Sabtu, 04 April 2020


Minggu, 15 Maret 2020 11:41 WIB

Benda-benda Pusaka di Atas Pagu

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Cuaca tidak membuat hati siapa pun ceria. Setiap hari, hujan turun—lebih deras, lebih banyak daripada hari-hari sebelumnya. Para penjelajah terpaksa mendekam di rumah. Suasana di rumah itu pun muram. Di dalam ruangan-ruangannya yang kecil dan sempit, mereka sulit bergerak. Anak-anak Kepala Gudang rewel pula, menangis dan berteriak-teriak seolah-olah hendak meyakinkan dunia tentang keberadaan mereka. Barangkali itulah yang membuat van Hasselt mengambil keputusan pergi ke Doerian Taroeng. Untuk terakhir kalinya, ia akan mengunjungi Radja di dusun itu.



Setiba di rumahnya, sembari mengobrol, lelaki itu menawarkan untuk menunjukkan benda-benda pusaka milik yang disebutnya ‘kabesaran’—tanda kehormatan. Dari caranya memperlakukannya, jelas sekali bahwa benda-benda itu sangat bermakna baginya. Konon, benda-benda itu dihadiahkan oleh seorang raja Menangkabo untuk anaknya, raja pertama di Doerian Taroeng sebagai tanda penobatan.

Seseorang mengambil tangga yang disandarkan di salah sebuah rengkiang di halaman. Tangga itu disodorkan ke dalam melalui jendela dan kemudian didirikan ke tiang pagu, tempat menyimpan segala macam yang kesemuanya tertutup oleh sarang laba-laba dan abu kehitaman dari asap memasak. Sebelum naik tangga, lelaki yang akan mengambilkan benda pusaka itu melepas dahulu kerisnya. Ini dilakukan demi penghormatan pada benda-benda tadi. Tapi, mengapa benda-benda yang begitu bermakna disimpan di pagu yang berdebu?

“Karena kekuatan kabesaran itu dapat membuat anak-anak kecil menjadi sakit,” sahut Toeankoe.

Hati-hati, lelaki di atas tangga mulai turun lagi. Dengan kedua tangannya, ia memegang sebuah kotak kecil, di atas kepalanya. Kotak itu tampak luar biasa kotornya. Ternyata kotak itu merupakan kotak anyaman yang berisi bejana porselen Cina. Di dalam bejana itu tersimpan bulatan emas berbentuk cincin yang berisi damar (catatan FA: dalam catatan van Hasselt, benda itu merupakan bagian dari gagang keris). Sementara kotak itu dibuka dan isinya dikeluarkan, seseorang membawa wadah berisi arang membara. Asap kemenyan mengepul di atasnya. Toeankoe mengangkat benda kabesaran itu dan membiarkannya sesaat terkena asap. Lalu, ia mengulurkannya kepada van Hasselt untuk dilihat.

Toeankoe merendam cincin emas itu di dalam mangkok berisi air. Menurut kepercayaan, air rendaman itu berkhasiat untuk pengobatan. Satu per satu, orang yang hadir mendekat dan memoleskan air itu ke kening atau dada. Toeankoe kemudian meletakkan cincin itu di atas kepalanya dan di atas kepala anak perempuannya. Sisa air rendaman dipindahkan ke mangkok lain dan dibagi-bagi di antara warga lainnya yang memenuhi rumah itu.

Untuk menghormati Toeankoe, van Hasselt dan rekan-rekannya ikut mencelupkan jari di air rendaman itu dan mengusapkannya di kening masing-masing. Banyak orang mengangguk melihat mereka melakukan itu. Tampaknya mereka pun menghargai perhatian para penjelajah terhadap tanda kabesaran itu.

Ternyata, bejana porselen Cina tadi juga menyimpan benda-benda lain, yaitu dua buah batu yang disebut ‘mantiko’. Batu-batu kecil itu juga dianggap berkhasiat. Setelah diasapi kemenyan, bebatuan itu pun direndam di dalam air. Dahulu kala, orang yang hendak berperang atau bepergian ke rimba, membawa dan menyimpannya menempel di tubuh. Menurut kepercayaan, mantiko itu akan melindungi pembawanya dari mara-bahaya. Hal itu diceritakan Toeankoe sambil menambahkan: “Kini, hal itu tidak lagi dilakukan.”
Yang terakhir diperlihatkan oleh Toeankoe adalah sebilah pedang besi bergagang kayu. Pedang itu bergerigi seperti gergaji. Ujungnya patah. Menurut Toeankoe, sebuah tembakan Kumpeni-lah yang mematahkan ujung pedang itu.

Setelah semua tanda kabesaran itu diperlihatkan, diceritakan ihwalnya dan dikagumi oleh para penjelajah, benda-benda itu dibungkus lagi dan kembali disimpan di atas pagu. Biasanya, benda-benda pusaka itu tak pernah diturunkan. Hanya bila seseorang sakit keras dan dukun tidak berhasil mengobatinya, barulah orang datang ke Toeankoe untuk mendapatkan khasiat pengobatan dari benda-benda kabesarannya.

Di dalam rumah Toeankoe, tampak sebuah peti besar. Peti itu menyimpan bungkusan-bungkusan barang-barang berharga miliknya. Atas permintaan van Hasselt, Toeankoe membuka salah sebuah bungkusan. Luar biasa. Sejumlah besar benda-benda yang terbuat dari emas tampak gemerlapan. Kesemuanya merupakan warisan dari ayahanda Toeankoe. Benda-benda itu terbuat dari emas yang diperoleh dari tambang di dekat Doerian Taroeng.

Emas yang disukai oleh orang Melayu berwarna agak kemerahan karena dicampur dengan tembaga. Demikian pula dengan benda-benda berharga di dalam bungkusan di tangan Toeankoe: gelang-gelang, cincin-cincin, giwang-giwang dan hiasan kepala yang mirip sekali dengan perhiasan Turki yang biasa dikenakan para pemusik. Selain itu, sebuah penutup kepala menarik perhatian. Tutup kepala itu terbuat dari gulungan kain katun, dibentuk membulat. Kedua ujungnya dihiasi dengan kancing-kancing emas yang besar dan digantungi payet-payet. Tutup kepala itu memang sangat istimewa.

Namun, di mata van Hasselt, yang lebih istimewa lagi adalah kopiah yang biasa dikenakan oleh Kepala Gudang Loeboe Gedang. Kain yang digunakan untuk tutup kepala lelaki itu bertuliskan merk pabrik pembuat kain itu. Huruf-huruf besar merk itu disulam dengan benang perak. Memang tutup kepala itu cantik sekali dan Kepala Gudang bangga mengenakannya, apalagi ketika hiasan di tutup kepala itu ditambah dengan pita-pita emas yang diberikan oleh tim penjelajahan sebagai tanda terima kasih untuknya.
Semua barang berharga itu disimpan lagi di dalam peti. Van Hasselt dan rekan-rekannya masih tinggal dulu untuk mengobrol lagi. Lalu tiba saatnya untuk pamit. Mereka pulang. Dan hujan, masih terus merintik.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Ekspedisi Sumatra Tengah #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 April 2020 09:45 WIB

Cek Posko Corona Tengah Malam, Al Haris Semangati Petugas Piket


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Al Haris, memantau posko siaga pencegahan Covid-19 di perbatasan Merangin-Kerinci, Jumat (4/3/20) malam. Dalam

 

Jumat, 03 April 2020 22:27 WIB

Cek Endra Serahkan Bantuan APD untuk Penanganan Covid-19 di Kabupaten Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Bupati Sarolangun H Cek Endra menyerahkan bantuan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis di Puskesmas maupun di

 

Jumat, 03 April 2020 19:37 WIB

Gubernur Terbitalkan SE Terbaru Perpanjang WFH ASN Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, mengeluarkan Surat edaran (SE), Nomor:- SE/GUB.BKD-4.111V/2020 tentang perubahan atas surat edaran

 

Jumat, 03 April 2020 19:32 WIB

Gubernur Video Conference dengan Bupati Walikota Bahas Penanganan Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Rapat Online Gubernur Jambi Fachrori Umar, bersama Bupati dan Wali Kota se Provinsi Jambi dalam upaya penanganan serta pencegahan

 

Jumat, 03 April 2020 15:08 WIB

Solidaritas Pangan Perpus Rakyat untuk Masyarakat Terdampak Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Wabah virus Corona atau Covid-19 masih terus berlangsung di tanah air. Beberapa pihak menyatakan bahwa virus ini akan terus ada