Sabtu, 04 April 2020


Kamis, 26 Maret 2020 11:36 WIB

Memaknai Isra' Mi'raj di Era "Physical Distancing"

Reporter :
Kategori : Perspektif

Ilustrasi / Foto: Islami.co

Oleh: Mawardin Sidik *)

Belakangan ini, hari demi hari kita lalui dengan berat akibat gempuran wabah trans-nasional bernama virus corona. Di balik sengkarut itu, ada sebuah peristiwa sakral bagi umat Islam yang perlu kita batinkan, yakni Isra’ Mi’raj yang diperingati setiap 27 Rajab. Tahun ini, Isra Miraj bertepatan pada hari Minggu, 22 Maret 2020.



Apa makna Isra’ Mi’raj bagi kaum muslim, bangsa Indonesia dan dunia internasional di tengah kemelut corona saat ini?

Syahdan. Panggilan sejarah itu datang. Rasulullah Muhammad SAW ingin mengeluarkan umat manusia dari jerat jahiliyah menuju peradaban yang terang benderang berlandaskan ajaran Islam. Namun seruan pembebasan, perdamaian, keselamatan dan cinta kasih yang digelorakan oleh Nabi Muhammad penuh jalan terjal dan berliku-liku. Dalam proses perombakan total tatanan masyarakat status quo ketika itu, kaum Quraisy tentu merasa terancam. Nabi Muhammad pun menuai ancaman fisik maupun mental dari segala penjuru.

Arogansi kaum Quraisy yang berwatak predator terus berkonsolidasi untuk mengukuhkan hegemoni kekuasaannya. Akan tetapi, Nabi Muhammad yang berjiwa revolusioner dengan ajaran Islamnya terus berjuang mengibarkan panji-panji kebenaran, keadilan dan kejujuran. Ajaran Islam yang berkarakter pembebasan tentu sangat kontras dengan banalitas kaum Quraisy saat itu yang menyimpang, menindas dan saling merebut sumberdaya yang bergelimang teror, kekerasan dan bercak-bercak darah.

Pada satu fase, Nabi Muhammad menghadapi dilema, tantangan boikot dan teror tiada henti. Cobaan yang dialami Nabi Muhammad kian berat ketika dua orang terdekatnya wafat, yakni istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Nabi Muhammad benar-benar terpukul dan bergelayut dalam kesedihan yang sungguh berat.

Dalam suasana duka itu, Allah SWT memerintah Malaikat Jibril membimbing Nabi Muhammad menapaki perjalanan spiritual yang dikenal dengan peristiwa Isra Miraj. Dalam peristiwa sakral itu, Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina. Dari Masjid al-Aqsa, Nabi Muhammad naik ke langit ke tujuh (Sidratul Muntaha) dalam satu malam hingga bertemu Allah SWT.

Apa dan bagaimana kita mengambil hikmah dan memaknainya?

Ujian berat yang dihadapi oleh Nabi Muhammad sebelum Isra’ Mi’raj merupakan satu fase perjalanan untuk menghayati keimanan secara mendalam. Terkhusus umat Islam, pandemi global virus corona (Covid-19) bisa dimaknai sebagai ujian untuk mempertebal iman seraya terus berikhtiar melawan corona sesuai anjuran para pakar yang otoritatif, instruksi pemerintah dan himbauan institusi keagamaan resmi.

Bagi bangsa Indonesia, kita harus menjadikan momen pelik ini untuk menggalang solidaritas kebangsaan dan rasa persaudaraan serta kesadaran kemanusiaan. Saling membantu tanpa melihat asal-usul agama, suku bangsa, warna kulit, afiliasi politik dan sebagainya. Khusus para elite, inilah saatnya untuk menunjukkan kepedulian bagi masyarakat, terutama rakyat yang terhimpit kesulitan karena terdampak corona ini.

Banyak negara yang tercabik-cabik akibat globalisasi kecemasan melalui virus corona ini. Tapi sebagian besar negara masih fokus menyelamatkan diri masing-masing. Dalam menghadapi petaka seperti Covid-19 ini, sangat sulit sebuah negara berjalan sendirian. Karena itu, masyarakat internasional harus bersinergi dan berkolaborasi untuk melawan penyakit trans-nasional ini.

Untuk jangka pendek, negara-negara di dunia perlu saling tukar-menukar sumberdaya untuk mencegah jatuhnya banyak korban dan menyembuhkan sebisa mungkin pasien yang terpapar corona dengan instrumen medis yang tersedia. Untuk jangka panjang, mengedepankan kerjasama lintas negara dalam kerangka penyelamatan ekosistem dunia, penguatan sistem kesehatan global dan perbaikan tata ekonomi politik internasional.

Secara hakiki, Isra (perjalanan) tampak secepat kilat menumbuhkan sikap batin betapa waktu berputar begitu cepat mengiringi perjalanan manusia. Lautan drama kehidupan ibarat pertemuan antara sungai perjalanan yang satu dengan sungai perjalanan yang lain. Lalu perjalanan itu dipenuhi aliran yang saling bertautan, merasakan beragam percikan kejadian, berjumpa dengan banyak makhluk dengan segala bentuk, corak dan manifestasinya.

Dalam memaknai hikmah perjalanan rohani (Miraj) kita perlu menyadari, bahwa kita sebagai manusia memiliki keterbatasan. Sehebat apapun kita, terkadang menemui kebuntuan dan kelabakan. Walhasil, tak semua dimensi semesta bisa diurai. Disinilah rohani yang didasari pada iman akan memberi jalan terang, menyibak hikmah dan menyingkap lapis-lapis tabir Ilahi.

Dalam perjalanan Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad menerima mandat langitan berupa shalat lima waktu. Shalat adalah perjalanan rohani untuk berdialog secara transendental dengan Tuhan, sebagaimana Miraj-nya Nabi Muhammad. Shalat adalah perintah Allah SWT untuk mengingatNya, melezatkan rohani manusia, sebagai tiang agama hingga mencapai makrifat. Bahkan Nabi Muhammad bersabda bahwa shalat adalah Mirajnya bagi orang-orang mukmin.

Shalat didirikan untuk menjauhkan manusia dari perbuatan keji dan munkar. Karena itu, hikmah Isra’ Mi’raj juga adalah untuk meningkatkan kualitas shalat, tidak sekadar gerak-gerik seremonial belaka, tapi harus membentuk kesalehan individual sekaligus kesalehan sosial. Shalat yang berhasil tercermin pada sejauhmana kita bisa membentengi diri dari perilaku destruktif, dan menumbuhkan kebajikan di tengah-tengah masyarakat.

Kita menyaksikan serbuan corona yang sungguh mengobok-obok ketenangan di zamrud khatulistiwa. Untuk mencegah penularan wabah virus corona, kita disarankan agar menjaga jarak fisik (physical distancing) antar manusia, menjauhi kerumunan dan keramaian, isolasi diri (self isolation) dan bekerja dari rumah (work from home). Fisik boleh saja berjarak, tapi hati tetap senantiasa saling bertaut satu sama lain untuk bersatu padu melawan corona.

Situasi pandemi global menjadi momen untuk tafakur dan kontemplasi dalam kesunyian, dan bermunajat kepada Allah SWT. Setelah ikhtiar manusiawi dijalankan sekuat tenaga, saatnya kita mengaktifkan radar spiritual di era physical distancing, menengok langit meski raga menapaki bumi, memohon kekuatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.  

Manusia memang harus mengeluarkan dayanya sekuat tenaga, tapi tetap saja terbatas. Akal dan wahyu, ikhtiar dan doa, pikir dan dzikir harus berpadu dan beriringan untuk menjawab penyakit global tersebut. Dengan demikian, Isra Miraj memberikan energi baru bagi kita selaku khalifah di muka bumi dengan berbagai peran masing-masing untuk membenahi diri, meluruskan arah kiblat bangsa dan dunia.  

Mudah-mudahan spirit Isra Miraj dapat mencairkan ketegangan, menertibkan instabilitas temperatur batin dan menyalakan harapan. Harus diakui bahwa keganasan virus corona teramat berat, tapi kita harus menghadapinya dengan optimis, disiplin dan kompak. Semoga kemelut corona segera berlalu. Semoga kita semua senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat.

*) Pengurus PB HMI, Wasekjen DPP KNPI


Tag : #Virus #Corona #Social Distancing #Isra' Mi'raj



Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 April 2020 09:45 WIB

Cek Posko Corona Tengah Malam, Al Haris Semangati Petugas Piket


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Al Haris, memantau posko siaga pencegahan Covid-19 di perbatasan Merangin-Kerinci, Jumat (4/3/20) malam. Dalam

 

Jumat, 03 April 2020 22:27 WIB

Cek Endra Serahkan Bantuan APD untuk Penanganan Covid-19 di Kabupaten Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Bupati Sarolangun H Cek Endra menyerahkan bantuan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis di Puskesmas maupun di

 

Jumat, 03 April 2020 19:37 WIB

Gubernur Terbitalkan SE Terbaru Perpanjang WFH ASN Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, mengeluarkan Surat edaran (SE), Nomor:- SE/GUB.BKD-4.111V/2020 tentang perubahan atas surat edaran

 

Jumat, 03 April 2020 19:32 WIB

Gubernur Video Conference dengan Bupati Walikota Bahas Penanganan Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Rapat Online Gubernur Jambi Fachrori Umar, bersama Bupati dan Wali Kota se Provinsi Jambi dalam upaya penanganan serta pencegahan

 

Jumat, 03 April 2020 15:08 WIB

Solidaritas Pangan Perpus Rakyat untuk Masyarakat Terdampak Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Wabah virus Corona atau Covid-19 masih terus berlangsung di tanah air. Beberapa pihak menyatakan bahwa virus ini akan terus ada