Kamis, 22 Februari 2018


Jumat, 10 November 2017 11:17 WIB

Depati Parbo, Pejuang Sakti dari Kerinci

Reporter :
Kategori : Sosok

Depati Parbo

Oleh: Risnal Mawardi*

Depati Parbo lahir di Desa Lolo, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci. Ia memiliki nama kecil  Mohammad Kasib dan akrab disapa Karib. Ayahnya bernama Bimbe, sedangkan ibunya bernama Kembang. Beberapa kajian mendapati bahwa nama sebenarnya Depati Parbo saat kecil adalah Ahmad Karib.



Depati Parbo memiliki tiga orang saudara perempuan yang bernama Bende, Siti Makam, dan Likom. Sejak kecil ia  dikenal memiliki berbagai keanehan, antara lain, memiliki gigi geraham berwarna kehitaman. Oleh karena itu, masyarakat setempat memanggil Karib dengan Germon Besol.

Sebagaimana di kampung lainnya di Kerinci, sebagai seorang remaja, Karib ikut dan menggeluti seni bela diri silat serta ilmu agama yang dilengkapi ilmu kebatinan. Setelah dewasa Karib mempersunting seorang gadis bernama Timah Sahara dan dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ali Mekah.

Mengemban tugas sebagai seorang suami dan ayah, Karib memilih merantau ke Batang Asai mengikuti jejak sejumlah orang Kerinci merantau bekerja sebagai pendulang emas. Selain ke Batang Asai, Karib juga melanglang buana ke beberapa daerah di Sumatera Selatan, seperti Rawas. Selain mencari nafkah menyambung hidup, beliau juga aktif mencari ilmu bela diri dan kebatinan. Petualangan ini dilakukannya sejak 1859 hingga 1862.

Sebagai pemuda cerdas dan terampil di kampungnya, Karib dilantik dan dikukuhkan sebagai seorang depati dalam sebuah upacara tradisional kanduhai sko (kenduri pusako). Karib diberi gelar Depati Parbo. Dalam makna lain, Karib tidak hanya memikirkan kehidupan keluarga saja, tetapi sebagai Depati beliau juga harus memikirkan masyarakatnya, bahkan hingga ke Kesultanan Jambi.

Serangan ke Belanda

Saat melakukan pengawasan di wilayah Gunung Raya, Belanda yang datang ke Kerinci mendirikan pos patroli pada 1900 dengan memanfaatkan tenaga pribumi sebagai kuli, Depati Parbo bersama sejumlah hulubalang mengatur siasat untuk menyerang pos patroli tersebut.

Itulah pertempuran pertama di Kerinci, tepatnya di Renah Manjuto, berkecamuk antara hulubalang Kerinci di bawah pimpinan Depati Parbo dengan pasukan Belanda. Akibat pertempuran yang terjadi pada 1901 dengan banyak korban di pihak Belanda memaksa mereka mengurungkan niat memasuki Kerinci. Walaupun demikian, pada Oktober 1901 sejumlah 120 orang pasukan Belanda yang berada di Indrapura bersiap-siap menyerang Kerinci.

Pada Maret 1902 sejumlah 500 orang pasukan Belanda di bawah pimpinan Komandan Bolmar mendarat di Muarosakai dengan Tuanku Regen sebagai penunjuk jalan ke Kerinci. Belanda menyerang ke tiga tempat di Kerinci seperti Renah Manjuto, Koto Limau Sering, dan Temiai. Perang hebat pun berkecamuk di ketiga tempat tersebut, tetapi setelah Koto Limau Sering dikuasi, pasukan Belanda tanpa kesukaran memasuki lembah Kerinci.

Pada perang di Pulau Tengah yang dipimpin oleh seorang ulama ternama, yaitu Haji Ismail dan Haji Husin turut bergabung para hulubalang dari dusun lainnya di Kerinci. Dalam sejarah Kerinci disebutkan bahwa pertempuran di dusun ini merupakan pertempuran yang tersengit dan terlama (lebih kurang 3 bulan). Pulau Tengah diserang Belanda sejak 27 Maret 1903 melalui 3 jurusan, yaitu di timur: Sanggaran Agung-Jujun; utara: Batang Merao-danau Kerinci; barat: Semerap-Lempur Danau.

Masjid Keramat Pulau Tengah merupakan salah satu tempat yang dijadikan benteng pertahanan masyarakat dalam menghadapi Belanda. Serangan terakhir pada Pulau Tengah dilakukan Belanda pada 9 hingga 10 Agustus 1903 dengan membakar Dusun Baru, tetapi Masjid Keramat luput terbakar. Perlawanan rakyat ini dapat diselesaikan Belanda.

Selanjutnya, pasukan Belanda melakukan penyerangan ke Lolo, markas panglima perang Kerinci, Depati Parbo. Pertempuran berlangsung selama 5 hari.

Dalam proses yang tak berkesudahan itu, Belanda berhasil membujuk Depati Parbo mengadakan perundingan damai. Dalam perundingan itulah Depati Parbo ditangkap dan selanjutnya dibuang ke Ternate.

Setelah Kerinci aman pada 1927, atas permohonan para kepala mendapo di Kerinci pada Pemerintah Belanda, Depati Parbo dibebaskan dan kembali ke Kerinci.

Pada 1929 Panglima Perang Kerinci Depati Parbo menghembuskan nafas terakhir dalam usia 89 tahun. Alamarhum dimakamkan di pemakaman keluarga Dusun Lolo Kecamatan Gunung Raya, bersama sama  dengan istri, putra putri dan sanak keluarganya.

*Artikel ini ditulis oleh Risnal Mawardi. Catatan ini bersumber sekaligus sarian dari makalah penulis dalam Dialog Sejarah di Museum Perjuangan Rakyat Jambi pada 12 Juli 2012. Kajanglako melakukan penyuntingan seperlunya.


Tag : #Depati Parbo #Kerinci #Sumatra #Ternate



Berita Terbaru

 

Kamis, 22 Februari 2018 10:40 WIB

Meski Ayah Jabat Walikota, Raehan Fasha Tak Suka Berfoya-foya


Kajanglako.com, Kota Jambi – Hidup dalam lingkungan keluarga yang serba kecukupan, ayahnya Walikota Jambi dan juga seorang pengusaha sukses. Tak

 

Kamis, 22 Februari 2018 10:31 WIB

Kenangan Pilu Masa Kecil Fasha, Pernah Dipanggil 'Anak Ibu yang Suka Berhutang'


Kajanglako.com, Kota Jambi -Walikota Jambi DR H Sy Fasha ME punya pengalaman pahit saat masih tinggal d Tembok Batu, Palembang. Tidak hanya mengalami keterbatasan

 

Kamis, 22 Februari 2018 10:21 WIB

Hanya Minum Air Tajin Saat Kecil, Memotivasi Fasha Berjuang Keras


Kajanglako.com, Kota Jambi -DR H Sy Fasha ME, Walikota Jambi, ternyata cukup akrab dengan kemiskinan. Sedari kecil, ia hidup di tengah-tengah keluarga

 

Kamis, 22 Februari 2018 10:06 WIB

Pintu Ruko Sulit Dibuka, Kawan Pencuri Gagal Kuras Isi Konter HP


Kajanglako.com, Kota Jambi - Empat unit Ruko yang menjual handphone beserta aksesorisnya di kawasan Jalan Kolonel Abunjani, Keluruhan Simpang III Sipin,

 

Sidang Suap RAPBD
Rabu, 21 Februari 2018 21:01 WIB

Hakim ke Sekwan: Jujur Saja, Anda Diancam Pimpinan Ya?


Kajanglako.com, Jambi – Emi Nopisah, Sekretaris Dewan (Sekwan) Provinsi Jambi yang dimintai keterangannya sebagai saksi dalam sidang kedua untukterdakwa