Sabtu, 06 Juni 2020


Kamis, 14 Mei 2020 16:16 WIB

Bias Kelas Covid-19

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Sudah jelas dari awal bahwa penyebaran Covid-19 ini berhubungan erat dengan salah satu dimensi penting dari globalisasi, yaitu mobilitas penduduk antar negara atau antar bangsa. Paradoksnya adalah, ketika saat ini digaungkan seruan untuk kerjasama internasional, masing-masing negara terpaksa harus memikirkan kepentingannya sendiri terlebih dahulu untuk bisa bertahan. Ironinya, setiap negara memiliki kemampuan bertahan (survival) sendiri-sendiri, dan tidak sedikit negara yang bakal menderita lebih berat karena kemampuan melenting (resilence) nya rendah. Hukum Darwin survival of the fittest akan berlaku dalam pertempuran melawan Covid-19 ini.



Indonesia secara hipotesis memiliki kemampuan bertahan dan melenting yang rendah. Dengan kata lain, kita sesungguhnya tidak siap dan kita bakal menderita dengan banyak korban dalam pertempuran ini. Pertempuran ini walau bagaimana pun akan ada akhirnya, dan jika berangkat dari hipotesa bahwa kita akan mengalami banyak korban, pertanyaannya adalah seberapa parah sebetulnya akibat yang kita derita sebagai bangsa dan negara. Dengan statement ini saya ingin mengajak siapa saja untuk think the unthinkable, tidak saja implikasi sosial, ekonomi dan politik tetapi juga tentang social, economic and political recovery dari worst case scenario, yaitu akibat terburuk dari gempuran musuh tidak terlihat yang bernama Covid-19.

Apabila kita melihat realitas sosial, ekonomi dan politik yang ada, gempuran pandemik ini mau tidak mau akan masuk ke dalam struktur yang ada. Struktur sosial, ekonomi dan politik yang kita miliki sebagai hasil dari perkembangan sejak awal tahun 1970an menunjukkan kalau kita semakin menjauh dari cita-cita kemerdekaan yang diraih dengan susah payah oleh para pendiri bangsa ini, yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Secara sosial-ekonomi, saat ini, ditandai oleh ketimpangan yang luar biasa antara segelintir yang punya dan lautan yang tidak punya, begitu juga secara politik, yang ada adalah oligarki. Covid-19 memperlihatkan dengan jelas adanya bias kelas dari struktur sosial dan ketenagakerjaan kita. Kita mulai harus mengantisipasi the weakest link yang akan paling berat menghadapi dampak covid-19 ini. Bisa dibayangkan mereka yang rentan adalah masyarakat-masyarakat yang ada di pinggiran, the marginal groups.

Siapa yang bisa WFH (work from home) adalah mereka yang jumlahnya sedikit yang bekerja di sektor jasa. Jalan-jalan dan perkantoran di segitiga emas Jakarta sepi, kenapa, karena kelas ekonomi ini mampu untuk WFH, sementara itu pergilah anda ke perkampungan-perkampungan padat, ke pasar-pasar tradisional, who can not afford to work from home. Meskipun rata-rata mereka punya HP, tetapi mereka tidak mungkin WFH, mereka tidak mungkin bersembunyi di rumahnya dari sergapan Covid-19, mereka harus keluar rumah untuk bekerja, mencari uang, mencari sesuap nasi untuk hidup. Di dearah, di luar Jakarta, bagaimana nasib para petani, nelayan, komunitas-komunitas adat yang selama ini sudah hidup terabaikan, jauh dari fasilitas kesehatan?

Covid-19 telah membuka kedok kita yang gagal memenuhi janji kemerdekaan, masyarakat adil dan makmur. Pemerintah, dengan segala hormat kepada Pak Jokowi dan pembantu-pembantunya, yang saya tidak ragukan niat baik dan upayanya yang sungguh-sungguh untuk mengatasi gempuran Covid 19 ini, harus menerima kenyataan bahwa realitas sosial ekonomi dan politik yang telah diungkapan tadi, yang merupakan akumulasi dari proses social engineering kita sejak awal tahun 1970an, merupakan kendala utama untuk memenangkan perang ini, jadi persoalan yang dihadapi bersifat struktural, niat baik dan semangat yang tinggi tidak cukup untuk mengatasi persoalan yang bersifat struktural  ini.

Dalam observasi dan analisis saya, karena realitas struktural yang kita miliki, secara sosial, ekonomi maupun politik, dan bias kelas dari Covid-19 ini, kebijakan apapun yang akan diambil, seperti PSBB bahkan lockdown,  secara empiris hanya akan mampu mencegah secara terbatas mobilitas penduduk. Penduduk pada level atas mungkin bisa, tetapi buat level menengah dan terutama bawah yang jumlahnya mayoritas akan mengalami kesulitan, karena mereka harus keluar rumah untuk bekerja, dari kelompok ini sebagian adalah pekerja urban yang sebagian mungkin sudah pulang ke kampung, dan sebagian masih harus bekerja, saya duga sampai mendekati lebaran, menunggu saat yang baik untuk mudik.

Artinya apa, PSBB bahkan Lockdown, akan gagal mencegah mobilitas penduduk, dan dengan demikian gagal mencegah penyebaran covid-19. Pertanyaan besarnya, social, economic and political recovery seperti apa yang akan terjadi, pada level global, nasional dan lokal? Spekulasi tentang bentuk dan struktur masyarakat dan negara bangsa seperti apa yang akan muncul  Pasca-Covid-19 telah bermunculan, apakah pada tingkat global akan terjadi a new world order? Begitu juga untuk Indonesia, pertanyaannya menurut saya adalah mungkinkah kita melakukan reorientasi struktur sosial, ekonomi dan politik yang sudah terakumulasi sejak awal tahun 1970an, sejak Orde Baru dan diteruskan pasca-Orde Baru?

Terus terang saya agak kurang optimis akan terjadinya re-orientasi secara drastis. Dugaan saya yang akan terjadi hanyalah reorganisasi kekuasaan (reorganising power) saja, seperti terjadi pada tahun 1998. Mungkin akan ada kesadaran baru tentang makna pembangunan, seperti sudah banyak dihimbau, yaitu pembangunan yang lebih pro ke alam, pro lingkungan: tetapi struktur dasar sosial, ekonomi dan politik, dugaan saya tidak akan banyak berubah. Dugaan saya, reorientasi itu justru akan terjadi pada level lokal dan mikro, melalui inisiatif-inisiatif masyarakat sipil yang berkolaborasi dengan pemimpin-pemimpin pemerintahan lokal yang progresif. Semoga.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer.


Tag : #Akademia #Covid-19 #Mobilitas Penduduk



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 06 Juni 2020 16:51 WIB

In Memoriam H. Sulaiman Hasan, Datuk Bandar Paduko Batuah


Oleh: Jumardi Putra* Gawai saya bertubi-tubi menerima pesan pendek via aplikasi WhatsApp dengan isi senada dan foto sosok lelaki yang sama: H. Sulaiman

 

Jumat, 05 Juni 2020 17:15 WIB

Update Covid-19: Bertambah 2 Kasus Positif di Jambi, Ini Datanya


Kajanglako.com, Jambi - Juru bicara gugus tugas Covid-19 Provinsi Jambi Johansyah mengumumkan penambahan 2 kasus pasien positif corona di Jambi per 5 Juni

 

Covid-19
Jumat, 05 Juni 2020 16:23 WIB

"Lockdown" ala Ketoprak


Oleh: A. Windarto* Pandemi Covid-19 melanda hampir ke seluruh daerah di tanah air. Angka pasien positif dan meninggal dunia akibat wabah mematikan ini

 

Jumat, 05 Juni 2020 15:18 WIB

Tindaklanjuti Rekom KASN, Pemprov Keberatan Angkat Kembali Pejabat Non-job


Kajanglako.com, Jambi - Sebelumnya Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sudah menjawab surat keberatan yang diajukan Gubernur Jambi Fachrori Umar tentang

 

Jumat, 05 Juni 2020 15:10 WIB

OJK Jambi Ajak Wartawan Gemar Menabung dan Investasi


Kajanglako.com, Jambi - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi menggelar kelas edukasi keuangan online (Kelana) terkait Unit Link-Asuransi Jiwa, bagi