Senin, 23 April 2018


Jumat, 10 November 2017 15:02 WIB

Revitalisasi Kesultanan Melayu Jambi Bukan Tanpa Aral

Reporter :
Kategori : Ragam

Cap Sultan Jambi (2012-sekarang). Koleksi Sultan Abdurrahman Thaha Saifuddin.

Sarasehan sejarah yang ditaja Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi, Selasa, 7 November 2017 berlangsung sukses. Turut hadir peserta dari berbagai kalangan, yaitu akdemisi/dosen, guru, budayawan, seniman, jurnalis, dan mahasiswa.

Dialog bertajuk "Eksistensi Kesultanan Jambi Paska Reformasi" ini menghadirkan Sultan Abdurrahman Thaha Syaifuddin (Sultan Guntur/cicit Thaha) dan peneliti Seloko Institute, Ratna Dewi.



Raden Abdurrahman Thaha Syaifuddin, dalam paparannya, menuturkan secara singkat karakteristik Kesultanan Melayu Jambi; Perlawanan Sultan Thaha Syaifuddin terhadap Belanda, alasan yang melatarbelakangi revitalisasi Kesultanan Melayu Jambi; Pro-kontra di internal keluarga terkait Sultan penerus Kesultanan hingga berahir pada putusan Pengadilan Agama tahun 2012; dan upaya-upaya yang dilakukannya sampai sekarang dalam rangka membangun kerjasama dengan Kesultanan dan Keraton di Nusantara.

“Saya di Jambi ni bukanlah siapa-siapa. Saya bekerja sendiri membangun jalinan persahabatan dan kerjasama dengan Kesultanan dan Keraton di Nusantara, bahkan juga di beberapa negara Melayu serumpun, seperti Singapura, Malaysia, Brunei, dan Pattani di Thailand. Sekalipun sampai sekarang  tidak ada dukungan dari pemerintah daerah Jambi, saya tak pernah putus asa melestarikan nilai-nilai adat dan budaya Jambi serta memperjuangkan hak-hak keluarga pewaris Kesultanan Jambi”, ujarnya diambut tepuk tangan peserta.

Raden Abdurrahman menyadari bahwa negara kita tidak lagi menganut sistem kerajaan, tetapi demokrasi. Maka, kebangkitan yang diperjuangkan sekarang ini adalah pelestarian adat dan budaya melayu Jambi, yang bersumber dalam tradisi panjang Kesultanan Melayu Jambi. “Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Butuh tenaga, pikiran, kerjasama berbagai pihak, dan keihlasan mewujudkannya”, tegasnya.

Menanggapi paparan Raden Abdurrahman, Ratna Dewi mengatakan, betul bahwa sejak reformasi beberapa daerah di Indonesia bergerak melakukan revitalisasi terhadap Kerajaan/Kesultanan mereka, tak terkecuali Jambi dalam beberapa tahun terakhir ini.

Namun menurutnya, perjalanan revitalisasi Kesultanan Jambi sekarang ini bukan tanpa aral. Kepentingan politik daerah, intervensi lembaga adat, dinamika terkini paguyuban Kerajaan/Kesultanan di Nusantara hingga konflik silsilah dalam internal keluarga Sultan, masih menjadi faktor yang mewarnai upaya revitalisasi, sebagaimana konsepsi ideal yang disampaikan Raden Abdurrahman kepada kita semua.

“Sultan Jambi yang baru memang telah dilantik sedari 2012, namun eksistensinya belum mendapat tempat dan pengakuan layak dalam kehidupan masyarakat Jambi. Sultan terpilih bahkan melakukan ‘perlawanan’ terhadap Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi dan pemerintah daerah di masa Gubernur HBA, bahkan mungkin hingga pemerintahan sekarang, sehingga belum ada sama sekali pertemuan untuk membahas upaya revitalisasi Kesultanan Melayu Jambi”, ungkapnya.

Selain itu, Ratna Dewi banyak mengupas sejarah Kesultanan Jambi, yang disebut sebagai salah satu yang terkecil di Sumatera. Eksistensinya berlangsung selama kurang lebih tiga ratus tahun, yaitu sejak 1615 hingga 1907.

Berikut beberapa hal yang disampaikan Ratna Dewi, yaitu, antara lain, pertama, Kesultanan Jambi lahir sebagai bentuk baru dari Kerajaan Tua Melayu Jambi yang mendapat pengaruh Islam; kedua, Penyebutan Kesultanan ini konsisten terhadap kerajaan-kerajaan Islam seperti Aceh, Siak, Samudera Pasai, Ternate, Tidore, Palembang dan lain-lain termasuk Jambi; ketiga, merujuk A. Mukti Nasruddin, penulis buku Sejarah Kerajaan Jambi di Nusantara (tidak diterbitkan, 1986), bahwa perubahan bentuk kerajaan Jambi menjadi Kesultanan terjadi tahun 1615, dan Rajanya yang pertama kalau menggunakan gelar Sultan adalah Pangeran Kedak, yang memerintah dari tahun 1615-1643 dengan gelar Sultan Abdul Kahar; keempat, catatan tersebut sekaligus membantah pendapat Ricklefs, yang menulis bahwa Raja pertama yang diketahui secara pasti telah menggunakan gelar 'Sultan' adalah Pangeran Ratu (m.1596-1651), penguasa Banten di tahun 1638, dengan nama arabnya Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir; dan kelima, masih merujuk Mukti, bahwa pada pidato penobatannya, Pangeran Kedak mengumumkan Kerajaan Jambi dirubah sebutan dengan Kesultanan Jambi. Perubahan itu mengakibatkan diadakannya restrukturisasi dan rekonstruksi konstitusi kerajaan, antara lain, dengan mengganti dasar kerajaan yang awalnya bersendikan Adat, menjadi Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, dengan cara pelaksanaannya Syarak Mengato Adat Memakai.

Menanggapi perjalanan diskusi dan pemaparan kedua pemateri, Syamsurizal, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi, berharap sarasehan sejarah dapat menjadi wadah yang membentangkan hasil analisa, kritik sumber sekaligus menjadi salah satu medium penguatan kerja-kerja riset/kajian, melalui pendataan, pengumpulan, perawatan sekaligus pemanfaatan sumber data kearsipan ke depan.

“Semoga sarasehan ini memantik banyak topik kajian tentang Jambi, yang belum terungkap atau memperkaya hasil penelitian/kajian yang telah ada”, pungkasnya. [KJ-JP]


Tag : #Kesultanan Jambi #Sumatra #Melayu #Sultan Thaha Syaifuddin #Singapura #Malaysia #Brunei



Berita Terbaru

 

Pilkada Merangin 2018
Minggu, 22 April 2018 17:34 WIB

Sudah Lantik 23 Ribu Tim Pemenangan, Hamas Targetkan Menang Telak


Kajanglako.com, Merangin - Pasangan nomor urut 2, Al Haris - Mashuri (Hamas) terus memantapkan tim pemenangangannya hingga seluruh kecamatan di Kabupaten

 

Pilpres 2019
Minggu, 22 April 2018 16:03 WIB

Relawan Anis Matta: Diperlukan Sosok untuk Perubahan Bangsa


Kajanglako.com, Jambi - Relawan Anis Matta makin bergerilya ke berbagai daerah untuk makin mengenalkan jagoannya tersebut sebagai modal sebagai di Pilpres

 

Minggu, 22 April 2018 15:41 WIB

Illegal Drailing di Pompa Air Kian Menggila, Anak Sekolah Bahkan Terlibat


Kajanglako.com, Batanghari - Sudah berulang kali aktifitas Illegal Drailing yang berlokasi di Desa Pompa Air Kecamatan Bajubang ditutup.  Namun sepertinya

 

Pilkada Kerinci 2018
Minggu, 22 April 2018 15:09 WIB

Buktikan Dukungan, Warga Kayu Aro Coblos Zainal-Arsal


Kajanglako.com, Kerinci - Warga Desa Mekar Jaya, Kecamatan Kayu Aro sepakat mencoblos pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kerinci nomor urut 3 Zainal

 

Minggu, 22 April 2018 11:06 WIB

Ini 6 Besar Calon Komisioner KPU 7 Kabupaten di Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Tes wawancara bagi calon Anggota KPU 7 Kabupaten rampung dilaksanakan Tim Seleksi.    Berdasarkan pengumuman hasil rapat