Selasa, 14 Juli 2020


Rabu, 10 Juni 2020 12:10 WIB

Sisi Balik Normal Baru

Reporter :
Kategori : Perspektif

ilustrasi. sumber foto: www.airmagz.com

Oleh: A. Windarto*

Normal Baru (New Normal) telah menjadi bahasa sehari-hari yang sebelumnya boleh jadi tak terbayangkan. Sebab di tengah pandemi korona yang cukup panjang dan melelahkan, seolah-olah sudah tak ada harapan lagi untuk kembali ke masa yang membuat segalanya masih mungkin untuk dilakukan. Masuk akal jika hal itu menjadi "minus malum" (memilih yang lebih baik dari pilihan-pilihan yang buruk) yang tak mudah untuk dihindari.



Tentu, di satu sisi normal baru didukung oleh sejumlah pihak yang nampaknya sudah tak mampu lagi untuk menanggung beban selama pandemi. Namun, di lain sisi tak sedikit pula yang menolak lantaran belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pandemi akan segera berlalu. Tak heran jika normal baru masih menjadi polemik yang sesungguhnya belum terdengar ketok palunya, meski beberapa kebijakan yang bersifat tarik-ulur telah ditetapkan seperti pelonggaran dalam beribadah misalnya.

Dalam bukunya yang berjudul Pan(dem)ik; Covid-19 Mengguncang Dunia (2020), Slavoj Zizek menunjukkan bahwa panik adalah sumber masalah yang sesungguhnya semasa pandemi. Sebab dari sanalah muncul sikap meremehkan yang mengabaikan segala sesuatu, termasuk sesama di sekitarnya. Dalam konteks ini, kepanikan justru meniadakan ancaman yang ada lantaran dengan cara apapun siapapun akan berupaya untuk terhindar, bahkan terlepas, dari padanya. Itulah mengapa dalam kepanikan tak ada apa/siapapun yang ditakuti, kecuali diri sendiri. Karena itu, lebih baik mengorbankan orang lain daripada menyerahkan diri tanpa syarat/jaminan apapun. Dan inilah yang menjadi benih-benih "barbarisme", atau, dalam bahasa Zizek, disebut sebagai "otomatisme buta".

Pada titik ini, normal baru telah menjadi buah-buah dari hal itu. Karena, ibarat virus yang sesungguhnya tidak menghancurkan, melainkan hanya membelah diri secara alami, normal baru hanyalah bahasa lain dari "survival of the fittest" (siapa kuat, pasti menang). Jadi, sesungguhnya yang dibela dan dijaga adalah kepentingan ekonomi, khususnya produksi dan konsumsi. Sebab hanya dengan cara itu, hidup sehari-hari dapat tetap bertahan. Maka, normal baru memang perlu untuk dikaji secara jeli dan waspada agar tidak menjadi "senjata makan tuan" yang menimbulkan masalah baru.

Penting untuk diingat bahwa normal baru bersifat amat spektral. Itu artinya, memang tak mudah untuk dipraktikkan, namun terlanjur dianggap sebagai yang menentukan. Ironisnya, normal baru sebagai cara dan gaya hidup telah dirakit dengan sedemikian cermat sehingga tampak seirama dengan berbagai kepentingan. Tak heran, di tengah pandemi sekalipun tak sedikit orang yang lebih takut tidak punya baju baru saat Idul Fitri yang lalu misalnya, daripada terinfeksi virus Covid-19. Bukankah seperti kata pepatah bahwa dalam setiap krisis akan selalu ada Sang Mesias dan/atau Ratu Adil?

Memang sulit untuk dibantah bahwa normal baru bukan sekadar wangsit yang jatuh dari langit. Sebab jejak langkahnya dapat ditelusuri pada masa krisis keuangan atau resesi global di tahun 2000-an. Di sanalah normal baru menjadi momentum dan tempat yang tepat untuk keluar dari berbagai hal dan masalah yang sesungguhnya berakar pada perkara konsumsi belaka. Dengan kata lain, normal baru mirip dengan antibiotik yang berfungsi semata-mata meredakan gejala tanpa menangkal, apalagi menyembuhkan, penyakitnya.

Di tengah pandemi yang kasus positifnya masih tampak fluktuatif ini, tentu diperlukan kajian yang cukup komprehensif agar normal baru tidak sekadar menjadi jargon semata. Karena jargon yang pada dasarnya hanya berisi kata-kata kosong tanpa makna amat berpretensi untuk melonggarkan ikatan-ikatan antara kata (word) dan perbuatan (deed). Itu artinya, normal baru dapat berintensi untuk membelokkan arah dan tujuan dari segala upaya agar dapat lepas dari pandemi saat ini.

Mudah ditebak bahwa normal baru seakan-akan telah dipandang sebagai keyakinan yang sukar digoyang dengan pengetahuan. Hal itu merupakan konsekuensi logis dari masyarakat yang terlanjur dibiasakan untuk lebih percaya pada ketidakstabilan dalam berpendapat. Artinya, masyarakat sama sekali bukan tidak punya pendapat, melainkan lantaran, lewat media massa, para pembaca, pendengar dan/penonton disuguhi dengan beragam pertunjukan yang serba membingungkan. Karena itulah, masyarakat menjadi mudah resah dengan berbagai kebijakan yang dihasilkan selama pandemi. Maka bukan kebetulan jika muncul sejumlah perlawanan simbolik yang bertujuan untuk menegosiasi atau mendomestikasi suara-suara resmi yang berasal dari atas. Salah satunya melalui spanduk berbahasa kerakyatan bertuliskan "Corona jahat, kayak mantan #Dirumah aja" misalnya, yang terkesan sebagai guyonan belaka, namun sesungguhnya menampakkan kegelisahan yang nyata.

Di era menjelang normal baru saat ini, boleh jadi lebih diperlukan kejelian dan kewaspadaan yang mampu menghadirkan bukan hanya produktivitas, tetapi juga kreatifitas untuk menjalani hidup sehari-hari. Dalam konteks ini, negara perlu membaca kreatifitas itu seperti dipertunjukkan lewat spanduk kerakyatan selama pandemi. Sebab dalam normal baru berbagai kebijakan dari negara tak bisa lepas dari suara dan kepentingan rakyat yang telah hilang dari pikiran pihak-pihak yang selalu mengaku sebagai penyambung lidah rakyat.

 

*Penulis adalah peneliti di lembaga Studi Realino, Sanata Dharma, Yogyakarta.


Tag : #Perspektif #Normal Baru #Pandemi Korona



Berita Terbaru

 

Senin, 13 Juli 2020 23:30 WIB

Terdampak Covid-19, Mahasiswa UNBARI Protes Mahalnya Biaya Kuliah


Kajanglako.com, Jambi  - Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Batanghari (Unbari) Jambi menyampaikan dua permasalahan pokok terkait kampus,

 

Senin, 13 Juli 2020 23:18 WIB

Fachrori Salurkan JPS Covid-19 Tahap Dua untuk 3.523 KK di Tanjabar


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar menyatakan, Pemerintah Provinsi Jambi akan terus berupaya dalam membantu meringankan beban masyarakat

 

Senin, 13 Juli 2020 23:12 WIB

Fachrori Tinjau Pelaksanaan Protokol Covid-19 di PT Lontar Papyrus


Kajanglako.com, Jambi – Gubernur Jambi  Dr.Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum mengemukakan bahwa aspek kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 dan

 

Sejarah VOC di Jambi
Senin, 13 Juli 2020 17:18 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (6)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam penilaian Soury, semua penduduk Jambi miskin. Ia juga menilai semua orang itu merupakan pencuri

 

Senin, 13 Juli 2020 15:21 WIB

Hari Ketiga Pencarian, Jasad Pelajar SMP Bungo yang Tenggelam Ditemukan Mengapung


Kajanglako.com, Bungo - Pelajar SMP di Kabupaten Bungo, yang tengelam pada Sabtu (11/7/20) lalu, akhirnya ditemukan Senin, (13/7/20) sekitar pukul