Sabtu, 06 Juni 2020


Kamis, 14 Mei 2020 11:11 WIB

Herman Lantang

Reporter :
Kategori : Akademia

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Ada yang menarik dari obituari Goenawan Mohammad (GM) untuk Arief Budiman di MBM Tempo edisi 23 April 2020 lalu. GM membandingkan Arief dengan Soe Hok Gie, dan menunjukkan perbedaan teman-teman dari kakak beradik itu. Saya kutipkan: "Gie aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis; ia dekat dengan kalangan Partai Sosialis Indonesia yang dibubarkan Bung Karno, dan pemimpinnya, Sjahrir, dipenjarakan. Gie lebih akrab dengan aktivis politik - termasuk dengan bekas peserta pemberontakan Permesta. Sedangkan Arief lebih banyak bergaul dengan perupa seperti Nashar, Zaini, Osman Effendi, dan Trisno Sumardjo, dan kemudian dengan saya, Rendra, dan penulis lain". Sayang GM tidak menyebut nama-nama siapa saja teman dekat Soe Hok Gie, seperti dia sebut satu persatu siapa teman dekat Arief Budiman.



Herman Lantang masih nampak gagah dengan topi dan jaket gunungnya. Tanggal 2 Juli 2020 nanti usianya genap 80 tahun. Hanya masalah di kakinya membuatnya susah berjalan. Dia perlu dibantu tongkat penyangga dan istrinya Joice seperti tidak boleh jauh darinya. Herman Lantang memiliki posisi yang unik sebagai anak muda yang kemudian dikenal sebagai Angkatan 66. Masuk jurusan antropologi UI tahun 1960, sementara Soe Hok Gie masuk jurusan sejarah tahun 1962. Tahun 1964 mereka mendirikan Mapala UI. Jika Soe Hok Gie suka menulis di koran dan aktif berpolitik, Herman Lantang seperti menghindari tampil di ruang publik, meskipun seperti kita lihat di film Gie, Herman Lantang dekat sekali dengan Soe Hoek Gie, terutama dalam kegiatan di kampus dan di gunung. Herman Lantang bukan orang yang tidak tahu politik, dia sangat terlibat dalam politik dan tidak ragu-ragu dalam menentukan pilihan politiknya. Sebagai orang Minahasa, dia sangat menyadari besarnya arti menjadi orang Minahasa yang pernah memberontak kepada pemerintah pusat. Zaman Permesta tidak jauh dari masa remajanya. Bersama Benny Mamoto, Aristides Katoppo, August Parengkuan, Jopie dan Fredy Lasut,  untuk menyebut beberapa nama mahasiswa Minahasa di UI, Herman Lantang tidak dapat disisihkan perannya dalam beragam kegiatan ekstrakurikuler masa itu. Tetapi memang mendaki gunung dan mencintai alam menjadi passion utamanya.

Konon sebagai reaksi terhadap kehidupan kampus yang semakin tidak sehat, yang dalam bahasa Herman Lantang disebut sebagai "Politik Tai Kucing",  mendorong Soe Hok Gie dan Herman Lantang merencanakan pendakian ke Semeru, gunung tertinggi di Jawa. Pendakian yang kemudian menjadi sangat legendaris itu memang yang kemudian dilakukannya bersama Soe Hoek Gie, Idhan Lubis, Fredy Lasut, Rudy Badil, Anton Wijana, Abdurachman, dan Aristides Kattopo. Mereka berangkat dari Jakarta naik kereta dari Gambir tanggal 12 Desember 1969, persis di hari ke-2 lebaran Idul Fitri. Kabarnya, sebelum berangkat Hok Gie, dkk, sempat mengirimkan bingkisan terlebih dahulu, ke rekan-rekan mahasiswanya yang menjadi anggota DPR isinya bedak dan lipstik, sindiran biar mereka tampak cantik di depan penguasa. Pendakian yang ternyata menjadi pendakian yang terakhir bagi Soe Hok Gie dan Idan Lubis ini, bagi Herman Lantang adalah sebuah kehilangan besar.

Sulit baginya untuk menceritakan kembali rasa sedih yang mendalam, sahabat karibnya meninggal dalam pelukannya. Arief Budiman kakak kandung Soe Hok Gie dalam kata pengantar buku "Soe Hok Gie, Catatan Harian Seorang Demonstran" menulis sebagai berikut: "Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib, Herman Lantang". Soe Hok Gie pernah mengatakan hanya di puncak gunung dapat ditemukan kemurnian. Kemurnian di puncak Semeru itu pula tampaknya yang mengajaknya meninggalkan kekotoran untuk selamanya. Sayang GM dalam membandingkan antara Arief Budiman dan Soe Hok Gie tidak sampai mengupas perbedaan yang ada antara kakak dan adik ini tentang kemurnian, sesuatu yang menurut GM paling diakrabi oleh Arief Budiman. Dalam percakapan dengan Herman Lantang belum lama ini di camping ground-nya, Herman baru bercerita bahwa selama hidupnya dia belum pernah dan tidak ingin naik gunung di luar Indonesia. Ketika saya bertanya kenapa, dia cuma menggelengkan kepalanya. Aristides Katoppo, sobat lamanya, meninggal dunia, 29 September 2019, padahal seminggu sebelumnya Aristides Kattopo bersama Don Hasman dan Herman Lantang baru ke Ranupani, Semeru, bersiarah, ke tempat wafatnya Soe Hok Gie. Sebuah kebetulan, atau itu juga pertanda pendakian terakhir buat Herman Lantang?

Kepergian Soe Hok Gie memang seperti membuatnya kehilangan sebuah magnet yang mampu menyedot dan ingin berada di dekatnya, seperti zaman-zaman ketika sebagai Ketua Senat FSUI siap bertarung jika Soe Hok Gie mendapatkan ancaman, seperti saat terjadinya ketegangan dan keributan di kampus FSUI di Rawamangun. Perjumpaannya dengan orang-orang Suku Dani di Lembah Balim sejak 1967 untuk penelitian skripsi antropologinya, mungkin mempertemukan jiwa petualangan dan kecintaanya pada alam sehingga membuatnya betah tinggal berbulan-bulan di hutan-hutan dan gunung-gunung di Papua. Sejak 1974 setelah mendapatkan sertifikat sebagai Fluid Drilling Engineer di Houston Texas, mulailah karirnya sebagai Fluid Drilling Consultant di berbagai perusahaan minyak di Timur Tengah, Mesir, dan terakhir tahun 2000 di Malaysia. Sebagai bagian dari pekerjaan itu pula mungkin yang membuatnya lupa mencari teman hidup. Masa lajangnya baru dia akhiri pada usia 40 tahun ketika dia oleh keluarganya dipertemukan dengan Regina Joice Moningka yang 12 tahun lebih muda, dan kemudian dinikahinya.

Saat ini Herman dan Joice hidup bersama alam di Curug Nangka di pinggir taman nasional gunung Halimun, sekitar satu jam naik mobil dari kota Bogor. Anak-anak mereka sudah memiliki keluarga sendiri-sendiri. Di tanah yang dia beli tahun 1982 pada tahun 2017 dia bangun sebuah camping ground dimana tenda-tenda dengan berbagai ukuran bisa disewa untuk mereka yang ingin menikmati udara bersih dan segar, hidup di tengah kehijauan. Di sekitar rumah, dan tenda-tenda yang disewakan, Herman dan Joice menanam bermacam-macam tanaman, ada pohon kayu besi yang bibitnya dia bawa dari Kalimantan, pohon Almond yang buahnya enak dimakan, Alpukat, Jambu Merah, Markisah dan berbagai jenis anggrek; menjadikan HLC (Herman Lantang Camp) sebuah mini botanical garden. Herman yang saya kira sangar itu ternyata orang yang hafal nama-nama tanaman, bahkan "iles-iles" tanaman obat yang sering dibuat bikin jamu di Jawa dia tahu, juga tahu nama latinnya.

Ket: Herman Lantang bersama istri. Dok. Penulis.

Usia 80 tahun adalah usia yang panjang untuk ukuran orang Indonesia, dan menjelang melewati usia itu apalagi yang ingin dikeluhkan ketika dengan pengalaman yang tak tertandingi dalam mencintai alam, kehangatan keluarga dan kunjungan teman-teman yang ingin bernostalgia, mengenang perjalanan hidup yang penuh petualangan, mendaki gunung dan menuruni jurang, adakah yang lebih indah dari itu? Ketika teman-teman dekat seusianya satu-satu berpulang, Rudi Badil, Rahman Tolleng, Aristides Katoppo, August Parengkuan dan yang terakhir Arief Budiman; seperti mengingatkan ternyata hidup memiliki tapal batas, hidup bukan langit biru yang seolah-olah tak bertepi ketika dia tatap dari ketinggian puncak gunung.

Herman Lantang orang yang telah berjalan jauh, dia tahu semua itu, dan sebagai orang yang beriman, dengan Joice yang selalu mendampinginya, tak ada sedikitpun kerisauan menatap masa depan. Hidup tentu harus disyukuri, tetapi juga harus dinikmati dan tetap diolah dengan penuh rasa cinta. Tanggal 11 April yang lalu Joice ulang tahun yang ke 68. Tetapi  karena sejak merebaknya bahaya Covid-19 dia tutup camping ground-nya untuk umum, ulang tahun perkawinannya itu hanya dia rayakan berdua dengan Joice. Fotonya yang dia kirimkan ke teman-temannya memperlihatkan mereka memakai baju dengan sulaman dan topi yang indah, dan ini yang penting sebotol anggur merah, dari Perancis katanya. Sense of humor menandai kebahagiaan pasangan ini. Beberapa hari yang lalu, saya, mungkin juga para sahabatnya yang lain, menerima foto wajahnya yang cerah, muka klimis dan rambutnya yang dipotong pendek. "Biar kelihatan muda" katanya, tentu dengan senyumnya yang khas. Itulah Herman Lantang!

 

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Tulisan seri intelektual publik ini terbit saban Senin di portal kajanglako.com


Tag : #Sosok #Herman Lantang #Angkatan 66



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 06 Juni 2020 16:51 WIB

In Memoriam H. Sulaiman Hasan, Datuk Bandar Paduko Batuah


Oleh: Jumardi Putra* Gawai saya bertubi-tubi menerima pesan pendek via aplikasi WhatsApp dengan isi senada dan foto sosok lelaki yang sama: H. Sulaiman

 

Jumat, 05 Juni 2020 17:15 WIB

Update Covid-19: Bertambah 2 Kasus Positif di Jambi, Ini Datanya


Kajanglako.com, Jambi - Juru bicara gugus tugas Covid-19 Provinsi Jambi Johansyah mengumumkan penambahan 2 kasus pasien positif corona di Jambi per 5 Juni

 

Covid-19
Jumat, 05 Juni 2020 16:23 WIB

"Lockdown" ala Ketoprak


Oleh: A. Windarto* Pandemi Covid-19 melanda hampir ke seluruh daerah di tanah air. Angka pasien positif dan meninggal dunia akibat wabah mematikan ini

 

Jumat, 05 Juni 2020 15:18 WIB

Tindaklanjuti Rekom KASN, Pemprov Keberatan Angkat Kembali Pejabat Non-job


Kajanglako.com, Jambi - Sebelumnya Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sudah menjawab surat keberatan yang diajukan Gubernur Jambi Fachrori Umar tentang

 

Jumat, 05 Juni 2020 15:10 WIB

OJK Jambi Ajak Wartawan Gemar Menabung dan Investasi


Kajanglako.com, Jambi - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi menggelar kelas edukasi keuangan online (Kelana) terkait Unit Link-Asuransi Jiwa, bagi