Sabtu, 06 Juni 2020


Senin, 18 Mei 2020 06:21 WIB

Gus Mus

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Sudah lama saya ingin menemui kyai yang di mata saya sangat mengagumkan ini. Sobat saya Kang Sobary menasehati “Jangan lupa mampir beli peci dulu kalau sowan Gus Mus”. Kesempatan itu akhirnya datang juga. Saat itu sebagai anggota Tim KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) untuk meneliti kawasan pegunungan Kendeng memberi kesempatan saya beberapa hari di Rembang. Sejak dibangunnya pabrik Semen muncul ketegangan karena sebagian petani menolak pabrik yang akan mengganggu cadangan air tanah yang vital bagi pertanian. Sejak di Hotel Fave tempat tim KLHS menginap yang letaknya di seberang alun-alun kota Rembang saya sudah diberi tahu lokasi Pondok Pesantren Raudlatut Maarut Thalibin yang menjadi tempat kediaman KH Ahmad Mustofa Bisri, akrab disapa Gus Mus. Sebelum menuju rumah Gus Mus, saya berkonsultasi dulu dengan Kang Sobary. Kata Sobary, kalau ketemu bilang saja kalau saya temannya Mohamad Sobary dari LIPI.



Hari masih pagi ketika saya sampai di kompleks pesantren Gus Mus yang berada di Desa Leteh dan saya kaget karena sudah ramai, laki-laki perempuan, tua muda, sibuk sekali, saya lihat makanan dan minuman sedang diedarkan. Rupanya mereka sudah di sana sejak subuh dan  katanya kebiasaan Gus Mus memberikan pengajian setelah subuhan, dan hari itu kebetulan haulnya Gus Mus. Saya bertanya pada salah seorang di dekat saya, bagaimana kalau ingin bertemu dengan Gus Mus. Orang itu menunjuk sebuah rumah dalam kompleks itu sambil bilang, "bapak ke situ aja, ikut antrian orang-orang yang ingin bertemu Gus Mus". Setelah ikut makan, saya masuk ke ruang tamu yang sudah hampir penuh. Saya memilih duduk di pojok, semua mata tertuju pada pintu bertirai yang diapit dua lemari kaca besar penuh buku, Sampai akhirnya ada bayang-bayang tinggi besar di balik tirai, setelah tirai terkuak tampaklah sosok Gus Mus yang ditunggu-tunggu. Begitu keluar, dengan wajah cerah sumringah, mengucapkan salam, kemudian duduk bersila. Seketika sang asisten duduk mendekat, sambil membacakan catatan, seperti membisikkan sesuatu, mungkin melaporkan darimana saja rombongan tamunya dan untuk keperluan apa mereka datang menemui Gus Mus.

Saat itu, saya menyaksikan "live events" seorang kyai berkomunikasi dengan umatnya, sebagian tampaknya datang dari jauh, untuk mendapatkan nasehat, namun mungkin yang paling utama adalah mendapatkan doa langsung dari sang kyai. Para tamu itu umumnya sedang merencanakan akan melakukan sesuatu yang penting dalam hidupnya. Niat atau hajat itulah yang disampaikan ke kyainya, kadang-kadang melalui bisik-bisik, mungkin rencana itu bersifat sangat pribadi. Beberapa, selain menyampaikan niatnya sendiri atau rombongannya, juga membawa surat atau catatan, mungkin titipan dari sanak saudara atau handai taulan yang tidak bisa ikut datang, untuk disampaikan pada Gus Mus. Beberapa rombongan ternyata meminta didoakan karena akan naik haji atau umroh, dan respons Gus Mus terhadap rombongan yang ingin ke tanah suci ini bagi saya bagian yang paling menarik,

Rombongan yang rata-rata sudah berusia tua itu, laki-laki dengan baju koko atau batik lengan panjang, sebagian berkain sarung, dan peci, sementara yang perempuan berkain kebaya dan kerudung, bukan jilbab warna-warni yang saya lihat dipakai perempuan kota; diwakili oleh ketuanya menyampaikan niatnya untuk ke Mekah, dan meminta petunjuk apa yang harus dipersiapkan dan dilakukan nanti di Mekah agar selamat dan menjadi haji mabrur. Setelah berbagai kata-kata wejangan, nasehat Gus Mus yang satu ini membikin saya kaget. "Wis ora usah moco ayat-ayat sing angel-angel, ndonga nganggo boso Jowo wae, opo sing dadi niatmu, sing penting khusuk". Terjemahannya, "Sudahlah, tidak perlu menghafalkan ayat-ayat yang susah-susah itu, berdoa pakai bahasa Jawa saja, apa yang menjadi niatmu, yang penting khusuk".

Mendengar nasehat yang satu ini, saya terus terang agak terperangah, tidak menduga Gus Mus akan memberi nasehat seperti itu. Saya hanya mengira-ira, melihat penampilan rombongan laki-lagi dan perempuan itu, barangkali orang-orang ini adalah orang-orang Islam Jawa yang tampaknya tidak menguasai doa dalam bahasa Arab. Mungkin ini adalah hal yang biasa bagi Gus Mus, tapi tetap saja mendengar nasehatnya pada orang-orang ini, bagi saya merefleksikan sesuatu, kedalaman dan kearifan, sikap yang membuat saya semakin menghormatinya. Di kalangan orang Jawa, ada ungkapan "agomo, ageman, ageming aji" yang artinya "agama, pakaian, pegangan sejati". Di akhir pertemuan dengan umatnya yang mau naik haji itu Gus Mus membacakan doa dalam bahasa Arab yang cukup panjang, mencerminkan kesejatiannya sebagai pengelola pesantren yang memilih dekat dengan rakyat yang membututuhkannya daripada kekuasaan yang di matanya hampa.

Ket: Riwanto Tirtosudarmo bersama KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)

Saya merupakan orang terakhir yang diterima Gus Mus pagi menjelang siang itu, setelah tidak lupa memperkenalkan diri sebagai temannya Kang Sobary dari LIPI, dan mendengar itu Gus Mus langsung tersenyum lebar, dan saya sampaikan kalau saya ke Rembang sebagai anggota Tim KLHS yang diminta oleh Presiden Jokowi mendalami aspirasi masyarakat yang sedang berkonflik dengan pabrik Semen, Gus Mus segera mengerti, dan setelah berbincang tentang keprihatinan beliau tentang keadaan masyarakat dan lingkungan, beliau menyarankan agar saya ketemu salah satu kyai pembantunya yang selalu mewakilinya dalam persoalan yang menyangkut konflik pabrik semen di Rembang ini. Rupanya, menjelang siang, setelah pertemuan dengan para umatnya itu, Gus Mus harus bersiap untuk berangkat ke Jakarta menghadiri sebuah acara.

Dari rumah Gus Mus dengan diantar oleh salah seorang santrinya saya menuju sebuah rumah tidak jauh dari rumah Gus Mus, menemui sang tuan rumah, seorang kyai muda, yang sepertinya salah seorang tangan kanan Gus Mus. Sambil minum kopi khas Rembang, saya melanjutkan ngobrol soal pabrik semen, dan rupanya berdatangan tamu-tamu lain ikut ngobrol, antara lain salah satu putra Gus Cholil, kakak Gus Mus; sampai tidak terasa waktu sholat Jumat tiba, pergilah kami bersama-sama ke Masjid Agung kota Rembang untuk melaksanakan sholat Jumat. Ketika duduk bersila mendengarkan khotbah Jumat itu, ingatan saya justru melayang ke Banyuwangi. Saya teringat apa yang ditulis Andrew Beaty tentang orang-orang Osing yang ditelitinya.

Dalam bukunya berjudul Varieties of Javanese Religion, An Anthropological Account  Andrew Beaty, antropolog dari Oxford itu, menuliskan kembali pembicaraan verbatim dua orang Osing tentang Mekah dan Tuhan. Tentu aslinya dalam bahasa Osing, kalau Beaty menginggriskannya, saya di sini mengindonesiakannya. "Kamu tahu di mana letak Mekah yang menjadi tujuan kalau naik haji?", orang Osing pertama bertanya. Sambil menunjuk, orang Osing kedua yang ditanya itu menjawab "di barat". Orang Osing pertama melanjutkan pertanyaannya, "Jika kamu sudah ketemu Mekah dan terus berjalan mengitari bumi, kamu akan sampai di mana?" Orang Osing kedua yang ditanya sedikit bingung, tapi kemudian mengangguk-angguk ketika orang Osing pertama itu menjawab pertanyaannya sendiri. "Sampai ke punggungmu kan?". Jadi di mana Tuhan yang kamu cari itu? "Di dalam dirimu sendiri, bukan ?".

Gus Mus yang selain kyai juga pelukis dan penyair. Sebuah puisinya, ditulis tanggal 22 Maret 2020 di Surabaya, berjudul “Tuhan Mengajarkan Melalui Corona”. Saya kutipkan dua bait dari puisinya yang cukup panjang itu.

 

Datangi, temui dan kenali Dia di dalam relung jiwa dan hati nuranimu sendiri

Temukan Dia di saat yang teduh dimana engkau hanya sendiri bersamanya

 

Sesungguhnya Kerajaan Tuhan ada dalam dirimu

Qalbun mukmin baitullah

Hati orang yang beriman adalah rumah Tuhan

 

Mengingat kembali perjumpaan yang singkat dengan Gus Mus itu, saya yang sudah dua bulan mengurung di rumah, tercenung. What a coincident!

 

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di portal kajanglako.com


Tag : #Akademia #Sosok #Gus Mus



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 06 Juni 2020 16:51 WIB

In Memoriam H. Sulaiman Hasan, Datuk Bandar Paduko Batuah


Oleh: Jumardi Putra* Gawai saya bertubi-tubi menerima pesan pendek via aplikasi WhatsApp dengan isi senada dan foto sosok lelaki yang sama: H. Sulaiman

 

Jumat, 05 Juni 2020 17:15 WIB

Update Covid-19: Bertambah 2 Kasus Positif di Jambi, Ini Datanya


Kajanglako.com, Jambi - Juru bicara gugus tugas Covid-19 Provinsi Jambi Johansyah mengumumkan penambahan 2 kasus pasien positif corona di Jambi per 5 Juni

 

Covid-19
Jumat, 05 Juni 2020 16:23 WIB

"Lockdown" ala Ketoprak


Oleh: A. Windarto* Pandemi Covid-19 melanda hampir ke seluruh daerah di tanah air. Angka pasien positif dan meninggal dunia akibat wabah mematikan ini

 

Jumat, 05 Juni 2020 15:18 WIB

Tindaklanjuti Rekom KASN, Pemprov Keberatan Angkat Kembali Pejabat Non-job


Kajanglako.com, Jambi - Sebelumnya Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sudah menjawab surat keberatan yang diajukan Gubernur Jambi Fachrori Umar tentang

 

Jumat, 05 Juni 2020 15:10 WIB

OJK Jambi Ajak Wartawan Gemar Menabung dan Investasi


Kajanglako.com, Jambi - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi menggelar kelas edukasi keuangan online (Kelana) terkait Unit Link-Asuransi Jiwa, bagi