Selasa, 14 Juli 2020


Minggu, 14 Juni 2020 07:34 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (2)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Ketika Sterck tiba di Jambi, orang Inggris pun ada di sana. Tak jelas siapa yang datang duluan. Kehadiran Inggris di sana tak dianggap penting oleh Sterck. Ia bahkan tak mencatat tanggal pertemuannya dengan mereka. Seperti juga dirinya, orang Inggris membawa surat pengantar dari Sultan Johor yang ditujukan kepada Sultan Jambi. Berbeda dengan dirinya, orang Inggris tidak diizinkan untuk mendarat dan membuat rumah, gudang atau kantor. Mereka hanya diizinkan berdagang saja dengan sistem ‘Portugis’, yaitu dengan sesekali datang dengan kapal untuk membeli lada yang ada, dengan harga yang tinggi. Sterck menutup laporannya dengan catatan mengenai komoditi yang diperdagangkan di Jambi dan harga lada di sana. Itu saja yang disampaikan oleh Sterck. Walau ia tidak memberikan catatan detail mengenai pedagang-pedagang Inggris itu, mereka sendiri memberikan laporan lengkap. Hal ini tentunya menguntungkan kita yang mempelajari masa lalu Jambi.



Menurut sumber-sumber Inggris, pada tanggal 11 September 1615, beberapa orang pedagang Inggris, yaitu Rich, Westby, John Tucker dan William Vernon meninggalkan Bantam. Mereka membawa dua buah kapal, yaitu the Attendant dan the Assistent. Pada tanggal 27 September 1615, mereka tiba di muara Koeala. Sesampainya di sana, sebuah kapal the Attendant tidak berhasil melewati gundukan-gundukan pasir di muara sungai, walaupun sudah dibimbing oleh kapal penambang milik seorang Jawa. Mereka terpaksa meninggalkan kapal besar itu dan melanjutkan perjalanan dengan kapal Assistant yang lebih kecil pada tanggal 30 September.

Setelah enam hari bersusah-payah melawan arus, nakhoda kapal itu pun angkat tangan. Akhirnya, diputuskan mengutus Robert Johnson, purser atau kepala keuangan kapal dan John Smith, penerjemah, ke Jambi naik perahu untuk meminta bantuan. Mereka tiba di ibukota kesultanan pada tanggal 9 Oktober. Beberapa hari kemudian, 12 Oktober 1615, mereka sudah kembali lagi ke kapal the Assistent membawa 14 orang Cina, sebuah perahu dan tali tambang panjang dari rotan untuk menarik kapal itu. Dengan bantuan tambahan itu, kapal Assistant berhasil dibawa sampai ke Djambi dan tiba tanggal 21 Oktober.

Di kemudian hari, seorang lelaki Belanda bernama Cornelis Prince memberi tahu bahwa ada jalan lain ke Djambi, yaitu melalui Koeala Nioer. Jalan inilah yang biasanya dilalui oleh orang Portugis dan pedagang-pedagang lain berkapal besar. Informasi ini dan dengan bantuan kapal tambang setempat, Kapten Richard Hounsell berhasil menemukan jalur pelayaran untuk mengemudikan kapalnya, the Attendant, melawan arus dan melawan angin, mendekati Djambi. Menurut catatan Inggris, kapal-kapal berbobot 300 ton hanya dapat mencapai Djambi di bulan-bulan Juli dan Agustus saja atau terkadang, bulan September.

Soury, pedagang yang ditugaskan oleh JP Coen untuk menyusul Sterck, memberikan laporan yang lebih panjang. Sembilan belas halaman folio yang penuh dengan keterangan mengenai situasi politik dan ekonomi Djambi ketika ia menjejakkan kaki di kesultanan itu. Soury membuka laporannya dengan cerita bahwa kapalnya tiba pada tanggal 22 November 1615 di Koela Nioer setelah melawan badai dan arus kencang. Perjalanannya dari Bantan ke Djambi memakan waktu selama satu bulan.

Dalam perjalanan, oleh karena kehabisan air tawar, ia sempat berlayar memasuki sungai di Palembang. Daerah di sekitar sungai itu, tulisnya, merupakan daerah berawa-rawa yang penuh ditumbuhi tanaman rendah. Tak jauh dari muara, ada pulau kecil yang panjangnya kira-kira setengah mil. Kemungkinan besar, Soury memasuki Ajer Soengsang sampai ke Pulau Pajoeng. Catatannya tidak menyebutkan tentang desa atau permukiman di sekitar muara atau pulau itu. Barangkali pada saat itu, dusun Soengsang belum ada.

Seharusnya kapten kapal de Halve Maen yang ditumpangi oleh Soury juga membuat membuat keterangan lengkap mengenai rute pelayaran yang dilaluinya untuk sampai ke Soengsang. Namun, logbook atau catatan pelayarannya tidak diketemukan lagi di dalam koleksi Arsip Nasional Belanda sehingga tidak dapat ditelusuri bersamaan dengan laporan Soury.

Di muara sungai Palembang (Musi), Soury bertemu dengan Gubernur Jasper Jansz. Di atas kapal Neptunus dan kapal Cleen Enckhuysen yang mendampinginya. Dalam perjalanan dari Palembang ke Djambi, ia bertemu dengan beberapa kapal penduduk setempat dan sebuah jongkong Raja Cambodja. Di dekat Pulau Berhala, ia berpapasan dengan kapal Aeolus (yang ditumpangi oleh Sterck). Kapal itu baru saja meninggalkan Djambi.

Keterangan mengenai sungai Djambi dapat dibaca dalam gambaran yang diberikan oleh JP Coen kepada Pedagang Kepala dan kapten-kapten kapal Galiasse dan Bergerboot yang berangkat dari Batavia ke Djambi pada tanggal 26 Mei 1616: “ ... dari laut, Sungai Djambi dapat dimasuki melalui dua muara, yaitu Qualanior dan Qualaring (Berbah). Tak ada keterangan mengenai kuala yang terakhir itu, namun Qualanior (Koeala Nioer) telah dilayari oleh kapal de Halve Maen dan kapal Inggris. Muara sungai itu dipenuhi lumpur bercampur pasir. Lebarnya 40 ‘schreden’ (meter) dan airnya berkedalaman 3 depa. Kota Jamby terletak kira-kira 25 mil ke hilir.” (catatan FA: Perhatikan bahwa pada tahun 1615 dan 1616, nama Jambi ditulis oleh Belanda sebagai ‘Jamby’, bukan Djambi).

Kemungkinan besar, keterangan di atas berasal dari catatan harian kapal yang dibuat oleh Cornelis Cornelisz. Laporan Soury memberikan gambaran serupa. Ia menambahkan bahwa kira-kira 3 mil dari laut, kapalnya sempat karam tertumbuk gundukan pasir. Air di tempat itu dangkal, hanyalah kira-kira 2 meter dalamnya di bawah dasar kapalnya. Soury sempat khawatir bahwa kapalnya itu akan retak. Akan tetapi, ‘dengan bantuan Tuhan’, kapalnya terselamatkan.

Setelah melewati tempat-tempat dangkal di Koela Nioer, kapalnya memulai perjalanan menuju Djambi. Itu bukanlah hal yang mudah dilakukan. Kini, kapal itu harus menghadapi kendala alam yang lebih berat lagi. Arus sungai.

*Pustaka Acuan: JWJ Wellan (ed), Abraham Sterck and Andries Sourij. “Onze Eerste Vestiging in Djambi. Naar Oorspronkelijke Stukken,” dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië. Deel 82 (1926), pp. 339-383.


Tag : #Telusur #Naskah Klasik Belanda #VOC di Jambi



Berita Terbaru

 

Senin, 13 Juli 2020 23:30 WIB

Terdampak Covid-19, Mahasiswa UNBARI Protes Mahalnya Biaya Kuliah


Kajanglako.com, Jambi  - Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Batanghari (Unbari) Jambi menyampaikan dua permasalahan pokok terkait kampus,

 

Senin, 13 Juli 2020 23:18 WIB

Fachrori Salurkan JPS Covid-19 Tahap Dua untuk 3.523 KK di Tanjabar


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar menyatakan, Pemerintah Provinsi Jambi akan terus berupaya dalam membantu meringankan beban masyarakat

 

Senin, 13 Juli 2020 23:12 WIB

Fachrori Tinjau Pelaksanaan Protokol Covid-19 di PT Lontar Papyrus


Kajanglako.com, Jambi – Gubernur Jambi  Dr.Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum mengemukakan bahwa aspek kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 dan

 

Sejarah VOC di Jambi
Senin, 13 Juli 2020 17:18 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (6)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam penilaian Soury, semua penduduk Jambi miskin. Ia juga menilai semua orang itu merupakan pencuri

 

Senin, 13 Juli 2020 15:21 WIB

Hari Ketiga Pencarian, Jasad Pelajar SMP Bungo yang Tenggelam Ditemukan Mengapung


Kajanglako.com, Bungo - Pelajar SMP di Kabupaten Bungo, yang tengelam pada Sabtu (11/7/20) lalu, akhirnya ditemukan Senin, (13/7/20) sekitar pukul