Sabtu, 06 Juni 2020


Jumat, 22 Mei 2020 14:22 WIB

Kebangkitan Nasional dan "New Normal"

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Dua hari yang lalu, saya diminta oleh FOKAL- UI (Forum Koordinasi Lintas Fakultas Alumni Universitas Indonesia) menjadi salah satu pembicara dalam acara webinar untuk memperingati hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei 2020. Karena webinar itu waktunya singkat sehingga tidak ada kesempatan untuk mendiskusikan materi yang saya sampaikan selain dari chat saya mendapat beberapa pertanyaan dan sanggahan yang menurut pendapat saya sangat penting untuk ditanggapi. Untuk kepentingan bersama, dalam tulisan ini saya ingin sekali lagi menguraikan gagasan yang telah saya sampaikan dan sekaligus menanggapi beberapa pertanyaan dari audience tentang permasalahan yang sedang dihadapi bersama.



Tema webinar yang diusung oleh FOKAL- UI adalah “Kebangkitan Nasional Manusia Indonesia memaknai New Normal”. Istilah New Normal yang saya terjemahkan sebagai Normal Baru merupakan istilah baru yang muncul bersamaan dengan meluasnya pandemik Covid-19. Sejauh yang bisa saya tangkap istilah dalam bahasa Inggris ini berasal dari “Barat”, dan saya tidak tahu siapa yang memperkenalkannya pertama kali, namun tampaknya begitu saja diterima oleh kalangan yang luas, tanpa pernah dijelaskan duduk perkaranya. Meskipun demikian ada semacam kesepakatan umum bahwa New Normal adalah sebuah keadaan masyarakat yang sedang mengalami perubahan akibat harus melakukan adaptasi dalam tingkahlakunya sehari-hari, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat maupun bangsa dan negara karena dampak Covid-19 telah menyerang sendi-sendi kehidupan bersama dalam setiap level itu. Melihat faktanya, sampai hari ini angka penduduk yang terjangkit Covid-19 terus bertambah, begitu juga korban yang meninggal masih tinggi dan kita sesungguhnya tidak tahu pasti kapan keadaan ini akan berakhir.

Ketika saya diminta untuk mengkaitkan Normal Baru dengan Kebangkitan Nasional, sebuah peristiwa politik yang sangat penting dalam sejarah bangsa ini, saya harus menempatkan Normal Baru dalam perspektif nasional, dalam level bangsa dan negara. Normal Baru dalam perspektif ini berarti sebuah keadaan masyarakat yang baru, tidak saja dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang berkaitan dengan cara hidup sehat untuk menghindari Covid-19, namun lebih dari itu, saya memaknainya sebagai kebangkitan nasional baru karena dampak Covid-19 telah merasuk tidak hanya pada sektor kesehatan, namun juga sektor-sektor vital yang lain, yang saya sederhanakan menjadi tiga, yaitu sektor politik, sektor ekonomi dan sektor sosial-kebudayaan. Perubahan yang terjadi dalam ketiga sektor ini mencerminkan perubahan dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang baru. Berubahnya ketiga sektor ini secara nasional akan mengakibatkan berubahnya kehidupan dalam level masyarakat, keluarga dan individu.

Saya ingin memulai pembicaraan kita tentang “Kebangkitan Nasional dan Normal Baru”, dengan mengingatkan kita semua sebagai bangsa akan dua tujuan yang melatarbelakangi berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 yaitu "mencerdaskan kehidupan bangsa” dan “meningkatkan kesejahteraan umum”. Perlu diketahui bahwa kedua tujuan ini kemudian menjadi tujuan yang dicantumkan dalam preambule atau pembukaan UUD 1945. Menurut saya dua tujuan ini juga yang mendasari mengapa kita ingin merdeka dan menjadi bangsa yang berdaulat di tengah atau di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Jadi jika kita mendiskusikan tentang  New Normal akibat adanya Covid-19 menurut hemat saya, Normal Baru yang kita imajinasikan itu, tidak terlepas dari "re-national awakening", kebangkitan nasional baru dan "re-newing" dari niat kita mencapai dua tujuan itu. Dengan demikian, Covid-19 yang sedang kita hadapi dengan segala permasalahannya hari ini adalah sebuah "a wakeup call" bagi bangsa ini untuk bangkit, tidak saja melawan Covid-19 tetapi juga sebuah “moment of truth” mau jadi bangsa dan negara macam apa kita ini sesungguhnya.

Nah dalam konteks kebangkitan nasional ini, “re”, menjadi kata kunci untuk membicarakan Normal Baru. Ada tiga konsep yang saya usulkan di sini: re-organisasi, re-konstruksi dan re-strukturisasi. Dengan kata “re”, berarti kita tidak bermaksud menciptakan sesuatu yang baru melainkan mereorganisasi, merestrukturisasi dan merekonstruksi apa yang sudah ada, tetapi dipaksa berubah karena ada Covid-19 ini. Normal Baru, dengan demikian saya artikan sebagai “proses” dan “hasil” dari ketiga “re” ini. Perlu saya tegaskan di sini bahwa saya tidak mengusulkan sebuah re-orientasi karena orientasi kita masih tetap, yaitu dua tujuan mengapa kita mendirikan negara ini, yaitu ingin mencerdaskan kehidupan bangsa dan ingin meningkatkan kesejahteraan umum, kesejahteraan seluruh warga negara tanpa kecuali.

Sebagai "a wakeup call" dampak Covid-19 ini akan mengubah sendi-sendi kehidupan kita sebagai sebuah bangsa dan negara, dan kita harus melihat tantangan besar ini sebagai peluang untuk "re-awakening"  kebangkitan nasional kita. Ada dua kondisi obyektif yang menurut saya paling mendesak saat ini untuk kita renungkan, yang pertama adalah kesenjangan atau ketimpangan ekonomi, dan kedua adalah rendahnya tingkat literasi bangsa kita dibandingkan bangsa lain. Kedua hal ini langsung memperlihatkan menjauhnya dua tujuan kebangkitan nasional tadi dengan realitas sosial yang kita miliki hari ini. Dampak dan imbas Covid-19 ini akan terasa berat karena menusuk langsung pada kedua realitas sosial ini. Dalam konteks Normal Baru ini, saya mengusulkan tiga hal, sebagai kesimpulan, pertama re-organisasi kekuasaan atau politik, kedua re-strukturisasi perekonomian dan ketiga re-konstruksi sosial. Kekuasaan dan politik harus direorganisasi agar lebih mencerminkan kedaulatan rakyat, kehidupan perekonomian  harus direstrukturisasi agar menciptakan kesejahteraan umum yang lebih adil, dan terakhir kehidupan bermasyarakat kita harus direkonstruksi agar lebih toleran, mampu bertenggang rasa antara kelompok-kelompok yang ada di masyarakat, agar dalam Normal Baru, lebih terbangun rasa solidaritas sebagai sesama warga negara dan "sense of belonging",  rasa ikut memiliki bangsa dan negara ini.

Beberapa penanggap menanyakan apakah kita sesungguhnya memerlukan reformasi politik, dan bagaimana melakukan berbagai “re” yang saya usulkan agar tidak menimbulkan masalah baru, juga ditanyakan, terkait sektor pendidikan, apakah sebetulnya yang harus dilakukan adalah rekonstruksi sistem pendidikan, terutama terkait rendahnya tingkat literasi banga ini? Berikut ini adalah tanggapan saya terhadap beberapa pertanyaan yang muncul dalam acara webinar FOKAL- UI tersebut. Tanggapan saya, mengingat keterbatasan ruang dalam tulisan ini, saya rangkum menjadi satu, dan tentu ini tidak dapat memuaskan rekan-rekan yang bertanya tersebut. Jika ketiga “re” yang saya usulkan dihubungkan dengan reformasi, maka reformasi kali ini berbeda dengan reformasi 98 karena jika reformasi 98 dipaksa oleh tekanan politik yang berasal dari luar (exogenous), reformasi kali ini harus berangkat dari tekanan yang berasal dari dalam (endogenous). Memakai bahasa saya, reorganisasi kekuasaan dan politik haruslah berangkat dari kesadaran kita dari dalam bahwa reformasi diperlukan untuk menjadikan politik benar-benar untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat. Dugaan saya desakan dari dalam itu kali ini terutama akan didorong oleh restrukturisasi ekonomi yang tampaknya tidak mungkin tidak harus dilakukan jika negara ini tidak ingin bangkrut.

Rekonstruksi sistem pendidikan nasional, saya setuju, saat ini saat yang paling tepat untuk diubah. Harapan saya, Menteri pendidikan Nadiem Nakariem dengan “think-tank” nya sudah menyusun agenda baru perubahan sistem pendikan secara lebih mendasar dengan mempertimbangkan visi bangsa ini di masa depan. Kebangkitan Nasional yang baru harus tetap berorientasi pada dua tujuan awal kita sebagai bangsa, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan umum. Rendahnya tingkat literasi saat ini mencerminkan cita-cita kemerdekaan “mencerdaskan kehidupan bangsa” selama ini telah terabaikan. Kesenjangan ekonomi yang menganga juga menunjukkan gagalnya pembangunan yang selama ini dilakukan. Jadi kapan lagi kalau tidak sekarang melakukan perubahan. Dalam sebuah perubahan yang radikal tentu akan muncul resistensi, tapi ini juga tantangannya. Pemimpin politik sejati yang visioner adalah pemimpin yang mampu mengubah tantangan sebagai peluang!

*Peneliti.


Tag : #Akademia #Perspektif #Covid-19 #Kebangkitan Nasional



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 06 Juni 2020 16:51 WIB

In Memoriam H. Sulaiman Hasan, Datuk Bandar Paduko Batuah


Oleh: Jumardi Putra* Gawai saya bertubi-tubi menerima pesan pendek via aplikasi WhatsApp dengan isi senada dan foto sosok lelaki yang sama: H. Sulaiman

 

Jumat, 05 Juni 2020 17:15 WIB

Update Covid-19: Bertambah 2 Kasus Positif di Jambi, Ini Datanya


Kajanglako.com, Jambi - Juru bicara gugus tugas Covid-19 Provinsi Jambi Johansyah mengumumkan penambahan 2 kasus pasien positif corona di Jambi per 5 Juni

 

Covid-19
Jumat, 05 Juni 2020 16:23 WIB

"Lockdown" ala Ketoprak


Oleh: A. Windarto* Pandemi Covid-19 melanda hampir ke seluruh daerah di tanah air. Angka pasien positif dan meninggal dunia akibat wabah mematikan ini

 

Jumat, 05 Juni 2020 15:18 WIB

Tindaklanjuti Rekom KASN, Pemprov Keberatan Angkat Kembali Pejabat Non-job


Kajanglako.com, Jambi - Sebelumnya Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sudah menjawab surat keberatan yang diajukan Gubernur Jambi Fachrori Umar tentang

 

Jumat, 05 Juni 2020 15:10 WIB

OJK Jambi Ajak Wartawan Gemar Menabung dan Investasi


Kajanglako.com, Jambi - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi menggelar kelas edukasi keuangan online (Kelana) terkait Unit Link-Asuransi Jiwa, bagi