Sabtu, 06 Juni 2020


Sabtu, 18 April 2020 09:23 WIB

Orang Kayo Itam dan Sultan Mataram

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Suatu masa baru menguak. Tidak diceritakan kapan persisnya. Di masa itu, seorang lelaki datang dari Turki. Namanya Datoek Padoeka Berhala (anak dari Zeinal Abiedin). Ia datang naik kapal bersenjata, layaknya kapal para raja. Kapal itu melepas sauh di Pulau Berhala. Pulau ini juga dikenal dengan nama Terello dan terdapat di dekat Kwala Barbana, Sungai Jambi.



Datoek Padoeka Berhala lalu memerintah di pulau itu seperti raja. Ia memiliki seorang putra bernama Datoe Padoeka Nangsoen, yang menggantikannya sebagai raja ketika ia meninggal dunia. Datoek Padoeka Nangsoen menjelajah sampai ke Palembang. Di sana, ia menikah dengan anak perempuan Demang Lebar Daun. Setelah menikah, bersama isterinya, ia kembali ke Pulau Berhala dan membangun kota di Oedjoeng Djabong (di peta, tempat ini tercatat sebagai ‘Oedjoeng Bon’.

Ketika Datoek Padoeka Berhala merasa bahwa ajalnya sudah dekat, ia memanggil putranya, Datoek Padoeka Nangsoen dan memintanya untuk mengantarkan hadiah-hadiah tanda penghormatan ke Mataram, berupa ‘pekasam’, ‘poepoemie’. ‘roesip patjat’ dan ‘karanda kalemak’. Yang pertama terbuat dari dedaunan tertentu; yang ketiga terbuat dari sejenis lintah yang tinggal di dalam tanah; yang keempat terbuat dari lemak ikan. Ketiga pemberian itu merupakan penghormatan kepada Sultan Mataram dan menunjukkan segala kekayaan Jambi, baik yang ada di atas tanah, di bawahnya maupun di dalam air. (tidak dijelaskan bahan apa yang digunakan untuk membuat ‘poepoemie’).

Datoek Padoeka Berhala kemudian meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya, Datoek Padoeka Nangsoen. Dalam masa pemerintahannya, Datoek Padoeka Nangsoen memperoleh empat orang anak, yaitu Orang Kaya Itam, Orang Kaya Pingi, Orang Kaya Pedataran dan Orang Kaya Kamo. Ketika Datoek Padoeka Nangsoen meninggal dunia, tampuk pimpinan Oedjoeng Djaboeng dipegang oleh Orang Kaya Itam.

Tak lama kemudian, ia memindahkan kota ke muara Sungai Simpang, anak Sungai Jambi yang airnya masuk ke laut di dekat Kwala Barbana (di tempat ini, masih ada sisa-sisa permukiman itu). Seluruh warga Oedjoeng Djabong pun ikut pindah ke sana. Kota itu dinamakannya Kota Toea. Pada waktu ini juga, Orang Kaya Itam memutuskan untuk tidak lagi mengantarkan sesembahan penghormatan kepada Sultan Mataram. Setelah tiga tahun berlalu,  Sultan Mataram mengirim utusan untuk menyatakan kedongkolannya dan menanyakan mengapa tak ada lagi orang yang datang menghaturkan sembah penghormatan dan kesetiaan kepadanya.

Walaupun sebetulnya Orang Kaya Itam tetap tidak merasa perlu selalu memberi sesembahan kepada Mataram, akhirnya ia memutuskan untuk pergi juga ke sana bersama adik-adiknya, Orang Kaya Pingi dan Orang Kaya Pedataran. Di Mataram, supaya tidak dikenali, mereka mengenakan pakaian biasa saja. Ketika sedang berjalan-jalan di kota, sampailah mereka di rumah seorang pandai keris yang sedang sibuk bekerja.

“Untuk siapakah keris yang kau buat itu?” tanya mereka.

“Keris ini dipesan oleh Sultan Mataram dan akan digunakan untuk membunuh Orang Kaya Itam saat ia datang ke Mataram,” jawab Si Pandai Keris.

Dalam tanya-jawab pendek itu, keris tadi selesai. Orang Kaya Itam merebut keris itu dari tangan pembuatnya. Dengan marah, ia mengayunkan keris itu dan membelah landasan besi yang digunakan untuk membuat senjata itu. Landasan besi itu terbelah dua. Betapa tajam dan kuatnya keris itu! Orang Kaya Itam mengayunkan keris itu sekali lagi dan membunuh pandai besi yang membuatnya. Dengan hati yang masih mendidih marah, ketiga kakak-beradik itu mengamuk di kota. Mereka membunuh dan melukai siapa saja yang menentang atau menghalangi mereka. Dalam waktu singkat, pasar di kota Mataram menjadi sepi. Sebagian orang berhasil melarikan diri dan sebagian lagi luka-luka atau tewas.

Kabar mengenai adanya orang-orang yang mengamuk di pasar terdengar pula di dalam kraton. Sultan Mataram, diiringi oleh pengawal-pengawalnya yang bersenjata, keluar dari kraton untuk melihat apa dan siapa yang mengamuk itu. Melihat Sultan Mataram, Orang Kaya Itam dan kedua adiknya berhenti mengamuk. Ketika ditanya Sultan sebab-alasan mereka mengamuk, Orang Kaya Itam menceritakan tentang Pandai Besi dan keris yang dibuat untuk membunuh dirinya.

“Padahal kami datang ke sini untuk menyampaikan sesembahan penghormatan kepada Baginda. Kami datang tanpa maksud buruk. Kami datang untuk menyampaikan janji setia kepada Baginda.” Kata Orang Kaya Itam. “Setelah ayahanda kami meninggal dunia, kota Oedjoeng Djabong dipindahkan ke tempat lain, yaitu Kota Toea. Banyak sekali yang harus dilakukan untuk memindahkan kota. Karena itulah, hamba tak dapat datang ke Mataram, tiga tahun lamanya.”

Mendengar penjelasan itu, Sultan Mataram mengangguk mengerti. Ia mengizinkan  Orang Kaya Itam untuk kembali ke Jambi. Ia juga menghadiahkan keris yang dibuat oleh Si Pandai Besi, dua buah tombak dan sebuah pedang sebagai tanda penghargaan darinya. Sultan Mataram juga membebaskan mereka dari kewajiban untuk datang menghadapnya setiap tahun. Orang Kaya Itam diperbolehkannya menentukan sendiri kapan akan berkunjung ke Mataram. Lalu, ketiga kakak-beradik itu kembali ke Kota Toea.

Dalam masa pemerintahannya, Orang Kaya Itam berhasil mencakup semua dusun sampai ke daerah Moeara Tambesie ke dalam daerah kekuasaannya. Pada waktunya, ia pun meninggal dunia, tanpa keturunan. Ia dikuburkan di tepian kiri Sungai Simpang. Konon, kuburan Orang Kaya Itam dan kuburan adik-adiknya masih dapat ditemukan di situ. Orang Kaya Pingi menggantikan kedudukan kakaknya. Pun ia meninggal tanpa keturunan. Kepemimpinan Kota Toea kemudian dipegang oleh Orang Kaya Pedataran. Ketika meninggal dunia, seperti kedua kakaknya, Orang Kaya Pedataran tidak meninggalkan keturunan.

Ketika Orang Kayo Pedataran memerintah, adiknya, Orang Kayo Kamo pergi ke Mataram. Di sana, ia menikah dan memperoleh lima orang anak. Pada waktu itu, di Jambi, Orang Kayo Pedataran sekali memindahkan Kota Toea ke Ternem, tetapi tetap mempertahankan nama Kota Toea sebagai pusat pemerintahannya. Ketika ia meninggal dunia, tanpa keturunan, tak ada yang dapat menggantikan kedudukannya. Karena itu, diutuslah beberapa orang untuk menyampaikan kabar kematiannya kepada Orang Kaya Kamo.

Berangkatlah Orang Kayo Kamo bersama isteri dan kelima orang anaknya ke Jambi. Dalam perjalanan, di sekitar Poeloe Nangka, Orang Kayo Kamo jatuh sakit.  Karena sudah merasa ajalnya sudah dekat, ia memerintahkan untuk menyiapkan kain kafan untukknya. Kepada anak-anaknya, ia berpesan: seandainya ia meninggal dunia oleh sakit yang dideritanya, jenazahnya hendaknya dikubur di laut, di antara Oedjoeng Djabong dan Pulau Berhala. Ia meminta mereka meneruskan perjalanan ke Kota Toea untuk memimpin kerajaan di sana.

Selesailah sudah cerita mengenai Orang Kaya Itam dan adik-adiknya.

*Acuan Kepustakaan:  JW Boers. ‘Oud Volksgebruik in het Rijk van Djambi’  dalam Tijdschrift voor Neerlands’s Indie. IIIe jaargang. Batavia: ‘Lands-Drukkerij, 1840 (hal. 372-384).

*Orang Kaya Itam untuk menyebut Orang Kayo Hitam.


Tag : #telsuru #sejarah jambi #orang kayo hitam #sultan mataram



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 06 Juni 2020 16:51 WIB

In Memoriam H. Sulaiman Hasan, Datuk Bandar Paduko Batuah


Oleh: Jumardi Putra* Gawai saya bertubi-tubi menerima pesan pendek via aplikasi WhatsApp dengan isi senada dan foto sosok lelaki yang sama: H. Sulaiman

 

Jumat, 05 Juni 2020 17:15 WIB

Update Covid-19: Bertambah 2 Kasus Positif di Jambi, Ini Datanya


Kajanglako.com, Jambi - Juru bicara gugus tugas Covid-19 Provinsi Jambi Johansyah mengumumkan penambahan 2 kasus pasien positif corona di Jambi per 5 Juni

 

Covid-19
Jumat, 05 Juni 2020 16:23 WIB

"Lockdown" ala Ketoprak


Oleh: A. Windarto* Pandemi Covid-19 melanda hampir ke seluruh daerah di tanah air. Angka pasien positif dan meninggal dunia akibat wabah mematikan ini

 

Jumat, 05 Juni 2020 15:18 WIB

Tindaklanjuti Rekom KASN, Pemprov Keberatan Angkat Kembali Pejabat Non-job


Kajanglako.com, Jambi - Sebelumnya Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sudah menjawab surat keberatan yang diajukan Gubernur Jambi Fachrori Umar tentang

 

Jumat, 05 Juni 2020 15:10 WIB

OJK Jambi Ajak Wartawan Gemar Menabung dan Investasi


Kajanglako.com, Jambi - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jambi menggelar kelas edukasi keuangan online (Kelana) terkait Unit Link-Asuransi Jiwa, bagi