Rabu, 24 Januari 2018
Pencarian


Jumat, 10 November 2017 15:02 WIB

Revitalisasi Kesultanan Melayu Jambi Bukan Tanpa Aral

Reporter :
Kategori : Akademia

Cap Sultan Jambi (2012-sekarang). Koleksi Sultan Abdurrahman Thaha Saifuddin.

Sarasehan sejarah yang ditaja Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi, Selasa, 7 November 2017 berlangsung sukses. Turut hadir peserta dari berbagai kalangan, yaitu akdemisi/dosen, guru, budayawan, seniman, jurnalis, dan mahasiswa.

Dialog bertajuk "Eksistensi Kesultanan Jambi Paska Reformasi" ini menghadirkan Sultan Abdurrahman Thaha Syaifuddin (Sultan Guntur/cicit Thaha) dan peneliti Seloko Institute, Ratna Dewi.



Raden Abdurrahman Thaha Syaifuddin, dalam paparannya, menuturkan secara singkat karakteristik Kesultanan Melayu Jambi; Perlawanan Sultan Thaha Syaifuddin terhadap Belanda, alasan yang melatarbelakangi revitalisasi Kesultanan Melayu Jambi; Pro-kontra di internal keluarga terkait Sultan penerus Kesultanan hingga berahir pada putusan Pengadilan Agama tahun 2012; dan upaya-upaya yang dilakukannya sampai sekarang dalam rangka membangun kerjasama dengan Kesultanan dan Keraton di Nusantara.

“Saya di Jambi ni bukanlah siapa-siapa. Saya bekerja sendiri membangun jalinan persahabatan dan kerjasama dengan Kesultanan dan Keraton di Nusantara, bahkan juga di beberapa negara Melayu serumpun, seperti Singapura, Malaysia, Brunei, dan Pattani di Thailand. Sekalipun sampai sekarang  tidak ada dukungan dari pemerintah daerah Jambi, saya tak pernah putus asa melestarikan nilai-nilai adat dan budaya Jambi serta memperjuangkan hak-hak keluarga pewaris Kesultanan Jambi”, ujarnya diambut tepuk tangan peserta.

Raden Abdurrahman menyadari bahwa negara kita tidak lagi menganut sistem kerajaan, tetapi demokrasi. Maka, kebangkitan yang diperjuangkan sekarang ini adalah pelestarian adat dan budaya melayu Jambi, yang bersumber dalam tradisi panjang Kesultanan Melayu Jambi. “Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Butuh tenaga, pikiran, kerjasama berbagai pihak, dan keihlasan mewujudkannya”, tegasnya.

Menanggapi paparan Raden Abdurrahman, Ratna Dewi mengatakan, betul bahwa sejak reformasi beberapa daerah di Indonesia bergerak melakukan revitalisasi terhadap Kerajaan/Kesultanan mereka, tak terkecuali Jambi dalam beberapa tahun terakhir ini.

Namun menurutnya, perjalanan revitalisasi Kesultanan Jambi sekarang ini bukan tanpa aral. Kepentingan politik daerah, intervensi lembaga adat, dinamika terkini paguyuban Kerajaan/Kesultanan di Nusantara hingga konflik silsilah dalam internal keluarga Sultan, masih menjadi faktor yang mewarnai upaya revitalisasi, sebagaimana konsepsi ideal yang disampaikan Raden Abdurrahman kepada kita semua.

“Sultan Jambi yang baru memang telah dilantik sedari 2012, namun eksistensinya belum mendapat tempat dan pengakuan layak dalam kehidupan masyarakat Jambi. Sultan terpilih bahkan melakukan ‘perlawanan’ terhadap Lembaga Adat Melayu (LAM) Jambi dan pemerintah daerah di masa Gubernur HBA, bahkan mungkin hingga pemerintahan sekarang, sehingga belum ada sama sekali pertemuan untuk membahas upaya revitalisasi Kesultanan Melayu Jambi”, ungkapnya.

Selain itu, Ratna Dewi banyak mengupas sejarah Kesultanan Jambi, yang disebut sebagai salah satu yang terkecil di Sumatera. Eksistensinya berlangsung selama kurang lebih tiga ratus tahun, yaitu sejak 1615 hingga 1907.

Berikut beberapa hal yang disampaikan Ratna Dewi, yaitu, antara lain, pertama, Kesultanan Jambi lahir sebagai bentuk baru dari Kerajaan Tua Melayu Jambi yang mendapat pengaruh Islam; kedua, Penyebutan Kesultanan ini konsisten terhadap kerajaan-kerajaan Islam seperti Aceh, Siak, Samudera Pasai, Ternate, Tidore, Palembang dan lain-lain termasuk Jambi; ketiga, merujuk A. Mukti Nasruddin, penulis buku Sejarah Kerajaan Jambi di Nusantara (tidak diterbitkan, 1986), bahwa perubahan bentuk kerajaan Jambi menjadi Kesultanan terjadi tahun 1615, dan Rajanya yang pertama kalau menggunakan gelar Sultan adalah Pangeran Kedak, yang memerintah dari tahun 1615-1643 dengan gelar Sultan Abdul Kahar; keempat, catatan tersebut sekaligus membantah pendapat Ricklefs, yang menulis bahwa Raja pertama yang diketahui secara pasti telah menggunakan gelar 'Sultan' adalah Pangeran Ratu (m.1596-1651), penguasa Banten di tahun 1638, dengan nama arabnya Abdul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir; dan kelima, masih merujuk Mukti, bahwa pada pidato penobatannya, Pangeran Kedak mengumumkan Kerajaan Jambi dirubah sebutan dengan Kesultanan Jambi. Perubahan itu mengakibatkan diadakannya restrukturisasi dan rekonstruksi konstitusi kerajaan, antara lain, dengan mengganti dasar kerajaan yang awalnya bersendikan Adat, menjadi Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, dengan cara pelaksanaannya Syarak Mengato Adat Memakai.

Menanggapi perjalanan diskusi dan pemaparan kedua pemateri, Syamsurizal, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi, berharap sarasehan sejarah dapat menjadi wadah yang membentangkan hasil analisa, kritik sumber sekaligus menjadi salah satu medium penguatan kerja-kerja riset/kajian, melalui pendataan, pengumpulan, perawatan sekaligus pemanfaatan sumber data kearsipan ke depan.

“Semoga sarasehan ini memantik banyak topik kajian tentang Jambi, yang belum terungkap atau memperkaya hasil penelitian/kajian yang telah ada”, pungkasnya. [KJ-JP]


Tag : #Kesultanan Jambi #Sumatra #Melayu #Sultan Thaha Syaifuddin #Singapura #Malaysia #Brunei



Berita Terbaru

 

Selasa, 23 Januari 2018 23:50 WIB

Dugaan Kecurangan Toke Karet Terkuak, Warga Bandingkan Hasil Timbangan dengan Milik Sendiri


Kajanglako.com, Bungo – Petani Karet yang ada di Wilayah Kecamatan Muko-muko Bathin VII, Kabupaten Bungo, mulai resah dengan hasil timbangan yang

 

Penyelundupan Satwa Langka
Selasa, 23 Januari 2018 20:26 WIB

BKIPM Jambi Gagalkan Penyelundupan 7 Anak Buaya Via Bandara


Kajanglako.com, Jambi – Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM) Jambi bekerja sama dengan Avsec Bandara Sultan Thaha, berhasil menggagalkan

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:14 WIB

Selain Diselingkuhi, Juanda Mengaku Juga Sering Dianiaya Istrinya


Kajanglako.com, Batanghari - Sebelum belang sang istri yang kedapatan selingkuh dengan Kades Padang Kelapo mencuat. Juanda akui sudah seringkali dianiaya

 

Selasa, 23 Januari 2018 20:03 WIB

Juanda Lapor ke Inspektorat, Kades Padang Kelapo Berdalih Hanya Ajak 'EN' Rapat


Kajanglako.com, Batanghari - Kasus perselingkuhan Kades Padang Kelapo akhirnya berlanjut. Juanda, beserta sejumlah saksi melaporkan kasus tersebut ke Inspektorat

 

Selasa, 23 Januari 2018 19:49 WIB

Heboh, Kades Padang Kelapo Dikabarkan 'Gituan' di Semak-semak


Kajanglako.com, Batanghari - Selaku pemimpin desa harusnya bisa membimbing warga desanya dengan baik. Namun, yang terjadi kali ini bertolak belakang. Jangankan