Sabtu, 08 Agustus 2020


Senin, 30 Maret 2020 05:27 WIB

Enam Puluh Enam Peti

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Dari hari ke hari, van Hasselt dan timnya menunda-nunda keberangkatan dari Moearo Laboeh. Beberapa orang menjanjikan untuk memberikan atau menjual benda-benda etnografi yang diperlukan untuk melengkapi. Akan tetapi, yang ditunggu-tunggu ternyata tak kunjung datang. Barangkali mereka masih entah berapa lama menunggu, kalau tidak datang surat dari Komite Penjelajahan pada tanggal 10 Januari. Surat menekankan bahwa barang-barang koleksi yang sudah ada hendak dikirimkan secepatnya ke negeri Belanda. Tak ada kemungkinan untuk menunda-nunda lagi. Esok, mereka berangkat.



Rencana penjelajahan ke Talau pun terpaksa dibatalkan. Jawaban atas permohonan izin ke daerah itu masih saja belum datang, sementara informasi mengenai keadaan jalan ke sana semakin lama semakin buruk. Banyak jembatan yang terbuat batang-batang pohon raksasa terbawa arus deras sungai yang meluap. Hanya satu jembatan saja yang tersisa. Luapan arus sungai pun akan menciutkan hati perenang yang paling jagoan. Di darat, jalan-jalan setapak yang seharusnya ditelusuri sudah menjadi kubangan lumpur yang acapkali membenamkan kaki pejalan sampai ke lutut. Beberapa orang yang pergi dari XII Kota ke Talau terpaksa berbalik arah, pulang lagi, karena tak dapat meneruskan perjalanan. Karena itu, kalau pun izin ke Talau diberikan, penjelajahan itu tak mungkin lagi dilakukan.

Setelah memohon diri pada tuan rumah mereka, Welsink, dan kenalan-kenalan lainnya, mereka naik kuda dan berangkat menuju Soerian. Stebler, kepala perkebunan kopi di Moeara Laboeh, mereka dapat menyewa dua buah pedati untuk mengangkut peti-peti penjelajahan ke Alahan Pandjang. Welsink meminjamkan sebuah pedati kecil tambahan karena ternyata barang bawaan mereka terlalu banyak. Ketiga pedati itu khusus untuk mengangkut koleksi penjelajahan; pakaian, perlengkapan pribadi serta alat-alat rumahtangga penjelajahan dibungkus dan diangkut oleh 17 orang kuli.

Untunglah cuaca baik. Matahari bersinar di balik awan (sehingga tak terlalu terik) dan hujan tidak turun. Mereka mengambil jalan ke kiri karena van Hasselt masih ingin mengukur suhu air di mata air panas di Baloem. Beberapa orang petani membajak sawah dengan kerbau. Jalan itu tampaknya jarang dilewati orang sehingga ditumbuhi ilalang tinggi. Di Loeboe Sampir, mereka melewati sebuah pondok sederhana: lapau. Melihat ke sekeliling, van Hasselt merasa heran: siapa yang biasanya datang ke lapau di padang ilalang itu?

Menjelang siang, mereka tiba di Soerian, dusun yang terletak di dinding gunung, di ketinggian kira-kira 1000 meter di atas laut. Kepala perkebunan kopi di Soerian mengundang mereka menginap. Itu merupakan kesempatan baik untuk mempelajari jalannya sebuah perkebunan kopi dan van Hasselt menerima undangan itu dengan senang hati.

Rumah kepala perkebunan dikelilingi oleh pepohonan kopi. Pohon-pohon yang tertua dan menghasilkan kopi paling banyak terletak di kedua tepian Batang Hari, yang dipisahkan dari rumah itu oleh tanah yang ditumbuhi ilalang dan pakis. Di sini terdapat gudang-gudang kopi. Tempat pengeringan kopi merupakan bangunan tanpa atap sehingga biji-biji kopi yang sudah dipanen dapat dijemur atau dikeringkan dengan api besar yang terus menyala. Juga ada kincir air yang memutar penggilingan yang memisahkan kulit buah dan biji-biji kopi di dalamnya.

Perkebunan itu terdapat di atas tanah seluas 11 bahu. Setengahnya sudah ditanami kopi. Sepuluh orang pegawai bekerja tetap dan pekerjaan lainnya (membersihkan kebun atau memetik kopi—sebanyak 80 kati)  dilakukan oleh buruh-buruh harian. Biasanya buah-buah kopi dipetik oleh kaum perempuan. Setiap hari, yang sigap memetik, dapat memanen sekitar 78 kati á ƒ0,05 (lima sen). Selain itu, setiap orang—lelaki, perempuan atau pun anak-anak—mendapatkan upah 5 sen untuk setiap kati kopi yang diantarkannya ke gudang perkebunan. Pada 1877, produksi perkebunan itu mencapai 300 pikol dan untuk tahun 1878, ditargetkan 700 pikol.

13 Januari. Ke Lolo. Veth menginap di dusun ini, di rumah Kontrolir yang sekarang kosong sejak Moeara Laboeh menjadi tempat kontrolir bertugas. Luka-luka di kakinya yang sebelah sudah banyak membaik, tetapi yang di kaki satu lagi, menjadi lebih parah. Awalnya, oleh luka-lukanya itu, ia tak dapat berjalan sama sekali. Kini, terpincang-pincang, ia sudah mengenakan sepatu bot di salah satu kaki, sementara kaki yang satu masih terbungkus perban. Karena Veth merasa sudah siap, keesokan harinya, mereka meneruskan perjalanan.

Di dekat dusun, jalan bercabang ke kanan, ke Talang Berboenga. Setelah menyeberangi Batang Hari, jalan itu terus ke arah barat laut mengikuti aliran sungai. Sampai Ajer Dingin, mereka melewati kebun-kebun kopi yang subur. Jalan itu mulai menanjak ke daerah Alahan Pandjang yang lebih dingin. Di beberapa tempat, seperti Soengei Gando di tepian sebuah anak Batang Hari, lembah melebar dan lingkungan alamnya tampak lain. Di dusun itu terdapat beberapa rumah sederhana yang dikelilingi oleh sawah. Kaum perempuan dan gadis-gadis dusun itu sedang menanam benih.

Mereka melewati Batoe Gadjah, Ajer Dingin, dan semakin mendaki mendekati Danau di Atas. Pemandangan ke danau luas itu, berlatar belakang Talang, masih saja memukau. Lalu, jalan membelok ke Alahan Pandjang. Mereka tiba empat jam kemudian. Keesokan harinya, Veth tiba pula. Pakaiannya basah kuyup oleh hujan. Walau cuaca tidak terlalu mendukung, ia masih berusaha membuat foto daerah itu. Yang lainnya melanjutkan pekerjaan mempersiapkan barang-barang koleksi untuk dibawa ke Belanda. Pekerjaan mereka bertambah ketika ketiga pedati membawa barang dari Moeara Laboeh sampai pula.

19 Januari. Barang-barang sudah siap. Van Hasselt berangkat ke Solok untuk menemui Asisten-Residen yang selama ini berfungsi sebagai bendahara penjelajahan.

Setelah barang-barang siap dipak, barulah nyata betapa banyak tenaga yang diperlukan untuk membawa barang-barang itu ke Padang. Namun, tak ada jalan lain. Dengan bantuan Kepala Laras, mereka berhasil mengupah 45 orang (ƒ2,50 per orang) untuk keperluan itu. Kini, yang masih harus diatur adalah sesuatu yang dapat melindungi peti-peti itu dari siraman hujan. Kain layar yang selama penjelajahan digunakan sebagai atap kemah ternyata tidak cukup banyak. Penduduk setempat biasanya menggunakan anyaman daun pandan untuk itu, tetapi tak banyak tanaman pandan di Alahan Pandjang. Apa akal? Tak ada jalan lain. Mereka terpaksa memesan daun pandan dari Sarik Alahan Tiga. Duri-duri dedaunan itu dibersihkan, lalu para kuli menganyamnya menjadi lembaran pembungkus peti. Lembaran anyaman itu dijahit rapi.

Satu per satu, peti-peti itu siap. Pada tanggal 18 Januari, 25 peti diberangkatkan; 19 Januari, 25 peti lagi siap dan diberangkatkan; 20 Januari, 5 peti dan keesokan harinya, 11 peti siap. Total enam puluh enam peti yang dibawa oleh para kuli, berjalan kaki dari Alahan Pandjang sampai ke Padang.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Sejarah Jambi #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Jumat, 07 Agustus 2020 11:37 WIB

Al Haris Resmikan Wisata Edukasi Benuang


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin Al Haris, meresmikan wisata Edukasi Benuang, Jumat (7/8/20). Peresmian ini dilakukan usai Gerakan Pendidikan

 

Jumat, 07 Agustus 2020 00:39 WIB

PJ Sekda Lantik 35 Pejabat Fungsional Lingkup Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Provinsi Jambi H Sudirman SH MH, melantik 35 orang pejabat fungsional dalam lingkup Pemerintah

 

Jumat, 07 Agustus 2020 00:33 WIB

Rapat Evaluasi Penandatanganan Covid-19, PJ Sekda: Tekan Penambahan Kasus


Kajanglako.com, Jambi – Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Jambi menggelar Rapat Evaluasi Tim Gugus Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi

 

Kamis, 06 Agustus 2020 19:20 WIB

Kelurahan Pasar Sarolangun Gelar Pelatihan Relawan Siaga Bencana Tahun 2020


Kajanglako.com, Sarolangun - Pemerintah Kelurahan Pasar Sarolangun Kabupaten Sarolangun menggelar Pelatihan Pembinaan Kelembagaan Kemasyarakatan Relawan

 

Kamis, 06 Agustus 2020 19:15 WIB

30 Paskibraka Batanghari Dipastikan Gagal Tampil


Kajanglako.com, Batanghari - Sebanyak 30 siswa-siswi SMA terpilih yang telah mengikuti rangkaian seleksi untuk menjadi Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka