Selasa, 14 Juli 2020


Minggu, 31 Mei 2020 11:19 WIB

Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan Semesta Ahmad Syafii Maarif

Reporter :
Kategori : Sosok

Sumber: penerbit Ombak

Oleh: Muhammad Nursam*

Di langit Indonesia yang masih terus berproses menjadi (Indonesia), nama Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif (selanjutnya ditulis ASM) adalah sebuah teladan, inspirasi. Di tengah masyarakat yang sangat beraneka warna dengan beban masa silam yang sangat berat, masa kini yang seakan tanpa inspirasi, dan masa depan yang masih gamang, sosok ASM menjadi oase di tengah padang Indonesia. Pergumulannya dengan berbagai ide dari berbagai penjuru mata angin dengan kesadaran sejarah yang tinggi telah membawanya pada pergulatan intelektual tentang keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Sebuah pergulatan yang masih dan akan terus digelutinya sebagai pilihan dan panggilan hidupnya. Pilihan dan panggilan hidup yang telah ditetapkan dengan kesadaran moral yang dalam dan komitmen intelektual yang matang.



* * *

Buku ini adalah sebuah memoar, kisah hidup yang ditulis sendiri—atau biasa juga disebut otobiografi. Selain sebagai refleksi yang otentik dari pengalaman hidup ASM, buku ini juga sekaligus merupakan pertanggungjawaban atas pilihan yang telah ditetapkan, sikap yang telah diambil, dan tindakan yang telah dilakukan sepanjang perjalanan hidupnya. Selain itu, buku ini merupakan sumber primer untuk mencari jawaban atas semesta ASM.

Dilahirkan pada 31 Mei 1935 dari pasangan Ma’rifah Rauf (1900—1955) dan Fathiyah (lahir kira-kira 1905—1937) sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Ma’rifah Rauf adalah orang terpandang di Sumpur Kudus; sebagai kepala suku Malayu dengan gelar Datuk Rajo Malayu dan sebagai Kepala Nagari yang dijabatnya sampai tahun 1946. Pengetahuan agamanya diperoleh dengan membaca. Meskipun Ranah Minang dianggap suku dengan karakter khas, egaliter, dan demokratis, tetapi di antara suku itu, Chaniago, yang paling egaliter. Fathiyah, ibu ASM, berasal dari suku yang paling egaliter itu. Setelah ibunya meninggal, ASM tinggal di bibinya, Bainah, yang letaknya 500 meter dari rumahnya.

Sumpur Kudus, Sumatra Barat, tempat di mana ASM dilahirkan dikenal juga dengan sebutan “Makkah Darat” yang secara kultural melambangkan sebuah gerak perlawanan terhadap apa yang bernama kultur hitam jahiliyah yang dikuasai parewa (preman) sangar daerah pedalaman. Penamaan Sumpur Kudus (sampurna suci), sebagai “Makkah Darat” sekaligus juga menunjukkan keberhasilan Islam menundukkan hati manusia Sumpur Kudus. Dalam sebuah periode sejarahnya, Sumpur Kudus pernah akrab dengan “dunia ekonomi” (menjadi pusat perdagangan emas, kopi, dan lada) dan “dunia gagasan” (menjadi pusat kajian Islam). Dari catatan sejarah diketahui bahwa batin orang Sumpur Kudus diterangi cahaya Islam melalui Syekh Ibrahim, berasal dari Aceh, pada abad ke-16. Cahaya inilah yang mengubah Sumpur Kudus dari wilayah hitam menjadi hunian putih.

Dunia awal, masa kecil ASM dilewati di kampung halamannya. Ada dua tipologi budaya Minangkabau, mengutip Mrazek, “dinamisme” dan “anti-parokialisme”. Yang pertama ditandai dengan tradisi merantau, sedang yang kedua melahirkan jiwa yang bebas dan kosmopolit. Di usia 18 tahun—setelah menyelesaikan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus (1947) dan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau (1953)—ASM “mendinamisasikan” dirinya, berkat M. Sanusi Latief, dengan melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Dari sinilah ASM mengikuti ke mana tapak kaki melangkah sampai mencapai puncak prestasi akademik, Ph.D. (Doctor of Philosophy), dari negara yang mengklaim dirinya sebagai “Bapak Demokrasi”, Amerika Serikat, tepatnya di the University of Chicago (Desember 1982) dalam usia 47 tahun dan puncak prestasi mengajar, Profesor, sebagai Guru Besar Filsafat Sejarah dari IKIP Yogyakarta (1997) dalam usia 62 tahun. Sebelum mencapai “puncak-puncak” di atas, ASM melakukan perjalanan dan pengembaraan dari satu daerah ke daerah yang lain disertai berbagi interupsi dalam kehidupannya. Antara rantau dan alam, dalam sosok ASM, selalu terlibat dalam dialog secara terus terus-menerus disertai dengan sikap kritis: “Alam terkembang jadi guru”. Proses atau “stuktur pengalaman” inilah yang membentuk sosoknya sebagai manusia bebas dan merdeka.

Prof. Syafii Maarif. Sumber foto: inisiatifnews.com

* * *

Di antara sebab mengapa memoir-otobiografi dan sejenisnya—tentu saja yang bermutu—masih dan akan terus dibutuhkan oleh penghuni bumi ini, karena di dalamnya terdapat mutiara hidup dan sisi-sisi manusiawi lainnya dan karena itu, mampu memberi inspirasi. Selain kepribadian, kekuatan sosial, sensibilitas, sisi lain yang penting untuk dicermati adalah tikungan-tikungan hidup (keberuntungan dan kesempatan) sang tokoh. Tikungan-tikungan itu yang memberi bobot manusiawi, mendekatkan sang tokoh dengan pembaca, dan dari sana kita dapat menemukan kearifan. Tikungan-tikungan itu, oleh ASM dalam otobiografinya ini, disebut titik-titik kisar.

Titik kisar pertama terjadi pada waktu ASM belajar di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau, setelah menganggur selama tiga tahun pasca SR. Dengan modal pendidikan Mu’allimin, ASM telah berani berpidato di depan publik kampung yang jumlahnya terbatas. Bahkan lebih dari itu, ASM sudah berani pula memberi ceramah di tempat-tempat lain. Dengan bekal ilmu agama yang serba sedikit, sebagai pemula, ASM telah berani berdebat di masjid menghadapi kaum elite Sumpur Kudus dengan semangat tinggi. Topik perdebatan tidak melebihi masalah-masalah khilafiah di tingkat kampung. Paham agama Muhammadiyah yang telah “dipompakan” ke dalam otak dan hatinya sejak masih belajar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus telah menjadi modal ASM untuk berkayuh lebih jauh, sampai ke puncak karier akademiknya. Menurut ASM, modal ini pernah “menghilang” sementara ketika ASM sibuk dengan ilmu-ilmu sekuler, kemudian hadir kembali dengan fondasi yang lebih mantap dan kokoh.

Titik kisar kedua terjadi setelah meneruskan pelajaran ke Madrasah Mu’allimin Yogyakarta. Wawasannya semakin luas, tetapi nalurinya sebagai seorang “fundamentalis” belum berubah, jika bukan semakin menguat. Bahkan sampai ASM belajar sejarah pada Universitas Ohio di Athens, Amerika Serikat, paham agamanya belum banyak mengalami perubahan. Cita-cita politik ASM tetap saja ingin “menaklukkan” Indonesia agar menjadi Negara Islam, padahal batang usianya ketika itu sudah di atas 40 tahun.

Titik kisar ketiga terjadi di lingkungan kampus Universitas Chicago. ASM mengalami kebangkitan spiritual dan intelektual yang baru. Otak dan hatinya mendapatkan “virus” pencerahan. Menurutnya, ini adalah titik kisar dalam pemikiran keislaman dan keindonesiaannya. Peran Fazlur Rahman, dengan segala kritiknya kepada sang guru, sungguh sangat besar. Strategi dan pendekatan yang digunakannya agar ASM menimbang seluruh kekayaan khazanah Islam klasik dan modern dengan Alquran sebagai sumber pokoknya. Kita kutip pernyataan ASM dalam buku ini:

“Memang pada akhirnya aku berkesimpulan bahwa apa yang dikenal dengan kelompok sunni, syi’i, khawarij, dan cicit-cicitnya yang telah berkembang biak selama puluhan abad pada berbagai unit peradaban Muslim, adalah hasil sejarah belaka yang boleh dan harus dipertanyakan, diterima atau ditolak, dengan menempatkan Alquran sebagai hakim tertinggi. Sebagaimana nenek mereka terdahulu, cicit-cicit ini juga tidak jarang terlibat untuk saling bahu hantam yang tak putus-putusnya, karena Alquran tidak dijadikan rujukan pertama dan utama. Alquran sudah terlalu lama dicampakkan ke dalam limbo sejarah. Kesimpulan ini adalah dari aku sendiri, bukan dari Rahman. Semua hasil sejarah pasti terikat dengan ruang dan waktu. Masa lampau adalah milik mereka yang menciptakan, bukan milik kita. Milik kita hanyalah semua yang kita ciptakan, sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. Di sinilah perlunya orang belajar sejarah secara cerdas, jujur, dan kritikal.

Untuk Indonesia ke depan, tugas yang cukup menantang adalah bagaimana mengawinkan secara sadar dan cerdas nilai-nilai dasar keislaman yang ramah dengan unsur-unsur keindonesiaan. Pandangan Mohammad Hatta dan H.A. Salim barangkali perlu dijadikan salah satu rujukan untuk merumuskan proses integrasi Islam dan Indonesia itu. Dalam perspektif ini Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya harus berhenti untuk hanya dijadikan retorika politik. Semua nilai itu harus diterjemahkan ke dalam format yang konkret sehingga prinsip “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” benar-benar menjadi kenyataan. Tanpa upaya yang serius ke arah tujuan mulia ini, akan sangat sulit bagi Indonesia untuk bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang berdaulat dan adil. Dalam ungkapan lain, terpaan sejarah yang berkali-kali memukul Indonesia, sesungguhnya dapat dicari akar-umbinya pada kelalaian fatal para elite bangsa dalam melaksanakan prinsip keadilan ini. Di sinilah sebenarnya sumber pokok dari segala konflik pusat-daerah yang berkali-kali kita alami dengan biaya yang sangat tinggi. Tetapi alangkah sukarnya orang belajar dari pengalaman pahit masa lampau.

Integrasi nasional bukanlah sesuatu yang sudah final, ia adalah sebuah proses yang terus berlangsung, tidak pernah berhenti. Islam bila dipahami dan ditafsirkan secara benar dan otentik, di samping Bahasa Indonesia, akan memberikan sumbangan yang sangat menentukan bagi pemantapan proses integrasi ini. Kepada teman-teman yang memilih radikalisme untuk mencapai tujuan, aku ingatkan bahwa cara-cara semacam itu sepanjang sejarah Indonesia hanya punya satu risiko: gagal! Oleh sebab itu bacalah baik-baik peta sosiologis masyarakat Indonesia sebelum melangkah terlalu jauh dengan menggunakan cara-cara radikal yang sia-sia itu.”

Kutipan di atas telah menjelaskan posisi ASM dalam kaitan antara keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Lebih separuh dari perjalanan hidupnya telah dicurahkan pada pergulatan itu. Sebuah pergulatan yang harus dibayar mahal dengan sejumlah caci-maki: “Hanya membebek pemikiran Rahman”, “pembawa sekularisme”, “anti-Piagam Jakarta”, dan lain sebagainya. Semua kritik itu diterimanya dengan lapang dada tanpa menciutkan nyalinya se-inci pun untuk terus berdakwah dan turut memperkaya khasanah pemikiran Islam dalam perspektif historis-sosiologis keindonesiaan.

Sampai kini, ASM telah menghasilkan berbagai karya. Segudang “produk pemikirannya”, dan jejak langkah yang telah digoreskan, merupakan hasil dari sebuah proses yang panjang, berliku, bahkan penuh onak-duri. Kesulitan dan tantangan hidup telah dibacanya sebagai peluang untuk bergerak terus tanpa henti. Puluhan buku telah lahir dari tangan seorang anak udik yang semula tidak punya cita-cita besar dan muluk-muluk. Tugasnya sebagai Ketua PP Muhammadiyah yang diembannya selama tujuh (1998-2005) tahun telah membawanya ke pusaran perkembangan politik, sosial, dan budaya secara nasional dan internasional. Periode ini adalah titik-titik krusial dalam transformasi republik ini, dan ASM di antara anak bangsa yang ikut mengambil (sedikit) peran. Dalam posisi seperti itu, misalnya, ketika kedudukan Gus Dur sebagai Presiden mulai mendapat kritik, sebagai seorang kawan, ASM mendatangi Gus Dur di Istana Merdeka untuk memberi saran: “... Orang tidak mungkin dapat membangun sebuah demokrasi yang sehat tanpa adanya para demokrat dalam wacana dan praktik sebagai pendukung utamanya....” (Saran ASM kepada Gus Dur selengkapnya dapat dibaca pada lampiran buku ini).

Kini, di usianya yang makin senja, aktivitasnya tidak berkurang, apalagi berhenti. Permintaan dari berbagai kalangan beragam latar membanjir terus kepadanya. Tampaknya, sosok ASM masih terus dibutuhkan di tengah miskinnya “guru bangsa” di sebuah bangsa dan negara dengan penduduk lebih 270-an juta kepala.

Di usia senjanya, bersama Ny. Hj. Nurkhalifah, istrinya, sumber inspirasi “dalam perang dan damai” dan anak semata wayangnya, Mohammad Hafiz, ASM tetap menikmati hari-harinya. ASM berharap di sisa akhir hidupnya, ia mampu menghasilkan karya tentang Islam dan kemanusiaan. Harapan itu, alhamdulillah, terwujud dengan terbitnya buku Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah. Buku yang disebutkan terakhir merupakan bagian dari pergumulan panjang dari ASM sebagai seorang Muslim yang mencintai keindonesiaan dan kemanusiaan. Bagi ASM, tidak ada kontradiksi antara keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan. Tiga tema besar ini merupakan potret diri dan semesta ASM. Hari ini, 31 Mei 2020, ASM berusia 85 tahun. Usia yang sudah senja. Kita semua mendoakan semoga ASM diberi kemampuan, kesehatan, dan umur yang panjang agar beliau masih bisa menghasilkan karya yang berguna bagi seluruh alam. Amin.

* * *

Akhirnya, terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada Bapak (Prof. Dr. H.) Ahmad Syafii Maarif yang telah memberi kepercayaan kepada kami untuk menerbitkan (kembali) buku ini. Kesederhanaan, ketululusan, dan otentisitas ASM adalah lentera bagi kami anak-anak muda Indonesia. Semoga pembaca pun menemukan lentera itu.

 

*Penulis merupakan intelektual sejarah sekaligus Direktur penerbit Ombak. Kini bersama keluarga penulis tinggal di Yogyakarta. Tulisan di atas merupakan pengantarnya untuk buku Ahmad Syafii Maarif, “Memoar Seorang Anak Kampung” (Yogyakarta: Penerbit Ombak, Edisi 2020). Ditulis di Nogotirto, 31 Mei 2006, 2013 & 2020 (edisi terbaru).


Tag : #Sosok #Ahmad Syafii Maarif #Islam #Indonesia dan Kemanusiaan #Islam Inklusif



Berita Terbaru

 

Senin, 13 Juli 2020 23:30 WIB

Terdampak Covid-19, Mahasiswa UNBARI Protes Mahalnya Biaya Kuliah


Kajanglako.com, Jambi  - Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Batanghari (Unbari) Jambi menyampaikan dua permasalahan pokok terkait kampus,

 

Senin, 13 Juli 2020 23:18 WIB

Fachrori Salurkan JPS Covid-19 Tahap Dua untuk 3.523 KK di Tanjabar


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Fachrori Umar menyatakan, Pemerintah Provinsi Jambi akan terus berupaya dalam membantu meringankan beban masyarakat

 

Senin, 13 Juli 2020 23:12 WIB

Fachrori Tinjau Pelaksanaan Protokol Covid-19 di PT Lontar Papyrus


Kajanglako.com, Jambi – Gubernur Jambi  Dr.Drs.H.Fachrori Umar,M.Hum mengemukakan bahwa aspek kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 dan

 

Sejarah VOC di Jambi
Senin, 13 Juli 2020 17:18 WIB

Markas VOC yang Pertama di Jambi (6)


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Dalam penilaian Soury, semua penduduk Jambi miskin. Ia juga menilai semua orang itu merupakan pencuri

 

Senin, 13 Juli 2020 15:21 WIB

Hari Ketiga Pencarian, Jasad Pelajar SMP Bungo yang Tenggelam Ditemukan Mengapung


Kajanglako.com, Bungo - Pelajar SMP di Kabupaten Bungo, yang tengelam pada Sabtu (11/7/20) lalu, akhirnya ditemukan Senin, (13/7/20) sekitar pukul