Sabtu, 04 April 2020


Minggu, 08 Maret 2020 15:10 WIB

Ekspedisi Madu dan Sarang Lebah

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pendakian Korintji menjadi bahan pembicaraan penduduk. Semua orang terheran-heran bahwa pendakian itu berhasil. Menurut cerita dari sejak dahulu kala—dan cerita-cerita itu terus-menerus disampaikan kepada para penjelajah—pendakian sampai ke puncak gunung itu tak mungkin dapat dilakukan. Dinding gunung itu begitu curam, sampai-sampai seekor ular pun takkan dapat merayap sampai ke atas. Tambahan lagi, di hutan-hutan di gunung, hidup binatang-binatang berbahaya seperti kalajengking, monster, mahluk halus dan hantu. Pun, banyak pula rawa-rawa yang tak dapat dilewati. Di dalam hati, van Hasselt bertanya-tanya sendiri: dari mana datangnya informasi itu bila memang tak pernah ada orang yang berani mencoba mendaki Goenoeng Korintji?
Karena tenaga van Gussem tidak diperlukan lagi, lelaki itu kembali ke Solok, tempatnya tinggal. Bila diperlukan dalam perjalanan selanjutnya dari Padang, ia berjanji akan bergabung lagi dengan tim untuk membantu mereka.




Ketika mereka masih di Loeboe Gedang, sebuah pasar terbentuk. Lahirnya pasar itu dapat diamati dengan mudah karena warga dusun memilih alun-alun di depan rumah penginapan mereka sebagai tempat berdagang. Awalnya, datang seorang lelaki yang membawa pisang dan bebuahan lain. Minggu depannya, seorang lelaki lain ikut duduk di sana. Ia membawa ikan dan garam. Lama-kelamaan, sedikit demi sedikit, jumlah orang yang berjualan bertambah dan barang yang diperdagangkan pun semakin beragam. Akhirnya, datang pula orang ‘koemango’, yaitu pedagang kelontong yang menjual barang-barang untuk mempercantik diri seperti sisir hias, pedagang kain dan pedagang yang menjual keperluan makan sirih, seperti gambir dan tembakau.

Pasar itu diadakan pada hari Minggu, pada saat gudang kopi Hindia-Belanda (yang belum lama dibuka) membeli kopi. Di hari pasar terakhir sebelum mereka meninggalkan Loeboe Gedang, setengah pikul kopi dari Talau diantarkan ke gudang kopi itu. Sebelum diterima, Kepala Gudang Kopi meminta para penjualnya menjemur biji-biji kopi itu di alun-alun untuk dibagi ke dalam tua tumpukan, sesuai jenisnya.

Seseorang mengantarkan surat dari Veth. Ia sudah selesai dengan pekerjaannya di Moeara Laboeh dan tak lama lagi akan berangkat ke Lolo. Ia meminta agar Djemain dapat membantunya di sana. Berangkatlah Djemain. Akan tetapi, sore itu juga ia sudah kembali lagi. Ia sudah berjalan sampai ke sungai. Walaupun air sungai itu sedang pasang dan bahkan, membanjir, ia tetap mencoba menyeberang. Sia-sia. Keesokan harinya, ia berangkat lagi dan mencoba menyeberangi sungai lagi. Ia tercebur dan uang yang dibawanya tenggelam, tetapi ia sendiri berhasil sampai di seberang. Tak lama kemudian, ia tiba di tepian Soengei Liki. Batang pohon yang biasanya terbentang menghubungkan kedua tepian sungai itu terbawa air sungai yang meluap. Djemain terpaksa menunggu air sungai surut, sebelum ia dapat meneruskan perjalanan sambil membawa panci dan peralatan masak-memasak yang diperlukannya.

Di Loeboe Gedang, untuk melengkapi koleksi etnologi, van Hasselt membeli beberapa peralatan yang digunakan untuk mengumpulkan lilin lebah dan madu. Alat-alat itu dibelinya dari beberapa orang peramu madu dan lilin. Suatu malam, ketika mengetahui bahwa mereka hendak ke hutan, lelaki Belanda itu minta izin ikut serta untuk melihat cara mereka bekerja.
Dengan janji upah sebesar ƒ25,- seorang ‘toekang lebah’ menyanggupi dapat mencarikan sebuah sarang lebah utuh untuk koleksi penjelajahan. Ia menepati janjinya. Sarang lebah yang dibawanya memang utuh, tetapi tak ada madu di sarang itu. Van Hasselt membujuknya untuk pergi lagi ke hutan untuk mencari sarang lebah yang lengkap dengan madunya. Ketika lelaki itu mengangguk, penjelajah Belanda itu segera bersiap untuk ikut bersamanya ke hutan.

Pada hari yang ditentukan, setelah matahari terbenam, mereka berangkat. Mereka membawa beberapa peralatan yang diperlukan untuk meramu sarang lebah: wadah berbentuk kerucut yang terikat pada tali yang panjang, beberapa pasak bambu dan palu kayu, beberapa bor dan sebuah sekop. Setelah berjalan selama kira-kira satu jam di hutan, mereka sampai di bawah sebuah pohon besar yang tingginya kira-kira 1.8 meter di atas tanah. Sebuah sarang lebah yang besar terdapat di cabang-cabang pohon itu. Dengan palu, tukang lebah memaku pasak-pasak bambu yang dibawanya di batang pohon itu, berurut ke atas seperti tangga.

Lalu, mereka menunggu malam betul-betul turun. Sementara menunggu, orang-orang itu mulai bercerita mengenai harimau yang sering datangdan berputar-putar di bawah pohon seperti itu, menunggu kalau-kalau ada sarang lebah yang jatuh. Seperempat jam kemudian, lelaki yang memimpin rombongan itu berdiri. Ia mengambil sekop dan diikuti oleh lelaki lain yang membawa obor dan wadah rotan, ia mulai memanjat pohon. Pasak-pasak bambu yang tadi dibenamkan di batang pohon memang digunakannya sebagai tangga. Mereka mulai bersenandung lembut, menyanyikan lagu-lagu untuk menenangkan lebah-lebah yang hendak didatanginya. Konon, kata-kata lagu itu menyampaikan maksudnya kepada para lebah itu. Di dekat sarang lebah, sambil terus bernyanyi, ia mengebaskan wadah rotan di tangannya. Seketika, terdengar suara lebah yang berdengung keras dari atas pohon.
Orang-orang yang berada di bawah pohon menunggu dalam gelap yang membuat mata merasa buta. Mereka tidak diperbolehkan menyalakan obor supaya lebah-lebah itu tidak melihat adanya mereka. Dalam gelap sempurna seperti itu, titik terang nyala obor di atas pohon semakin tampak terang. Cahaya obor itu jelas sekali menunjukkan bentuk tubuh si tukang lebah dan sarang lebah di depannya. Bayang-bayang hitam berlatar cahaya obor di atas pohon itu tampak seperti bebayang dalam mimpi.

Tanpa berhenti bernyanyi, dengan sekopnya, tukang lebah itu berhati-hati melepaskan sarang lebah dari cabang pohon tempatnya bertengger. Sarang lebah itu ditampungnya di dalam wadah rotan yang diulurkan oleh lelaki lain yang membantunya. Lalu, mereka menuruni pohon itu dan membungkus sarang lebah di dalam wadah rotan tadi. Selesailah sudah pekerjaan mereka. Tiga jam diperlukan untuk melakukannya.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #telusur #sejarah jambi #naskah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah 1877



Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 April 2020 09:45 WIB

Cek Posko Corona Tengah Malam, Al Haris Semangati Petugas Piket


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Al Haris, memantau posko siaga pencegahan Covid-19 di perbatasan Merangin-Kerinci, Jumat (4/3/20) malam. Dalam

 

Jumat, 03 April 2020 22:27 WIB

Cek Endra Serahkan Bantuan APD untuk Penanganan Covid-19 di Kabupaten Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Bupati Sarolangun H Cek Endra menyerahkan bantuan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis di Puskesmas maupun di

 

Jumat, 03 April 2020 19:37 WIB

Gubernur Terbitalkan SE Terbaru Perpanjang WFH ASN Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, mengeluarkan Surat edaran (SE), Nomor:- SE/GUB.BKD-4.111V/2020 tentang perubahan atas surat edaran

 

Jumat, 03 April 2020 19:32 WIB

Gubernur Video Conference dengan Bupati Walikota Bahas Penanganan Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Rapat Online Gubernur Jambi Fachrori Umar, bersama Bupati dan Wali Kota se Provinsi Jambi dalam upaya penanganan serta pencegahan

 

Jumat, 03 April 2020 15:08 WIB

Solidaritas Pangan Perpus Rakyat untuk Masyarakat Terdampak Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Wabah virus Corona atau Covid-19 masih terus berlangsung di tanah air. Beberapa pihak menyatakan bahwa virus ini akan terus ada