mahasiswa UNBARI Protes Mahalnya Biaya Kuliah


Kajanglako.com, Jambi  - Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Batanghari (Unbari) Jambi menyampaikan dua permasalahan pokok terkait kampus,

 

Senin, 13 Juli 2020 23:18 WIB

Fachrori Salurkan JPS Covid-19 Tahap Dua untuk 3.523 KK di Tanjabar


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar menyatakan, Pemerintah Provinsi Jambi akan terus berupaya dalam membantu meringankan beban masyarakat

 

Senin, 13 Juli 2020 23:12 WIB

Fachrori Tinjau Pelaksanaan Protokol Covid-19 di PT Lontar Papyrus


Kajanglako.com, Jambi – Gubernur Jambi  Dr.Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum mengemukakan bahwa aspek kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 dan

 

Sejarah VOC di Jambi
Senin, 13 Juli 2020 17:18 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (6)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam penilaian Soury, semua penduduk Jambi miskin. Ia juga menilai semua orang itu merupakan pencuri

 

Senin, 13 Juli 2020 15:21 WIB

Hari Ketiga Pencarian, Jasad Pelajar SMP Bungo yang Tenggelam Ditemukan Mengapung


Kajanglako.com, Bungo - Pelajar SMP di Kabupaten Bungo, yang tengelam pada Sabtu (11/7/20) lalu, akhirnya ditemukan Senin, (13/7/20) sekitar pukul