Sabtu, 04 April 2020


Minggu, 22 Maret 2020 10:52 WIB

Sekuntum Rafflesia Tanda Perpisahan

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sebetulnya tim penjelajahan masih merasa perlu melengkapi koleksi etnografi untuk daerah itu. Hal itu lebih mudah diniatkan daripada dijalankan. Sia-sia saja mereka mencoba membujuk seorang lelaki dari Oeloe Djambi untuk melepas tombak dan kerisnya. Van Hasselt menawarkan imbalan sebesar ƒ 5,- untuk tombaknya dan ƒ 15,- untuk kerisnya. Tetapi, lelaki itu bergeming. Dahulu, mengumpulkan benda-benda untuk koleksi etnografi dapat dilakukan dengan menukarnya dengan cermin, manik-manik dan pernak-pernik murah-meriah lainnya, kini hal itu tak dapat dilakukan lagi.



Izin untuk menjelajah ke daerah Talau belum juga didapatkan. Karena itu, pada tanggal 28 Desember, mereka mulai menyiapkan penyimpanan dan pengepakan barang-barang penjelajahan supaya aman dibawa pulang. Yang membesarkan hati adalah keadaan jalan di darat yang cukup baik dan air sungai tidak terlalu tinggi. Keesokan harinya pagi-pagi, barang-barang itu dibagi rata. Seorang kuli, yang rupanya diam-diam hendak membawa lari sebuah peti, tertangkap basah oleh rekan-rekannya. Sebagai hukuman, mereka memutuskan untuk memberikan beban paling berat kepadanya.

Awalnya, mereka berencana untuk ke Moeara Laboeh bersamaan dengan para kepala adat yang sekalian akan menerima pembayaran gaji mereka di sana. Bila ini dapat dilakukan, tim penjelajah itu tentunya pasti akan dibantu oleh anak buah para kepala adat itu, bila diperlukan. Akan tetapi, rupanya mereka baru saja menerima surat dari Kontrolir bahwa gudang kopi harus memeriksa isi gudang kopi di Loeboe Gedang. Hanya Mantri Abei saja yang dapat mengawal perjalanan pulang tim itu.

Hujan mulai turun. Rintik-rintik yang membasahi paruh pertama perjalanan mereka. Matahari baru berhasil menembus mendung ketika mereka sudah melewati Liki. Pakaian mereka mengering di badan, tetapi perjalanan itu tidaklah dapat dianggap sebagai perjalanan paling menyenangkan dalam penjelajahan ini. Di banyak tempat, kuda-kuda mereka terbenam di lumpur sampai ke perut. Ini terutama terjadi di bagian akhir perjalanan di dalam hutan. Untunglah di sana, ada beberapa orang yang dapat membantu membimbing kuda-kuda itu.

Dalam perjalanan di antara Liki dan Moera Laboeh, mereka terkesiap. Sekuntum bunga Rafflesia, berdiameter 60 sentimeter, sedang berkembang. Daunnya yang berwarna coklat-kemerahan dan kuning terhampar di atas tanah. Selama berbulan-bulan mereka hidup di sekitaran hutan, di tengah-tengah aneka tanaman hijau dan selama itu pula, mereka jarang sekali melihat bunga. Dapat dibayangkan bahwa ketika menyaksikan bunga Rafflesia itu, mereka terdiam dengan tangan bersidekap.

Bunga Rafflesia, oleh penduduk setempat dinamakan tjindawan matahari, tumbuh di rimba-rimba Sumatra tengah dan barat. Bunga itu merupakan tanaman parasit yang tumbuh rapat di atas tanah, menempel di tanaman-tanaman merambat tertentu. Namun, bunga itu begitu langka sampai-sampai banyak orang yang sudah lama tinggal di pedalaman Sumatra mengaku belum pernah melihatnya. Dengan hati-hati, bunga itu dibungkus di dalam sebuah kain untuk dibawa ke Moeara Laboeh.

Menjelang pk 17.30 mereka tiba di dusun itu. Jembatan rotan di atas Soengei Bangko masih bertahan, tak hancur terbawa banjir. Sebelum beristirahat, mereka menyibukkan diri dulu dengan bunga Rafflesia, piala hadiah dari alam hari itu. Veth segera menyiapkan peralatan fotografinya dan merekan gambar bunga itu. Van Hasselt mengeluarkan pinsil-pinsilnya, cat air dan selembar kertas. Ia melukis bunga itu dengan warna-warna yang pas. Sesudahnya, lukisan itu diawetkan oleh Snelleman dengan campuran spiritus.

Ketiga penjelajah Belanda itu sibuk sendiri dengan kegiatan masing-masing. Rumah tempat mereka menginap di pasar Moeara Laboeh porak-poranda. Lalu, para kuli mulai bermunculan, seorang demi seorang. Rumah itu semakin ramai dan barang-barang di dalamnya semakin menumpuk. Ruang gerak semakin menyempit. Seseorang mulai mengatur barang-barang itu dan membersihkan rumah itu. Dan, setiap orang menarik nafas lega karena mereka dapat bebas bergerak lagi.

31 Desember. Tujuh orang kuli berangkat menuju Soerian. Mereka membawa barang-barang milik Veth. Para penjelajah merayakan pergantian tahun di rumah Welsink. Entah bagaimana mereka berpesta, hal itu tak diceritakan oleh van Hasselt.

Akhirnya, Veth selesai juga dengan foto-foto yang hendak dibuatnya. Ia cukup repot melakukannya. Cuaca—hujan, mendung--tidak banyak membantunya. Dan, luka-luka di kakinya, oleh-oleh pendakian ke puncak Korintji, masih terasa sangat mengganggu. Ia sukar bergerak. Untunglah, di hari-hari terakhir, luka-luka itu mulai pulih sehingga pada hari pertama di tahun, ia dapat berangkat ke Soerian naik kuda bersama empat orang kuli.

Setelah sebagian besar peti penjelajahan sudah diisi dengan barang-barang dan setelah peti-peti itu ditutup rapat, mulai berdatangan orang-orang dusun yang mampir untuk mengucapkan selamat tahun baru. Dalam urutan ketika meninggalkan rumah Kontrolir (untuk mengucapkan selamat tahun baru juga) mereka memasuki halaman rumah para penjelajah dan dalam urutan itu juga, mereka menyampaikan salam. Toeankoe di Sambah paling depan, diikuti oleh Djaksa dan Kepala Gudang, Guru, para pembibit perkebunan, Mantri Abei, Penghoeloe Kapala Pasir Talang, dokter dan banyak lagi.

Ketika tiba gilirannya, Guru maju ke depan. Dengan sikap dan kata-kata yang bagus dan resmi, ia mendoakan agar seluruh anggota penjelajahan—termasuk isteri dan anak-anak mereka di Belanda—umur panjang dan kenaikan pangkat. Amin, pikir van Hasselt.

Hari-hari terakhir di Moeara Laboeh tak berbeda satu dengan lainnya. Hari-hari itu diisi dengan membuat peti, mengisi peti dan menutup peti. Ditambah lagi dengan melengkapi segala catatan rinci yang perlu disertakan mengenai  setiap potong barang yang akan dibawa pulang. Dari pagi sampai menjelang malam, mereka disibukkan dengan kegiatan-kegiatan membosankan itu. Kesulitan melengkapi tambahan benda untuk koleksi mereka betul-betul terasa sebagai pengujian kesabaran.

Di kepala setiap orang, berputar-putar sebuah pertanyaan: akankah barang-barang koleksi itu selamat sampai di tujuan? Tak seorang pun dapat menjawab pertanyaan itu.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Ekspedisi Sumatra Tengah #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 April 2020 09:45 WIB

Cek Posko Corona Tengah Malam, Al Haris Semangati Petugas Piket


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Al Haris, memantau posko siaga pencegahan Covid-19 di perbatasan Merangin-Kerinci, Jumat (4/3/20) malam. Dalam

 

Jumat, 03 April 2020 22:27 WIB

Cek Endra Serahkan Bantuan APD untuk Penanganan Covid-19 di Kabupaten Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Bupati Sarolangun H Cek Endra menyerahkan bantuan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis di Puskesmas maupun di

 

Jumat, 03 April 2020 19:37 WIB

Gubernur Terbitalkan SE Terbaru Perpanjang WFH ASN Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, mengeluarkan Surat edaran (SE), Nomor:- SE/GUB.BKD-4.111V/2020 tentang perubahan atas surat edaran

 

Jumat, 03 April 2020 19:32 WIB

Gubernur Video Conference dengan Bupati Walikota Bahas Penanganan Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Rapat Online Gubernur Jambi Fachrori Umar, bersama Bupati dan Wali Kota se Provinsi Jambi dalam upaya penanganan serta pencegahan

 

Jumat, 03 April 2020 15:08 WIB

Solidaritas Pangan Perpus Rakyat untuk Masyarakat Terdampak Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Wabah virus Corona atau Covid-19 masih terus berlangsung di tanah air. Beberapa pihak menyatakan bahwa virus ini akan terus ada