Selasa, 14 Juli 2020


Minggu, 07 Juni 2020 09:33 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (1)

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pada tanggal 22 Oktober 1615, dari Bantam, JP Coen menulis sebagai berikut: “ ... untuk mencari/mendapatkan lada, dari seorang Simsuan, kami telah mendapatkan barang-barang dan telah mengutus pedagang bernama Abraham Sterck dan tiga orang Jerman ke Jambi, karena di sana didapatkan lada sebanyak di Bantam.” Keputusan mengirim keempat orang itu ke Jambi disebabkan karena VOC sedang kekurangan uang tunai dan mereka memperkirakan bahwa panen lada di Bantam akan berkurang (pada saat itu). Tiga orang ditugaskan untuk mengatur kepergian itu, yaitu Sterck (Pedagang Kepala), Jan Meynertsz (Pedagang Pembantu) dan Hendrick Jansz (Asisten).



Simsuan yang dimaksudkan oleh JP Coen adalah seorang lelaki Cina, pedagang besar di Bantam yang juga bekerjasama dengan VOC. Beberapa kali, hubungannya dengan VOC merugikannya. Oleh Arja Manggala, pangeran Bantam yang memerintah kesultanan itu, Simsuan memperoleh izin untuk mengirimkan kapalnya ke Djambi. Akan tetapi, ketika mengetahui bahwa beberapa orang Belanda juga ikut berlayar di atas kapal itu, Arja Manggala memerintahkan untuk menangkap Simsuan dan menawannya di dalam kandang anjing dengan leher dan kaki yang diikat. Rumahnya (beserta barang-barang VOC yang disimpan di rumah itu), disita. Isteri-isteri dan anak-anaknya pun dipukul. Karena VOC banyak berhutang pada Simsuan dan memerlukan bantuannya untuk berbagai hal, mereka melakukan segala-sesuatu agar pedagang itu dibebaskan. Usaha mereka berhasil sehingga akhirnya Simsuan hanya ditahan selama dua bulan saja.

Tak diketahui persisnya tanggal berapa Sterck berangkat dari Bantam. Biasanya bila keputusan telah dikeluarkan secara resmi, yang mendapatkan penugasan segera berangkat beberapa hari kemudian. Tampaknya untuk penugasan ke Jambi itu ada pengecualian karena nyatanya, Sterck baru tiba di Jambi pada tanggal 15 September 1615. Walaupun Sterck tahu betul bahwa JP Coen dengan tak sabar dan tegang menunggu-nunggu kabar penjelajahan ke Jambi itu, Sterck tak juga mengirimkan kabar.

Coen mengirimkan surat peringatan kepada Sterck pada tanggal 8 September 1615. Entah ke mana ia mengirimkan surat itu karena Sterck sudah berangkat dan masih dalam perjalanan. Di kemudian hari, Sterck menguraikan bahwa ia baru tiba di Jambi setelah ‘melalui perjalanan yang sangat panjang.’ Akan tetapi, tentunya Coen tidak mengetahui hal itu. Ia tak sabar. Ia menunggu sebulan lagi dan akhirnya memutuskan untuk menugaskan Pedagang Kepala yang lain, Adries Soury, ke Jambi. Soury diharapkannya mencari tahu apa yang terjadi dengan Sterck dan juga untuk menciptakan hubungan dagang di Jambi.

Tugas yang dibebankan Andries Soury lumayan berat. Ia mendapatkan instruksi rinci mengenai apa saja yang harus dilakukannya, selain mencari dan menciptakan hubungan dagang. Ia harus secepat mungkin tiba di Jambi. Ini berarti bahwa lelaki itu harus sedapat mungkin mengatur rute perjalanan sehingga angin selalu bertiup di belakang layarnya. Kalau layarnya tak terkembang, kapal yang ditumpanginya akan terdampar begitu saja di tengah laut. Dalam perjalanan, ia harus membuat catatan rinci mengenai segala-sesuatu yang dialami dan dilihatnya. Laporannya akan menjadi pedoman bagi pelayaran-pelayaran lain ke Jambi di kemudian hari. Karena itu, Soury dan kapten kapal itu harus membuat catatan navigasi yang rinci dan jelas. Setelah di Jambi, ia harus mempelajari masyarakat dan kebudayaan di Jambi: bagaimana karakter orang Jambi? Bagaimana cara mereka berdagang? Bagaimana keadaan dan situasi alam di Jambi? Soury harus mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai Jambi dan masyarakatnya, yang mungkin diperlukan untuk keberhasilan usaha VOC di sana. Untuk melakukan semua itu, Soury mendapatkan kuasa penuh untuk mengangkat atau memecat pegawai-pegawai yang diperlukannya dan tambahan lagi, Soury berhak pula mengangkat dirinya sendiri sebagai Pedagang Kepala di Jambi.

Sementara itu, surat Coen, yang dikirimkan dengan kapal Aeolus dari Banten, pada tanggal 8 September diterima oleh Sterck pada tanggal 16 Oktober. Ia baru membalasnya dua minggu kemudian, 4 November 1615. Jadi, Coen baru menerima kabar pertama dari Jambi setelah Andries Soury berangkat.

Surat Sterck, dua halaman penuh, ternyata ditulisnya di atas kapal Aeolus yang berlabuh di laut, di muara Sungai Jambi. Bukan dari tempatnya menginap di darat, di Jambi. Isi surat itu dianggap begitu penting oleh Coen sehingga ia mengirimkannya ke kantor pusat VOC di Belanda dengan surat pengantar tertanggal 15 Januari 1616, dari dirinya sendiri.

Yang paling penting dari surat itu adalah laporan bahwa Sterck tiba di Jambi pada tanggal 15 September 1615. Walaupun sangat singkat, surat dari Sterck itu pula berisi gambaran pertama mengenai Jambi dan orang Jambi. Ia pun segera mulai membangun sebuah pondok yang akan berfungsi sebagai markas, kantor, gudang dan tempat tinggal pedagang dan perwakilan VOC di Jambi. Pondok yang menjadi markas itu (disebut loge dalam bahasa Belanda) dibangun kokoh dan dijaga karena Sterck rupanya takut penduduk setempat akan membakarnya atau mencuri barang-barang yang disimpan di dalamnya. Sterck tampaknya merasa tidak dapat mempercayai orang Jambi. Ia lebih terkesan dengan orang-orang Minangkabau yang membawa lada berkualitas baik dari daerah dataran tinggi. Yang disayangkannya hanyalah bahwa ia harus menunggu begitu lama sebelum orang-orang Minangkabau itu tiba dengan lada dagangannya.

Sungai Jambi sangat dalam, katanya. Namun, gundukan-gundukan pasir di muara sungai itu sulit dilalui oleh kapal besar seperti Aeolus. Ia menyarankan untuk menggunakan kapal yang lebih kecil untuk masuk sampai ke Jambi. Selain catatan navigasi yang sangat minim itu, Sterck menulis sepintas lalu bahwa dalam perjalanan ke Jambi, kapalnya mampir di Indragiri. Ia berhasil membuat kesepakatan dengan raja di sana sehingga VOC mendapatkan monopoli perdagangan lada.

*Pustaka Acuan: JWJ Wellan (ed), Abraham Sterck and Andries Sourij. “Onze Eerste Vestiging in Djambi. Naar Oorspronkelijke Stukken,” dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië. Deel 82 (1926), pp. 339-383.


Tag : #Telusur #VOC #Sejarah Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Senin, 13 Juli 2020 23:30 WIB

Terdampak Covid-19, Mahasiswa UNBARI Protes Mahalnya Biaya Kuliah


Kajanglako.com, Jambi  - Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Batanghari (Unbari) Jambi menyampaikan dua permasalahan pokok terkait kampus,

 

Senin, 13 Juli 2020 23:18 WIB

Fachrori Salurkan JPS Covid-19 Tahap Dua untuk 3.523 KK di Tanjabar


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar menyatakan, Pemerintah Provinsi Jambi akan terus berupaya dalam membantu meringankan beban masyarakat

 

Senin, 13 Juli 2020 23:12 WIB

Fachrori Tinjau Pelaksanaan Protokol Covid-19 di PT Lontar Papyrus


Kajanglako.com, Jambi – Gubernur Jambi  Dr.Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum mengemukakan bahwa aspek kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 dan

 

Sejarah VOC di Jambi
Senin, 13 Juli 2020 17:18 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (6)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam penilaian Soury, semua penduduk Jambi miskin. Ia juga menilai semua orang itu merupakan pencuri

 

Senin, 13 Juli 2020 15:21 WIB

Hari Ketiga Pencarian, Jasad Pelajar SMP Bungo yang Tenggelam Ditemukan Mengapung


Kajanglako.com, Bungo - Pelajar SMP di Kabupaten Bungo, yang tengelam pada Sabtu (11/7/20) lalu, akhirnya ditemukan Senin, (13/7/20) sekitar pukul